Menggores Warna Lokal Dalam Karya

Oleh: Afifah Afra

Dan, marilah kita gerakkan kuas-kuas imajinasi kita dalam kanvas-kanvas. Mari kita keluarkan seluruh simpanan warna yang kita miliki. Biarkan kedua tangan kita menari-nari di atasnya. Biarkan … biarkan emosi kita yang berbicara. Biarkan saraf-saraf itu mentransformasikan imajinasi tersebut menjadi sebuah hasil kreasi. Sedetik, semenit, sejam… !
Oke, waktu habis :-) 



Sekarang, mari kita pandangi hasil ‘coretan’ kuas kita. Pandangilah komposisi warnanya. Dan barangkali kita akan dibuat terhenyak. Mengapa harus cappuccino, pizza, mall, tuxedo, atau blue jeans? Mengapa bukan wedang ronde, kue serabi, pasar tradisional, jas bukak atau celana komprang? Apalagi jika kota yang Anda imajinasikan dalam ‘coretan kuas’ Anda tadi adalah Wonogiri.

Maaf, beribu maaf. Ini bukan sebuah forum untuk berceloteh tentang nasionalisme ataupun patriotisme—meskipun imajinasi dan kreativitas yang spontan biasanya menggambarkan dominasi memori yang mengisi korteks otak kita. Saya hanya sedang mencoba menyodorkan sebuah peluang, bahwa menghidupkan wedang ronde, kue serabi, pasar tradisional, jas bukak dan celana komprang, seringkali tak kalah menarik daripada sekadar mengangkat produk-produk globalitas. Menceritakan sesosok buruh shift malam yang duduk di sebuah warung dalam keletihan, lalu mengangkat cangkir berisi wedang ronde dan menyeruputnya dengan nikmat—dalam iringan musik campur sari, tak kalah indah dibandingkan dengan sesosok direktur dengan pakaian serba bermerk—dan barat ‘punya’—yang tengah mencecap satu cup cappuccino di sebuah kafe dengan irama musik klasik dari Mozart.

Lalu, mengapa karya-karya kita, kebanyakan justru mengarah pada pilihan kedua? Ada banyak faktor. Pertama, sastra adalah produk budaya, atau peradaban. Menurut Ibnu Khaldun, peradaban suatu bangsa yang kalah akan mengekor peradaban bangsa yang menang. Dengan demikian, sudah sejak zaman penjajahan kita telah dicuci otaknya dan akhirnya dengan suka ria menganggap barat is the best. Dan karakter ‘pecundang’ itu lama-lama mengkultur dan bahkan mempengaruhi susunan biokimiawi pada tubuh sehingga akhirnya mempengaruhi susunan gen yang ditransfer secara turun temurun.

Dalam sebuah acara lomba novelette yang diikuti oleh puluhan siswa SD di sebuah kota—dimana saya terlibat sebagai salah seorang juri—saya mendapatkan kenyataan bahwa nyaris seluruh peserta selalu memakai nama-nama barat sebagai tokohnya. Maka nama Charles, Lucky, John, Carolline ataupun Josephine—yang anehnya bersekolah di SD negeri di kota-kota yang tersebar di negeri bernama Indonesia—jelas lebih ngetop dibandingkan dengan Ani, Joko, Andi, Sekar atau Wulan.

Kedua, banyak pakar yang mengatakan, bahwa apa yang kita tulis, sesungguhnya adalah produk yang kita baca, kita lihat, kita dengar dan kita rasakan. Pada kasus anak-anak SD yang mengikuti lomba tersebut, ketika saya mencoba bertanya—dalam sesi wawancara yang menjadi rangkaian dari penjurian—apa saya buku-buku yang mereka baca, dan jawabannya semakin menguatkan pendapat para pakar tersebut. Apakah Anda akan mendapatkan seorang anak yang biasa membaca Harry Potters, dan ia akan dengan spontan menulis kisah Joko Tingkir?

Memanfaatkan Kekayaan yang Berserak

Pertanyaan atas terus berlanjut. Dan, seandainya anak tersebut kemudian membuat Harry-Potters-Like, apakah Anda yakin—meskipun seandainya si anak tersebut memiliki kemampuan berdiksi selevel J.K. Rowling—bisakah ia membuat setting sebagus J.K. Rowling, hanya dengan mengandalkan kemampuan imajinasinya?

Ini sama halnya dengan, mengapa Anda bersusah-payah menyuguhkan makanan khas Italia untuk menyambut tamu Anda dengan mencari aneka bahan yang cukup langka, sedangkan di sekitar Anda tumbuh puluhan batang kelapa dengan buah yang lebat, ratusan singkong dengan umbi yang empuk, serta produsen gula kelapa yang juga bertebaran. Mengapa Anda tidak ‘mempermudah’ diri dengan membuat gethuk saja? Tak hanya sekadar bahan yang melimpah, rasanya pun pasti akan lebih cocok dengan lidah kita.
Masalahnya, gethuk itu tak sekeren spaghetti.

Nah, ini dia! Sekali lagi, masalahnya terletak pada persepsi kita terhadap kultur lokal kita sendiri. Begitu banyak kegagapan-kegagapan yang muncul di kalangan masyarakat—bahkan pemerintah kita dalam memahami tradisi masyarakat sendiri. Kesulitan relokasi masyarakat yang tinggal di sekitar lereng Merapi agar daerah yang berbahaya bisa kosong dari pemukiman salah satunya disebabkan karena minimnya pendekatan budaya yang dilakukan. Triyoga (2010) menyebutkan, bahwa penelitian seputar Merapi masih berkutat di seputar vulkanologi, ekologi dan transmigrasi. Masih sangat sedikit penelitian yang menempatkan masyarakat Merapi dengan segala kulturnya sebagai objek, padahal justru kultur itulah yang menyebabkan masyarakat Merapi enggan meninggalkan daerahnya. Ada satu kepercayaan tersendiri di masyarakat Merapi yang membuat mereka yakin bahwa bahaya Merapi bukanlah sesuatu yang harus ditakutkan.

Dan, sesungguhnya, terdapat begitu banyak warna-warna lokal yang ketika kita goreskan dalam dunia sastra, maka pelangi yang terlukis pun tak kalah semarak dengan warna-warna import. Ketika Kementerian Pariwisata merubah branding pariwisata Indonesia dari domain Asia “Truly Asia” menjadi “Wonderful Indonesia”, (Kompas, 25/1/2011), sesungguhnya sebuah langkah maju telah terukir. Kita telah selangkah lebih maju dengan mencoba tampil sebagai diri sendiri!

Apa Itu Lokalitas?

Secara umum, lokalitas berarti sebuah konsep umum yang terkait dengan sekat geografis. Akan tetapi, menurut Maman S. Mahayana, lokalitas dalam konsep budaya bersifat lebih fleksibel, dinamis, lentur, tidak kaku, dan mengacu pada kultur yang berlangsung di sebuah daerah. Lokalitas dalam sastra bukanlah sekadar ruang (space), locus, tempat (place) atau wilayah geografi yang dibatasi atau berbatasan dengan wilayah lain yang secara fisikal dapat diukur, tetapi mesti dimaknai dalam ranah budaya. Secara struktural, lokalitas dalam sastra kerap dimaknai sebagai wilayah, tempat, kondisi, atau situasi dalam teks yang menggambarkan para pelaku memainkan perannya. Lokalitas seperti mengalami pereduksian menjadi sekadar latar (setting) dalam teks yang mewartakan tempat, situasi, suasana, atau gambaran tentang masyarakat budaya.

Warna lokal sering lebih dipahami sebagai sesuatu yang statis dan berdimensi keruangan. Dalam operasionalisasinya warna lokal diperlakukan sebagai bagian dari struktur karya sastra, khususnya sebagai salah satu aspek dari seting, atmosfer, dan penggunaan bahasa. Sebagai bagian dari latar fisik dan ruang, warna lokal dikaitkan dengan geografi semisal Sumatra Barat, Riau, Jawa. Lebih spesifik dengan Surakarta, Yogyakarta, atau bahkan fiktif semacam Dukuh Paruk, Wanagalih. (pusatbahasa.diknas.go.id). Akan tetapi, masih menurut Maman S. Mahayana, sesungguhnya lokalitas tak selalu berkutat pada lattar atau setting an sich, tetapi justru semacam sistem kultur, atau bahkan potret sosial dari sebuah wilayah yang ‘mendekam di luar teks.’

Oleh karenanya, keberhasilan seorang penulis dalam membuat warna lokal atau mengangkat lokalitas, salah satunya bisa diukur dari—meminjam istilah Maman, adalah ketika adanya ‘cantelan’ imajinasi dari pembaca saat mencerap diksi yang terpapar dalam sebuah karya sastra. Maka, menurut Melani Budianta, lokalitas itu sebenarnya adalah ‘membumikan’ sebuah karya sastra. Membuat seorang pembaca benar-benar merasakan—tak sekadar fisik dari lattar—tetapi juga semacam sistem kultur dan potret sosial baik dari teks yang tersurat maupun yang tersirat.

Lokalitas dan Sastra Subkultur

Pernahkah Anda membaca novel-novel Ahmad Tohari? Salah satunya adalah Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk. Apa yang kesan yang paling kuat tertangkap di benak Anda? Ya. Mungkin Anda sepakat dengan saya. Sebuah rasa lokal yang sangat kuat. Tak hanya detil-detil dari sudut Banyumas yang bisa ditangkap dalam novel tersebut, akan tetapi juga sistem kultur masyarakat Banyumas yang tercermin dari karakter dan dialog antartokoh.
Dalam novel “De Winst” dan “De Liefde” misalnya, saya juga mencoba tak sekadar memasukkan lattar budaya kota Surakarta tempo doeloe, tetapi bahkan ada juga konflik yang berawal dari sistem kultur masyarakat Solo. Misalnya pemberontakan Sekar Prembayun untuk keluar dari belenggu keputren, serta kultur Jawa yang relatif tidak memberikan ruang gerak kepada kaum perempuan.

Meskipun saya orang Jawa, saya juga mencoba mengangkat lokalitas daerah lain di beberapa karya saya, misalnya ‘Rabithah Cinta’ dengan Lokalitas Suku Dani, atau Da Conspiracao dengan Lokalitas Flores Tempo Doeloe.

Berbicara tentang lokalitas, karena kita berada di Indonesia, tentu kita akan berhadapan dengan begitu banyak kultur dan subkultur. Sayangnya, seperti yang sudah disebutkan di atas, ternyata sastra subkultur masihlah menjadi tambang emas dan berlian yang tersimpan jauh di dasar tanah. Sastrawan Melani Budianta sempat mengeluh. Indonesia adalah sebuah negara yang memiliki keanekaragaman budaya, akan tetapi betapa sedikitnya para penulis yang mencoba mengangkat kekayaan tersebut dalam sebuah karya sastra. Minimalnya animo para penulis tersebut, menurut Ahmad Tohari bahkan merupakan sebuah bentuk hilangnya rasa peka penulis terhadap lingkungan dan alam sekitarnya. Ketidakpekaan tersebut bisa merembet pada kekurangpedulian penulis terhadap berbagai problem sosial yang terjadi di masyarakat.

Jika demikian, bagaimana mungkin dengan tulisan yang dihasilkan, kita akan mampu menjadi ‘penyambung lidah’ lidah masyarakan yang terpinggirkan? Sebuah pertanyaan yang patut kita renungkan.

Subscribe to receive free email updates:

7 Responses to "Menggores Warna Lokal Dalam Karya"

  1. ah, menarik mbak bahasannya.
    Dan menurut saya salah satu karya yang pernah saya baca yg berhasil mengemas lokalitas itu Kau, aku dan sepucuk angpau merah nya Tere Liye, tentang pengemudi sepit di Pontianak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya belum baca, segera hunting bukunya, deh :-)

      Delete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  3. Subhanallah. Menarik banget mbak bahasanya. Saya kagum. Kalau boleh, saya juga ingin mbak berkunjung ke blog saya. Mudah-mudahan bermanfaat. http://afiifahizzah.blogspot.com/
    Happy blogwalking :)

    ReplyDelete
  4. aku juga suka banget mbak setting lokalitas. Dulu pas di Bengkulu diajarkan oleh penulis Mbak Agnes Majestika (penulis era Majalah Anita Cemerlang). beliau yang membimbingku mengajarkan cerpen tema lokalitas:)

    ReplyDelete
  5. Salah satu source artikel ini pasti bukunya pak maman yang judulnya Pengarang Tidak Mati, ya mbak? :) Bagus tulisannya, mak jleb2 sekali. Sejak dulu kalau menulis cerita, seringnya saya malah selalu ingin mengeksplor Jepang, padahal belum pernah ke sana. hehe

    ReplyDelete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!