Berbagi tak akan membuat kita kehilangan arti. Berbagi, untuk kebahagiaan hakiki...

On 11:41 by Yeni Mulati Afifah Afra in ,    No comments
Oleh Yeni Mulati Sucipto
a.k.a. Afifah Afra
____________________________

Bayang-bayang telah melewati sepanjang badan. Matahari telah kian menjauh dari titik tengah langit ke ufuk barat, pertanda waktu asyar telah tiba. Saat itulah pasukan kaum muslimin yang masih berada di perjalanan menuju Perkampungan Bani Quraidzah mengalami perbedaan pendapat. Sebagian mengatakan, harus terus melanjutkan perjalanan, karena sebelum itu, Rasulullah memang telah berpesan agar mereka tak shalat ashar kecuali setelah sampai di Bani Quraidzah. Sementara itu, sebagian sahabat menganggap bahwa pesan Sang Nabi sebenarnya bermakna tersirat, yakni bahwa mereka harus melakukan perjalanan secara cepat, agar saat ashar tiba, mereka telah sampai di Perkampungan Bani Quraidzah. Maka, tatkala di perjalanan ternyata adzan ashar telah tiba, mereka pun mengambil air wudhu dan shalat asyar di perjalanan.

Bagaimana sikap Rasulullah SAW saat mendengar peristiwa tersebut? Ternyata Rasulullah membenarkan keduanya, dikatakan oleh Abdullah bin ‘Umar r.a. mengisahkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda pada peristiwa Ahzab: “Janganlah ada satu pun yang shalat ashar kecuali di perkampungan Bani Quraizhah.” Lalu ada di antara mereka mendapati waktu ashar di tengah jalan. Maka berkatalah sebagian mereka, “Kita tidak shalat sampai tiba di sana.” Yang lain mengatakan: “Bahkan kita shalat saat ini juga. Bukan itu yang beliau inginkan dari kita.” Kemudian hal itu disampaikan kepada Rasulullah SAW namun beliau tidak mencela salah satunya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Begitulah Sang Insan Utama bersikap saat menghadapi sebuah perbedaan yang disebabkan karena penafsiran yang beragam. Beliau sangat memahami, mustahil jika manusia memiliki satu pola pikir yang sama, sementara Allah SWT sendiri telah menciptakan manusia dengan keunikannya masing-masing. Bahkan dua manusia yang terlahir kembar identik pun, ternyata memiliki DNA yang berbeda, yang menyebabkan mereka memiliki sifat yang berbeda. Manusia jumlah sel otak mencapai ratusan milyar, sedangkan Islam menganjurkan kita untuk selalu mengoptimalkan otak kita. Jadi, jika semua manusia mengoptimalkan ratusan milyar sel otak di kepalanya, pasti akan muncul pemikiran yang beraneka ragam pula. Menyeragamkan pola pikir, menurut hemat penulis, adalah upaya pengkerdilkan daya pikir manusia itu sendiri. Karena itulah, Al-Islam sangat menghargai proses bersungguh-sungguh menggunakan pikiran untuk memecahkan sebuah persoalan—atau yang biasa kita kenal dengan istilah ijtihad. Di dalam ijtihad, saat benar, pahalanya dua, dan saat salah, masih mendapatkan satu pahala.
Sayang sekali, dalam tataran praktik, kita sering melihat perbedaan itu justru memunculkan perpecahan. Saat awal penentuan ramadhan kemarin misalnya, dengan jelas kita melihat beberapa kalangan yang saling menyalahkan dan bahkan saling menghujat. Padahal, jika kita telisik, masing-masing memiliki dalil yang sama-sama kuat. Terkadang, perbedaan itu juga menimbulkan perselisihan yang menumpahkan darah, padahal Islam adalah agama yang sangat membenci kekerasan.
Bagaimana agar perbedaan itu tidak menimbulkan perpecahan? Salah satunya adalah Silaturahmi untuk tujuan saling mengenal dan memahami beragam karakter sebagaimana firman-Nya, “Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan, dan Kami menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal…” (QS. Al-Hujurat: 13). Karena tak kenal, maka tak sayang. Saling debat, hujat dan maki, biasanya berawal dari rendahnya frekuensi silaturahmi. Wallahu a’lam.

*) dimuat di Hikmah Ramadhan Solopos

0 Komentar:

Post a Comment