Ekspedisi 35 Kabupaten/Kota: Dari Monas Hingga Jalur Deandles (Bag. 2)

Jembatan Comal yang ambles. Ini suasana beberapa waktu yang lalu. Karena saat lewat suasana gelap kemarin dan kamera juga tak di tangan, saya tak sempat memotret, dan ambil  foto ini dari tribunnews.com

Sop Buntut, Jembatan Ambles, dan Tol Gelap Bergelombang

Mari kita lanjutkan 'laporan perjalanan' ekspedisi 35 Kabupaten/Kota yang sempat terpending karena saya 'sok' sibuk, begituuuh. Buat yang belum sempat baca bagian awal, bisa meluncur ke link BAGIAN PERTAMA.

* * *
Akhirnya, setelah persiapan yang lumayan heboh, perjalanan pun dimulai. Mobil yang dikendarai suami, meluncur ke utara. Kekhawatiran saya mulai sedikit terkikis, karena ternyata anak-anak terlihat sangat bersemangat. Semoga semangatnya bisa terus berlanjut sampai nanti kembali ke Solo, lima hari ke depannya.

Saya sebenarnya agak 'curiga' karena suami ternyata tak makan sore terlebih dahulu, padahal kami berangkat habis shalat maghrib. Memang sih, hidangan juga tak tersedia, hehe. Tetapi, memang ada sesuatu yang melambai-lambai minta kami datangi. Nah, benar, kan... ketika mobil keluar dari kota Boyolali, suami saya berkata, "Kita makan di Warung Tegal dekat Ampel, ya...."

"Oke!" sahut saya, tanpa pikir panjang. Warung Tegal yang terletak di Jalan Raya Ampel ini, memang favorit kami sejak dulu. Jika bepergian ke daerah utara, misal Semarang, hampir dipastikan kami mampir di warung ini. Apa saja yang tersedia di sini? Ada pecel yang mantaaap pedasnya, sop buntut yang hangat-hangat nikmat, dan lidah sapi goreng yang bikin lidah bergoyang rancak (halah, lebay!). 

Perlu Sodara-sodara ketahui, Boyolali memang terkenal sebagai daerah peternakan sapi. Memang sih, kebanyakan sapi perah. Simbah saya dari pihak Bapak dahulu, setelah pensiun sebagai polisi, mengembangkan usaha beternak sapi perah di daerah Musuk, Boyolali. Simbah Kakung seorang pekerja keras dan sangat disiplin. Jam tiga pagi, beliau sudah bangun, dan bersama karyawan-karyawannya, memerah susu sapi segar. Karena usahanya yang tak kenal lelah, beberapa kali peternakan dan KUD yang Simbah pimpin, menjadi KUD terbaik tingkat nasional. Gubernur Ismail dan Presiden Suharto pernah berkunjung kesana. Ada tuh, foto Mbah Kakung sedang bersalaman dengan Pak Harto dipajang di ruang tamu rumah almarhum Mbah Kakung.

Baik, kembali ke kisah warung tegal spesial itu ya... jadi, kami pun akhirnya memesan beberapa menu kegemaran. Sayang, saat itu lidah goreng sedang habis, jadi kami pun hanya memesan sop buntut. Anis tadinya sempat komplain. "Ya Allah, Umiiii... kok makan buntut sih, nggak mau...." Kami pun mencoba menginvestigasi mengapa Anis berpikiran sebegitu negatifnya dengan sop buntut. Usut punya usut, Anis mengira bentuk buntut (ekor)nya itu semacam ekor tikus. Ealaaah! Nyatanya, setelah melihat seperti apa bentuk sop buntut, Anis langsung menyantapnya dengan lahap.

Tol Bawen dan GPS yang 'Rewel'

Usai kekenyangan, Rama tertidur di jok belakang, bersama Prita. Saya dan Ipan di jok tengah masih terjaga. Sementara, Anis yang berlagak jadi navigator, duduk di jok depan di samping ayahnya, masih sibuk berkicau.

Saya rasa, perjalanan ke Semarang saat ini memang relatif sangat nyaman. Terlebih perjalanan malam hari. Ketika masuk wilayah Salatiga, kami masuk ke ringroad Salatiga yang luas, mulus dan sepi. Mobil pun meluncur dengan kecepatan optimal tanpa terganggu macet. Begitu keluar dari Salatiga, memasuki Bawen, kami kembali merasakan 'kenikmatan' berkendaraan di tol Bawen-Krapyak yang baru selesai beroperasi. Perjalanan di jalur Solo-Semarang seperti dilipat menjadi lebih pendek, dan nyaman pula. Wah, ini sebuah kemajuan!

Saya masih ingat bagaimana dulu harus berdesak-desakan di bus jurusan Solo-Semarang, menembus kemacetan di jalan nasional yang sempit. Saat masih mahasiswa di Undip, saya memang sering melakukan perjalanan PP Boyolali-Semarang saat akhir pekan. Terkadang, saya tidak pulang ke rumah orang tua saat weekend, tapi pulang ke rumah Simbah yang saya sebut di atas.

Namun, ada yang unik ketika kami memasuki tol Bawen. Mendadak, si pemandu arah di GPS yang dipasang di mobil kami protes melulu. Dia mengatakan bahwa kami memasuki jalur yang salah, dan diminta berbalik untuk mengikuti jalur yang dia inginkan. Olala! Ternyata ini disebabkan tol Bawen yang memang baru saja beroperasi dan belum masuk dalam up date si GPS.

Jembatan Ambles

Sayangnya, kenyamanan kami menikmati jalan yang mulus harus terjeda oleh kemacetan yang panjang saat memasuki daerah Comal, Pemalang. Usut punya usut, ternyata jembatan yang ambruk sekitar dua minggu sebelum lebaran kemarin, belum juga membaik. Lihat tuh, di gambar yang saya upload di atas! Ada dua jalur jembatan di atas Sungai Comal. Nah, ketika kami lewat, jembatan yang dipakai tinggal satu, sementara satunya masih dalam perbaikan. Karena hanya ada satu jembatan, maka semua kendaraan yang lewat harus antre. Inilah yang menyebabkan terjadinya kemacetan yang sangat panjang. Ada sekitar 2 jam kami berkutat di daerah tersebut. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana saat arus mudik dan balik lebaran kemarin... hmmh....

O, ya... sedikit informasi untuk Sobat sekalian, amblesnya Jembatan Comal jelang lebaran itu ternyata sudah makan banyak korban, lho. Khususnya di jalur-jalur alternatif yang menjadi pengalihan. Salah satu jalur alternatif yang dipakai untuk mengalihkan arus lalu lintas adalah jalur Purwokerto-Purbalingga yang melewati depan rumah orang tua saya di daerah Karangreja, Purbalingga. Jalur tersebut, hanya sebuah jalan sempit dengan lebar sekitar 7 meter. Trek di situ juga 'serem': Naik turun, tanjakan terjal, tikungan tajam, kanan-kiri jurang! 

Bisa Sobat bayangkan, deh... dalam keadaan normal saja, melewati jalur tersebut harus ekstra hati-hati. Apalagi saat arus mudik yang begitu padat. Sering saya memandang arus mudik itu sembari menggeleng-gelengkan kepala. Bayangkan, ketika mobil-mobil di Jakarta disebar ke seluruh Pulau Jawa saja, macetnya sudah begitu luar biasa. Bagaimana jika sehari-harinya mobil itu ditumpuk di ibu kota negara Indonesia tercinta ini!

Nah, akibat pengalihan itu luar biasa. Kecelakaan beruntun, memakan korban jiwa yang tak sedikit. Di desa orang tua saya, yang memang kondisinya jalannya penuh tanjakan dan turunan curam, pernah terjadi belasan kecelakaan. Dan yang meninggal, khusus di desa saya ada 9 jiwa. Sementara, menurut data dari seorang kerabat yang menjadi polisi, total di jalur tersebut, korban meninggal hampir mencapai 30 orang. 

Ketika saya pulang kampung saat lebaran kemarin, Hingga kemarin, saya masih di-BBM oleh kakak saya yang tinggal di sana, bahwa kecelakaan masih saja terjadi. Truk yang terguling, tronton yang terperosok, dan sebagainya.

Sambil menunggu antrean melewati jembatan, saya sempat berdiskusi dengan suami saya dengan prihatin. Ya, faktor jembatan ambles, memang faktor alam. Tetapi, mestinya bisa lebih diantisipasi dengan membangun jembatan yang benar-benar berkualitas. Pantai Utara Jawa, adalah jalur inti--bisa dikatakan jalur darat terpenting di Indonesia. Jadi, penanganannya juga tak boleh setengah-setengah. Berbagai rumor (dan pernah dibuktikan di sebuah tayangan investigasi di TV One), menyebutkan, bahwa banyak kebocoran anggaran terjadi pada penanganan Jalur Pantura. Saya tak bisa berkata lain selain hanya bisa mengelus dada sembari berdesah perih.

Tol Gelap Bergelombang

Rasa ngenes usai berhasil melewati kemacetan selama 2 jam sedikit meleleh saat melewati jalur yang lancar di Pemalang-Brebes. Namun, ketika memasuki daerah Pejagan, Brebes dan kami memasuki jalan tol Pejagan-Kanci, kening saya kembali berkerut. Ini tol macam apa? Lampu-lampu mati, petunjuk jalan banyak yang dicoret-coret, dan jalan pun bergelombang mengerikan.

"Mas, kok seperti jalan mati, ya?" ujarku, sembari menatap penunjuk waktu di dasboard mobil. Jam 3 dini hari! Ya, melintas di tol yang gelap, dan hanya ada sesekali mobil yang lewat, entah mengapa menimbulkan rasa seram di hati. Saya berpikir, bagaimana jika di jalan ini ada sesuatu terjadi, misal ban bocor, dan sebagainya?

Walhasil, selama sekitar 35 KM, kami berjalan dengan was-was. Dan kami hanya bisa manyun, ketika keluar dari gerbang tol ini, ternyata kami dikenai biaya Rp 24.000,-

Baru ketika kami memasuki daerah Kanci dan menuju jalan tol selanjutnya, yakni Kanci-Palimanan, kami baru bisa menikmati sebuah jalan tol yang 'layak.'

Sambil terus menemani suami begadang (anak-anak dan Prita sudah tidur di pos masing-masing), saya membuka ponsel, dan mencoba browsing: "Ada apa dengan tol Pejagan-Kanci". Nah, ketemu nih, di wikipedia. Ternyata, tol ini milik swasta. Begini kutipan dari wikipedia:

Jalan Tol Kanci-Pejagan adalah jalan tol yang menghubungkan Kanci yang berada di Cirebon hingga Pejagan di Brebes. jalan tol ini melintasi Kota dan Kabupaten Cirebon dan Kabupaten Brebes. jalan tol ini dimiliki oleh PT Semesta Marga Raya, anak usaha Bakrie Toll Road yang juga memiliki Esia dan dibangun oleh PT. Adhi Karya dengan nilai investasi Rp 2,2 Trilyun, namun sejak November 2012, jalan tol ini telah menjadi milik PT MNC Infrastruktur Utama, anak perusahaan MNC Group yang bergerak di bidang pengelolaan jalan tol yang merupakan hasil dari kerjasama Indonesia Air Transport dan Bhakti Capital Indonesia. 

Naaah, ternyata setahun silam, Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) telah mendefault PT MNC karena jalan tol tersebut belum memenuhi Standar Pelayanan Minimum (SPM). Default adalah kondisi cedera janji dari kedua belah pihak baik pemerintah ataupun Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) dalam perjanjian. Silakan Sobat baca di sini Investor Tol Kanci Pejagan Diberi Kesempatan Penuhi SPM

Ternyata, hingga sekarang, SPM belum juga terpenuhi. So, buat teman-teman yang ingin lewat jalan tol ini, sebaiknya harus sangat berhati-hati saat berkendaraan. Atau, kalau ragu, mending lewat jalan biasa aja, deh!

BERSAMBUNG



Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Ekspedisi 35 Kabupaten/Kota: Dari Monas Hingga Jalur Deandles (Bag. 2)"

Post a Comment

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!