Aku dan Bulan Sepotong


Afifah Afra

Pernah aku bertanya kepada sepotong bulan, yang muncul terlambat pada sebuah malam. Bertanya tentang pernak-pernik malam. Aku yang polos, tak pernah mengerti, apa sejatinya malam. Siapa penguasanya. Siapa yang merajalela, siapa yang menggerakkan layar untuk turun dan naik. Bagiku, malam selalu misterius. Semisterius pekat yang menyelubung.

Kukeluarkan semua uneg-unegku kepada bulan yang terlihat pucat itu. Kumuntahkan semua gejolak. Lantas, entah karena sungkan untuk menjawab, atau jengah dengan tanyaku, rembulan sejenak bersembunyi di balik awan. Aku yang dipaku penasaran tak mau beranjak. Kutunggu rembulan, sehingga dia bosan bersembunyi, untuk kemudian kembali menampakkan diri.


Untuk apa kau bertanya tentang penguasa malam? Rembulan berbisik. Kurasakan ada beban berat melambari suaranya. Aku tahu, dia dicekam bimbang. Tak ada gunanya untukmu. Melangkahlah saja semampumu, jalani hidupmu sebisamu. Tak perlu kau curahkan tenagamu hanya untuk menafsir misteri malam.

Tidak, ujarku, menggeleng keras-keras. Aku tak ingin setetes pun keringatku mengucur untuk sesuatu yang tak kutahu. Aku tak ingin selangkah pun kakiku beranjak menuju sebuah tempat yang asing bagiku.

Meskipun untuk itu kau akan mendapati sesuatu yang mungkin akan membawamu kepada labirin misteri yang kian tak bertepi? 

Jebakan labirin yang penuh teka-teki, lebih memikatku daripada terjebak pada sesuatu yang tak kutahu ujung pangkalnya, bisikku, lirih namun gagah.

Kau bandel! Bahkan kelelawar yang saban hari menikmati malam pun akan lari pontang-panting jika kuungkap rahasia malam.

Ceritakan, Wahai Rembulan! Tak percayakah kau, bahwa aku mampu berdiri tegak dengan senyum tersungging meski kau gambarkan sebuah kehidupan yang penuh getir sekalipun.

Sayangnya, aku tak percaya denganmu. Sudahlah, syukuri saja takdirmu. Kau tahu, jika semua mata manusia mampu melihat setajam belati, yang mampu menembus apapun yang terlewati, justru kehebatan itu akan membuatnya tak mampu tenang menjalani kehidupan. Bayangkan, dia akan melihati setiap renik dengan jelas. Dia akan melihat bahwa seluruh udara, tanah, air, bahkan piring makanannya dipenuhi dengan kuman dan bakteri yang menjijikkan. Bersyukurlah dengan keterbatasanmu. Bersyukurlah bahwa kau tak mampu melihat makhluk-makhluk ghaib berseliweran, sebab jika kau mampu melihatnya, niscaya kau tak akan mampu pejamkan mata seumur hidupmu.

Jadi, kau tetap tak mau mengisahkan kepadaku tentang misteri malam?

Sepotong bulan itu menggeleng. Lantas, dia awan-awan gelap kembali memenjarakannya. Aku tetap berdiri, menunggu dia menampakkan diri. Tetapi, bulan benar-benar tak mau keluar lagi. Terpakulah aku sepanjang malam, berdiri di atas kaki, hingga pagi.

Sebuah Labirin Imaji
Surakarta, 19 September 2013


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Aku dan Bulan Sepotong"

Post a Comment

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!