Sang Digital Native!

Suatu sore, saya mendadak membutuhkan translasi cepat sebuah kata berbahasa Inggris. Karena yang tersedia adalah sebuah kamus elektronik, saya pun meraihnya. Agak bingung, karena saya jarang sekali memakai alat tersebut. Sempat berkali-kali salah entry, tiba-tiba sebuah tangan mungil meraih bahu saya.



"Mau cari kata apa, Mi?"

Oh, ternyata Rama, anak kedua saya, yang tanggal 23 Oktober ini baru genap berusia 6 tahun. Tanpa banyak bicara, ia membantu saya menggunakan alat itu, sehingga saya pun dibuat tersipu-sipu malu. Oalah, ibu yang sarjana, belajar pada anak usia 6 tahun.

Tak hanya Rama, kakaknya, Anis (8 tahun), juga terlihat begitu luwes memainkan berbagai gadget yang kami miliki. Mulai dari HP, komputer, laptop, sampai tablet. Bahkan, si kecil Ipan (2 th), pun sudah mulai mengoperasikan aplikasi-aplikasi sederhana dari gadget kami.
Ibu saya, yang pernah 2 minggu tinggal di rumah kami, tertegun-tegun melihat betapa anak-anak sudah begitu lincah dan akrab dengan alat-alat yang jangankan telah ada, dibayangkan di era beliau bocah, tahun 60-an saja tidak.

Jangankan eyangnya, saya yang saban hari bergelut dengan gadget saja, seringkali tergagap-gagap dengan kecepatan mereka belajar.

* * *
Kemajuan IT memang luar biasa cepat. Saya mengenal komputer pertama kali saat awal SMA, tepatnya tahun 1995. Saat itu, kelas 2 SMA, saya nyambi kursus di sebuah lembaga pendidikan komputer dekat sekolah. Yang saya pelajari masih program-program under-DOS seperti WS dan Lotus. Saya belajar program WS, dan alhamdulillah lulus dengan nilai bagus :-). Saat itu, sebenarnya sudah ada program Windows, tapi entah mengapa, di lembaga kami tidak diajarkan.

Masuk kuliah, awal-awal, (saya masuk kuliah tahun 1997), baru saya mulai mengenal windows. Saat itu, rental-rental komputer masih menggunakan komputer pentium I, dengan kapasitas harddisk paling 1 giga (bayangkan dengan komputer sekarang yang bisa ratusan giga! :-)). Saya belajar windows secara autodidak.

Berkesempatan membeli komputer adalah ketika saya mulai menghasilkan tulisan yang berhonor. Saya membeli 1 unit komputer second pentium 1 yang langsung rusak saat saya baru menggunakan selama satu bulan. Harganya saat itu 1,5 juta. Karena rusak, saya pun kembalikan kepada penjualnya. Eh, ternyata oleh penjualnya, duit saya dibayar secara mencicil. Bahkan pada cicilan terakhir, beliau mengganti dengan HP, sebuah nokia 5110 yang lebih terkenal dengan julukan HP Penggebuk, saking besarnya, sehingga bisa buat menggebuk (memukul) orang.

Saat itu, tahun 1999, saya membeli kartu perdana mentari (yang sampai saat ini masih saya pakai) seharga Rp 250.000,- dengan isi pulsa sebesar Rp 50.000 yang langsung habis ketika saya pakai untuk menelpon bulik saya. Ceritanya, ingin pamer HP, begitu. Saya juga bertahun-tahun menjadi 'korban' dari operator seluler, karena sempat ber-SMS ria dengan harga 1 SMS Rp 350, hehe.

Lantas, saya diperkenalkan dengan internet, juga masih masa-masa kuliah. Saat itu, internet hanya bisa dinikmati di warnet, dengan sewa Rp 7.000/jam untuk warung internet yang lumayan bagus. Kalau warnet yang panas tanpa AC dan komputernya jebod, paling Rp 5.000/jam. Untuk mencari bahan-bahan tulisan, saya biasa ngendon di kabin warnet sekitar 2-3 jam, biasanya dua atau tiga hari sekali. Bahan-bahan saya simpan di disket. Wah, saat itu koleksi disket saya sampai ratusan :-). Internet saat itu pun belum mengenal media sosial, baru email dan browsing di web-web 1.0.

Dan sekarang ini ... masyaAllah, perkembangan IT luar biasa cepat. Ibarat pada tahun 1990-an IT berjalan setapak demi setapak, saat ini IT menaiki kereta ekspress. Pantas saja orang-orang seperti saya sering dibuat tergagap-gagap.

* * *
Jika diumpamakan sebuah negeri, zaman sekarang adalah negeri digital. Dan, anak-anak seperti Rama, Anis dan Ipan, bisa disebut sebagai digital native, alias penduduk pribumi negeri digital. Mereka lahir membersamai kemajuan digital. Sedangkan orang-orang seperti saya, adalah pendatang. Imigran. Sebagai imigran, tentu saya membutuhkan penyesuaian. Wajar, jika terbata-bata membaca zaman. Adapun generasi ibu saya, para simbah, bisa dikatakan sebagai orang asing. Pernahkah Anda mendatangi suatu tempat yang Anda tak mengenal bahasanya? Tentu Anda akan terbengong-bengong dibuatnya.

Tetapi, IT adalah sebuah keharusan saat ini. Meskipun statusnya imigran, kita bisa belajar cepat, asal kita mau terbuka dan selalu mengikuti perkembangan zaman.
Setuju?

Subscribe to receive free email updates:

6 Responses to "Sang Digital Native!"

  1. mba
    aku pengen beli bukunya yg da conspiracy
    *komen ga nyambung

    tapi aku baca kok postingannya :D

    iya mba
    jmn skrg prkembangan IT banter bgt ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada nyambungnya juga, kok... disambung2in hehe. utk pemesanan DC bisa ke 0878.3538.8493

      Delete
  2. waahh... ini aku asli mirip dengan lagunya sting: "i am alien in nwe york" kalo ngomong soal teknologi. aku asli tergagap-gagap. Untungnya selalu ada upaya untuk mempermudah penggunaan banyak hal ya, juga bantuan dari para anak muda yang melek teknologi. makasih ya Yeni untuk bantuannya mempermak blogku yang amburadul berantakan itu...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yeiyy... ini komen sudah berusia 1,5 tahun ya mbak :-)

      Delete
  3. Saya tertarik dengan tulisan anda mengenai Sang Digital Native!.Benar benar sangat bermamfaat dalam menambah wawasan kita dalam hal ilmu komputerisasi yang sangat cepat berkembang.Saya juga mempunyai tulisan yang sejenis mengenai komputerisasi yang bisa anda kunjungi di www.lepkom.gunadarma.ac.id

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih atas kunjungannya, Mbak Reno... segera kunjungan balik :-)

      Delete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!