Perjalanan Penuh Liku Sang Maharani Bertangan Besi

Sebuah Resensi
Afifah Afra


Judul : Empress (Maharani Wu)
Penulis: Shan Sa

Paperback, 400 pages
Published April 26th 2012 by PT. Gramedia Pustaka Utama (first published 2003)
ISBN: 139789792283068
Edition language: Indonesian
Original title : Impératrice
Literary awards : Prix des Lecteurs du Livre de Poche en (2005)


Aku adalah peony merah merona, pohon berayun, angin berdesir ...

Jujur, saya harus membuka wikipedia untuk mengetahui, sejenis apakah peony itu? Ternyata, akhirnya bertemu makna. Peony adalah sejenis bunga yang sering digunakan oleh bangsa Tiongkok untuk pengobatan. Juga sering menjadi simbol pada seni ornamen. Terbata-bata, saya mencoba mencari benang merah yang menghubungkan antara peony merah merona dengan pribadi Maharani Wu, Sang Kaisar Suci Roda Emas Cahaya Nirwana. 
Cahaya Nirwana, lahir dari keluarga rakyat jelata. Meski pada sang ibu mengalir darah kekaisaran, dan sang ayah sempat menjadi salah seorang menteri dari kekaisaran Dinasti Tang, ia tetaplah berasal dari kalangan rendahan. Kemuliaannya terangkat tatkala ia dijadikan sebagai Yang Berbakat--yang berhak menghuni harem kekaisaran, bersama 10.000 selir Kaisar Leluhur Abadi. Sepuluh ribu wanita, harus berebut satu orang lelaki, maka terbayanglah bagaimana rumitnya intrik di harem. Cahaya Nirwana yang masih 'ABG', gagal meraih perhatian Sang Kaisar. Akan tetapi, kegemarannya berkuda, kepintarannya dalam tulis-menulis, akhirnya justru mendudukkan posisinya sebagai salah seorang sekretaris Kaisar. Dan, meski ia masih perawan, statusnya tetaplah Yang Berbakat. Selir Kaisar. Maka, tatkala ia bertemu dengan Phoenix Kecil, putera kaisar, yang 3 tahun lebih muda, ia tak memiliki keinginan apapun selain menempatkan diri sebagai kakak perempuan. Tetapi, tanpa mereka sadari, cinta bersemi di antara Cahaya Nirwana dan Phoenix Kecil.

Kaisar Leluhur Abadi akhirnya meninggal. Para perempuan harem diasingkan ke biara. Termasuk Cahaya Nirwana. Meski Phoenix Kecil meratap, menahan Cahaya Nirwana untuk tak menjadi biksuni, tetap saja Cahaya Nirwana tak berani menantang badai. Akan tetapi, ikatan cinta itu terlalu kuat. Phoenix Kecil yang akhirnya naik tahta menjadi kaisar, menggunakan kekuasaannya untuk menghancurkan mitos-mitos yang menghalangi cinta mereka.

Skandal pertama tercipta. Phoenix menikahi janda ayahnya. Geger yang terjadi, ditutup dengan prestasi cemerlang Cahaya Nirwana yang setahap demi setahap berhasil menaikkan derajatnya. Dari selir kesayangan, naik menjadi maharani, sampai menjadi maharani utama. Kemampuannya dalam ilmu militer, politik, tata pemerintahan--sementara Phoenix Kecil yang lemah dan peragu tak mampu menghasilkan pemikiran yang cemerlang--akhirnya menempatkan Cahaya Nirwana sebagai orang nomor satu di Kekaisaran Dinasti Tang. Otoritasnya memuncak saat suaminya akhirnya meninggal. Cahaya Nirwana ditahbiskan menjadi Kaisar Suci dan bahkan membuat dinasti baru, bukan dari marga Li, tetapi marganya sendiri, Wu.

Prestasi Kaisar Suci adalah membuat Tiongkok meraih zaman keemasan. Akan tetapi, skandal demi skandal, intrik politik, gelimang darah, membuat sosok yang hidup di abad ke-7 ini menjadi tokoh yang sangat kontroversial dalam sejarah Tiongkok. Ia bahkan berani melenyapkan keluarga terdekatnya, anak-anak, adik, kakak, kemenakan--mulai dari sekadar diasingkan, hingga dipenggal kepalanya--demi keberlangsungan tahta. Otoritas yang luar biasa, kediktatoran yang memuakkan, kehidupan pribadinya yang 'menjijikkan', membuat saya bertanya-tanya, sebenarnya, apa yang tersirat dalam lembaran kepribadian wanita bertangan besi yang puluhan tahun memerintah Tiongkok ini?

Inikah tafsir dari kalimat: "Aku adalah peony merah merona, pohon berayun, angin berdesir ..."
Meski dengan segala pahit dan getirnya, Cahaya Nirwana tetaplah penegak sebuah kejayaan bagi semesta rakyat Tiongkok?

Ya, buku setebal 400 halaman yang ditulis Shan Sa ini memang bukan sebuah kisah fiksi. Ini adalah novel sejarah. Saya tengah membaca sebuah kisah yang benar-benar ada di marcapada.

Lepas dari isinya yang sungguh-sungguh 'ekstrim', saya benar-benar terpuaskan dengan diksi Shan Sa yang sangat lembut. Tampaknya, hampir semua kata benar-benar terpilih dengan cermat. Deskripsi yang detil dan indah, membuat saya bergeming. Padahal, jika dilihat sekilas, sungguh capek membaca 400 halaman yang nyaris tanpa dialog--kalaupun ada, biasanya dialog panjang yang sangat filosofis. Saya tenggelam dalam jeratan gaya penuturan yang memesona, seakan tenggelam dalam lukisan kehidupan yang memukau. Naluri berbahasa saya, terpuaskan di novel ini.

Akan tetapi, tentu ada yang mengganggu. Salah satunya penerjemahan nama-nama pelaku dalam bahasa Indonesia. Tokoh-tokoh seperti Cahaya Nirwana, Kelembutan, Harapan, Kesalehan, Katib Keabadian, menurut saya justru menghilangkan cita rasa Tiongkok. 'Kenetralan' Shan Sa untuk tenggelam dalam sosok Cahaya Nirwana, dengan PoV 'AKU' juga membahayakan. Tak ada pesan tersirat bahwa apa yang 'AKU' lakukan itu bertentangan dengan berbagai norma kehidupan. Salah satunya, adalah saat Kaisar Suci akhirnya memutuskan untuk memiliki 2 'selir pria', dengan sebuah legitimasi bahwa ketika kaisar lelaki hidup, biasanya mereka memiliki 10.000 selir di haremnya. Beberapa pandangan Cahaya Nirwana yang mengerikan, tak difilter oleh Shan Sa, membuat saya tak berani merekomendasikan novel ini kepada para pembaca yang belum memiliki ideologi sebuah nilai yang cukup kuat.

O, ya ... bicara dengan buku ini, saya teringat dengan dua buku yang hampir sejenis. Pertama, The Female, tulisan Paul Welman, yang berkisah tentang Theodora, seorang gadis penghibur yang menjadi Kaisar di Byzantium. Lalu, Empress Orchid, tulisan Achee Min, yang berisi kisah tentang Yehonala, alias Ibu Suri Tsu Hsi, mantan selir Kaisar Hsien Feng yang akhirnya juga menjadi orang pertama di pucuk kekuasaan China menjelang keruntuhan Kekaisaran China. Ada garis nasib yang hampir sama antara Maharani Wu, Ratu Theodora dan Maharani Tsu Hsi. Sama-sama mengalami nasib yang buruk, dari seorang selir yang akhirnya merangkak dan karena kekuatan karakternya, berhasil mendominasi suami masing-masing.

Lantas, saya teringat kepada Ratu Shima dari Kalingga, juga Tribhuwana Tungga Dewi, Ibunda dari Hayam Wuruk. Kedua ratu ini, belum digoreskan kisahnya dalam roman modern. Tetapi, berbeda dengan ketiga perempuan di atas, Ratu Shima dan Tribhuwana, memiliki jalan hidup yang lebih smooth, serta diceritakan memiliki kehidupan keluarga yang baik. Tribhuwana bersama suaminya, memerintah negeri Majapahit, sehingga bisa memberikan pondasi yang kuat untuk tercapainya kejayaan Majapahit saat diperintah puteranya. Ratu Shima, dia membuntungi anakanya sendiri hanya gara-gara memindahkan kantong berisi uang yang tergeletak di jalan dengan kakinya.

Entah mengapa, saya lebih bangga dengan kisah Shima dan Tribhuwana dibandingkan dengan aroma kebengisan yang dipancarkan oleh para Empress di atas.

Subscribe to receive free email updates:

2 Responses to "Perjalanan Penuh Liku Sang Maharani Bertangan Besi"

  1. Kenapa nggak disebut Ratu Bilqis?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bilqis? Iya juga... tapi kayaknya sudah ada yg menuliskan kisah Ratu Bilqis

      Delete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!