Ramadhan, Indahnya Empati, Indahnya Peduli


Coretan Afifah Afra
(Dimuat di Rubrik Hikmah Ramadhan Solopos, 21 Juli 2012)
Matahari merapat ke ufuk barat, menyisakan hangat di setiap butir pasir Madinah. Keluarga Ali bin Abi Thalib telah bersiap dengan santap buka puasanya yang sangat sederhana. Air putih dan beberapa potong roti kering. Jauh dari kemewahan, akan tetapi mereka menyambut saat berbuka dengan penuh kebahagiaan.
Saat mereka hendak menyantap hidangan, mendadak seseorang mendatangi mereka, dan mengatakan bahwa ia tak memiliki apa pun untuk disantapnya. Terketuk hatinya, Ali pun memberikan rotinya. Alangkah terperanjatnya Ali, tatkala tanpa dinyana, Fatimah dan anak-anaknya yang masih kecil-kecil pun melakukan hal yang sama, memberikan jatah berbukanya kepada fakir miskin tersebut.

Peristiwa agung itu, ternyata terulang hingga tiga hari berturut-turut. Mereka berlima pun selama tiga hari hanya bisa berbuka dengan air putih belaka. Rasulullah yang mendengar kisah tersebut, seketika mendatangi keluarga tersebut. Penuh haru, Rasulullah pun menciumi ketiga cucunya, bocah-bocah agung yang telah ditempa oleh sebuah sistem pendidikan akhlak nan luar biasa.
Tentunya, sebagai hamba Allah nan berkubang lumpur, pencapaian akhlak kita masih sangat jauh dari teladan gemilang itu. Akan tetapi, teladan diciptakan untuk menjadi panutan. Alangkah indahnya jika sebagai insan, kita senantiasa menjadikan cerita-cerita keluarga nabi sebagai lahapan rutin keseharian kita.
Ya, karena sesungguhnya aspek yang dicakup oleh Al-Islam bukan hanya aspek vertikal—yakni hubungan seorang hamba dengan Tuhannya, melainkan juga horizontal—hubungan manusia dengan sesamanya. Habluminnallah wa habluminanaas. Berislam bukan hanya dengan banyak bersujud, dzikir, dan tilawah, tetapi juga mengaktualisasikan kepedulian terhadap sesama. Betapa banyak ayat Al-Quran dan juga Al-hadits yang memerintahkan kita untuk membina hubungan baik dengan sesama.
Dan, puasa adalah salah satu ibadah yang secara kasatmata menyatukan kedua jenis interaksi itu. Bahwa puasa adalah sebuah refleksi percintaan dari seorang hamba kepada Tuhannya, ini sangat jelas. Dalam sebuah hadits qudsi, Allah berfirman, ““Semua amalan bani adam adalah untuknya kecuali puasa, karena puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya…” (HR. Bukhari & Muslim).
Akan tetapi, puasa juga mengandung ajaran untuk peka terhadap sesama. Di dalam puasa, seorang mukmin menahan lapar dan dahaga dari mulai fajar hingga terbenam matahari. Ini sangat erat kaitannya dengan proses terbentuknya sikap empati, yang menurut KBBI diterjemahkan sebagai ‘keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain. Empati adalah kemampuan seseorang dalam ikut merasakan atau menghayati perasaan dan pengalaman orang lain. Seseorang tersebut tidak hanyut dalam suasana orang lain, tetapi memahami apa yang dirasakan orang lain itu.’
Empati sangat penting dalam sebuah sistem kemasyarakatan, karena merupakan salah satu dari bentuk social competency (kemampuan social) yang sangat penting. Lebih luas lagi, empati bukan lagi sekadar merasakan pengalaman orang lain, tetapi juga sebuah kepedulian (concern) untuk melakukan sesuatu berdasarkan apa yang ia rasakan tersebut. Saat berpuasa, kita merasakan, betapa sulitnya menjadi orang miskin yang sering merasakan lapar dan dahaga. Karena itu, kita pun terketuk hatinya untuk peduli dan membantu sesama.
Secara otomatis, empati memang melahirkan sikap kedermawanan. Ditambah dengan janji Allah tentang melimpahnya pahala bagi para penderma, yang dipraktikkan dengan sangat gamblang oleh Rasulullah SAW yang kedermawanannya mengalahkan angin yang bertiup, juga dicontohkan oleh keluarga Ali bin Abi Thalib di atas, tunggu apa lagi! Mari kita jadikan puasa kita sebagai bentuk melatih kepedulian kita kepada sesama!

Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "Ramadhan, Indahnya Empati, Indahnya Peduli"

  1. berbagi kata kata motivasi gan
    Lebih mudah untuk melawan ribuan orang bersenjata lengkap dibandingkan melawan kesombongan diri sendiri.
    semoga bermanfaat dapat di terima dan salam kenal ya gan :D , ku tunggu kunjungan baliknya :D

    ReplyDelete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!