Aku Sibuk, Jadi Berilah Aku Pekerjaan!

*Refleksi Afifah Afra*

Tempo hari, ada sebuah diskusi yang menurut saya cukup menarik antara saya dengan salah seorang sahabat saya. Sobat saya tersebut menceritakan ‘keanehan’ pada dirinya. “Penyakitku nih, aku kalau sedang luang malah seringnya malas melakukan apa-apa. Tetapi kalau sedang banyak kerjaan, semangat untuk mencoba ini itu jadi tinggi.”

Saat itu, sebenarnya saya ingin mengomentari apa yang dia sebut sebagai keanehan, dan bahkan dilabeli sebagai ‘penyakit’. Sayang, metode komunikasi yang kami lakukan dalam diskusi tersebut, membatasi kami untuk bicara panjang lebar. Jadi, sekalian sharing dengan Anda sekalian, pembaca blog saya yang setia ini, saya tuliskan komentar saya dalam bentuk artikel ringan ini.

Lazimnya, orang yang sedang sibuk, mestinya memang fokus dan tidak memikirkan pekerjaan-pekerjaan lain. Alih-alih diberi pekerjaan baru. Bagaimana cara dia menyelesaikan pekerjaan yang seabrek-abrek dalam waktu yang sama? Mengapa pekerjaan itu tidak diberikan kepada orang yang sedang senggang saja?


Tetapi nyatanya, saya justru melihat fenomena yang berkebalikan. Orang-orang yang sedang ‘on fire’, biasanya akan dengan mudah melahap tumpukan aktivitas yang ada di depannya dengan penuh semangat dan ‘gaya’. Banyak hal-hal yang menakjubkan terjadi saat kita berada dalam tingkat kesibukan tertinggi. Saya sendiri, pernah mendapatkan IP semester 3,8 saat saya justru sedang sibuk-sibuknya kuliah, praktikum sedang padat-padatnya, dan pada waktu bersamaan saya mengemban amanah berat sebagai ketua keputrian Rohis F. MIPA Undip sekaligus Ketua FLP Semarang.  IP 3,8 bagi jurusan saya saat itu termasuk tinggi. Biasanya IP saya per semester hanya berkisar 3,3; 3,4 dan sekitar itu. Jarang di atas 3,5.

Sementara, pernah dalam suasana waktu yang sangat santai, liburan, saya malah tidak bisa mendapatkan apa-apa.

Inersia danInisiasi

Analogi untuk menjelaskan fenomena tersebut adalah Hukum Newton I: “Setiap benda akan mempertahankan keadaan diam atau bergerak lurus beraturan, kecuali ada gaya yang bekerja untuk mengubahnya”. 

S F = 0   

Mengapa gaya sama dengan nol? Hal itu terjadi karena percepatan (a) = 0 yang disebabkan karena kecepatan (v)=0 (diam), atau v= konstan.

Hukum Newton I ini sering dikenal sebagai Hukum Kelembaman atau Inersia

Lembam, kalau saya lihat di KBBI, diartikan sebagai ‘lamban’, atau ‘malas’. Jadi, dari Hukum Newton I ini, jika dikaitkan dengan aktifitas manusia sehari-hari, bisa ditarik kesimpulan, bahwa:

"... jika seseorang terbiasa lembam/malas, maka dia akan tetap malas. Sebaliknya, jika dia telah terbiasa rajin, maka dia akan tetap rajin. Hal tersebut akan berubah jika ada gaya yang mengubahnya." 

Jadi, orang yang dalam keadaan tak bergerak, alias diam, memang akan SANGAT SULIT memulai bergerak. Sementara, orang yang sudah senang bergerak, biasanya justru akan sangat sulit untuk diam. 

Permasalahan yang terberat memang, bagaimana memulai, alias melakukan INISIASI.
Agar sebuah benda bergerak, dibutuhkan GAYA. Dan GAYA untuk sebuah proses inisiasi selalu membutuhkan energi lebih. Karena itu, untuk agar motor atau mobil Anda bergerak cepat, gas awal biasanya lebih besar. Baru setelah kendaraan berjalan, Anda akan kurangi gas itu perlahan sehingga laju kendaraan akan stabil. Tunggu! Salah satu kejutan dalam sebuah proses inisiasi adalah posisi yang berubah dengan cepat, sehingga anda mungkin seperti terjengkang saat motor atau mobil mendadak berjalan dari awalnya diam.

Jadi, jangan kaget pula, ketika Anda terbiasa diam dan mendadak Anda dipaksa bergerak oleh sebuah GAYA, mungkin Anda akan merasakan sensasi semacam TERJENGKANG. Terjengkang dalam 'kehidupan' seringkali jauh lebih mengagetkan, jadi Anda harus siap-siap.

Ya, inisiasi selalu membutuhkan energi lebih. Dalam tubuh kita adalah sebuah siklus yang disebut dengan Siklus Kreb’s. Dalam Siklus Kreb’s gula dipecah menjadi ATP  yang merupakan energy bagi tubuh kita untuk beraktivitas. Tetapi, pada proses INISIASI, ternyata dibutuhkan terlebih dahulu 2 ATP sebagai ‘modal’. Namun tak masalah, karena dari siklus tersebut nantinya akan dihasilkan 38 ATP.

Ya, butuh GAYA untuk bisa merobek kelembaman alias kemalasan. Dalam KBBI, GAYA adalah kesanggupan untuk berbuat dsb; atau bisa dimaknai sebagai kekuatan. Dalam ilmu fisika, gaya dimaknai sebagai dorongan atau tarikan yang akan menggerakkan benda bebas. Gaya dalam rumus fisika disimbolkan dengan huruf F. 

F = m.a
F = Gaya ; m = Massa ; a = Percepatan

Gaya dihasilkan dari massa dikalikan percepatan. Massa, dalam tafsiran saya mungkin bisa dimaknai sebagai kapasitas, kapabilitas, kemampuan, atau kekuatan yang kita miliki. Sedangkan percepatan adalah perubahan kecepatan dalam satuan waktu tertentu. Alias seberapa besar gerak yang kita lakukan. Orang yang memiliki kapasitas besar, lalu bergerak cepat, bayangkan, betapa penuh GAYA dia. Sementara, orang yang letoy, dan kurang gerak, mana mungkin di bisa tampil GAYA.

Jadi, kemalasan akan dapat Anda usir jika Anda memiliki gaya, alias kekuatan. Jika Anda telah berada dalam keadaan bergerak, Anda akan terus bergerak selama energi yang Anda miliki terus disuplai. Namun sebaliknya, jika Anda malas, dan Anda tak mencoba membunuh kemalasan itu, Anda akan cenderung untuk terus bermalas-malasan.

Atas dasar alasan inilah, mungkin, Syaikh Hasan Al-Banna pernah mengatakan, “Berilah pekerjaan kepada orang yang sibuk.” Ya, orang sibuk itu ibarat mesin yang tengah panas, geraknya cepat, efektif dan bisa diandalkan. Berbeda dengan mesin yang beku, butuh waktu lama untuk membuatnya panas dan bekerja.

So, tak salah sebenarnya kalau ada yang datang kepada Anda dan mengatakan, “Aku sibuk, jadi, berilah aku pekerjaan!” 

Solo, 19 Januari 2014 
:: (tulisan ini spesial untuk sobatku si “Mami Gurita” :-p) ::


Subscribe to receive free email updates:

9 Responses to "Aku Sibuk, Jadi Berilah Aku Pekerjaan!"

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. Mami2? ihihik aku ummi2, berarti bukan buat aku ya mbak?
    :v :v

    ReplyDelete
    Replies
    1. Buat siapa saja yang merasa tercerahkan deh ;-)

      Delete
    2. komen pertama kuhapus, isin aku ehehek. iya mbak padhang jingglang iki :)

      Delete
    3. alhamdulillah... iya dihapus aja, bisa bikin salah persepsi soal 'ababil' itu, dek... :-)

      Delete
  3. suka dengan tulisan ini,kebetulan aku jg bertanya tanya =D

    ReplyDelete
  4. mantapks uraiannya.

    ReplyDelete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!