Bosan, Oh Bosaaaan!

By Afifah Afra
Jangan-jangan yang memicu boring adalah karena kita belum keramas... hehe
Pernahkah Anda merasakan bahwa kopi susu yang biasanya terasa begitu lezat, mendadak melewati rongga mulut kita begitu saja tanpa sensasi rasa apa pun alias hambar? Atau, sesuatu yang menjadi favorit kita tetiba berubah biasa-biasa saja, sama sekali tak menarik, atau bahkan menebarkan sesuatu yang negative seperti rasa sebal, malas, bête. Eh, belum tentu perasaan seperti itu berawal dari menurunnya kualitas objek lho. Bisa jadi, justru something wrong itu berasal dari diri kita sendiri. Mungkin kita sebenarnya hanya sedang dibebat rasa bosan.

Bosan, kalau dalam KBBI artinya perasaan tidak suka karena sudah terlalu sering atau banyak. Secara alamiah, rasa bosan, jenuh, jemu—dan segala jenis derivatnya, akan terjadi pada semua manusia. Herman Heinrich Gossen misalnya, membuat sebuah rumusan yang dikenal sebagai Hukum Gossen I: "Jika pemenuhan kebutuhan akan suatu jenis barang dilakukan secara terus-menerus, maka rasa nikmatnya mula-mula akan tinggi, namun semakin lama kenikmatan tersebut semakin menurun sampai akhirnya mencapai batas jenuh”.


Contoh dari Hukum Gossen I bisa dilihat dari ilustrasi ini. Suatu hari, Didi merasa haus bukan main. Seharian dia dipanggang sinar matahari karena harus berputar-putar kota dengan sepeda motornya.  Satu yang terbayang di benak Didi adalah: air putih. Maka, begitu dia mendapatkan segalon air putih di kantornya, dia akan sangat antusius memenuhi gelas pertama dan menenggaknya. Karena dia sangat haus, dia merasa butuh gelas kedua. Akan tetapi, kenikmatan pada gelas kedua pastilah berbeda dengan gelas pertama. Dan akan pada gelas kesekian, dia justru merasa sangat muak, ingin muntah dan melempar gelasnya.

Bosan juga bisa diartikan sebagai salah satu jenis emosi saat kita kehilangan stimulasi, perasaan bahkan minat. B.A. Fisher mendefinisikan rasa bosan ini sebagai: "suatu kondisi perasaan (afektif) yang tidak menyenangkan dan bersifat sementara, yang seseorang merasakan suatu kehilangan minat dan sulit konsentrasi terhadap aktivitas yang sedang dilakukannya." Para psikolog menyebutkan bahwa bosan itu bisa muncul karena kurangnya stimulus intelektual, menjalani hidup yang begitu-begitu saja, dan juga karena tekanan.

Jadi, bosan itu lumrah. Masalahnya, kadar kebosanan masing-masing orang itu berbeda-beda. Ada yang membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk merasa bosan—yang itu pun muncul pelan-pelan—dengan aktivitas blogging, misalnya. Namun ada yang baru seminggu nge-blog sudah merasa malas. Nah, jika rasa bosan itu bisa terpicu dengan begitu mudah, ini yang membuat hidup kita jadi terasa kurang nikmat. Karena bosan seringkali menciptakan sederet rasa tidak bahagia, seperti jutek, galau, atau malah tertekan.

Bagaimana cara mengobati rasa bosan? Saya punya beberapa ide yang mungkin bisa Anda terapkan.
1.       Perbanyak stimulus intelektual agar otak kita senantiasa aktif. Misal dengan mempelajari hal-hal baru yang menarik, membaca genre lain yang berbeda dari kebiasaan, mencoba memahami topik-topik yang sedang up to date, berdiskusi (nggak papa ngobrol ngalor-ngidul, dengan catatan lawan diskusi Anda bersedia, hehe).

2.       Jangan main-main di pinggiran, terjunlah ke pusaran. Ibarat Anda sedang berada di sebuah aliran sungai, cobalah untuk terjun ke pusaran. Pada saat Anda berada di pusaran, Anda akan berkonsentrasi dengan kekuatan air, fokus pada tujuan, sibuk dengan agenda-agenda dan target, sehingga untuk menjadi bosan saja ‘tidak sempat’. Untuk ini, Anda harus memilih sebuah kegiatan yang memang penting, dan Anda harus total terjun di dalamnya.

3.       Lakukan variasi dan rekreasi. Melakukan selingan-selingan, sesuatu yang berbeda dari biasanya, terbukti efektif mengusir rasa bosan. Tak perlu membayangkan selingan itu adalah rekreasi ke The Grand Canyon atau malah terbang ke bulan. Cukup dengan mengubah rute perjalanan rutin Anda, kadang bisa juga mengusir rasa bosan. Seorang rekan wartawan pernah bercerita, betapa membosankan hidup dia, karena saban hari dia harus melakukan liputan itu-itu saja. Maka, dia sering mengubah-ubah rute perjalanan, mencari-cari jalan dan menjajal berbagai moda transportasi (bus, kereta, motor, bahkan sepeda angin). Terkadang, selingan-selingan kecil, seperti membersihkan ruangan tempat kita biasa kerja, memandangi foto orang yang kita sayangi, atau mengganti bunga di vas, bisa juga lho, menghidupkan semangat kembali.

4.       Mestakung. Alias semesta mendukung. Istilah ini dipopulerkan oleh Fisikawan Prof Yohannes Surya. Mestakung adalah hukum alam dimana ketika suatu individu atau kelompok  berada pada kondisi kritis maka semesta (dalam hal ini sel-sel tubuh, lingkungan dan segala sesuatu disekitar dia) akan mendukung untuk dia keluar dari kondisi kritis. Menurut Prof Yohannes, tiga hukum Mestakung adalah : (1) Hukum kritis, dimana saat kondisi kritis pasti ada jalan keluar; (2) Hukum Langkah, ketika kita melangkah terlihatlah jalan keluar; (3) Hukum tekun, ketika kita melangkah dengan tekun, terjadilah mestakung. Bosan adalah salah satu kondisi kritis, percayalah, jika bosan itu sudah mengklimaks, asal kita bertindak, pasti akan ada jalan keluar. Mestakung ini terkadang juga bisa kita ciptakan dengan membuat lingkungan yang kondusif, misal mencari tempat yang enak dibuat kerja, atau mencari teman-teman yang mau memahami kita--dan memberi motivasi. Mestakung juga bisa dipicu dengan memperhatikan kondisi diri kita baik jasmani maupun rohani seperti makan tepat waktu, olahraga, relaksasi, refreshing, dan sebagainya.

Subscribe to receive free email updates:

2 Responses to "Bosan, Oh Bosaaaan!"

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!