Menulis (Memang) Butuh Waktu Khusus

Sekilas, judul postingan saya sangat klasik, ya? Bentuk penghalusan dari kata 'kuno' alias 'usang' :-). Menulis butuh waktu khusus? Ya, segala sesuatu, tak hanya menulis, memang butuh waktu khusus. Makan butuh waktu khusus. Meskipun beberapa prajurit Mataram (versi cerita silat S.H. Mintardja), bisa makan sembari berperang. Nasi dibuat dalam bentuk kepalan padat, dicampur sayur dan lauk yang telah dihaluskan, dan langsung bisa dimakan dalam keadaan bertempur melawan musuh. Tidur butuh waktu khusus. Belanja butuh waktu khusus. Bahkan (maaf) buang air kecil ke toilet pun butuh waktu khusus.


Segala sesuatu butuh waktu khusus. Apatah lagi menulis!
Selesai? Belum.

Kalimat 'Menulis Butuh Waktu Khusus' terlihat sepele. Tetapi jika hal tersebut disodorkan kepada para pegiat tulis-menulis, apalagi yang sudah, atau mengaku atau ingin menjadi penulis profesional, kalimat sepele itu bisa lebih keras ledakannya dibandingkan mercon (lebay? setidaknya mercon imajinasi, xixixi ...).

Tak usah jauh-jauh mencari contoh. Saya dengan suka-rela mengajukan diri. Pada awal-awal nyemplung di dunia kepenulisan profesional, sungguh-sungguh saya termasuk produktif. Bahkan ada yang menjuluki sangat produktif. Jika tidak salah, pada tahun 2002, hampir setiap bulan saya menerbitkan buku baru. Cerpen-cerpen saya juga cukup banyak bermunculan di media. Tahun-tahun berikutnya, paling tidak 5 buku baru saya terbitkan setiap tahun. 

Sekarang?
Ow-ow. Tutup muka. Malu. Tahun 2012 ini saya, baru 1 buku saya terbitkan. Memang betul, dari segi eksplorasi ide, beberapa buku saya belakangan ini mungkin cukup dalam. Saya juga merasa lebih dituntut  untuk lebih memperkuat riset, demi memperkuat bobot karya. Maka, jika saya butuh waktu lebih panjang untuk menulis, sepertinya itu wajar-wajar saja.

Betulkah?
Sepertinya itu apologi semata. Gubrak!
Memperkuat bobot karya adalah sebuah tuntutan yang sangat biasa. Dan bahkan wajib. Jika mau jujur sejujur-jujurnya, sebenarnya penyebab saya jadi rada-rada mandul akhir-akhir ini adalah, saya tak menyediakan waktu khusus untuk menulis. Apakah itu terjadi karena saya sangat sibuk? Mungkin iya, mungkin juga tidak. Saya memang sudah tak seperti waktu lajang dahulu. Anak saya tiga, saya punya suami yang juga membutuhkan waktu tersendiri, juga harus bekerja mengurus beberapa usaha yang tengah saya rintis bersama teman-teman. Saya juga menjadi pegiat di beberapa lembaga sosial.

Tetapi, kenapa twitter saya selalu ter-update? Facebook saya juga tak pernah telat diganti status? Artinya, sebenarnya, jika mau serius, waktu untuk menulis itu ADA. Bahkan mungkin melimpah. Dan jika kita sudah menyebut profesi kita sebagai penulis, waktu itu HARUS DISEDIAKAN. Karena, penulis memang kerjaannya menulis. Kalaulah penulis mengisi sebuah seminar, bedah buku, pelatihan, semestinya itu hanya selingan. Pekerjaan utama penulis, ya MENULIS.

Terlebih, jika kebutuhan menulis sudah memasuki ranah yang di sebut Maslow sebagai kebutuhan beraktualisasi diri, alias eksistensi diri. Kebutuhan ini sudah terlepas dari iming-iming materi, atau sekadar mencari gelar juara lomba nulis ini, juara lomba nulis itu. Karena yang menjadi indikator adalah keeksisan. Seorang penulis dengan tulisannya, seorang komponis dengan lagu ciptaannya, seorang pelukis dengan lukisannya. Maka, seorang penulis belumlah dikatakan mencapai puncak eksistensi, jika masih merasa enjoy saja meski mandul.

Wallahu a'lam bishowab.

Subscribe to receive free email updates:

7 Responses to "Menulis (Memang) Butuh Waktu Khusus"

  1. iya, kalo diniatin semua jadi bisa ya sebenarnya. buktinya, kalo nulis status rajin amat... hehehehe.. itu aku banget.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tinggal dikumpulin statusnya, Mbak... itung-itung mencicil tulisan, hehe :-D

      Delete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!