Gadget, Konten dan Gaya Hidup

Hari itu, terjadi sebuah diskusi ringan antara seorang suami dengan istrinya. Mereka berdiskusi sembari membaca sebuah brosur tentang sebuah produk bundling gadget plus aneka konten. Si istri kekeuh mengatakan bahwa ide mem-bundling konten dalam sebuah gadget itu masih belum relevan. "Masak dikit-dikit tergantung baterai. Kalau nanti ada badai matahari bagaimana? Apalagi kalau kontennya Al-Quran. Nanti kalau semua Al-Quran berbentuk digital, dan kita kehabisan energi, bisa hilang dong, Al-Qurannya," ujar si istri. Menurut sang istri, konten jauh lebih penting daripada sekadar gadget.

Tetapi, dengan berbagai argumennya, si suami tetap berusaha mempertahankan pendapat, bahwa bundling gadget dengan konten adalah sebuah realitas yang sudah tak bisa dihindarkan lagi.

* * *

Sebelum kita membahas diskusi singkat di atas tersebut, bisakah Anda mencoba mengajukan argumen? Mana yang lebih penting, gadgetnya, atau kontennya? 

Tentu gampang-gampang susah menjawab pertanyaan seperti tersebut. Analoginya mirip dengan jika kita disodori pertanyaan semacam ini: mana yang lebih Anda utamakan, cangkang telur, atau isinya? Tentu dengan cepat kita akan menjawab, “isinya lah, siapa yang mau iseng makan cangkangnya?” Tetapi jika tiba-tiba Anda disodori telur mentah tanpa cangkang, tentu kita akan merasa jijik dan ogah menerimanya. Terkadang, kita bahkan bisa melihat, cangkang-cangkang yang bisa bermanfaat secara ‘mandiri’, misal sebagai hiasan setelah dicat warna-warni.

Akan tetapi, cangkang dan isi telur, pastinya adalah sesuatu yang menyatu. Demikian juga gadget dan kontennya. Hanya saja, permasalahan gadget dan konten ternyata tak sesederhana cangkang telur dengan isinya.

Mari kita ambil contoh di dunia perbukuan. Konten dari dunia perbukuan tentu adalah teks itu sendiri. Pada prinsipnya, teks bisa disampaikan dalam media apapun, karena itu, perusahaan media yang ingin eksis, memang harus mulai merilis konten yang bersifat multiplatform. Bisa cetak, bisa buku digital, atau bahkan audio visual. Di zaman digital seperti sekarang ini, sepertinya kiamat serasa akan mendatangi penerbit. Tetapi, jika mereka jeli, sesungguhnya bukan soal kiamat, tetapi sekadar alih media belaka.

Permasalahannya, banyak penerbit di Indonesia yang saat ini cenderung abai terhadap konten. Saya mengamati, bahkan bos-bos penerbitan mayor pun ada yang masih memandang bahwa buku itu hanya sekadar tumpukan kertas yang dijilid. Komponen biaya cetak masih menjadi pertimbangan utama dalam penentuan harga buku, sementara biaya naskah dipukul rata. Penghargaan terhadap kualitas naskah pun masih banyak yang belum optimal. Nilai sebuah naskah, ada yang hanya dihitung dari jumlah karakter atau ketebalan belaka. Padahal, dengan platform yang sangat berbeda, yakni buku digital, konten alias naskah akan menjadi pertimbangan yang terpenting—selain gadgetnya tentunya.

Sementara itu, teknologi informasi yang berkembang pesat dua dasawarsa terakhir ini, memang seakan telah mengubah segalanya. Ada revolusi gaya hidup yang sangat kentara. Dan gadget, diyakini oleh banyak kalangan, telah menjadi bagian dari gaya hidup (lifestyle) masyarakat kita. Menurut Handi Irawan, Chairman Frontier Consulting Group[1], ada sepuluh perilaku konsumen Indonesia yang sangat unik. Saya sebutkan beberapa yang relevan dengan tema artikel ini. Jika Anda adalah pebisnis yang berencana melakukan diferensiasi produk di dunia gadget, Anda perlu merenungi perilaku konsumen ini:

1.       Konsumen Indonesia cenderung gagap teknologi (not adaptive to high technology), sehingga secanggih apapun fitur dari gadget yang dimilikinya, jarang yang benar-benar bisa dimanfaatkan secara optimal. Fitur yang lazim dimanfaatkan biasanya hanya fitur-fitur umum. Ketika saya mencoba melakukan survey kecil-kecilan ke beberapa kalangan, apakah mereka merasa nyaman membaca buku digital, rata-rata dari mereka masih menjawab bahwa buku kertas tetap menyenangkan, dan buku digital itu rumit. 

2.       Berorientasi pada konteks (context, not content oriented), alias lebih terpana pada ‘performance’ atau penampilan luar, ketimbang konteknya. Saya juga pernah melakukan survey sederhana kepada para pembeli buku, dan saya hanya bisa gigit-gigit pulpen, karena ternyata sebagian besar di antara mereka membeli buku benar-benar karena tampilannya—lazimnya karena cover yang bagus. Dan, lebih mengagetkan lagi, ternyata dari para pembeli buku itu, banyak yang sekadar membeli buku untuk ditumpuk belaka, alias dibaca kapan-kapan ada waktu saja.

3.       Gengsi (putting prestige as important motive), memiliki gengsi segede gunung, dan Handi Irawan menyebutkan, lebih senang produk buatan asing. Maka, jika perusahaan penyedia konten hanya berkutat pada sesuatu yang sifatnya lokal, misalnya mem-bundling konten dengan gadget lokal, saya kira tingkat keberhasilannya akan lebih rendah dibanding jika penyedia konten bekerja sama dengan brand dari luar negeri—khususnya yang merajai pasaran semacam iPad, Samsung dan sebagainya.

Jadi, lebih penting mana, gadget (sebagai platform) atau konten? Kalau berdasarakan perilaku konsumen, keduanya sama pentingnya. Konten yang keren, bisa jadi akan sangat ‘jatuh’ nilainya, hanya karena gadget yang dipakai untuk membundling tidak keren saat ditenteng.

Lantas, bagaimana dengan diskusi sepasang suami-istri tersebut? Diskusi itu sebenarnya mewakili kalangan progresif (suami) dengan kalangan konservatif (istri) dalam menyikapi sebuah perubahan. Orang-orang konservatif biasanya memang memiliki 'kesetiaan' yang kuat sekaligus kecemasan yang 'lebay' pada hal-hal yang sifatnya baru. Terus-terang, saya pernah menjadi orang konservatif. Saya ogah membeli tiket pesawat secara online, karena khawatir akan menemui kesulitan saat melaksanakan pemesanan online. Meski berkali-kali suami menyarankan untuk mencoba, saya tetap ngotot. Hingga akhirnya, suatu hari saya terpaksa pesan online karena waktu yang sangat mendesak. Saya kaget, karena prosesnya ternyata sangat simpel, benar-benar memudahkan. Akhirnya, hingga sekarang, saya pun memilih memesan tiket secara online.  

Ya, orang konservatif biasanya hanya merasa 'cemas'. Namun, jika dia sudah merasakan sendiri kemudahannya, lambat-laun dia akan menerima juga perubahan-perubahan yang terjadi, dan bahkan perubahan tersebut akhirnya menjadi gaya hidupnya. Berdasarkan hal tersebut, saya mencoba menyimpulkan, bahwa butuh sekitar 10-15 tahun lagi agar pasar buku Indonesia merasa nyaman dengan konten digital. Waktu sepanjang itu digunakan oleh para ‘pendatang’ di dunia digital seperti saya (usia 25-40 tahun) untuk berakulturasi. Sementara, para digital native alias ‘pribumi’ dunia digital, yang saat ini berusia sekitar 5-10 tahun, akan menjadi dewasa, bekerja dan berpenghasilan.

Lantas, konten seperti apa yang penting untuk dibuat format digital? Ini relatif sekali jawabannya. Tetapi, tentunya butuh riset mendasar, apa-apa saja hal yang dibutuhkan oleh konsumen yang menjadi target marketnya. Jika yang disasar adalah eksekutif muda, tentu kontennya lebih ke arah asupan-asupan manajemen, bisnis dan sebagainya. Jika yang disasar aktivis dakwah, asupannya akan berbeda. Dan seterusnya. Yang jelas, perlu dipertimbangkan, bahwa tujuan dari pemakaian gadget adalah dalam rangka membuat praktis segala urusan. Maka, jika karena berjejal konten justru membuat gadget menjadi lamban, tentu tujuan tersebut tak dapat dicapai.

Satu yang perlu dicatat, perubahan zaman telah mengempaskan raksasa-raksasa yang gagal mengantisipasi perubahan tersebut ke jurang kebangkrutan!





[1] http://www.marketing.co.id/10-karakter-unik-konsumen-indonesia/

Subscribe to receive free email updates:

11 Responses to "Gadget, Konten dan Gaya Hidup"

  1. Hm .. penting semua sih .... tergantung penggunaannya.

    Kalo saya masih konservatif, masih suka pake Qur'an yang bahannya kertas. Kalo buku, lebih memilih yang isinya sesuai dengan passion/minat saya ketimbang disain sampul.

    Postingan yang apik .. moga menang ya Mbak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tergantung penggunaan, dan pengemasan juga kayaknya :-)

      Mungkin soal kebiasaan aja, mbak... saya juga dulu antipati banget sama Quran di tablet, tapi lama2 terbiasa.

      Ah, ini cuma menggembirakan event aja :-D

      Delete
  2. Kita pendatang, anak-anak pribumi digital masa depan. Ini keren!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Malah anak-anak sekarang sudah jadi digital native, dan kita hanya pendatang :-)

      Delete
  3. layar digital ini bikin mata cepet sakit, jadi lebih suka buku kertas untuk dibaca, kalo untuk anak2 sekarang mereka lebih update sama fitur, aq gadget hny dipake seperlunya, tp anak2ku rata2 fitur disitu dimanfaatin dan dicoba2

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, anak-anak kita itulah para digital native. Saat mereka besar, benar-benar akan terjadi gaya hidup, dan mungkin hanya kita-kita ini yang bernostalgia tentang buku-buku cetak sembari minum teh di halaman panti wreda :-D

      Delete
    2. Koreksi: maksud saya, saat mereka besar, benar-benar akan terjadi perubahan gaya hidup.

      Delete
  4. Mmmm what are we talking about here actually, gadget or book? ;p Tapi menyoal buku digital, saya kurang cocok.. mata ga kuat jadinya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saat kita datang ke negara asing, ada juga alasan kita untuk tidak cocok dengan makanannya, misal: perut sakit, lidah nggak pas dst :-p

      Nah, kita ini orang asing yang sedang berpetualang di negeri digital :-D

      Delete
  5. Kalau buku ganti digital, bagaimana ya, cara berjualannya?

    ReplyDelete
  6. Perilaku konsumen itu, apakah akan terus 'dipertahankan' tanpa ada edukasi?

    ReplyDelete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!