Lima Sekawan, Dunia Tanpa Sekat dan Buku Anak Indonesia

Saya masih ingat, tatkala suatu hari, lelaki karismatik yang saya panggil 'Bapak' (dan dia memang benar-benar bapak kandung saya :-)), memanggil saya yang saat itu sedang bermain bersama teman-teman di halaman rumah kami. Dari lambaian tangan, wajah sumringah, dan tas plastik berwarna hitam yang sarat isi--dan pastinya cukup berat, saya langsung bisa menebak, apa yang Bapak bawa. Saya pun sontak berlari, meninggalkan gelanggang permainan dan langsung mengambil alih tas plastik hitam itu.

Saya bersorak! Yeiy, itu buku-buku yang disewa Bapak dari sebuah persewaan buku dekat kantor beliau. Belasan buku bertumpuk, ada novel remaja untuk kakak-kakakku, dan ada yang memang ditujukan untuk saya. Buku yang disewa Bapak khusus untuk saya saat itu adalah serial kesayangan saya: Lima Sekawan (The Famous Five), besutan Enid Blyton. Penuh semangat, saya meraup buku-buku tersebut, mendekap di dada dan berlari menuju pohon cengkeh yang tumbuh di halaman. Kaki kecil saya memanjat dengan lincah, dan tanpa kesulitan, saya sudah berhasil menjangkau cabang favorit saya. Cabang yang berbentuk melengkung, dengan diameter kayu sekitar 15 centimeter. Saya sangat senang rebahan di cabang yang juga ditopang dengan beberapa ranting itu sembari membaca buku tanpa khawatir terjatuh. Dalam angan saya, membaca itu harus penuh penghayatan. Karena yang saya baca adalah buku tentang petualangan, sebisa mungkin saya ingin menikmati buku tersebut dengan cara yang mendekati aksi empat bocah (Julian, Dick, George, Anne) plus satu anjing peliharaannya (Timmy) itu. Dan, membaca di atas pohon, rebahan, sembari merasakan semilir angin yang mengembus dedaunan, adalah cara terkeren bagi saya untuk bisa merasakan petualangan bocah-bocah itu.

Ah, sebenarnya bukan hanya cara seperti itu. Saya juga sering mendatangi sungai berbatu-batu dengan air terjun dan air yang jernih, sekitar 2 kilometer di belakang rumah saya dengan membawa tas gendong penuh berisi buku, makanan dan botol minuman. Saya akan mencari batu yang cukup lebar dan teduh, lalu membaca di atasnya.

Betapa indahnya masa kecil saya!

Dunia Tanpa Sekat

Jika ada frase yang bisa menghubungkan antara saya, Serial Lima Sekawan, dan almarhum Bapak, frase itu adalah "Dunia Tanpa Sekat". Maksud dari dunia tanpa sekat adalah dunia yang saat kita menatap ke depan, ke belakang, ke samping, ke atas... pandangan mata kiat tak terhalang tembok, dinding, atau atap. Dunia yang saat kita menatap, kita akan melihat banyak hal: gunung, lembah, pohon, rumput, awan, sawah, sungai, rumah-rumah, dan sebagainya. Dunia yang membebaskan imajinasi kita, sehingga dia akan terbang berkelana ke tempat-tempat yang kita sukai.

Barangkali, frase yang terbangun dari 3 kata itu adalah keyword dari tema besar bernama edukasi yang Bapak terapkan kepada saya. Bapak saya bukan orang luar biasa, meski saya akui, beliau memiliki pemikiran-pemikiran yang luar biasa. Lulus Sekolah Guru Bawah (SGB) dengan nilai rata-rata sembilan koma, telah membuat Bapak yang saat itu baru berusia 17 tahun, diangkat sebagai guru dengan status pegawai negeri. Bapak meninggalkan tanah kelahirannya, Solo, menaiki kereta api sejauh ratusan kilometer, menuju Purbalingga, untuk menjalankan tugasnya mengabdi kepada bangsa ini.

Akan tetapi, meskipun beliau adalah seorang guru (yang banyak prestasi), Bapak menyadari, bahwa sesungguhnya ada guru yang jauh lebih dahsyat dari guru manapun di dunia ini, yaitu alam. Inilah yang mungkin menjadi salah satu dasar pemikiran, mengapa saat mendidik putra-putrinya, Bapak sengaja membawa kami ke 'dunia tanpa sekat', yaitu alam yang luas. Bapak tak ingin kami tumbuh bak katak dalam tempurung yang picik dan tak berani meloncat menjelajahi bumi Allah yang luas. Bapak ingin kami berpikir out of the box, tumbuh sebagai anak yang kreatif, dinamis dan penuh dengan imajinasi.

Karena itu, sejak kami kecil, selepas dari pelajaran di sekolah, Bapak akan mengajak kami untuk pergi ke sungai, sawah, dan juga bukit serta hutan di sekitar kami. Macam-macam aktivitas kami. Mulai dari memancing, menangkap belut, hingga mencari anggrek atau tanaman obat di hutan. Saat liburan, kami sering seharian berada di alam, membawa bekal dan makan di hutan, atau kadang juga mencari ubi-ubian dan membakarnya.

Kami bersyukur, karena ditakdirkan hidup di daerah Purbalingga, tepatnya di kaki Gunung Slamet yang indah, dengan bentang alam yang hijau, subur, dan penuh dengan panorama yang indah. Di sekitar desa saya saja, terdapat sekitar selusin air terjun dengan pemandangan yang sangat indah. Pernah suatu ketika, Bapak membendung sebuah air terjun, lalu mencoba membuat semacam pembangkit listrik mikro hidro dengan dana sendiri (saat itu di desa kami belum ada listrik PLN), sayang proyek tersebut gagal. Nah, saat itu kami sering membuka pintu air bendungan, sehingga bendungan pun menjadi surut. Nanti, di batu-batuan, kami akan mendapatkan puluhan udang air tawar sebesar jari tangan yang akan kami tangkap dan kami bakar. Rasanya... wooow, sangat lezat!

Tak cukup dengan itu, Bapak yang sangat menyadari pentingnya mengasup pikiran anak-anak dengan bacaan-bacaan edukatif, juga melengkapi masa kecil kami dengan buku-buku senada. Buku yang paling berkesan bagi saya antara lain Oliver Twist, Serial Pulung (Bung Smas), The Adventures of Tom Sawyer, dan tentu saja... Serial The Famous Five alias Serial Lima Sekawan. Dan, siapa tokoh yang paling saya sukai di serial tersebut, Anda bisa tebak! Yup, dia adalah Georgina, alias George. Masa kecil saya memang, kata orang-orang, cenderung tomboy. Saya juga keras kepala, tahan banting, tapi (ehem!) cerdas. Mirip sekali dengan George, bukan? Ops!

Belajar memahami makna kehidupan dari 'dunia tanpa sekat' berupa alam semesta, saya akui, membuat saya merasa lebih berwawasan luas, lebih mudah bersyukur, kreatif, tidak cengeng, setia kawan, dan tahan banting. Jadi, lewat tulisan sederhana ini, selain berterimakasih dengan Bapak (ya Allah, lapangkan kubur beliau), saya juga berterimakasih kepada Enid Blyton yang telah menitipkan pesannya untuk para bocah sedunia lewat Julian yang bijak dan dewasa; Dick yang cerdas, dan relatif matang; George yang jenius, sangat pemberani, namun meledak-ledak dan gampang bosan; dan Anne yang damai, ramah, periang, namun penakut.

Buku yang Membentuk Karakter

Jika para pakar pendidikan mengatakan bahwa "Kau adalah produk dari apa yang kau baca!" saya kira perkataan itu tak berlebihan. David McClelland, seorang piskolog sosial, mencetuskan teori yang menjelaskan hubungan antara dongeng sebelum tidur dengan prestasi suatu bangsa. McClelland mendasari teoritnya tersebut dari perbandingan antara dua negara yang pada abad 16 merupakan negara superpower yang selalu saja bersaing ketat memperebutkan hegemoni dunia, yakni Inggris dan Spanyol. Dalam penelitiannya, McClelland menemukan dongeng dan cerita anak Inggris abad ke-16 mengandung 'virus' yang menyebabkan pembaca atau pendengar terjangkit penyakit The need for Achievement (Kebutuhan Berprestasi) yang kemudian terkenal sebagai n-Ach. Sedangkan cerita dan dongeng Spanyol justru meninabobokan rakyatnya. 

Psikolog ini, dengan bantuan beberapa ahli yang netral, menemukan puisi, drama, pidato penguburan, kisah epik di Inggris ternyata menunjukkan optimisme yang tinggi, keberanian untuk mengubah nasib, dan sikap tidak cepat menyerah. Cerita-cerita seperti ini dianggap memiliki nilai n-Ach tinggi. Lalu dia juga menemukan pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi selalu didahului oleh The Need for Achievement yang tinggi dalam karya sastra masa itu. Ketika bergerak lebih jauh, mengumpulkan 1300 dongeng dan cerita anak dari berbagai negara era tahun 1925 dan 1950, ia mendapati cerita atau dongeng yang mengandung nilai n-Ach tinggi selalu diikuti pertumbuhan ekonomi yang tinggi di negara itu dalam kurun waktu 25 tahun kemudian.

Yang menarik, Ismail Marahaimin, guru besar Fakultas Ilmu Budaya UI, dalam makalahnya yang berjudul "Pembekalan pada Bengkel Penulis Cerita Anak," mengaitkan antara kepopuleran cerita si Kancil di Indonesia. Kancil adalah sosok binatang yang licik. Mungkinkah dongeng tersebut juga berkontribusi terhadap bangsa Indonesia saat ini?

Fenonema Buku Anak di Indonesia

Cukup menarik, ketika saya mencoba bertanya kepada teman-teman tentang daftar buku favorit mereka semasa kecil, ternyata mayoritas dari mereka menyebutkan Serial Lima Sekawan sebagai salah satu buku yang mengesankan. Lebih dari itu, sebagian dari mereka juga mengaku terinspirasi dengan karakter yang dinarasikan dengan apik oleh Enid Blyton tersebut. Lebih menarik lagi, sebagian dari teman-teman yang saya tanyai tersebut, ternyata berprofesi sebagai penulis.

Karena itu, menurut saya, sangat disayangkan karena hingga saat ini saya belum mendapati penulis Indonesia yang mencoba fokus dan serius mengikuti jejak Enid Blyton. Berbeda dengan novel jenis romance yang banyak disukai para penulis, sepertinya novel anak tak terlalu dilirik, bukan saja oleh penulis, tetapi juga oleh penerbit. Dahulu, kita mengenal Bung Smas dengan kisah Si Pulung yang jago main pencak silat tapi rajin ngaji di masjid, dengan aluar dan penokohan yang sebenarnya juga tak kalah dengan Enid. Tetapi, kisah si Pulung ternyata tenggelam. Kini, beberapa penulis spesialis buku anak, seperti Ali Muakhir, Ali Wardhana, Nurhayati Pujiastuti dll, tampaknya terus eksis dengan novel-novel anaknya. Kita berharap, ada di antara mereka yang kemudian serius menekuni dunia anak, dan melahirkan karya fenomenal sebagaimana Serial Lima Sekawan.

Saya pribadi, sebagai seorang ibu dengan tiga anak yang sangat suka membaca, sangat merindukan novel-novel anak yang tak sekadar menghibur, tetapi juga membangkitkan inspirasi dan membuat anak-anak lebih dekat dengan 'dunia tanpa sekat' alias alam semesta. Sebab, alih-alih mencoba mendekatkan anak dengan alam, kebanyakan buku-buku anak--termasuk yang ditulis oleh anak--ternyata lebih banyak menceritakan kisah-kisah yang menurut saya kebarat-baratan. Bukan berarti barat itu selalu jelek. Tentu banyak hikmah yang juga bisa kita ambil. Akan tetapi, menggali alam Indonesia yang sangat kaya, pasti akan membangkitkan kecintaan anak-anak Indonesia terhadap bangsa kita. Dan, membuat anak-anak menyenangi bergelut dengan alam--tanpa harus merasa takut kotor--sebenarnya sangat positif, karena akan membuat anak cenderung pemberani, aktif, punya solidaritas yang tinggi, dan tahan banting.

Dengan tingkat penjualan buku anak di Indonesia yang menduduki rangking pertama, yang kemudian disusul dengan buku fiksi, saya kira angin segar telah berembus. Penulis tak perlu ragu untuk berkonsentrasi menulis buku anak yang inspiratif, dengan eksplorasi yang mendalam dan tema yang beragam. 

Lantas, bagaimana dengan saya sendiri? Bukankah saya juga seorang penulis? Saya memang punya rencana suatu saat menulis genre fiksi anak, akan tetapi, karena saat ini saya lebih memilih konsen dan fokus di fiksi berbasis histori, tampaknya saya lebih memilih melabuhkan harap kepada rekan-rekan penulis yang telah terlebih dahulu fokus di dunia anak.

*Artikel ini diikutkan dalam Parade Ngeblog IKAPI JABAR & Syaamil Qur'an #PameranBukuBdg2014




Subscribe to receive free email updates:

12 Responses to "Lima Sekawan, Dunia Tanpa Sekat dan Buku Anak Indonesia"

  1. Lima sekawan juga kesukaan saya sewaktu kecil, Mbak Yeni :)
    Plus Ghosebump-nya RL Stine xixixixi :)
    Barokallah mbak, moga sukses. Iya benar, penulis anak adalah sahabat tiap keluarga. Semoga ide-ide mereka selalu tercerahkan dengan kebaikan dan menginspirasi generasi kita juga emaknya xixixi. soalnya ada beberapa buku anak yang malah saya demen dan banyak ilmu baru buat saya di usia 30 tahun ini qiqiqiqi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, tos dulu, Anggi!
      Betapa serial tersebut mengakar hingga sanubari.

      Nah, soal buku anak tuh, saya kira bisa dilirik untuk jadi fokus para penulis baru. Anggi tertarik?

      Delete
    2. ngg saya kurang pede mbak. sedangkan menyentuh hati dewasa aja kurang, apalagi melembutkan hati anak-anak.
      ya beginilah penulis abal abal

      Delete
    3. Menulis, terkadang bukan bertujuan melembutkan hati, tetapi justru menguatkan hati yang lembek :-p

      Delete
    4. lha iya. maksudku menguatkan hatiku sendiri hahaha

      Delete
  2. Indiva tak tertarik menerbitkan buku jenis itu? Pasti banyak yang mau lho...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sudah mulai dirintis dengan Lintang, kan? Tetapi yg petualangan memang belum banyak. Tergantung supply dari penulis juga :-D

      Delete
  3. Wah, aku suka banget Oliver Twist! :) Kalau penulis idolaku waktu anak-anak sudah pasti Roald Dahl, soalnya imajinasinya 'bebas', hihihi. Aku juga berharap suatu hari ada buku-buku dari penulis lokal yang bagus buat anak-anak. Soalnya di preschool isi library nya buku luar semua. Penulis lokal bukannya gak ada, tapi belum ada (ketemu) yang cocok. Aku juga baru mulai nulis buku untuk anak-anak setelah sebelumnya untuk remaja semua. Masih banyak kekurangan, tapi kita harus semangat mencoba, kan? ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tantangan untuk para penulis agar fokus di buku anak dan membuat branding yang kuat di sana...

      Saat ini, penulis dewasa yang sengaja terjun di dunia buku anak sepertinya masih minim :-)

      Delete
  4. Eh, kancil itu licik ya? Bukannya cerdik?

    Tapi kalaupun licik, buku2 anak sekarang sudah banyak ya, jadi anak2 punya banyak alternatif :)

    Bapaknya keren Mbak, insya Allah berkah yang besar buat beliau karena pengajarannya dikenang terus oleh anaknya.

    Sukses yaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dalam kisahnya, Kancil kan menipu anjing untung menggantikannya di kurungan. Itu bukan cerdik namanya, tapi licik, IMHO...

      Delete
  5. Pasar buku anak masih cerah... penjualan buku anak di Indonesia nomor 2 setelah buku-buku fiksi.

    ReplyDelete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!