Ketakutan, Harapan dan Cinta


Mari kita berbicara tentang rasa takut, harapan dan cinta, dan bagaimana manusia menempatkannya, serta memprioritaskan dalam hidup kita. 

Seorang pemimpin bisa menaklukan manusia dengan tiga cara: membebaninya dengan ketakutan, memanjakannya dengan harapan, atau menggerakannya dengan cinta.

Semua telah tersketsa dalam sejarah. 


Nabi Sulaiman yang mengancam hud-hud yang tak menghadiri pertemuan dengan perkataan tegas: "Pasti akan kuhukum dia dengan hukuman yang berat atau kusembelih dia, kecuali jika dia datang kepadaku dengan alasan yang jelas." (QS. An Naml:21)



Nabi Musa yang 'memanjakan' kaumnya, Bani Israil--tentu dengan izin-Nya... berupa mukzizat yang terus menerus sementara justru kepengecutan yang dihamburkan oleh Bani Israil kepada nabinya: "Pergilah engkau bersama Tuhanmu dan berperanglah, sementara kami menunggu di sini." (QS. Al-Maidah: 24)

Atau Rasulullah yang menjadikan para pengikutnya sebagai sahabat. Mencurahkan cinta, dicurahi cinta, dan menjelmalah cinta menjadi kekuatan tiada tara. Lihatlah bagaimana Abu Thalhah memberikan perlindungan kepada Rasulullah tercinta, "Ya Nabiyullah, demi bapak dan ibuku, engkau jangan minggir, nanti panah orang-orang akan mengenaimu. Biarkan aku yang berkorban jangan engkau….” (Mutafaq 'alaih)

Innal muhibbi lima yuhibbuhi muthi'... Cinta, kata Imam Syafii, menggiring orang untuk mengikuti apa pun titah sang kekasih.

Tebari rasa takut, maka orang akan membungkuk padamu. Membangkitkan semangat pasukan dengan disiplin tingkat tinggi, mungkin penting dalam hal tertentu. Tetapi, terlalu banyak mengumbar punnishment, hanya akan membuat orang antipati kepadamu.



Tebari harapan dan janji, maka orang akan memujamu. Tetapi, ingat, kita memiliki keterbatasan dalam mencurah harapan. Semakin banyak orang berharap kepadamu, semakin banyak peluang engkau membuat kekecewaan. 

Tebari rasa cinta, maka orang akan tulus mendoakan dan memberikan jiwa raganya untukmu. Inilah setinggi interaksi yang mungkin bisa kita berikan. Orang akan menyayangi kita apa adanya. Menerima keburukan dan kebaikan, duduk sama rendah berdiri sama tinggi.

Memang, ketiga hal itu dalam berbagai komposisi harus kita miliki. Tetapi, jika engkau hendak memilih mana yang paling dominan untukmu, bolehkah aku ajukan saran? Jadikan cinta sebagai cara engkau membangun relasi terhadap sesama.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Ketakutan, Harapan dan Cinta"

Post a Comment

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!