Olala, Si Anak Taktual!


Ada yang relatif unik pada anak ketiga saya, Hanifan, atau yang biasa kami panggil dengan nama Ifan. Ia agak berbeda dengan kedua kakaknya. Jika Anis dan Rama, kakak-kakaknya itu cenderung dominan motorik halus, maka si kecil ini benar-benar sangat aktif dan selalu bergerak kesana kemari. Umurnya baru 1,5 tahun, dan ia telah mampu berjalan sangat cepat, naik sofa, turun dari ranjang yang tingginya hampir sama dengan tubuhnya, dan berbagai aktivitas 'cowok' lainnya.


Ia selalu tak puas melihat sesuatu tanpa memegangnya, lalu mengobrak-abriknya, dan ... aha ... membantingnya! Haduh, tak kurang-kurang korbannya. Hampir semua HP kami, orang tua, pernah jadi sasarannya. Termasuk BB suami. Sempat nge-hang sejenak, tapi alhamdulillah, bisa pulih lagi.

Kolam kecil di dekat ruang makan rumah kami juga jadi 'riuh rendah'. Ada gelas, sendok, mainan ... dan sebagainya. Semua hasil karya Hanifan. Apa yang ia pegang, akan dilempar ke kolam. Bahkan buku kesayangan saya pun pernah diceburkan ke kolam, untungnya saat itu masih segelan. Jadi, selamat, deh! Mungkin dia berpikir, bahwa ikan-ikan itu butuh makanan. Karena, ia sering melihat aku, suami, atau kakak-kakaknya melempar makanan ke kolam. Mana dia tahu, kalau mobil-mobilan itu nggak bisa masuk ke mulut ikan?

Eh, apakah kami gundah dengan 'kehadiran' anak tipe Ifan? Enggaklah! Memang sih, pemahaman yang cupet dari sebagian orang dewasa, menganggap anak-anak tipe Ifan ini nakal. Dan, sebagai solusi, mereka pun menghardiknya, "Duduk diam sana!" Atau, justru dijinakkan dengan berbagai bentuk doktrin, termasuk lagu yang ngetren di kalangan anak-anak zadoel. Tangan di atas, tangan di samping, tangan di depan, duduk dengan manis

Jadi, anak yang baik, adalah anak yang setiap pelajaran, duduk diam mendengarkan, dengan kedua tangan ditekuk di depan. Nah, kalau anak yang suka gerak, nggak jenak, dan maunya aktif, dianggap tidak baik. Ini keliru besar!

Tipe belajar anak-anak itu macam-macam, salah satunya adalah tactual learnerOrang dengan tipe belajar seperti ini menjadikan tangan sebagai alat penerima informasi utama. Ananda akan mudah menyerap informasi dengan menyentuh atau memegang sesuatu, terkadang bahkan tanpa harus membaca penjelasannya. Mereka ini, nih, yang biasanya enggak bisa tahan untuk duduk manis terlalu lama untuk mendengarkan pelajaran. 

Anak seperti ini, merasa jauh lebih baik jika belajar disertai dengan kegiatan fisik. Oleh karenanya,  orang-orang yang memiliki gaya belajar seperti ini, biasanya memiliki kemampuan mengkoordinasikan sebuah tim dan kemampuan mengendalikan gerak tubuh (athletic ability).  

Karena cara mereka memasukkan informasi ke dalam otak adalah dengan cara menyentuh, maka jangan kebiri potensi itu dengan dipaksa menjadi seseorang yang aktif mendengar, atau aktif menonton. Ananda akan stres berat, dan mungkin akan merosot prestasinya jika dipaksa menjadi 'orang lain'.

Ciri-ciri Tactual Learner
Seperti apa sih, ciri-ciri si Tactual Learner ini? 
  • Senang melakukan kegiatan-kegiatan yang bersifat fisik, seperti olahraga, main petak-umpet, sulap, dan menari; 
  • Tak bisa diam, senang bergerak, termasuk ketika sedang duduk
  • Untuk mempelajari sesuatu, ia harus menyentuh atau memegang terlebih dahulu objek yang ingin ia pelajari;
  • Mahir dalam membuat kerajinan tangan;
  • Pandai menirukan gerakan, kebiasaan, dan perilaku orang lain;
  • Senang melakukan bongkar-pasang;
  • Memiliki kontrol pada gerakan keseimbangan, tangkas dan gemulai saat bergerak;
  • Suka belajar dengan terlibat secara langsung;
  • Memiliki ingatan yang kuat terhadap apa yang dialami atau dilihat.

Bagaimana jika anak kita termasuk dalam tipe yang satu ini? Beberapa hal ini mungkin bisa membantu kita mengarahkannya.
  1. Latih ia berolahraga sejak dini. Misalnya, membelikan bola, kemudian kita ajak main lempar tangkap. Atau, belikan matras khusus, dan biarkan dia berguling-guling dan meloncat-loncat sesuka hatinya.
  2. Biarkan dia menyentuh apa yang aman baginya. Misalnya, ketika kita sedang masak di dapur, dan ia ingin menyentuh wortel, berikan wortel itu, sambil kita mengatakan, "Ini wortel!" Insya Allah memori akan wortel akan lebih mudah masuk saat ia meraba wortel itu, daripada sekadar melihat. Tapi, awas! Jika dia hendak memegang pisau, jangan berikan, meskipun untuk itu ia akan menangis berguling-guling.
  3. Belikan mainan-mainan yang berhubungan dengan sentuh-menyentuh, atau bongkar pasang, misalnya lego, playdogh, balok-balok dan sebagainya.
  4. Biarkan ia membongkar-bongkar mainannya, karena dengan cara itu ia akan belajar, meskipun resikonya mainan akan rusak. Solusinya, jangan belikan mainan yang mahal-mahal, hehe.
  5. Ajari dia menari atau bergoyang saat mendengar musik yang asyik.
  6. Sesering mungkin, ajak ia observasi ke lapangan. Misalnya, diajak jalan-jalan ke sawah, lalu biarkan ia mencebur ke lumpur, menyentuh daun, mencabut rumput dan sebagainya. Jangan lupa, saat ia melakukan hal itu, Anda beri penjelasan. Misalnya, "Itu lumpur, Nak! Padi hanya bisa tumbuh di lumpur."
  7. Jika Anda memilihkan sekolah untuknya, cobalah lihat-lihat fasilitas sekolah itu. Apakah ada laboratoriumnya? Apakah ada lapangan olahraganya? Apakah ada peralatan yang mendukung kebugaran jasmani? Apakah ada metode pembelajaran menggunakan komputer? Karena hal-hal tersebut sangat cocok dengan tipe belajarnya.
  8. Ada baiknya, jika punya dana, belikan alat-alat yang membuat ia bebas berekspresi membuat percobaan-percobaan sederhana. Misalnya, belikan mikroskop, kaca pembesar, dan sebagainya.
Oya, anak-anak macam ini butuh pengawasan yang terus-menerus, tetapi jangan terlalu berlebihan. Karena, secara ketrampilan badan, ia memang lebih pintar dari anak-anak lain. Ia memiliki keseimbangan yang baik, sehingga jangan terlalu khawatir ia akan jatuh saat manjat pagar. Tapi, tetaplah dilihat dan diawasi. Bagaimanapun, ia tetap anak-anak.

Memang butuh kesabaran dalam menghadapi anak-anak tipe ini. Tetapi, jika kita mampu menangani, ia akan menjadi anak supercerdas dan superkreatif. So, jangan mudah melabeli anak dengan kata-kata 'nakal'. Sunguh sebuah penderitaan dan beban yang justru akan membuat anak itu akan semakin berulah, dengan ulah yang destruktif.



Subscribe to receive free email updates:

8 Responses to "Olala, Si Anak Taktual!"

  1. waaah, tambah lagi ilmunya nih...matursuwun bu dokter...
    sekalian tanya, keponakan saya itu ada yang sukanya melihat tv atau vcd, padahal umurnya baru 1 tahun lebih dikit. dialihkan ke bermain gak mau, jadi kalau liat tv pasti konsen sekali. itu tipe apa mbak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bu Biru, saya bukan bu dokter, tapi bu Ahmad. Ananda yg suka nonton tivi itu tipe visual. Harus dirangsang dg sesuatu yg memanjakan penglihatan. Misalnya benda2 dg warna cerah dan ngejreng, diperbanyak VCD2 yang mendidik dll. Nanti saya bikin deh, artikel khusus si visual learner

      Delete
  2. wah, kok mirip dgn ciri-ciri anak sy ya...
    Jzk

    ReplyDelete
  3. terimakasih atas ilmunya.
    anak saya juga tidak mau diam...

    ReplyDelete
  4. Artikel yang bagus

    ReplyDelete
  5. Setiap anak memang unik ya mbak harusnya juga mendapat cara didik yang berbeda sesuai kebutuhan anaknya. Semoga segala potensi Hanifan terasah baik ya mbak dan jadi anak Sholeh tentunya. Salam

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul sekali, semua anak memiliki potensi masing-masing. Amiin atas doanya

      Delete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!