Kutunggu Jandamu: Sebuah Cinta Platonik?

Suasana bus yang tadinya muram, mendadak riuh ketika seorang pengamen mengakhiri nyanyiannya. Pasalnya, di ujung nyanyian, si pengamen tadi bersenandung, dengan kalimat begini, "Kutunggu jandamu!"
Seorang bapak, tampak tertarik untuk mengomentari. "Mas, mas ... cowok kok setia banget kayak gitu, nunggu cewek jadi janda."
Seorang ibu ikut nyeletuk. "Nanti kalau pas janda dia sudah tua ompong peot, apa sampeyan ya, mau?"
Si pengamen hanya cengar-cengir sambil mengedarkan topi lusuhnya, mengumpulkan recehan demi recehan. Saya pun diam-diam hanya senyam-senyum. Namanya juga nyanyian, Bu ... Bu. Kenapa dibikin ribut, sih? Jangankan mau menunggu si 'gadis' menjadi janda, yang artinya si gadis sudah jadi milik orang lain. Bahkan ketika si gadis menjadi miliknya pun, paling-paling dia juga main mata dengan gadis lain?
Lho, kok malah jadi buruk sangka, hehe. Maklum, terperangkap retorika: 2 dari 3 lelaki itu suka selingkuh.
* * *
Akan tetapi, sepanjang perjalanan, percakapan singkat itu, terutama pernyataan si ibu, terngiang-ngiang di benakku. Betulkah cinta abadi, cinta yang senantiasa ada, tanpa disertai ketertarikan fisik--seperti kecantikan atau ketampanan, itu benar-benar ada di dunia ini? Benarkah ada seorang lelaki yang tetap mencintai seorang perempuan, meskipun perempuan itu telah menjadi sosok TOP, alias Tua Ompong Peot. Kita bisa berkilah, kan si pecinta juga sudah begitu keadaannya. Sama-sama TOP. Masak orang TOP mau mencintai yang MKA (Muda Kinyis-Kinyis Anggun). Pastilah bertepuk sebelah tangan, tuh.
Eh, jangan salah! Cerita kakek-kakek peot yang naksir gadis remaja, tampaknya bukan hanya saya yang pernah mendengar. Bahkan, dalam hal semacam ini, barangkali Anda jauh lebih mengerti dibanding saya, hehe.
Jadi, betulkah sebuah cinta yang terus melekat hingga ujung senja, benar-benar terpapar di sebuah layar bernama realita? Tidakkah itu hanya ada di ranah-ranah fiksi romantis? Atau menjadi sebuah legenda yang diturunkan turun-temurun hingga tujuh turunan?

* * *
Saya harus menjawab, bahwa semua itu berawal dari hal apa yang membuat cinta itu ada. Karena, cinta itu bermacam ragamnya. Sebanyak gradasi yang menyusun warna putih menjadi hitam, atau sebaliknya. Jika cinta itu bersumber pada sebuah kenyamanan panca indera, misalnya ketampanan, keindahan, kecantikan--atau segala sesuatu yang tertangkap panca indera, kok saya ragu, cinta itu akan terus terasa hingga senja usia. Jika si pengamen itu memang pernah mengalami patah hati dan merajuk-rajuk serta bersumpah akan menunggu 'jandamu' meskipun sampai TOP, saya kira itu hanya luapan sesaat yang segera pergi seiring bersama waktu.

Karena, segala sesuatu yang menyasar indera, hanya mampu merangsang tersekresinya hormon-hormon 'chemistry of love', mulai dari dopamin, endorfin atau PEA, yang umurnya sungguh-sungguh sangat singkat. Memang sih, saat kadar hormon-hormon itu sebegitu tingginya, fisik seperti terayun-ayun di angkasa saking indahnya merasakan jatuh cinta. Akan tetapi, rasa itu mendadak menjadi begitu hampa, seiring bersama redanya banjir hormon tersebut.

* * *
Cinta yang tetap terasa, hingga para pecintanya menjadi tua, ompong, peot, memang ada di dunia. Para filsuf mengategorikan sebagai cinta platonik. Cinta berupa relasi afeksi yang kuat, tetapi nyaris--bahkan tak disertai ketertarikan seksual. Cinta ini bersifat lebih dewasa. Orang Yunani menyebutnya agape. Cinta yang muncul pada sepasang sahabat yang senantiasa take and give. 
Pernahkah melihat sepasang suami istri, yang sama-sama tua, berjalan bersama, bergandengan tangan, menyusuri pagi yang sejuk? Mereka sama-sama bercanda, bercengkerama, seakan ketuaan yang ada bersama mereka telah lekat dan seakan mereka pengantin baru belaka.
Saya yakin, cinta inilah yang disebut cinta agape. Tetapi, saya punya istilah yang lebih religius, yakni cinta imani. Tak usah percaya bahwa Nabi Muhammad SAW itu maniak seks, sebagaimana tuduhan keji orang-orang barat. Rasulullah menikah lagi dengan istri-istrinya di usia yang telah senja, dan yang dinikahi, sebagaian adalah janda-janda tua. Saya kira, keindahan imani itulah yang menjadi pelumas di antara mereka.
Cinta ini, sungguh-sungguh awet. Tetapi, memang tak mudah memiliki laras cinta semacam ini. Cinta ini membutuhkan pondasi berupa keimanan. Lantas juga kesamaan visi dan misi, yang terus dipupuk dengan saling pengertian, saling memahami, dan saling mengisi.

Tetapi, yang jelas, si pemilik cinta semacam ini, tak akan mungkin berkata: "Kutunggu jandamu!" Karena ucapan itu sungguhlah emosional. Dan, saya hampir yakin, tak dilandasi pada keimanan yang mendalam. Karena, orang yang memiliki iman, akan meyakini bahwa jodoh itu soal takdir. Dan, orang yang beriman juga tak akan membiarkan diri terjebak dalam ketidakpastian. Setuju?


Subscribe to receive free email updates:

12 Responses to "Kutunggu Jandamu: Sebuah Cinta Platonik?"

  1. Mbak, judulnya itu lho, hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. terinspirasi dari lagu pengamen hehe

      Delete
  2. setuju.....ketidakpastian dikarenakan sok tau ^^ ...like this

    ReplyDelete
    Replies
    1. Orang bijak lebih senang yang pasti-pasti, yang meyakinkan, dan meninggalkan yang meragukan. Da' maa yuriibuka ilaa maa laa yuriibuk

      Delete
  3. This is a very good article .. Thank you .. have a great day!.! happy blogging ...

    ReplyDelete
  4. kunjungan perdana
    Nice posting, mbak Afifah Afra :)

    ReplyDelete
  5. judul itu ingetin aku pd ucapan seorang tmn kpdku :)

    ReplyDelete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!