Eksplorasi, Kunci Sukses Nulis Novel Tebal

By Afifah Afra

Sekitar 10 tahun yang lalu, saat masih menjadi Manajer Pernaskahan di PT Era Intermedia, saya kedatangan tamu istimewa. Beliau adalah Pak Langit Kresna Hariyadi, penulis yang saat ini melejit dengan novel Gajah Mada. Saat itu, saya mengurusi naskah beliau yang akan diterbitkan di Era Intermedia, Kiamat Para Dukun.
Begitulah, selain membicarakan soal penerbitan buku beliau, saya juga menimba ilmu dari beliau. Saat itu, saya memberikan salah satu novel saya kepada beliau. “InsyaAllah saya baca, Afra.”
“Jangan lupa masukannya, Pak!”
“Oke!” kata beliau.
Beberapa waktu berselang, Pak Langit datang kembali ke kantor Era. Setelah mengobrol sejenak soal teknis, saya menagih janji ke beliau. “Bagaimana novel saya, Pak?”
“Begini, Afra. Novel kamu itu bagus, tapi kurang eksplorasi.”
“Maksudnya?”
“Banyak kalimat-kalimat dalam novel kamu, yang bisa dikembangkan lagi. Misalnya, kamu menyebut si A naik pesawat Boeing. Nah, kamu bisa jelaskan lebih detil, seperti apa sih, seluk beluk pesawat Boeing. Jadi, novel kamu yang setebal 150 halaman ini, nanti akan jadi lebih tebal lagi.”

* * *
Saya termenung usai mendengarkan kalimat Pak Langit. Eksplorasi. Oh, itu ternyata kuncinya. Pantas saja, draft novel Pak Langit itu tebal sekali. Selanjutnya, saya juga tak pernah melihat ada novel beliau yang formatnya tipis.
Sejak itu, saya mencoba memakai trik dari Pak Langit. Saya cukup terkaget-kaget, karena akhirnya novel saya, Obituari Kasih bisa tertulis lebih tebal dari novel-novel sebelumnya. Saya kian menikmati trik eksplorasi itu di buku-buku selanjutnya. Akhirnya novel-novel saya sekarang ini, naskah asli selalu di atas ketebalan 200-an halaman kuarto spasi 1,5. Padahal, sebelum ini paling-paling ketebalan asli novel saya berkisar 100-an halaman.
Eksplorasi, kalau dalam KBBI, dimaknai sebagai penjelajahan lapangan dengan tujuan memperoleh pengetahuan lebih banyak (tentang suatu keadaan). Mengeksplorasi ide, berarti membentangkan ide itu menjadi sebuah paparan yang lebih detil. Teknik ini, sangat bermanfaat untuk mengembangkan tulisan kita.
Coba lihat contoh kalimat ini.

Kupesan secangkir cokelat hangat di kafe ini. Sececap demi sececap, kureguk isinya. Oh, nikmat.

Eksplorasi mendalam tentang kopi, akan melahirkan paragraf yang lebih panjang.

Kupesan secangkir cokelat hangat di kafe ini. Sesaat, sebuah cangkir berisi cairan hangat yang pernah menjadi minuman kebanggaan kaum elit di Eropa zaman Rennaisance itu, akhirnya terhidang. Aromanya mengingatkan aku pada tarian orang-orang Maya, suku yang pertama kali mencoba menikmati cokelat sebagai konsumsi hariannya. Sececap cairan itu menyiram sel-sel lidahku, aku merasa Pangeran Ferdinand, sang raja Spanyol tengah tersenyum kepadaku. Dan pada cecap kedua, giliran Ratu Isabella yang menyanjungku. Oh, secangkir cokelat ini telah membuatku seperti tengah dipuja oleh seluruh rakyat Spanyol zaman dahulu kala.

Bayangkan! Satu paragraf pendek dengan 14 kata, telah berkembang hingga 7 kali lipat panjangnya. Jika setiap paragraf bisa kita eksplorasi sedalam itu, tentu menulis novel setebal ratusan halaman tak lagi jadi masalah.
Ya, selain kita bisa menyajikan plot, pembaca juga akan termanjakan dengan informasi. Dan tentu, akan melahirkan daya imajinasi yang lebih mantap.
Tetapi, tunggu! Tidak semua kalimat perlu kita kembangkan. Cukup pada kata-kata yang menjadi keyword dari novel kita. Karena, jika tidak, kita akan kehilangan fokus dari tulisan kita. Terlalu banyak distorsi, akan menumpulkan ketajaman plot kita.
Dan ingat, kunci dari kesuksesan eksplorasi memang pendalaman, alias riset yang kuat dari keyword yang kita tetapkan. Dari eksplorasi tentang cokelat di atas misalnya, bagaimana kita tahu bahwa cokelat adalah minuman yang berawal dari suku Maya, lalu menjadi kegemaran kalangan elit di Spanyol jika kita tak melakukan riset?
Selamat mencoba!

Subscribe to receive free email updates:

19 Responses to "Eksplorasi, Kunci Sukses Nulis Novel Tebal"

  1. Replies
    1. Makasih, trik sederhana sebenarnya. Yang sulit, mempraktikannya :-D

      Delete
  2. Makasiiiiiiiiiih...:)

    *terharu tiap baca tulisan Mbak Afra :)

    Shabrina Ws

    ReplyDelete
  3. Eksplorasi yang mendalam, menunjukkan tak hanya kecerdasan penulis, tetapi juga kesabaran. Kalau ditambah dengan elaborasi (penggarapan dengan cermat), hasilnya LUAR BIASA!
    Selamat berkarya, Mbak!

    ReplyDelete
  4. Aih..jadi pingin ngirim naskah novelku ke kamu deh buat minta komen n kritik...tapi minder berat

    ReplyDelete
  5. aku juga suka banget baca-baca buku motivasi dari Mbak Afifah:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebentar lagi, giliran aku yg ketagihan baca buku2 Naqiyyah :-)

      Delete
  6. embaaakkk, makasih kuncinya ^_^

    ReplyDelete
  7. eksplorasii,, berartii haruss banyakinn pengetahuan :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betuuul, karena inti menulis itu sebenarnya menuang pengetahuan :-)

      Delete
  8. Jazakillah mb Afra...semakin ingin menjadi penulis^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yuuuk... jangan siakan hidup kita tanpa karya seumur hidup ^_^

      Delete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!