Ketika Siti Ikut Demo May Day

Pagi ini, Siti, buruh sebuah pabrik sepatu, memutuskan untuk tidak berangkat bekerja. Ia membolos. Alasannya bukan sembarang alasan. Ia mau demo!
"Demo?" Wanti, temannya melotot ke arahnya. "Ngapain ikut-ikutan demo! Halah, nggak usah sok pintar. Wong kita cuma buruh rendahan saja, kok pakai demo segala!"
Tak hanya Wanti yang mewanti-wanti. Hampir semua temannya satu pabrik, gedhek-gedhek kepala melihat Siti yang hanya tamatan SD itu

"Siti, Siti ... kita sudah diterima kerja saja sudah syukur. Tuh, banyak orang-orang pada nganggur. Gaji sedikit yang disyukuri. Yang penting berkah. Asal kita siap hidup sangat sangat sederhana, berapapun penghasilan kita, pasti cukup lah. Kalau ndak cukup, ya dicukup-cukupi. Daripada ngganggur dan dan dapat duit sama sekali?"

Ucapan teman-temannya memang masuk akal. Tetapi, niat Siti sudah bulat. Ia mau ikutan demo. Kata Mbak Garsini, tokoh buruh yang mengajaknya demo, dengan unjuk rasa, pemerintah jadi perhatian. Buktinya, kemarin para buruh di Bekasi ngotot minta UMK dinaikkan, dan setelah buruh sampai memblokir jalan tol, akhirnya pemerintah pun nurut. Pengusaha hanya bisa tanda tangan setuju.

"Nasib itu harus diperjuangkan, Ti!" kata Mbak Garsini. "Kalau kita hanya mau nerimo, ya akan begini terus selamanya. Gaji hanya cukup untuk hidup seminggu, sementara kerjanya sebulan. Apa kita harus makan batu selama tiga minggu? Nah, perbaikan nasib di negara demokrasi, itu bisa lewat demo! Kalau peserta demonya banyak, yang meliput banyak, pasti suara kita jadi didengar."

* * *
Jujur, Siti sebelum ini tak mengenal yang namanya demo. Ia selalu kerja dengan baik. Ya, sebelum kerja di pabrik sepatu, ia memang bekerja di rumahan, ikut Mbak Sari. Ia membantu Mbak Sari menjahit baju-baju yang akan dijual ke pasar. Pegawai di rumah Mbak Sari yang hanya Siti. Gajinya memang kecil, hanya lima ratus ribu sebulan. Tetapi ia mendapat jatah beras sebulan 10 kilogram, mie instan satu kardus, dan gula pasir sekilo. Ia juga makan di rumah Mbak Sari. Belum kalau ada apa-apa, Mbak Sari pasti mau membantu. Misalnya, saat ibunya sakit, Mbak Sari tanpa diminta menyumbang uang cukup besar.

Mbak Sari juga selalu ramah kepadanya. Ia selalu bilang, "Siti, maaf ya, aku baru bisa menggaji sebesar itu. Nanti kalau usahaku semakin besar, gajimu pasti akan semakin besar." Hal itu membuat Siti merasa mengerti, dan ikhlas bekerja di sana. Yang membuat Siti semakin senang, seringkali jika tanggal gajian jatuhnya di hari libur, Mbak Sari membayar gajinya sehari sebelum itu. Misalnya, tanggal gajian hari minggu, maka sabtunya ia sudah gajian. Kata Mbak Sari, "Rasulullah melarang kita menahan gaji buruh sampai kering keringat mereka, Siti."

Yang juga mengasyikan, setahun sekali, Siti mendapat bonus lumayan besar, bisa sebesar gajinya sebulan. Kata Mbak Sari, itu bagian dari keuntungan usaha Mbak Sari. "Aku memberimu 5 persen dari total keuntungan, Siti. Kalau untungnya semakin besar, jatahmu juga semakin besar."

Siti senang kerja bersama Mbak Sari. Sayangnya, usaha Mbak Sari bangkrut, sehingga Siti terpaksa mencari pekerjaan lain. Ia pun diterima kerja di sebuah pabrik sepatu. Sebenarnya, gaji di pabrik sepatu lebih besar dari kerja di rumah Mbak Sari. Namun, karena ia harus mengeluarkan uang untuk makan siang dan juga membayar angkot, gajinya yang tujuh ratus ribu sebulan, hanya diterima bersih tak sampai lima ratus ribu.
Suasana kerjanya juga sangat tidak mengenakkan. Mandornya galak. Sekali ia lalai, yang ia peroleh bentakan dan cacian. Belum lembur-lembur yang seringkali harus ia kerjakan tanpa tambahan upah. Kalau sakit, tak dapat uang berobat, bahkan gaji pun dipotong.

Yang paling membuat Siti marah, suatu hari, bosnya datang, dan dengan tanpa perasaaan, ia mengatakan bahwa perusahaan tak mampu membayarkan Tunjangan Hari Raya, karena keuntungan perusahaan minim. Tetapi, dengan mata kepala sendiri, Siti melihat bosnya, bersama istri dan anak-anaknya, belanja di sebuah mall hingga bertroli-troli, yang pastinya seharga jutaan rupiah. Mereka juga makan di restoran besar, yang satu porsi makanannya bisa sama separuh bahkan satu gajinya sebulan. Lantas, mereka mampir di sebuah toko sepatu kelas atas, dan membeli beberapa pasang sepatu yang satu pasangnya seharga jutaan. Tak bosan memata-matai, Siti melihat si bos dan keluarganya pulang memakai mobil sedan mewah yang harganya hampir semilyar. Oow, melihat rumah si bos, Siti semakin melotot. Rumahnya megah bak istana. Berlantai tiga, dengan garasi besar. Kata tetangga si bos, garasinya berisi empat mobil yang sama-sama mewahnya.
Kepala Siti pening. Katanya usaha sedang sepi. Katanya perusahaan tak untung. THR hak buruh pun tak dibayar, kok begitu mudah menghambur-hamburkan uang?

* * *
Spionase dadakan, ditambah provokasi Mbak Garsini, membuat Siti terbakar. Maka, hari ini, Siti pun nekad demo. Tanggal 1 Mei, kata Mbak Garsini, adalah hari buruh sedunia, yang lazim disebut sebagai May Day. Di beberapa negara, 1 Mei telah ditetapkan sebagai hari libur. Mengapa harus 1 Mei? Ia pernah bertanya.

"Sebab, pada tanggal inilah, tepatnya 1 Mei 1886, pemerintah Amerika Serikat, atas desakan Serikat Buruh, menetapkan jam kerja sebanyak 8 jam dalam sehari. Penetapan itu tak diperoleh serta merta, sebab tuntutannya dimulai 2 tahun sebelumnya, yakni pada 1 Mei 1884. Sebelum itu, para buruh bekerja lebih dari 8 jam. Padahal, sebagai makhluk sosial, manusia juga membutuhkan waktu untuk berinteraksi dengan keluarga, masyarakat, serta melakukan aktivitas hobi lainnya," jawab Mbak Garsini.

Delapan jam sehari, kemudian menjadi standard internasional, yang juga berlaku di Indonesia. Tetapi, Siti sangat sering bekerja lebih dari delapan jam sehari. Kadang sepuluh, sebelas, bahkan pernah lembur hingga jam sembilan malam. Tanpa tambahan upah!

Siti nekad demo, meski diancam. Kata manajernya, kalau ia tak berangkat kerja dan ikut demo para buruh, gajinya akan dipotong. Potongannya sangat besar. Sejam 30 ribu. Tunggu! Siti mencoba mencoret-coret di kertas. Kalau tidak berangkat kerja sehari, berarti delapan jam. Delapan kali 30 ribu, Rp 240.000,- Jika gajinya hanya Rp 700.000 sebulan, berarti kelak ia hanya akan mendapat bayaran Rp 460.000. Dipotong makan siang dan transportasi yang sekitar Rp 200.000, berarti ia hanya akan mengantongi uang sebesar Rp 260.000,-

"Masih mau nekad demo?" cibir Wanti.
"Ya," ujar Siti tegas. Ia bisa membawa bekal dari rumah, meski hanya segumpal nasi dan sepotong tempe. Ia biasa puasa Daud. Ia juga bisa jalan kaki dari rumah ke pabrik yang sejauh 5 kilometer. Tak ada masalah. Ia hanya harus berangkat lebih pagi.

"Ngeyel kamu!"
"Nasib harus dirubah. Gusti Allah hanya akan merubah nasib seseorang yang mau merubahnya!"
Wanti pun semakin kerap menggeleng-gelengkan kepala. 

Oalah, Siti... Siti.

Subscribe to receive free email updates:

10 Responses to "Ketika Siti Ikut Demo May Day"

  1. hidup siti,,, sya sepkat dg karakter siti,, :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ingin sekali me'siti'kan para buruh perempuan

      Delete
  2. Lanjutannya dong mbak. Soalx sy langsung berimajinasi sndiri nih tntang lnjutanx. Saya pnasaran gimana akhir cerita versi mbak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang tak berending, hehe... tetapi Parodi Siti akan tetap muncul, untuk mewakili sikap saya terhadap berbagai permasalahan politik, sosial, dan budaya. Saya beli label Angkringan :-)

      Delete
    2. mntep2..mbak dg SItinya kalau Pramudya dg Minke nya he

      Delete
    3. Siti sama Minke, jauhlah, Mas Agus? Minke anak bupati, sekolah tinggi dan terpelajar. Klo Siti lulusan SD, dan hanya buruh :-)

      Delete
  3. nice story, Bunda... :) :) perjuangan rakyat kecil memang harus diperhatikan... kuncinya; bagaimana cara qt pandai bersyukur dan memperjuangkan hak2 yg terabaikan..

    lam kenal, Bunda..
    www.aniamaharani.blogspot.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul sekali, sepakat untuk terus berjuang!

      Delete
  4. buku yang hanya bisa saya baca dan saya kagumi karya afifah afra ketika smp dan sma ternyata sekarang bisa saya lihat lewat website dan akun twitternya...
    #bangga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sudah baca buku apa aja, Pakde? Matur nuwun sudah rawuh di sini :-)

      Delete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!