Pembicara "Bemper"

Suatu hari, di sebuah forum online, terjadi sebuah percakapan seru. Seorang penulis senior, sebut saja R, melempar sebuah topik yang kurang lebih begini, "Hei, organisasi X di kota X mengundang saya jadi pembicara. Tetapi katanya, nunggu kalau ia gagal melobi si Z!"

Z adalah salah seorang penulis senior juga, yang sering malang melintang mengisi berbagai seminar dan pelatihan kepenulisan. Nama beliau yang terkenal, yang pastinya didukung oleh kapasitas beliau yang memang memungkinkan untuk itu, membuat beliau memang menjadi buruan para panitia berbagai even acara.
"Sebenarnya, saya nggak papa dijadikan bemper," ujar R. "Tapi, panitianya tuh, jujur amat ngomongnya, hehe."
Mendadak, C, penulis yang lain menimpali, "Saya mah, sudah terbiasa jadi pembicara bemper. Pernah dalam satu forum, saya menjadi pembicara kedua. Trus habis acara selesai, panitia menyerahkan nasi kotak sembari berkata, 'Maaf ya, Mbak, berhubung mbak bukan pembicara utama, maka kami nggak bisa ngasih apa-apa. Terimakasih atas kedatangan mbak disini.'"

Trus, kata C, ketika dia minta diantar pulang, panitia tanpa rasa bersalah berkata, "Maaf, mbak... mobilnya sedang dipakai mengantar pembicara pertama ...." Akhirnya, dengan susah payah, menggendong baby-nya serta menenteng nasi kotak, C pun naik angkot menuju rumahnya.

"Yang parah nih," tulis R, "seringkali sebuah acara sudah tersebar publikasi, pembicaranya si X yang top, bahkan gambar dia sudah dipajang, eh, ternyata yang datang daku. Apa para pengunjung nggak merasa tertipu karenanya?"

"Trus, terkadang ada panitia yang ngebet banget ngundang selebritis, sampai-sampai rela mengeluarkan anggaran yang bejibun, padahal si selebritis nggak menguasai persoalan. Pernah tuh, saya satu pesawat dengan seorang selebritis. Ceritanya, dia harusnya naik pesawat G, tapi karena terlambat, ia dialihkan ke L. Tentu saja pelayanannya jauuuh deh. Eh, sepanjang jalan, si seleb itu ngedumeeel terus, dan tak sekalipun menengok ke saya. Eh, ternyata pas di forum, ternyata kami sama-sama pembicara. Dia pembicara utama tentunya. Tetapi, saya cukup pede, karena di forum itu, ternyata pengunjung lebih antusias dengan paparan saya dan pertanyaan pun lebih banyak ke saya," ujar R, penuh semangat!

Kami pun saling ngudarasa, bercerita tentang 'suka-duka' sebagai pembicara 'bemper'. Tentang betapa uniknya perlakuan panitia. Dan sebagainya.

* * *

Meskipun beliau, Mbak C, Mbak R dan yang lain, menceritakan hal tersebut dengan ikon-ikon 'riang gembira', dan kami semua terpingkal-pingkal membaca curhatannya, diam-diam aku merasa kesal, sedih dan juga miris. Soal menjadi pembicara bemper, saya juga sering mengalami, meskipun tentu saja kasusnya tak 'seseram' mbak C atau mbak R. 

Pernah suatu ketika, ada panitia sebuah acara menelpon saya sembari terisak-isak. Ceritanya, mereka sudah mengundang seorang pembicara top. Mereka bahkan sudah mengirimkan uang pembelian tiket. Tetapi, satu hari menjelang hari H, ternyata si pembicara top itu membatalkan kedatangannya, dengan alasan tak mendapatkan tiket.

"Tolong kami, ya mbak... bisa ya, mbak menggantikan beliau? Buat menghilangkan kekecewaan peserta."
"Acaranya dimana, dik?"
Dia menyebut sebuah kota. Aku terbengong. 8 jam dari rumah. Harus meninggalkan anak-anak, mengatur jadwal, sementara saya juga bukan 'pengangguran.' Saya termasuk orang yang teratur, tidak bisa begitu saja meng-cut sebuah agenda, karena semua telah terjadwal. Dengan berat hati, saya pun menolak permintaan mereka. Saya kurang tahu akhir dari 'kisah duka' mereka.
* * *

Kisah-kisah di atas, membuat kita semua harus berpikir. Bagaimanapun, seikhlas apapun, se'shalih-shalihah' apapun, pembicara bemper itu manusia. Mari kita mencoba bersikap santun kepadanya. Memperlakukan seperti panitia memperlakukan mbak R dan mbak C, membuat saya mikir, mereka tuh, panitia yang mestinya orang-orang yang 'makan tarbiyah', kok nggak sopan amat. Minimal, kalaupun mereka nggak sekeren pembicara yang mereka anggap top, toh mereka lebih tua, lebih berpengalaman, dan lebih berilmu. Perlakukan dengan hormat!

Kedua, ada baiknya jika pembicara mendadak membatalkan, panitia meminta pembicara itu mencari penggantinya sendiri. Atau, jika inisiatif ini datang dari pembicara, ini lebih baik. Ini sering dipraktikkan oleh Mbak Izzatul Jannah dahulu, saat beliau masih tinggal di Solo. Saya sering menjadi 'bemper' beliau. Tetapi alhamdulillah, tak ada kisah-kisah seram seperti di atas. Saya pun, ketika tiba-tiba membatalkan acara karena alasan yang syar'i, saya sodorkan nama-nama yang saya anggap berkualitas. Biar mereka tak merasa menjadi 'bemper', seringkali saya sendiri yang melobi mereka.

Semangat dakwah, nashrul fikrah, sebaiknya juga harus memperhatikan kesantunan, bukan? Wallahu a'lam.

Subscribe to receive free email updates:

3 Responses to "Pembicara "Bemper""

  1. Mau kotak makan berkelas untuk usaha makanan anda? Pake aja Greenpack, sudah terbuat dari bahan foodgrade lho. Jadi gk perlu repot lagi kasih alas di kotak makanannya.

    ReplyDelete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!