Blackhole dan Islam Rahmat Semesta Alam

Belakangan ini, terdapat satu topik diskusi yang cukup menarik di kalangan para ilmuwan muslim, yakni bahwa penjelasan tentang blackhole (lubang hitam) ternyata telah disebutkan dalam Al-Quran. Blackhole, secara sederhana bisa dijelaskan sebagai sebuah wilayah yang berada di jagad raya yang bersifat invisible (tak terlihat), memiliki gaya gravitasi sangat tinggi sehingga bersifat menyedot semua benda yang terperangkap oleh energinya (seperti vacuum cleaner), dan bergerak terus menerus dengan sangat cepat. Blackhole sering diibaratkan sebagai ‘kuburan’ bintang-bintang, karena benda langit apapun yang tersedot olehnya akan kehilangan energinya.

Menakjubkan, karena konsep tersebut ternyata terjelaskan dalam ayat “falaa uqsimu bil khunnas, al jawaaril kunnas.” (QS. At-Takwir:  15-16). Al-khunnas adalah ‘sesuatu yang tersembunyi dan tidak terlihat’.  Al-Jawaar bermakna bergerak sangat cepat, sedangkan al-kunnas berarti menyedot, menelan atau menyapu segala sesuatu yang dilewatinya. 

Dalam berbagai mushaf, ayat ini diterjemahkan dengan: “Aku bersumpah demi bintang-bintang, yang beredar dan terbenam.” Akan tetapi, para ilmuwan meyakini bahwa maksud ayat ini sesungguhnya, “Aku bersumpah demi bintang tersembunyi. Yang bergerak cepat yang menyapu.” Ketiga parameter itu merujuk pada definisi black hole. Bahkan, definisi Al-Quran ini disebut-sebut lebih tepat, karena benda tersebut sesungguhnya invisible—tak terlihat, tak berwarna, bukan berwarna hitam, sehingga mestinya bukan bernama black hole, tetapi Al-Khunnas. Wallahu a’lam.

Sementara itu, dalam sebuah forum diskusi, penulis juga pernah dikagetkan atas statemen seorang pembicara non muslim, yang memberikan pujian pada sistem perbankan syariah yang berdasarkan pada sistem bagi hasil. Menurut sang pembicara tersebut, sistem semacam itu berlaku juga di kampungnya di daerah Nusa Tenggara Timur, dan setelah beliau pelajari, sistem tersebut sangat adil, karena adanya berbagi resiko antar kedua belah pihak.

Kedua contoh tersebut hanya segelintir dari banyak sekali bukti yang menguatkan bahwa Al-Islam sesungguhnya memuat konsep-konsep yang bersifat universal. Konsep ini jika dielaborasi, tentu akan menyumbang manfaat secara umum, tak hanya untuk umat Islam, tetapi juga seluruh umat manusia, dan bahkan juga semesta alam—termasuk hewan dan tumbuhan. Ini sesuai dengan firman Allah SWT, “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya: 107).

Rahmat bisa dimaknai sebagai kasih-sayang atau karunia. Jadi, diutusnya Rasulullah SAW ke muka bumi ini, sesungguhnya untuk membawa sebuah ajaran yang menjadi karunia semesta alam. Ajaran Al-Islam memang universal dan komprehensif, meliputi seluruh aspek kehidupan. Islam sangat menganjurkan manusia untuk menjaga kelestarian alam dan mengutuk pelaku kerusakan lingkungan. Islam mengajarkan keadilan dan kejujuran tanpa pandang bulu. Islam juga memotivasi manusia untuk memiliki etos kerja yang baik, penuh semangat dan terencana rapi. 

Universalitas Islam terlihat pada perintah yang terdapat dalam Al-Quran. Untuk hal-hal yang sifatnya menjadi maslahat untuk seluruh manusia, misalnya tentang makanan, maka dipakailah perintah ‘Yaa ayyuhannaas’. Misalnya pada perintah, “Wahai seluruh manusia, makanlah yang halal lagi baik  dari apa saja yang terdapat di bumi…” (QS. Al-Baqarah: 168). Sementara, untuk perintah-perintah yang sifatnya khusus, digunakanlah perintah ‘ya ayyuhal ladziina aamanu’, misal perintah untuk berpuasa. 

Dengan demikian, sesungguhnya Al-Islam sendiri adalah sebuah sistem yang lengkap, yang jika diterapkan dengan baik, maka tak hanya memberi mashlahat bagi pemeluknya, tetapi juga umat lain, bahkan juga hewan dan tumbuhan serta makhluk renik lainnya. Wallahu a’lam.

Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "Blackhole dan Islam Rahmat Semesta Alam"

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!