LEVEL-LEVEL KEMENANGAN DALAM SEBUAH LOMBA


Satu hal yang paling menggairahkan seseorang yang memiliki tingkat kebutuhan berprestasi (Need of Achievement--N-Ach) yang tinggi adalah lomba. Bagi mereka, lomba adalah salah satu sarana menguji tingkat pencapaiannya dalam bidang tertentu. Bukan, mungkin bukan soal hadiah atau keren-kerenan, meski faktor hadiah pastilah tetap menjadi alasan kita mengikuti sebuah ajang kompetisi; tetapi sekali lagi: ini soal tingkat pencapaian. 

Ciri khas seorang achiever sejati adalah visi. Visi akan diikuti dengan misi, serta serangkum program yang tentu saja diikuti target. Maka, kenaikan jenjang adalah obsesi yang selalu mengikuti kemanapun dia pergi. Kehidupan adalah sebuah proses panjang untuk mencapai titik tertinggi yang untuk itu, dia harus melewati tangga demi tangga. 

Lomba, bagi seorang achiever adalah momentum. Tetapi, di luar itu, dia telah memiliki sebuah tradisi. Padahal, prestasi sejatinya adalah perkawinan antara momentum dengan tradisi. Jika seorang yang tak memiliki tradisi tertentu ternyata bisa menyabet momentum, saya kira hanya kebetulan belaka. Misal, orang yang tak pernah berlatih menulis, mendadak sekali menulis bisa meraih penghargaan yang bergengsi: itu kebetulan namanya. Achiever sejati tak pernah menganggap sebuah 'kebetulan' sebagai prestasi yang patut dibanggakan.

Eh, ada yang menimpuk saya dari belakang: "Nggak ada yang namanya kebetulan, di dunia ini! Semua sudah direncanakan oleh-Nya!" Oke-oke, saya sepakat. Kita koreksi ya... seorang achiever sejati, tak pernah menganggap sesuatu yang muncul tanpa ada keringat yang mengucur sebagai sebuah keberhasilan. Apa yang disebut sebagai sebuah 'hoki', saya sendiri menganggap itu pun sebenarnya buah dari keseriusan kerja kita, hanya saja, arahnya datang dari yang tidak kita duga-duga. Persis seperti Siti Hajar yang mendapatkan air justru dari entakan kaki Ismail, sementara 7 kali beliau berlari bolak-balik antara Shofa dan Marwa untuk mengejar fatamorgana. Apakah ketika Ismail mengentak-entakkan kaki sebelum Hajar susah-payah berlarian air akan mengucur dari sepasang kaki mungilnya? Kata para Ulama: tidak! Air yang mengalir dari kaki Ismail, adalah hadiah dari keteguhan dan semangat Hajar mencari air.

YANG ADA MENANG DAN MENANG!

Kembali bicara soal lomba, ya... karena profesi saya penulis, tentu saya akan bicara tentang lomba kepenulisan. Beberapa waktu terakhir ini, beberapa lomba kepenulisan tingkat nasional dikelar oleh berbagai institusi. Di antaranya Lomba Menulis Novel Inspiratif (LMNI) 2014 yang diselenggarakan oleh Penerbit Indiva Media Kreasi. Di event ini, saya ditunjuk sebagai salah satu jurinya. Selain itu, juga ada event-event lain yang tak kalah menarik.

Beberapa penulis bertipe achiever menyambut event tersebut dengan suka cita. Sayangnya, alih-alih mencoba mengadu kemampuan, sebagian penulis lain justru menunjukkan sikap "kalah sebelum bertanding."
"Aku nggak PD ikutan, pasti kalah."
"Wah, gaya kepenulisanku masih seperti ini, aku nggak mau ikutan...."
"Wah, syaratnya ribet, aku malas ikutan."
Dst...

Tentu hak setiap orang memiliki sikap pesimistis seperti itu. Tetapi, menurut saya, dalam sebuah perlombaan, asal kita serius mengikutinya, yang ada sebenanyar hanya menang dan menang, karena ada beberapa level kemenangan yang bisa kita capai:

Level pertama, adalah ketika kita berhasil menyelesaikan novel tersebut. Ya, hal terberat dalam menulis sebuah novel memang sejatinya menyelesaikan novel tersebut. Berhasil menyelesaikan sebuah novel, bagi saya adalah sebuah prestasi tersendiri. Terlebih, jika novel itu ditulis dengan niat mengikuti lomba. Pasti kita akan berusaha untuk menulis sebaik mungkin. Pada kenyataannya, berkali-kali saya menulis novel untuk diikutkan dalam lomba yang cukup bergengsi, ternyata novel saya tidak tembus. Namun, setelah saya coba revisi dan akhirnya nyantol di penerbit, sambutan dari para pembaca terhadap novel saya itu cukup positif.

Level kedua, ketika novel tersebut tidak menang, tetapi dinyatakan layak terbit. Ini juga prestasi. Biasanya, ketika sebuah penerbit mengadakan lomba, mereka memberlakukan hal ini. Seringkali, untuk menjaring naskah yang berkualitas, penerbit memang menerapkan strategi lomba. Karena, seperti yang saya sebut di atas, naskah yang diniatkan untuk lomba, biasanya ditulis dengan sebaik-baiknya.

Level ketiga, adalah ketika novel kita benar-benar memenangkan perlombaan tersebut. Aha, ini tentu hal yang paling menggembirakan buat semua yang mengikuti lomba. Membaca nama kita terpajang sebagai salah satu pemenang adalah sesuatu yang luar biasa. Kita bisa berkali-kali mengerjapkan mata dan menatap tak percaya. Apakah ini hanya mimpi?

Selesai? O, ternyata tidak! Karena masih ada level selanjutnya.

Level keempat. Ya, masih ada level kemenangan selanjutnya. Biasanya, pemenang sebuah lomba, novelnya juga memenangkan berbagai penghargaan yang bergengsi. Misal novel karya sahabat-sahabat kami, Altitude 3676 (Takhta Mahameru) oleh Azzura Dayana, atau Lontara Rindu oleh Daeng S Gegge Mappangewa. Setelah berhasil memenangkan sebuah lomba bergengsi, mereka juga menyabet berbagai penghargaan. Hadiahnya? Dobel, dong!

Level Kelima. Ini mungkin keberuntungan selanjutnya, meskipun tak semua mengalami. Biasanya, novel yang memenangkan banyak award, akan dicari oleh banyak orang, yang artinya penjualannya akan bagus. Jika novel bisa menembus penjualan spektakuler, biasanya akan difilmkan, atau diterbitkan dalam bahasa asing.

Jadi, mari bersemangat mengikuti kompetisi. Paling tidak, level pertama bisa kita menangkan, bukan?

Subscribe to receive free email updates:

8 Responses to "LEVEL-LEVEL KEMENANGAN DALAM SEBUAH LOMBA"

  1. Mungkin banyak yang sudah saya ajak battle untuk LMNI, dan dari kesekian orang hanya ada satu orang yang optimis, setidaknya level pertama saya bisa melalui tantangan berat ini...bukan saya sombong, tapi karena saya butuh teman. Teman yang juga ingin bertarung dalam mencapai mimpinya. makasih mbak, saya jadi tambah wawasan dan bersemangat, meski saya masih pemula dan masih meraba-raba.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju! Optimisme membangkitkan semua potensi yang kita miliki. Pesimisme mengubur semua kemampuan yang sebenarnya bisa kita lejitkan. Semangat, Mell!

      Delete
  2. Makasih catatannya, kalau saya malah selalu kewalahan mengatasi keinginan diri yang selalu ingin berkompetisi, haha, pinginnya punya waktu 48 jam sehari, pinginnya punya fisik yang hayo aja diajak berlari, dst

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalaupun waktunya 48 jam sehari... keinginannya akan berubah jadi 96 jam sehari. Begitulah hidup... mulai memilih game-game yg pointnya lebih gede aja berarti :-)

      Delete
  3. Saya suka berlomba dan berkompetisi bukan karena hadiahnya kadang. Tapi karena adrenalinnya. Apalagi kalo pas nunggu pengumuman. :D Sisanya yaaa ... lebih ke diri sendiri juga sih. Kayak: lomba itu ada deadline-nya jadi ngurangin males, nulis lebih terjadwal.

    Beberapa orang nganggep LMNI ini nyeremin karena ada kata "inspiratif"-nya. Kesannya jadi berat gitu. >.<"

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, berat ya, kata 'inspiratif' hehe... sebenarnya semua tulisan itu pasti memberi inspirasi kok :-p

      Delete
  4. lomba, bagi saya adalah memerangi malas diri, :D

    ReplyDelete
  5. Terima kasih catatannya Mbak, dapat link ini dari Mbak Nurul http://bukanbocahbiasa.wordpress.com/ .
    Untung saya mau untuk memulai ikut lomba, setidaknya sudah bergerak dari rasa malas untuk menyesuaikan diri dengan tema yang sudah di tentukan *itu aja sudah termasuk pencapaian awal ya*.

    ReplyDelete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!