Yuk, Berjilbab Syar'i!

Tempo hari saya membaca beberapa thread di socmed tentang  jilbab syar'i vs hijab trendi. Diskusinya ramai sekali. Pro dan kontra saling bersahut-sahutan. Lama-lama jadi seperti saling menghakimi. Nah, saat perdebatan itu telah melibatkan emosi, saya jadi merasa tak nyaman dan ingin sekali berkomentar. Boleh, kan, ya? Hehe.


Menurut saya, tak perlu ada perdebatan yang justru membuat urat saraf menegang hingga voltase tinggi. Salah-salah malah terkena hipertensi dan gejala stroke, tuh! Bukannya mendoakan buruk, tetapi saya memang menginginkan kita lebih bijak dalam membuat penilaian. Konsep penting dalam agama ini adalah "Laa ikroha fid-diin, tidak ada paksaan dalam beragama." Beragama pun selalu diukur sesuai dengan kesanggupan. Jadi, yang sudah bisa berjibab syar'i... alhamdulillah. Selamat! Dan berusahalah untuk istiqomah. Bagi yang memilih berhijab trendi, saya juga memberikan penghargaan sebesar-besarnya. Saya yakin, semua orang pasti akan berproses. Jadi, mari kita berproses untuk menuju hijab yang lebih sesuai dengan tuntunan ajaran agama kita. 

Seperti apa sih, jilbab yang syar'i itu? Yuk baca artikel saya berikut ini!

Menuju Jilbab Syar’i Meraih Pesona Inner Beauty

By. Afifah Afra

Addunya mataa’un wa khairu mata’iha al-mar’atu shalihah.
Kalimat di atas bermakna: “Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah.” Sebuah ungkapan yang indah, yang mengangkat derajat kaum wanita ke jenjang yang begitu mulia. 

Wanita sholihah adalah perhiasan yang paling utama. Tentu saja mereka bukan sekadar perhiasan imitasi, tetapi adalah berlian yang sinarnya abadi dan menyejukkan. Ketika Ummu Salamah bertanya kepada Rasulullah, lebih mulia mana wanita dunia dengan wanita surga (bidadari, lu’luim maknun) maka Rasul menjawab bahwa wanita dunia lebih utama karena keshalehan yang dimilikinya. 

Seorang teman pernah bertutur, bahwa tak ada seorang lelaki pun yang boleh menjabat tangan Ratu Inggris kecuali keluarganya. Nah, karena di dalam Islam, seorang muslimah tidak diperkenankan dijabat tangannya oleh lelaki yang bukan mahram, berarti di dalam Islam, semua wanita itu seterhormat Ratu Inggris.

Ya, sekali lagi  khairu mata’iha al-mar’atu shalihah. Sebuah perhiasan tentu saja indah. Keindahan yang bersifat fisik adalah kerelatifan, alias tak abadi, alias bisa hilang begitu saja seiring dengan berjalannya waktu. Adapun keindahan / kecantikan yang terpancar dari dalam (inner beauty), yang bersumber pada keshalehan, kecerdasan, ketaatan dan karisma seorang muslimah, bersifat abadi dan merupakan sebuah pencapaian prestasi yang berujung pada masuknya mereka ke surga-Nya, insya Allah.

Perjuangan Berat Para Jilbabers

Suatu ketika, beberapa tahun yang lalu, saya mendapat sebuah SMS yang bunyinya kurang lebih begini: “Besok pagi keputusan parlemen Perancis tentang jilbab akan dikeluarkan. Bantu para muslimah Perancis dengan doa dan shalat malam. Mereka butuh dukungan kita. Allahu akbar!”

Saya kemudian mem-forward SMS tersebut ke beberapa rekan. Sayangnya, pemerintah sekuler Perancis ternyata bersikeras untuk menghilangkan semua simbol-simbol keagamaan di institusi pemerintahan termasuk sekolah-sekolah milik negara. Hal itu tentu saja sangat ironis jika dikaitkan dengan apa yang digembar-gemborkan Perancis sebagai sebuah negara yang demokratis dan menjunjung tinggi HAM.

Sebelum tahun 1990-an, di negeri kita yang mayoritas muslim pun pernah mengalami kasus yang hampir sama dengan yang dialami oleh muslimah Perancis. Kita mendengar cerita-cerita betapa beratnya para siswa di SMU-SMU negeri untuk bisa mengenakan busana kebesaran wanita muslimah tersebut. Kisah yang menimpa Ummu Hida, salah seorang guru mengaji saya saat mahasiswa, bisa menjadi cermin. Beliau berjilbab saat sekolah di SMEA, sekitar pertengahan tahun 80-an. Ketika beliau sedang berjalan, sebuah motor menyerempetnya sembari pengemudinya menjambret kain jilbab yang menutupi kepalanya.

Juga masih tak lekang dari ingatan, ketika saya SD, pernah ada sebuah isu gencar yang cukup menyakitkan, tentang adanya sekelompok orang berjilbab yang suka menebar racun ke bahan-bahan makanan yang dijual di pasar-pasar. Saya yang tak terlalu mengerti makna jilbab, langsung merasa curiga terhadap orang-orang yang berjilbab, bahkan termasuk kepada bulik saya yang memakai jilbab sekitar tahun di akhir tahun 80-an.

Beberapa Motivasi Mengenakan Jilbab
Alhamdulillah, kondisi telah sangat berubah. Jika jilbab dahulu disebut-sebut sebagai pakaian para hantu, saat ini terjadi kontradiksi yang menggembirakan. Berduyun-duyun para muslimah, dari pedagang kecil di pasar tradisional, hingga para sosialita yang berasal dari kalangan jetset, termasuk para artis terkenal, mulai melirik jilbab. 

Bulan Ramadhan selalu menjadi puncak semarak jilbab, karena banyak para jilbaber dadakan. Baik sekadar mengikuti situasi, atau memang benar-benar ingin terus berjilbab dan menjadikan Ramadhan sebagai momentum perubahana. 

Akan tetapi, motivasi untuk mengenakan jilbab ternyata bermacam-macam. Majalah Ummi pernah membuat beberapa penggolongan jilbab berdasarkan motivasi mengenakannya, antara lain sebagai berikut:

1. Jilbab Akademis. Jilbab ini dikenakan karena kewajiban dari institusi pendidikan dimana mereka bersekolah. Sayangnya, setelah mereka pulang sekolah, biasanya jilbab itu dilepas, bahkan kemudian diganti dengan pakaian yang tak kalah ngejreng dengan para artis.

2. Jilbab Medis. Dikenakan karena adanya keharusan medis, misalnya pada orang yang terkena kanker otak yang menyebabkan rambutnya rontok dan menjadi botak.

3. Jilbab Modis atau Jilbab Artis. Orang yang mengenakan jilbab tipe ini lebih menganggap jilbab sebagai salah satu jenis gaya berpakaian. Maka ia akan enjoy saja menghiasi dirinya dengan pernak-pernik gemerlapan, dengan bentuk-bentuk aneh dan penuh gebyar. Biasanya jilbab ini diperkenalkan oleh para artis.

4. Jilbab Pragmatis. Jilbab ini dikenakan untuk memudahkan seseorang dalam berinteraksi, atau agar seseorang bisa menyesuaikan momen. Misalnya, saat menghadiri pengajian, maka seseorang akan berjilbab, tetapi ketika pergi ke pesta, dia akan menggantinya dengan pakaian pesta. Pada bulan Ramadhan ini, kita melihat para salles di mall-mall juga berjilbab.

5. Jilbab Ideologis. Jilbab ini dikenakan karena kesadaran yang tinggi, bahwa mengenakan jilbab memang kewajiban yang harus dilakukan dengan sepenuh keikhlasan. Bahwa berjilbab adalah salah satu bentuk ketakwaannya kepada Allah SWT. Orang seperti ini biasanya begitu menghargai jilbab yang dikenakannya, dan ia akan mengenakannya sesuai dengan aturan syariat, serta tak akan melepaskannya meskipun orang memaksanya.

Jilbab, Identitas Muslimah Sejati

Jilbab, berasal dari bahasa Arab yang jamaknya jalaabiib artinya pakaian yang lapang dan luas, yang dapat menutup aurat wanita kecuali muka dan telapak tangan. Mengenakan pakaian tersebut dalam Islam jumhur ulama bersepakat, hukumnya wajib, sebagaimana yang didasarkan pada beberapa firman tersebut dibawah ini.

“Hai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan para wanita yang beriman supaya mereka menutup tubuhnya dengan jilbab. Yang demikian itu supaya mereka lebih dikenal dan mereka pun tidak diganggu. Dan Allah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Azhab: 59).

“...Maka julurkanlah kerudung mereka hingga ke dadanya....” (QS. An-Nuur: 31).

Pada sebuah hadist, Rasul juga bersabda:
“Hai Asma! Sesungguhnya perempuan itu, apabila ia telah dewasa, maka tidak patut menampakkan sesuatu darinya kecuali ini dan ini.” Rasulullah SAW berkata sambil menunjuk muka dan telapak tangannya sendiri. (HR Abu Dawud).

Syarat-syarat jilbab itu sendiri menurut Syaikh Yusuf Qardhawi adalah sebagai berikut:

1. Menutup seluruh tubuh kecuali apa yang dikecualikan, yaitu wajah dan telapak tangan.
2. Bukan untuk perhiasan kecantikan, tidak berbentuk aneh yang menarik perhatian, dan tidak berparfum wangi yang menyolok.
3. Tidak tipis sehingga membentuk tubuh.
4. Longgar, tidak menampakkan betis, rambut (walau sedikit), dada, leher.
5. Tidak menyerupai pakaian lelaki dan tidak menyerupai pakaian orang-orang kafir.

Jilbab Sebagai Bentuk Penjagaan Diri

Fungsi jilbab itu sendiri, seperti yang tertera pada Surat Al-Azhab: 59, adalah sebagai identitas seorang muslimah, sekaligus fungsi penjagaan diri, agar tidak diganggu. Hal ini tentu saja menunjukkan bukti yang tidak main-main. 

Menurut Anton Tabah (1994), dalam delapan tahun terakhir, tercatat telah terjadi 13.175 kasus perkosaan. Ini berarti, rata-rata setiap tahunnya 1.650 kasus dan rata-rata per hari 5 orang.  Dengan kata lain, setiap lima jam ada seorang wanita yang diperkosa oleh laki-laki. Sebagai bahan perbandingan, di Amerika Serikat, terutama hingga 1991, berlangsung 12-19 kali perkosaan terhadap wanita setiap jamnya.  Kenaikan angka perkosaan pada tahun 2002 sendiri mencapai angka 25,3%, jauh melebihi angka toleransi kenaikan kejahatan yang hanya 10%.

Hal tersebut, disebabkan antara lain karena banyaknya wanita yang mengumbar aurat, memperlihatkan lekuk-lekuk tubuhnya, bahkan berpose tak senonoh. Pornografi dan pornoaksi merebak dimana-mana, sehingga timbullah perkosaan. Mengenakan jilbab secara syar’i... insya Allah akan membuat kita selamat dari tindak kejahatan mereka.

Jilbab, Bukan Halangan Berprestasi
Di dalam Islam, seorang muslimah diberikan keleluasaan, bahkan anjuran untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya, dan berprestasi sebesar-besarnya. Karena, prestasi adalah sebuah perwujudan dari ihasanul amal (amal yang baik). Dan Allah tidak akan menerima suatu amalan, kecuali amalan yang baik. Amalan yang baik itu adalah sebuah realisasi dari ketakwaan, sedangkan Inna akromakum ‘indallaahi atqooqum, sesungguhnya yang terbaik di antara kamu adalah yang paling bertakwa di antara kamu.

Seringkali, orang menjadikan jilbab sebagai sebuah sasaran tembak, jika karena memakainya, maka ia merasa mendapatkan halangan untuk berprestasi. Padahal, jilbab sama sekali bukanlah penghalang untuk meraih cita-cita. Saya pernah bertemu dengan seorang doktor yang bekerja di IPTN (sekarang PT Dirgantara Indonesia), dan dia seorang muslimah berjilbab rapi. Gedung parlemen yang megah itu pun, sudah mulai dimasuki para anggota dewan yang berjilbab rapi. Bahkan, menteri pemberdayaan perempuan di era Gus Dur, yakni Ibunda Khofifah pun, berjilbab.

Di Turki, gelombang para jilbaber pun telah memasuki area-area yang sebelumnya sepertinya tertutup untuk jilbaber. Di Iran, ada seorang muslimah berhasil mendapatkan medali emas dari kejuaraan atletik tingkat dunia. Bahkan di negara-negara sekuler, seperti Inggris, Jerman, Amerika Serikat, bahkan Perancis sekalipun, para muslimah berjilbab nan cerdas dan berkarisma, sudah mulai mendapatkan tempat di masyarakat.

Jadi, tunggu apa lagi? Berjilbablah! Mulai sekarang juga! Jika mampu, secara syar'i. Jika belum, ya sebisanya dulu. 
Wallahu a’lam bish-showab.

Subscribe to receive free email updates:

18 Responses to "Yuk, Berjilbab Syar'i! "

  1. Tulisan yang bagus, Mbak. Salam kenal.

    ReplyDelete
  2. Sumbang saran
    Buku terjemahan "Jilbab Wanita Muslimah" buah karya Syaikh Al Albani sangat bags untuk dijadikan referensi ilmiah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih sarannya. Saya sudah membaca buku beliau sejak awal kuliah juga.

      Delete
  3. Mba, temen saya ada yg tekadnya kuat sekali. Dia ingin sekali memakai pakaian sekolah didesain seperti gamis jd auratnya bnar" tertutup. Ttpi ini sangat ditentang sama guru krn sdh sngat melanggar aturan sekolah. Bagaimana mnurut mba Afra ?? =)) makash

    ReplyDelete
  4. Mba, temen saya ada yg tekadnya kuat sekali. Dia ingin sekali memakai pakaian sekolah didesain seperti gamis jd auratnya bnar" tertutup. Ttpi ini sangat ditentang sama guru krn sdh sngat melanggar aturan sekolah. Bagaimana mnurut mba Afra ?? =))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin untuk sementara memakai rok dan kemeja dulu sebagaimana yang lain. Secara syariah--sepemahaman saya--itu juga tak dilarang, kok.

      Delete
  5. Apakah berhijab syar'i itu harus pakaian seperti gamis "tidak boleh potongn"? Yng menjadi patokan kan yang penting tidak ketat, tidak transparan, dan tidak mencolok? Mohon penjelasannya mb afifah,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepertinya ada yang berpendapat demikian, bahwa jilbab harus berbentuk gamis. Mari kita hormati pendapat tersebut...

      Kalau menurut saya, jilbab syar'i sama seperti pendapat Anda. Saya sendiri suka pakai potongan juga, rok dan baju panjang.

      Delete
  6. Artikel yang sangat bermanfaat.. semoga yang belum memakai jilbab mendapatkan hidayah agar segera memakai jilbab dan yang sudah memakai jilbab dapat menyempurnakan jilbabnya.. Aminn YaaRobbalamin..

    ReplyDelete
  7. Subhanallah, ringan dibaca tapi manfaat luar biasa. terus posting yang luar baisa ya mba and sharing with us https://febryindahsari.blogspot.com

    ReplyDelete
  8. Bermanfaat bngt posting nya mba...

    ReplyDelete
  9. Tulisan yang menarik, mudah2an dapatkenjadi perhatian setiap muslimah.
    Jangan lupa, yuuk cek koleksi beberapa jilbab syar'inya di www.rumahbelanjamuslim.com ya ..

    ReplyDelete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!