Minderan, Narsis, Atau Mengawang?

Coretan Afifah Afra

Kasus Pertama.

Suatu hari seorang remaja puteri curhat ke saya, menceritakan tentang keadaan dirinya yang seakan-akan nyaris tak punya keinginan dalam hidupnya. “Saya hidup untuk menjalankan apa yang dimaui orang tentang saya. Mulai dari sekolah, pekerjaan, bahkan terkadang sampai hal-hal kecil, saya selalu didikte orang lain. Apakah yang terjadi pada saya ini benar, Mbak? Tak adakah masalah yang mungkin timbul di kemudian hari?”

Remaja puteri itu, sebut saja namanya Marisa. Seorang gadis lugu. Sebenarnya dia cerdas, sering saat saya pancing-pancing, ternyata dia bisa mengeluarkan argumen yang out of the box. Setelah saya selusur, ternyata dia lahir dari keluarga yang cenderung otoriter.  Lantas, setelah dia bekerja, ternyata bos tempat dia bekerja juga tipikal otoriter. Maka, seperti konten curhat dia kepada saya, memang dia seakan-akan hidup tanpa kehendak pribadi.

Kasus Kedua.

Pernahkah Anda melihat sosok yang seolah-olah selalu mendominasi kehidupan orang lain? Tak pernah sedikit pun membuka kesempatan orang lain untuk mengutarakan pendapat? Pasti pernah. Jangan-jangan, kita juga termasuk di dalamnya. Hehe. Yang jelas, meski mungkin tak sampai dosis seorang ditaktor, saya juga termasuk orang yang dominan. Banyak yang mengatakan, saya tipe ngeyelan.

Kasus Ketiga.

Pernahkah pula Anda melihat sosok yang tak pernah ‘menjejak’ alam nyata? Dia hidup di alam mimpi. Mungkin dia memang seorang perencana hebat. Idealis. Memiliki gambaran-gambaran luar biasa tentang konsep-konsep kehidupan. Nah, tak usah jauh-jauh, meski tak sampai pada tataran ekstrim, saya juga termasuk tipe ini. 

Ketiga tipe itu, mari kita sederhanakan dengan sebuah julukan: Si Minderan, Si Narsis dan Si Mengawang. Penyederhanaan ini hanya untuk memudahkan pembahasan. Karena, dalam praktiknya, yang namanya karakter itu sangat complicated. Ada bauran karakter yang membentu spektrum sangat rumit pada setiap individu. Sehingga melabeli seseorang dengan sebutan X, Y, Z, seringkali merupakan langkah yang buang-buang waktu.

Oke, mari kita lanjutkan pembahasan kita.

Terpetakannya karakter manusia menjadi 3 jenis itu, berangkat dari bagaimana seseorang mengonsep tentang dirinya. Apa itu konsep diri? Dalam KBBI, konsep berarti rancangan. Atau juga gambaran mental dari objek, proses, atau apa pun yang ada di luar bahasa, yang digunakan oleh akal budi untuk memahami hal-hal lain. Konsep diri berarti rancangan, atau gambaran tentang diri kita.

Beberapa pakar memiliki definisi yang tak jauh berbeda. Misal, menurut Burns (1993: vi) konsep diri adalah suatu gambaran campuran dari apa yang kita pikirkan orang-orang lain berpendapat, mengenai diri kita, dan seperti apa diri kita yang kita inginkan. Adapun menurut Hurlock (1990:58), konsep diri adalah gambaran yang dimiliki orang tentang dirinya.

Semua pakar psikologi sepakat, bahwa kesuksesan diri seseorang, ternyata sangat dipengaruhi oleh konsep diri.  Ya, karena konsep diri yang dimiliki seseorang ternyata akan mempengaruhi mentalitas dan semangat juang orang tersebut. Sebagai contoh, sering dibahas dalam berbagai diskusi, sebuah pertanyaan: mengapa Indonesia begitu lama dijajah Belanda? Padahal, luas negeri Belanda pun hanya sepertiga Pulau Jawa, dengan jumlah penduduk yang jauh lebih sedikit dibanding negeri kita.

Ternyata, tercurigai bahwa semua itu berawal dari  konsep diri etnis mayoritas di negeri ini yang cenderung negative. Suku Jawa, sebagai etnis mayoritas, memiliki karakter cenderung pasrah, nerimo dan dikungkung konsep feodalisme yang kuat dengan segala pranata yang rumit—kadang ribet. Sementara, sejarah membuktikan, bahwa salah satu cara Belanda menancapkan kuku kekuasaan di bumi pertiwi ini adalah dengan berkolaborasi dengan sebagian kaum feodal di negeri ini.

Konsep diri terbagi menjadi tiga, yakni AKU DIRI, AKU IDEAL, dan AKU SOSIAL.
AKU DIRI adalah AKU menurut diri kita sendiri. AKU IDEAL adalah AKU menurut yang kita harapkan/cita-citakan. Sedangkan AKU SOSIAL, adalah AKU menurut pandangan orang lain.

Idealnya, tak ada bias yang terlalu besar antara AKU DIRI, AKU IDEAL dan AKU SOSIAL. Artinya, jika kita memiliki penilaian ideal tentang kita, maka itu sejalan dengan penilaian diri kita tentang kita, dan penilaian orang lain tentang kita. Akan tetapi, tentu hal itu tak mudah. Nyatanya, memang selalu ada konfigurasi berbeda-beda, yang membuat karakter orang jadi bermacam-macam.

Orang yang memiliki AKU DIRI dominan, dia cenderung menjadi dirinya sebagai CENTER. Sebenarnya, AKU DIRI dalam dosis yang tepat, sungguh sangat baik. Dia akan percaya diri, penuh semangat, dan berani mengambil keputusan. Orang-orang dengan leadership baik, wajib memiliki AKU DIRI yang kuat. Tidak sebaliknya, peragu dan banyak pertimbangan. Bayangkan, jika seorang pilot yang membawa nyawa ratusan jiwa, serta barang-barang berharga bernilai jutaan dolar, tak memiliki keyakinan atas diri yang kuat! Sungguh mengerikan. 

Akan tetapi, jika kadar AKU DIRI itu sudah overdosis, dia akan cenderung narsis, egois, ogah menurut kata orang lain, dan selalu menganggap diri paling benar. Orang dengan AKU DIRI yang dominan, biasanya lahir dari keluarga yang lebih demokratis, terkadang juga permisif. 
AKU SOSIAL yang berkadar pas, juga baik, karena dia akan terbentuk menjadi orang yang selalu legawa menerima kritik dan saran dari orang lain. Dia akan selalu memperbaiki diri dari masukan-masukan orang lain. Namun, AKU SOSIAL yang over juga akan membentuk seseorang menjadi kehilangan jati dirinya. Dia akan menjadi sosok yang minder, cenderung inferior, ‘terjajah’, tak memiliki pendapat, dan hidup seperti boneka yang dipermainkan sekehendak hati oleh orang lain. Biasanya, tipe-tipe orang model ini lahir dari keluarga atau lingkungan yang represif, dengan orang terdekat yang relatif ditaktor.

AKU IDEAL, akan merangsang kita menggapai gambaran-gambaran yang ideal tentang hidup kita. AKU IDEAL juga menjadi acuan dari pencapaian hidup yang kita inginkan. Akan tetapi, orang yang memiliki AKU IDEAL dominan, dan bahkan mengejawantah dalam AKU DIRI atau AKU SOSIAL, sungguh sangat bahaya. Karena, sejatinya dia bukan lagi dirinya. Dia adalah sosok yang mengawang. Dia tidak berdiri di dunia nyata. 

Termasuk tipe semacam apakah kita? Mari berefleksi, melakukan perenungan mendalam terhadap diri. Semoga tulisan ini memberikan pencerahan.

Subscribe to receive free email updates:

12 Responses to "Minderan, Narsis, Atau Mengawang?"

  1. Keren mbak.. di link dong blogku.. hehe

    ReplyDelete
  2. Subhanallah, izin share mba yen ^^

    ReplyDelete
  3. Aku diri, aku ideal n aku sosial sy msh bias mbak, apalagi pas jaman dulu kuliah. Jd, bnyk kali temen yg salah arti, n baru ngeh kl udah kenal dekat. Mksh ya mb Yeni...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, itu bagian dari proses, sy juga masih gitu kok :-)

      Delete
  4. Sip markusipp..tulisan yang mencerahkan mbk :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, makasih dah mau baca, ya?

      Delete
  5. gak jelas inih sy masuk yg mana. masih labil :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semua kita masih labil, masih berproses :-D

      Delete
  6. terima kasih share-nya, Bund..
    beberrapa kali mampir baru bisa join, deh #_*

    kayaknya, aku semua tuh.. minderan, narsisan, mengawang #_#

    ReplyDelete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!