Pesona Negeri Di Atas Awan (2)

Tawangmangu Dalam Catatan (Bag.2, Habis)
By Afifah Afra
Berpose di Kebun Teh Kemuning

Cemoro Sewu

Untuk menuju Cemoro Sewu, tak hanya dibutuhkan kendaraan yang benar-benar sehat, tetapi juga keahlian menyopir. Pernah beberapa waktu yang lalu, saya temui sebuah mobil baru yang mogok. Saya juga pernah mengalami ber-mogok ria. Bukan dengan mobil, tetapi motor. Dan bukan karena faktor keahlian, tetapi karena motor yang kami pakai memang bukan standar penjelajah. Ya, sekitar 10 tahun yang lalu, saat masih pengantin baru, Mas Ahmad suami saya mengajak jalan-jalan ke Cemoro Sewu. Sangat mudah diduga, di tengah jalan, motor prima tahun 89 itu tak kuat melewati tanjakan yang saat itu masih sangat curam. Walhasil, adegan romantic itu berlangsung, saat saya ikut mendorong motor suami melewati jalan yang membelah lanskap alam nan menawan. Kalau cinta sudah melekat, motor tua pun serasa limousine presiden USA. Hihihi.

Saat ini, setelah dibangunnya jalan raya Solo-Magetan yang melintasi Tawangmangu, kondisi jauh lebih baik. Jalan mulus, lebar, dan dibuat lebih landai, tentu dengan konsekuensi jarak menjadi kian panjang. Menikmati jalan raya yang membelah pegunungan Lawu ini sungguh menakjubkan dan menjanjikan keistimewaan. Sahabat saya, Andri Triwijaya, yang juga seorang backpacker, pernah bercerita, bahwa jalan raya yang membelah lokasi tersebut, adalah jalan raya tertinggi di Indonesia! Ketinggiannya mencapai lebih dari 1000 meter DPL! Jadi, meski siang bolong dengan matahari yang bersinar terik, suasana tetap lumayan dingin. Harus bawa jaket untuk melaju kesana. Kian wajib jika perjalanan itu dilakukan dini hari, apalagi malam. Brrr…!!!

Cemoro Sewu adalah pintu gerbang menuju Gunung Lawu. Jika Anda ingin menaklukan gunung setinggi 3.265 meter DPL ini, tentu Anda harus melewati daerah tersebut. Sebenarnya, kalau kata suami yang sudah berkali-kali mendaki Lawu, ada 2 trek pendakian ke Lawu. Selain Cemoro Sewu, ada juga Cemoro Kandang. Tetapi, trek melewati Cemoro Sewu lebih ‘menantang’ dibanding dengan Cemoro Kandang yang relatif lebih landai. Namun, karena jalur dari Cemoro Sewu lebih pendek, meski lebih ‘nge-track’, para pendaki banyak yang lebih memilih melewati jalur tersebut.
Lanskap dari atas Cemoro Sewu

Bagi Anda yang bukan pendaki gunung, jangan khawatir. Cemoro Sewu masih tetap memberikan pesona yang menawan. Sekadar memarkir kendaraan di pinggir jalan dan menatap lembah yang terbentang indah, sudah merupakan kenikmatan tiada tara. Kalau ingin lebih spesial, bisa berkunjung ke warung-warung tenda yang bersih dan rapi. Menu khasnya sate kelinci dan wedang jahe. Bagi yang merasa tak sanggup menyantap sate kelinci (mungkin karena tak tega dengan binatangnya yang ‘imut’), ada juga sate ayam. Aneka minuman hangat lain juga terhidang dengan harga sangat terjangkau. Satu porsi sate kelinci berisi 10 tusuk dan lontong, hanya seharga Rp 12.000,- Murah sekali, bukan?

Telaga Sarangan

Cemoro Sewu bisa jadi merupakan klimaks dari jalan yang terus menanjak dari arah Tawangmangu. Begitu keluar dari lokasi tersebut, menuju ke arah Magetan, jalan mulai menurun, dan menurun sangat tajam saat menuju Telaga Sarangan. 

Telaga Sarangan! Dari ketinggian, sudah terlihat keindahannya. Telaga dengan air yang kehijauan, dikelilingi oleh hotel-hotel dan vila-vila serta pondok wisata. Memasuki lokasi telaga, suasana masih terasa sejuk. Bahkan ketika menjelang sore, terasa kian dingin. Menyaksikan matahari berwarna jingga yang memantul di permukaan telaga, membuat kita terasa tengah terbang ke sebuah negeri impian. Apalagi jika kabut mulai turun. Oh, benar-benar negeri di atas awan!

Tak lengkap keindahan Telaga Sarangan jika tak mencoba mencicipi aneka ‘hidangan’ yang ditawarkan. Ada banyak perahu kecil yang bisa disewa, tapi karena harus mengayuh sendiri, saya berpikir panjang untuk menyewanya. Mending menyewa perahu motor. Satu perahu motor seharga Rp 40.000/putaran dengan kapasitas sekitar 5-6 orang dewasa. Jika ingin lebih puas, bisa ditawar Rp 100rb untuk 3 kali putaran. Eh, tetapi, mengitari telaga dengan perahu motor berkecepatan tinggi, juga membutuhkan keberanian, lho! Apalagi jika si sopir perahu sedikit ‘nakal’ dengan membuat zig-zag yang menyeramkan. Atau mencoba balapan dengan perahu motor lainnya. Kalau saya sih, asyik-asyik saja, cihuuuuy!

Untuk mengitari telaga seluas kira-kira 30 hektar ini, ada juga kuda yang bisa disewa dengan harga sekitar Rp 30.000,- untuk satu putaran. Jangan khawatir jika belum terbiasa naik kuda, karena Anda akan dibimbing oleh pemilik kuda. Mereka akan berlarian sambil memegang tali kendali kuda, sementara Anda dengan asyik berada di atas kuda bak puteri raja. Ck…ck.

Perkebunan Teh Kemuning

Perkebunan Teh Kemuning sebenarnya tak berada di trek menuju Magetan. Sebelum Tawangmangu, sewaktu sampai di Karangpandan, Anda bisa berbelok ke kiri dan terus meluncur ke arah Ngargoyoso. Nanti Anda akan bertemu dengan hamparan kebun teh dengan udara yang sejuk dan pemandangan menawan. Objek wisata yang bisa kita nikmati antara lain Candi Ceto, Candi Sukuh, Air Terjun Jumog, serta Air Terjun Parang Ijo.

Jika Anda penikmat teh, bisa juga mampir ke Rumah Teh Ndoro Donker, yang terletak di Jalan Afdeling Kemuning no. 18. Ndoro Donker adalah seorang lelaki Belanda yang berprofesi sebagai ahli botani. Beliau menetap di Kemuning untuk meneliti tumbuhan di sana. 

Tertarik berwisata ke Lereng Lawu? Calling saja saya, siapa tahu waktunya pas, dan saya bisa jadi guide. Gratis, kok! Cukup membayar dengan secangkir teh Ndoro Donker dan sepiring sate kelinci di Cemoro Sewu, hehe. 
Suasana Kebun Teh, Pagi Jelang Siang...

Kebun Teh Kemuning


Subscribe to receive free email updates:

9 Responses to "Pesona Negeri Di Atas Awan (2)"

  1. Kapan2 pengen lewat sana aaah kalau mudik ke Pacitan dari Bojonegoro. Jadi pengeeeen. :)
    Colek2 Mbakyu kalau posting foto2 lagii :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dari Bojonegoro ke Pacitan lewat Magetan? Muter dong, lewat Solo? :-D

      Delete
  2. Membaca perjalanan ini langsung terkenang 14 tahun lalu, saya menuju Telaga sarangan dan menangis ada sate kelinci wkwkkw*Sumpah saya norak banget ngeliat ada kelinci dipotong, sebelumnya selama di Jakarta saya hanya tahu Kelinci buat mainan, buat dipelihara, lucu gitu.
    kalau sama kucing saya jijik karena pupnya, kalau sama kelinci masih bs berdamai*lah, sama kucing saya banyak trauma, pnh satu lemari baju saya KOMPROH buat kucing milik kakak saya lahiran >.<
    pernah kucing pup di kamar saya..Huwaaaaaaaaaaaaaaaaa*katanya kucing cuma suka di pasir sama tanah T.T

    jd ngelatur deh, tapi bener tulisan ini membuat saya rindu telaga sarangan, juga Ngawi kampung ayah saya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga dulu begitu mbak... tapi lama2 enak juga rasanya. Dagingnya lebih lembut daripada ayam :-)

      Delete
  3. btw masih ada kuda yang ngiterin telaga sarangan tak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada, saya punya pic-nya juga, tapi nggak tahu nih, nyelip dimana. Ntar klo ketemu, saya posting deh :-)

      Delete
  4. Aduh..lanskapnya bagussss... semoga tahun depan rencana liburan ke solo gak berubah ah. Aku mo naik kuda aja muter ke daerah2 yg ada di foto ini. Aku hobbi naik kuda dan anak2 sptnya tertular. Biar gak kena acara mogok. Lagian..hehehe..jantungku dah gak kuat diajak naik tanjakan atau turunan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapi, kamera selalu tak bisa memotret keindahan sebenarnya. Jadi, datang saya ke sana, mbak... pasti akan terpesona :-)

      Meski menanjak, tak terlalu terasa kok, karena jalan sudah dibikin bagus :-)

      Delete
  5. asiknya bisa jalan2, salam kenal mbak...(www.veranita1903.blogspot.com)

    ReplyDelete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!