Ikatlah Ilmu Dengan Menuliskannya

Saya sering memberikan analogi pedagang kambing untuk pembahasan masalah ini. Anda adalah seorang pedagang kambing, yang mengklaim memiliki seratus kambing. Anda mempromosikan dagangan Anda, sehingga suatu saat ada seorang pembeli yang tertarik membeli dagangan Anda. Transaksi deal! 50 kambing siap dibeli. Uang muka sudah dibayarkan. Akan tetapi, alangkah kagetnya Anda, ketika datang ke padang rumput tempat Anda menyimpan kambing-kambing itu, ternyata Anda hanya menjumpai tak lebih dari lima ekor. Kemana 95 ekor kambing lainnya?

Ada yang lari, ada yang diterkam harimau, ada yang mati kedinginan. Penyebabnya sederhana. Anda tidak mengurung kambing itu di sebuah kandang. Anda tidak mengikatnya, dan membiarkan kambing itu berkeliaran di padang rumput.

Well, mari kita bahas dengan lebih terperinci!

Ayat Al-Quran yang pertama kali turun adalah “Iqra’ bismirabbika ladzii khalaq.” Makna ayat ini bagi saya—dan seluruh umat muslim di persada dunia—tentu sangat dahsyat. Bayangkan, sebelum kita melakukan segala sesuatu, Islam menganjurkan kita melakukan aktivitas membaca sebagai first action. Ini tentu saja terkait dengan tradisi ilmiah yang memang sangat lekat (semestinya) dalam kehidupan seorang Muslim. Begitu kuatnya penghargaan Islam terhadap ilmu, sampai-sampai amalan—terutama untuk ibadah yang bersifat khusus—yang  tidak dilakukan berdasarkan ilmu, adalah tertolak!

Ketika Adam diciptakan dari segumpal tanah, dan Allah berkehendak mengangkatnya sebagai Khalifah di atas bumi, para Malaikat 'memprotesnya'. “Ataj’alu fiihaa manyufsidu fiihaa wayasfiqud dimaa’ wa nahnu nusabbihu bihamdika wanuqaddisulak? Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di muka bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah? Padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” (QS Al-Baqarah: 30). 

Dan untuk menjawab protes Malaikat, Allah pun mengajari Adam nama-nama seluruh benda di dunia. Apakah Anda berpikir bahwa ketika Allah mengajar Adam nama-nama benda, seperti guru TK yang mengajari anak-anak didiknya. “Nak, ini bangku. Nak, ini meja. Nak, ini buku!”

Maha suci Allah dari segala sikap ‘ecek-ecek’ seperti itu. Saya berkeyakinan, ketika Allah mengajari Adam nama-nama benda, maka disertai dengan segala ilmu tentang benda tersebut. Misalnya, mengajari tentang air. Maka disertai dengan sifat-sifat fisika, kimia, biologi, potensi-potensi dan segala jenis ilmu yang baru tersingkap sebagian kecil oleh manusia pada masa kini. Jadi, mengapa Allah memilih manusia sebagai penguasa di muka bumi, dan ‘mendiskualifikasi’ malaikat? Karena Allah telah member Adam a.s. ilmu. Allah mengangkat dan memuliakannya dengan ilmu, inilah jabatan yang diberikan Allah kepada bapak para manusia tersebut, sehingga membedakannya dengan malaikat.

Pada sebuah atsar diterangkan, “Qayyidul ‘ilma bil kitaabah”, ikatlah ilmu dengan menuliskannya. Ilmu letaknya di memori, sedangkan memori seringkali tersimpan ‘begitu rapi’ di otak sehingga sulit untuk dikuak saat kita membutuhkannya. Ilmu butuh ditranslasikan dalam bentuk kitab, buku, yang mudah kita buka saat kita membutuhkan.

Jadi, ilmu butuh diikat, agar tidak ‘berlarian’ ke sana kemari. Dan cara mengikat ilmu yang paling tepat adalah dengan menuliskannya. Itulah, mengapa dalam ayat tersebut, kita disuruh untuk melakukan iqra’. Menulis menjadi bagian tradisi ilmiah yang sangat lekat. Maka, seseorang tak akan bisa melewati jenjang kesarjanaan tanpa menulis skripsi, jenjang master tanpa mengerjakan tesis dan jenjang doktor tanpa memungkaskan disertasi.

Ya, menulis adalah proses 'mengikat' dan 'mengandangkan' ilmu yang sudah kita dapatkan sejak kita mulai terlahir dari perut ibu kita. Jangan hanya mengandalkan ingatan, karena ingatan kita sangat terbatas.

Keterangan
Sebagian teks ini terdapat di buku tulisan saya: "Be A Brilliant Writer", terbitan Indiva Media Kreasi. Pemesanan buku ini bisa di www.indivamediakreasi.com/new

Subscribe to receive free email updates:

6 Responses to "Ikatlah Ilmu Dengan Menuliskannya"

  1. Udah baca yang di buku BABW. Btw, tagline blog saya Mbak "Raihlah ilmu dengan membaca, ikatlah ilmu dengan menuliskannya" :)

    ReplyDelete
  2. iya, ide kalau gak disimpan bisa terbang
    biasanya sih dicatat di hp

    ReplyDelete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!