Haruskah Mencela Mahabharata?

Penayangan Serial Mahabharata di salah satu stasiun televisi swasta beberapa waktu terakhir ini, disambut gegap-gempita oleh masyarakat Indonesia. Meski saya hampir tidak pernah nonton televisi, melihat status teman-teman saya di socmed yang sering sekali membicarakan serial ini, saya menyimpulkan bahwa demam Mahabharata sedang melanda bangsa kita. 

O, ya… Soal matinya televisi di rumah kami itu karena saya, suami dan anak-anak membuat kesepakatan bahwa TV hanya boleh menyala hari libur saja. Dan mungkin karena aktivitas kami semua di hari aktif sangat padat, liburan seringkali lebih dimanfaatkan untuk refreshing dengan melakukan aktivitas-aktivitas hobi ketimbang menekuri televisi. Anak saya yang pertama, Anis, sangat keranjingan membaca. Waktu luang bagi dia adalah saatnya melahap buku-buku kesayangannya. Sementara, Rama, anak kedua, sangat suka menggambar dan mendesain dengan komputer. Meski baru 8 tahun, Rama lumayan mahir menggunakan corel draw dan photoshop. Sedangkan si bungsu, belum terlalu terlihat kecenderungannya. Tetapi nimbrung dengan si kakak, atau terkadang main-main dengan puzzle, lego dan hotwheel, jauh lebih disukai daripada nonton televisi. Kadang, mereka juga nonton tivi atau video, tapi acaranya paling hanya film-film kartun sejenis Boboy Boy atau Upin-Ipin. 

Kembali ke Mahabharata, ya … jadi intinya, sekarang Mahabharata sedang menjadi buah bibir di kalangan masyarakat Indonesia. Khususnya ibu-ibu dan remaja putri. Alasannya … hm, oke deh, ada yang bilang kisahnya filosofis sekali. Banyak kebaikan yang bisa diambil. Tetapi, kayaknya banyak juga yang beralasan bahwa pemeran serial ini rata-rata good looking, bahkan untuk yang memerankan karakter antagonis. 

Maraknya serial ini, seperti biasa memicu kontroversi. Ya, apa sih, di Indonesia yang tak memicu kontroversi. Catet deh, mulai dari soal ASI vs Non ASI, ibu rumah tangga vs ibu karir, imunisasi vs non imunisasi, sampai capres ini vs capres itu, penentuan awal Ramadhan dan sebagainya. Bagi yang anti Mahabharata, tayangan ini dinilai banyak mengandung ajaran-ajaran paganisme, penyembahan dewa-dewi—yang bertentangan dengan aqidah keislaman, juga kontroversi poliandri yang dilakukan oleh Drupadi, tokoh sentral dari kisah ini. Sementara, bagi yang pro, mereka menganggap bahwa Mahabharata banyak sekali memberikan ajaran-ajaran yang baik. 

Sebagai orang Jawa, Mahabharata bukan sesuatu yang asing buat saya. Kakak saya ada yang berprofesi sebagai dalang wayang kulit purwa. Ayah saya juga budayawan. Jadi, tanpa harus ikut menekuri serial itu di televisa, saya sudah sangat akrab dan bahkan hapal dengan kisah-kisah dalam Mahabharata, ataupun Ramayana. Hanya saja, Mahabharata yang saya kenal tentu versi Jawa. Saya ingat, bahwa pertunjukan wayang kulit adalah sesuatu yang sangat digemari di masyarakat saya dahulu. Zaman saya kecil dahulu, setiap ada orang menikah, biasanya akan menanggap wayang kulit semalam suntuk. Dalang-dalang yang kondang pada saat itu antara lain Dalang Sugino, Anom Suroto, Ki Manteb Soedharsono dan sebagainya. Ayah saya mengoleksi kaset-kaset rekaman dalang-dalang ini, kebanyakan produk Lokananta. 

Wayang kulit, yang mengisahkan lakon-lakon Mahabharata, adalah sesuatu yang sangat jamak dan menyatu dalam kultur masyarakat Jawa, bahkan hingga saat ini. Mungkin, faktor inilah yang sebenarnya membuat tayangan Mahabharata sangat booming, selain faktor-faktor yang saya sebut di atas. 

Wayang Kulit dan Penyebaran Islam 

Jika kita membaca sejarah, wayang kulit purwa (wayang yang mengambil kisah Mahabharata dan Ramayana), sebenarnya sudah dikenal dan marak di masyarakat Jawa sejak abad ke-10, yakni zaman Kahuripan, Kediri hingga Majapahit. Dominasi Hindu-Budha yang sangat kuat, memicu kreativitas para penyebar ajaran Islam di Indonesia, khususnya tanah Jawa, antara lain Walisongo. Salah satu teroboson kreatif yang dilakukan adalah menyebarkan ajaran Islam lewat wayang kulit. 

Tetapi, Mahabharata yang dimainkan dalam wayang kulit tersebut tentu saja disesuaikan dengan konsep Islam. Mulai dari pemilihan wayang kulit yang abstrak, sebenarnya didasari dari ajaran Islam, yang mana mayoritas ulama melarang aliran realisme dalam seni—seperti pembuatan arca-arca, patung dan bahkan juga penggambaran makhluk hidup. Bentuk abstrak yang dipilih merupakan keputusan cerdas, karena akhirnya wayang kulit bisa diterima oleh para ulama. 

Beberapa penyesuaian lain juga dilakukan oleh Walisongo. Drupadi, yang dalam Mahabharata versi India dikisahkan menjadi istri pandawa lima, dalam Mahabharata versi Jawa, dikisahkan hanya menjadi istri Puntadewa (Yudhistira). Ajian sakti milik Puntadewa, yakni Jamus Kalimasada, berasal dari kalimat syahadat. Di Mahabharata versi Walisongo, Siwa, Wisnu, Brahma juga hanya dewa-dewa biasa. Bahkan juga ada karakter Semar, yang dikisahkan menjelma jadi punakawan (pelawak), namun sesungguhnya dia lebih sakti dari Siwa. Sementara, peribadahan tertinggi ada pada Sang Hyang Wenang, yang tak lain adalah Allah yang Maha Tunggal. 

Luar biasa gebrakan Walisongo ini. Walisongo tahu, bahwa mengubah masyarakat tidak bisa begitu saja. Harus menggunakan pendekatan budaya. Alih-alih mendapat simpati, pendekatan konfrontatif pastinya hanya akan memicu penentangan. Karena itu, mereka mencoba menyusupkan pemahaman keislaman kepada kisah yang sangat dekat dengan masyarakat. Mereka menggunakan pendekatan yang soft, tidak frontal. Dan nyatanya, metode penyebaran Islam menggunakan wayang kulit purwa ini, terbukti sangat efektif. Demak, kerajaan Islam pertama di Jawa, dengan cepat berkembang pesat dan mengalahkan Majapahit. Masyarakat pun berbondong-bondong masuk Islam. Meskipun banyak yang mengatakan islamnya sekadar islam abangan, bagi saya, jasa Walisongo sungguh luar biasa besar. Tinggal bagaimana kita saat ini berupaya meneruskan perjuangan Walisongo.

Jadi, bagaimana menyikapi Mahabharata? Saya yakin, Mahabharata menjadi booming, salah satunya tentunya karena kisah ini memang dekat dengan masyarakat Indonesia. Mengapa dekat? Karena sejarah yang sangat panjang itu. Maka, ketimbang kita mencela masyarakat yang menonton Mahabharata, mengapa kita tidak menempuh apa yang dilakukan Walisongo saja? Kita sisipkan pendekatan yang soft kepada masyarakat kita. Misal, dalam sebuah pengajian, ada seorang Ustadz yang untuk menarik simpati masyarakat, menggunakan kisah Mahabharata sebagai pintu masuk. Namun, kritik-kritik lembut dia sisipkan, sehingga akhirnya jamaah pengajiannya pun tahu apa-apa di dalam Mahabharata yang berbahaya. 

Adapun jika keluarga kita adalah keluarga muslim yang baik, saya anjurkan sebaiknya tidak menjadikan tayangan ini sebagai alternatif hiburan. Masih banyak hiburan-hiburan lain yang lebih lezat bergizi, kan? Misalnya, nulis novel setebal 1000 halaman. Ops! 

Keterangan: gambar dilihat di sini

Subscribe to receive free email updates:

8 Responses to "Haruskah Mencela Mahabharata?"

  1. karena budaya hindu yang berbaur dengan islam, masih banyak saya jumpai ritual aneh yang tidak pernah ada dalam ajaran islam namun disertai pengucapan doa dalam agama islam. Jadi agak rancu, dan selalu menimbulkan perdebatan antara mana yg benar dan tidak, terutama di desa yang selalu mengulang kebiasaan yg pernah orang tua mereka lakukan dulu dengan dalih ini sudah turun temurun

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itulah yang perlu diluruskan. Ajaran Walisongo jangan terhenti, butuh kerjasama lintas generasi

      Delete
  2. Terimakasih pencerahannya Mba Afifah.
    Semoga yang menonton mampu menyaring hal positifnya, tidak menelan mentah-mentah (jangan sampai ada yang ikutan poliandri dll)..


    ReplyDelete
    Replies
    1. Masyarakat penonton harus bertransformasi menjadi masyarakat membaca, sehingga daya saringnya menjadi lebih dahsyat :-)

      Delete
  3. Kalau saya, suka Mahabharata karena emang menikmati cerita semodel itu: konfliknya tajam, alurnya unik, penokohannya juga oke. Kadang agak "wow" juga bahwa "novelis" pada zaman itu bisa menciptakan kisah dengan konflik sedemikian rupa. Salah satu keunggulan versi India (baik yg sekarang tayang maupun yg jaman 1990-an), kisahnya disajikan secara "utuh" dan alur yang lengkap, sementara kalau ada pagelaran wayang biasanya cuma ditampilkan beberapa lakon tertentu saja, jadi agak susah juga merangkainya (belum lagi kontradiksi di sana-sini kalau melihatnya sepotong2 begitu). Tapi memang, untuk menonton dalam versi aslinya, perlu dasar2 iman yg kuat, sebagai landasan untuk, secara klise, memilah mana yang baik dan buruk. Dan jelas, kisah Mahabharata juga seharusnya bisa dijadikan alat dakwah seperti Walisongo, namun kebanyakan muslim sudah antipati dulu terhadap cerita ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aslinya wayang kulit purwa ya nggak sepotong2, cuma karena utk menayangkan secara utuh butuh waktu berbulan2, jadi akhirnya dipilih lakon2 yang seakan terpisah (padahal saling berhubungan).

      Delete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!