Sapi Oh Sapi: Antara Resah, Marah dan 'Haiyah!'


Coretan Afifah Afra
(mewakili pribadi, orang awam)

Beberapa hari terakhir ini, publik Indonesia seakan-akan tengah tersedot perhatiannya ke kasus yang sedang ramai diperbincangkan. Kasus dugaan suap sapi impor yang membelit elit PKS. Televisi, radio, surat kabar, majalah, social media —khususnya facebook dan twitter—bahkan juga obrolan di warung-warung hik, kebanyakan merujuk satu tema ini. Bahkan, El-Clasico, duel seru legendaris antara Barcelona vs Real Madrid yang biasanya menjadi tema seru yang mendominasi lini masa Twitter, seakan sayup dan kehilangan gregetnya.




Kasus ini memang legit dan sangat mediable. Bagaimana tidak? PKS, yang selama ini dikenal sebagai partai bersih, ternyata terkena kasus. Tak tanggung-tanggung, yang tertimpa adalah Ketua Umum Partai. Dan seperti ingin melengkapi ‘kisah seru’ ini, KPK pun membikin penangkapan yang superdramatis. Malam hari, LHI dijemput di Markas PKS, dan tak sampai hitungan jam, LHI dinyatakan sebagai tersangka! Alasan KPK, LHI tertangkap tangan. Ini membuat orang awam seperti saya jadi garuk-garuk kepala. Betulkah LHI tertangkap tangan? Bukankah yang ditangkap adalah AF? 

Ah, tentunya KPK punya pertimbangan tersendiri. Kasus ini dalam proses hukum. Sebaiknya, kita tunggu saja keputusan hukum. Jika memang beliau terbukti bersalah, tentu ada balasannya. Dan jika ternyata tidak, tentu kewajiban aparat untuk mengembalikan nama baik beliau yang sempat babak belur dengan penangkapan yang ‘dramatis’ itu.
Yang menarik, dalam pengamatan saya, ternyata pemberitaan dan analisis kasus ini begitu luar biasa. Mengalahkan isu BLBI dan Century yang nilai dananya ribuan kali lipat. Nah, paling tidak, secara sederhana saya bisa membagi pihak yang tersedot fokusnya dalam peristiwa ini.

Pertama, massa PKS yakni adalah kader-kader yang loyal. Mereka inilah yang sebenarnya sangat terpukul dan sangat terhentak dengan peristiwa ini. Wajar saja, di kalangan akar rumput, kader PKS mayoritas berjuang dengan ikhlas, sekuat tenaga, dan seringkali membiayai program-program mereka dengan kocek sendiri. Harus diketahui publik, bahwa PKS memang berbeda dengan beberapa partai lain yang orientasinya hanya politik an sich. PKS lahir dari sebuah gerakan dakwah, agak mirip dengan NU yang melahirkan PKB, atau Muhammadiyah yang ikut membidani lahirnya PAN (mohon koreksi jika saya salah). Hanya saja, dalam PKS berlaku sebuah kaidah, jamaah adalah partai, partai adalah jamaah. Untuk lebih lengkap mengetahui informasi tentang PKS, saya anjurkan Anda membaca buku DILEMA PKS yang ditulis oleh intelektual muda, Burhanuddin Muhtadi.

Menurut Burhanuddin Muhtadi dalam buku tersebut, kader PKS mayoritas adalah kalangan menengah, yang tentunya sangat melek media. Akses yang intens dengan media, tentu membuat mereka sangat tahu apa yang tengah terjadi di permukaan. Mereka tersentak, kaget, tak percaya melihat peristiwa ini. Sangat wajar. Di mata kader PKS, LHI adalah seorang ustadz. Seorang yang dijadikan sebagai role model bagi kader-kadernya (istilah ini mungkin lebih tepat bagi PKS yang system pembinaan internalnya cenderung anti-kultus-individu). Menurut Burhanuddin pula, hentakan ini bisa menjadi sebuah tsunami politik bagi PKS, yang pada Pemilu 2014 bertekad masuk dalam 3 Besar. Tsunami ini bisa berwujud ditinggalkannya partai ini oleh kader-kadernya. Karena itu, wajar jika dalam sebuah talkshow di sebuah televisi, Taufik Ridho, Sekjen PKS yang baru, mengatakan bahwa konsentrasi PKS saat ini adalah konsolidasi kader. 

Kedua, pihak-pihak yang ‘netral’ akan tetapi menunggu-nunggu ‘kejatuhan PKS’. Saya tak bisa sebut contohnya, tapi Anda pasti bisa menebaknya. Mereka sebenarnya adalah kalangan yang kritis dan berpendidikan tinggi. Kemuakan mereka terhadap parpol-parpol yang bergelimang korupsi, telah membuat mereka menaruh perhatian khusus kepada PKS. Tentu, jika PKS ternyata berhasil mempertahankan citra, mereka mungkin akan angkat jempol (meski tak kemudian otomatis memilih PKS :-) ). Fokus mereka sebenarnya lebih pada penegasan atas hipotesa mereka, bahwa parpol memang ‘sarang’ korupsi. Jadi, saat PKS terjatuh, mereka justru ‘lega’ karena hipotesa mereka benar adanya.

Ketiga, hampir mirip dengan pihak kedua, tetapi memiliki ketertarikan tersendiri untuk mengikuti berita tentang PKS disebabkan karena ideology yang diusung PKS. Sejak awal, mereka tak bersepakat dengan adanya partai agama. Lalu, ketika PKS dimana-mana membawa ayat-ayat Al-Quran, mereka pun menuduh PKS ‘jualan ayat.’ Lantas, ketika PKS ternyata tak mulus melanggengkan ideology itu dengan kasus suap tersebut, mereka pun berkata, “Nah, ternyata agama cuma kedok.” Lalu mereka pun ramai-ramai menghujat, “Munafik, Lo!”

Keempat, gerakan Islam dari aliran lain yang memiliki beberapa perbedaan pendapat dengan PKS, khususnya dalam masalah politik. Sebagian dari mereka ada yang mengkritik sangat keras, akan tetapi sebagian justru ada yang membela PKS. Mereka yakin bahwa PKS memang tengah dizalimi. 

Keempat, para simpatisan. Mereka adalah masa mengambang yang memilih PKS semata karena melihat bahwa PKS bisa diharapkan membawa aspirasi mereka. Sama seperti kader, mereka juga kaget, tetapi kakagetannya masih dalam batas-batas kewajaran. Awal-awalnya, fokus mereka tersedot. “Haiyah! Ternyata sama saja PKS dengan partai lain. Ya sudah, gak ada partai yang amanah, ya golput aja!” kata mereka dengan santai.

Kelima, para ‘fans’ KPK. Mereka ‘tersengat’ karena pada awal-awal kasus ini bergulir, para elit PKS sempat mengeluarkan isu konspirasi, yang kemudian diakui oleh petinggi partai sebagai luapan emosi semata. Bagi KPK dan pembelanya, isu ini sama halnya dengan mempertanyakan integritas KPK. Jangan lupa, KPK adalah lembaga ‘idola’ rakyat. Lihatlah, betapa maraknya dukungan mengarah kepada komisi ini saat terjadi konflik dengan institusi lain seperti kepolisian dengan isu cicak vs buaya-nya. Atau saat terjadi dugaan kriminalisasi yang menimpa beberapa pimpinan KPK. Bagi mereka, KPK tak mungkin salah. Jadi, ketika kemudian PKS terkesan menyudutkan KPK, mereka pun ramai-ramai pasang badan. 

Ini tentu menarik, karena sejatinya mayoritas kader PKS, kebanyakan juga ‘fans’ KPK. Saya melihat sendiri saat terjadinya pelemahan KPK, secara otomatis, banyak kader PKS memasang picture “SAVE KPK” di profile socmed masing-masing, dan ikut menggalang dukungan untuk menguatkan KPK.

Keenam, Pihak-pihak yang menikmati dan mengambil untung dari kejatuhan PKS. Siapa mereka? Tebak saja sendiri!

KESEMPATAN BERBENAH
Yang mengagumkan dari kasus ini adalah begitu cepatnya respon dari pimpinan PKS. Tak kurang sehari setelah ditetapkannya LHI sebagai tersangka, langsung dipilih presiden PKS yang baru, yakni Muhammad Anis Matta. Tak tanggung-tanggung, beliau memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatan Wakil Ketua DPR, dan langsung melakukan gebrakan-gebrakan, antara lain safari dakwah, melakukan konsolidasi kader, dan merancang gerakan pertaubatan nasional. 

Kader memang asset terbesar yang dimiliki oleh PKS. Untungnya, PKS memiliki kader yang tak terjebak dalam figuritas. Mereka bergerak karena menghayati—tak sekadar tahu—apa itu visi misi dan tujuan partai didirikan.

Memang, sebaiknya PKS harus fokus pada agenda-agenda pembenahan internal. Lantas, setelah kader solid, kembalilah bekerja! Bekerja dan terus bekerja. Rebut kembali kepercayaan umat yang sempat rencah oleh kasus ini. Tak mudah, kata Burhanuddin Muhtadi, tetapi dengan berbagai langkah-langkah radikal, insyaAllah bisa!
Kalaupun ternyata hingga 2014 suara PKS tak naik dan bahkan hancur, jangan khawatir! Kekuasaan bukanlah tujuan utama. Hanya sebuah wasilah/sarana untuk beramar ma’ruf nahi munkar.

Subscribe to receive free email updates:

11 Responses to "Sapi Oh Sapi: Antara Resah, Marah dan 'Haiyah!'"

  1. Saya termasuk yang mana ya? 'haiyah' kali, xixi... punten mbak Afra :-)

    ReplyDelete
  2. Tambah satu mbak, orang yang terpaksa tersedot fokusnya karena TL-nya dipenuhi kabar tentang itu, hehe. ^peace^

    ReplyDelete
  3. Saya lagi mengidentfikasi saya ada di golongan yang mana ya?..

    sambil baca artikel berikut:

    http://www.voa-islam.com/news/opini/2013/02/04/23008/sang-pangeran-anis-mata-dan-teori-konspirasi/

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin malah bisa menambahkan :-)
      Terimakasih artikelnya, buat tambah wawasan dan cover both sides :-)

      Delete
  4. sampai TKP :)

    Mbak, ust LHI bukannya ditetapkan sbg tersangka baru 'dijemput' KPK ya? cmiiw..

    Jadi inget, kmrn baru mudik, smp rumah Bapak Ibu sedang lihat TV. sy iseng tanya, 'ada tayangan berita gak Pak?' beliau jawab 'meh nonton presidenmu yo? presiden kok kesandung' :(
    Lalu sy ajak diskusi, namun berbagai argumen sy dimentahkan..apa yg Bpk sampaikan miriip dg yg ramai diberitakan :(

    #Optimis, harapan itu selalu ada

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang dibutuhkan memang lebih bukti kongkrit mbak, bukan 'pembenaran' dan 'membela diri' ~ IMHO juga :-)

      Delete
    2. Oh, iya betul... ditetapkan sbg tersangka, baru 'dijemput'

      Delete
  5. kalau dikampung halaman yg saat ini mau pilkada gubernur (sumut) masyarakat kalangan kampung2 cenderung g ambil pusing dgn kasus itu mbak, mreka malah jawab 'alah rekayasa' pilihan kami tetap. walaupun lawan politik makin gencar mencela, tapi masyarakat da fahm (cerita mamak dr kampung)

    ReplyDelete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!