Gunung Kidul, Surga Para Pecinta Pantai (1)

Saya, di atas Pulau Drini, pulau kecil yang terpisah sekitar 20 meter dari pantai. Untuk datang ke pulau ini harus menyeberangi laut yang kadang pasang kadang surut. Ketinggian sekitar 20 meter. Anginnya kencang banget, wuuush!!!
Saya mungkin termasuk terlambat menyadari, betapa di lokasi yang tak seberapa jauh dari kota saya, ternyata ada sebuah lokasi yang sangat memanjakan para pecinta pantai. Oya, predikat pecinta pantai pun juga telat tersemat. Awalnya, saya memang tak terlalu menyukai pantai. Saya lahir di lereng gunung Slamet, sebuah region dengan bentang alam yang subur, hijau, dan indah. Sementara, pantai terdekat saya saat itu adalah Cilacap atau Pemalang. Pantai-pantai di sana, menurut saya kurang menarik. Panas, dan pasirnya yang kelewat lembut, membuat kita malas berendam, karena sisa-sisa pasir itu tak akan hanyut dalam sekali cuci.

Tahun 2004, saya diajak suami mendatangi Pantai Srau dan Watukarung di Pacitan. Saya langsung histeris. Pantai tersebut memiliki lanskap sangat bagus, airnya sangat jernih, dengan bukit-bukit karang-karang yang indah. Dan... yang terpenting, pasirnya putih dan mudah rontok. Pernah saya pulang dari Srau dalam keadaan pakaian separuh basah. Di perjalanan, pakaian mengering, dan pasir pun rontok dengan sendirinya. Tubuh pun tak terlalu pliket.

Setelah itu, saya mendadak keranjingan main ke pantai. Srau, Watukarung, Klayar... dan terakhir: Gunung Kidul.

Gunung Kidul, kawan! Jaraknya hanya sekitar 100 Km atau 2 jam (catatan penting: tidak macet) dari kota Solo. Jalan menuju kawasan tersebut juga mulus dan lebar. Jaraknya sebenarnya tak seberapa berbeda. Saat mengecek di Google Map, jarak Solo-Pantai Srau sekitar 115 KM. Akan tetapi, jalan menuju pantai-pantai di Pacitan benar-benar menantang nyali. Penuh kelak-kelok tajam, naik-turun dan kanan-kiri jurang. Buat yang tak terbiasa, dijamin bisa muntah sepanjang perjalanan. Eh, kalau saya tidak, lho ya... :-)

Pantai-pantai di Gunung Kidul juga relatif lebih tertata. Di Pantai Baron misalnya, tempat parkir cukup rapi, muat ratusan mobil dan bus, warung-warung makan berjejer, dengan harga terjangkau. Di Drini, gasebo-gasebo milik warung-warung makan dibangun dengan bentuk unik, yang bisa dipakai gratis--asal memesan makanan di sana, yang juga tak terlampau mahal. Di dekat objek tersebut, juga dijumpai hotel-hotel dan restoran yang cukup besar. Hasil laut yang sudah siap makan juga terjaja, murah meriah. Mulai dari kepiting, udang, ikan, hingga keripik rumput laut. Nyaaam...!!!


Dari Barat Ke Timur, Berjejer Pantai-Pantai

Ya, Gunung Kidul benar-benar surga buat para pecinta pantai. Dari barat ke timur, berjajar pantai-pantai dengan ciri khas pantai daerah karts yang indah: tebing karang, gua-gua, pantai berbatu, pasir putih dan air yang sangat jernih. Kalau saya baca di Wikipedia, ada 50 pantai berjajar dari barat ke timur. Sedangkan yang sudah terkenal antara lain: Baron, Kukup, Sepanjang, Drini, Sundak, Krakal dan Indrayanti. Silakan berdecak kagum!

Tetapi, hingga saat ini, baru tiga pantai yang sudah saya datangi, yaitu Baron, Sepanjang dan Drini. Nah, kalau Drini, sudah empat kali saya datangi. Ini disebabkan karena 'kampanye gencar' dari setiap penggemar pantai yang saya ajak diskusi tentang pantai: bahwa Drini is the best! Selain the best, juga relatif sepi, berbeda dengan Baron--yang mungkin karena paling terkenal, sangat ramai.

Drini, Oh Drini

Lanskap Drini, sejauh ini memang paling istimewa dibanding dua pantai lainnya yang pernah saya datangi, yakni Baron dan Sepanjang (ini bukan berarti Baron dan Sepanjang tidak istimewa, lho). Di Drini, pantai terbagi menjadi 3 area, yakni area teluk. Air di teluk menggenang tenang, tidak terkena ombak, karena merupakan aliran air dari ombak yang sudah pecah membentur tebing-tebing karang Pulau Drini. Kedalaman teluk hanya sekitar setengah betis, atau kadang hingga lutut, tapi juga kadang hanya sampai mata kaki. Anak-anak paling senang bermain-main di situ, karena di dasar pantai yang berbatu, banyak dihuni binatang laut, mulai dari bintang laut, hingga ikan-ikan kecil. Bahkan juga burung laut yang berbulu putih bersih. Di pantai area ini, banyak gasibu-gasibu yang sangat nyaman untuk merenung. Sementara, panorama bukit-bukit karang dan lautan lepas juga menawan.

Area kedua adalah tempat pendaratan perahu-perahu nelayan. Ombak di sini cukup besar, khas Pantai Selatan. Sedangkan area ketiga adalah Pulau Drini, yang berjarak sekitar 20 meter dari pantai. 




Terkadang, jika air surut, kita hanya menyeberangi laut dengan ketinggian sekitar satu lutut. Tetapi jika pasang, bisa satu pinggang. Untuk menuju pulau tersebut, kita harus melewati tangga yang menanjak. Dan begitu sampai di atas... wooow, spicles deh, menatap laut yang sangat biru dan langit yang juga biru bersih.



BERSAMBUNG ke artikel Gunung Kidul, Surga Para Pecinta Pantai (2)

Gunung Kidul, Surga Para Pecinta Pantai (1)
Gunung Kidul, Surga Para Pecinta Pantai (2)
Mengintip Pesona Pantai Srau
Wow, Karst Gunung Sewu Jadi Geopark Kelas Dunia!

___________________________________________________________________
INFORMASI BUKU-BUKU TERBARU SAYA (TERBIT TAHUN 2015)
1. Nun, Pada Sebuah Cermin. Novel, Terbitan Republika.
2. Akik dan Penghimpun Senja. Novel, Terbitan Indiva Media Kreasi.
3. Sayap-Sayap Mawaddah, Non Fiksi Pernikahan, Terbitan Indiva Media Kreas

INFO LENGKAP KARYA AFIFAH AFRA
Pemesanan Online klik SINI atau SMS/WA: 0878.3538.8493

Mau belanja buku-buku Afifah Afra, Asma Nadia, Helvy Tiana Rosa, Sinta Yudisia dan sebagainya dengan harga diskon? Yuk berkunjung ke TOKO BUKU AFRA.


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Gunung Kidul, Surga Para Pecinta Pantai (1)"

Post a Comment

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!