Catatan Seputar Penghargaan Prasidatama 2014: Pantas Tak Pantas, Ini Amanah!


Rabu pagi, 30 Oktober 2014, sebuah SMS masuk ke telepon seluler saya. Pengirimnya Mbak Tri Wahyuni, dari Balai Bahasa Provinsi JawaTengah. Isinya pemberitahuan bahwa saya mendapat penghargaan Prasidatama 2014 untuk kategori Tokoh Sastra Indonesia di Jawa Tengah, dan saya diminta hadir pada Senin 3 November 2014 di Gedung Bundar, FBS Universitas Negeri Semarang.


Saya sempat bimbang. Jika hoax, rasanya tak mungkin. Sebab nomor Mbak Tri Wahyuni memang telah lama tersimpan di telepon seluler saya. Tetapi, mengapa hanya melewati SMS? Dan, atas dasar apa saya dipilih? Dan apa sebenarnya Penghargaan Prasidatama itu? Kok baru mendengar istilah tersebut.

Saya pun membuka-buka Ponsel saya lagi. Saya langsung paham ketika sebuah nomor telepon berkode Semarang berkali-kali mencoba menelepon saya. Setelah saya cocokkan, nomor telepon itu persis dengan nomor telepon yang tertera di website Balai Bahasa Jawa Tengah. Oh, berarti bukan hoax. Tetapi, saya masih tetap ragu. Akhirnya saya memutuskan untuk menelepon Mbak Tri Wahyuni. “Ya, itu benar, Mbak. Silakan datang besok Senin ya, scan undangan akan kami kirim via email.”

Saya masih termangu-mangu. Prasidatama? Saya coba pun berselancar di Google dengan kata kunci Prasidatama. Muncul beberapa hasil, kebanyakan nama orang, hehe. Yang lain, info-info tidak relevan. 

Bersama Duta Bahasa Jawa Tengah

Hari Senin, 3 November, pertanyaan saya terjawab. Ternyata Prasidatama memang penghargaan yang baru tahun ini diberikan. Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah, Pardi Suratno mengatakan, kata Prasidatama berasal dari kata bahasa Jawa kuno yang artinya lebih baik atau semakin baik. Kata beliau pula, Tim telah melakukan seleksi ketat terhadap semua nominasi yang dinilai layak menerima anugerah. Diharapkan, penerima penghargaan dapat terus berkarya semakin baik dan karya mereka mampu memberi pencerahan, pemikiran sehingga memiliki manfaat bagi pembangunan Jawa Tengah secara komprehensip. “Berbekal semangat untuk memberi penghargaan kepada putra terbaik Jawa Tengah, semoga hal ini dapat menginspirasi kita semua untuk berbuat lebih baik,” kata beliau saat memberikan pidato pengantar pemberiaan Prasidatama 2014 itu.

Saat disebutkan nama-nama peraih Prasidatama 2014, saya kaget! Bayangkan betapa nama saya ‘nyelip’ di antara nama-nama besar ini.
1.    Kategori Tokoh Bahasa Jawa: Drs. H. Mardiyanto (mantan Gubernur Jateng), Bambang Sadono (anggota DPD RI), dan Hadi Supeno (Wabup Banjarnegara).
2.    Tokoh Bahasa Indonesia: Prof. Liek Wilardjo (Guru Besar UKSW Salatiga), Prof. Gunarto (Guru Besar Unissula), dan Amir Machmud NS (Pemred Suara Merdeka)
3.    Kategori Tokoh Sastra Jawa: Turiyo Ragil Putro, Agustinus Mulyono Widyotomo (Ariesta Widya), dan Widyo ”Babahe” Leksono.
4.    Kategori Tokoh Sastra Indonesia: Ahmad Tohari, Dorothea Rosa Herliany, dan Afifah Afra
5.    Kategori Pegiat Bahasa dan Sastra: Prof. Soetomo WE (Ketua Yayasan Studi Bahasa Jawa Kanthil), Thomas Budi Santoso (Direktur PT Djarum), dan Heri Candra Santosa (Pegiat Komunitas Lereng Medini, Boja).

Nah, bagaimana saya tidak ‘pingsan’ ketika MC acara tersebut membaca nama-nama itu? Masih dengan rasa tak percaya saya maju ke panggung, untuk menerima penghargaan yang diserahkan oleh Gubernur Ganjar Pranowo.

Gubernur Ganjar Pranowo memberikan sambutan
Baiklah, saya memang telah bergiat di dunia kepenulisan sejak SD. Mulai SMA, cerpen dan puisi saya dimuat di media nasional semacam Anita Cemerlang, lalu saat kuliah hingga kini karya-karya saya juga dimuat di Annida, Ummi, Sabili, Republika, Solopos, Joglosemar dan sebagainya. Sekitar 50 judul buku saya telah diterbitkan oleh Elex Media (Kompas Gramedia Grup), Mizan, Gema Insani, Indiva Media Kreasi, Era Intermedia, dan sebagainya. Saya juga aktif di komunitas kepenulisan Forum Lingkar Pena sejak 1999, dan sekarang diamanahi sebagai Sekjen. 

Bahkan ... aktivitas profesi yang saya tekuni juga seputar kepenulisan, terlebih setelah sejak 2007 bersama rekan-rekan mendirikan penerbit PT Indiva Media Kreasi, yang mana saya didapuk jadi salah satu pimpinan. Sejak 1999, ratusan kali saya mengisi pelatihan-pelatihan kepenulisan, dari sekolah ke sekolah, dari kampus ke kampus, dari masjid ke masjid.

Nafas saya adalah kata, urat nadi saya mengalirkan bahasa, keringat yang mengucur beraromakan puisi (berarti puisinya kecut, hehe). Sastra adalah makanan sehari-hari (meski saya masih terlalu mentah untuk dibilang sebagai sastrawan—saya hanya seorang pecinta sastra yang suatu hari ingin melahirkan karya legendaris yang penuh pencerahan). 

Akan tetapi, saya masih merasa terlalu muda! Usia saya “baru” 35 tahun. Dibanding para penerima Prasidatama 2014 tersebut di atas, yang mayoritas para sesepuh, saya benar-benar layak dijajarkan sebagai anak bawang. Bayangkan, saya membaca karya Pak Ahmad Tohari sejak SMP. Terbata-bata membaca cerkak (cerita cekak) bahasa Jawa tulisan Ariesta Widya di majalah Penyebar Semangat koleksi almarhum ayah saya, mendengar kiprah pengarang Ibu Dorothea Rosa Herliany, apalagi nama Mantan Gubernur Mardianto, tentu sangat familiar di telinga. Saya benar-benar masih sangat yunior. 

Sudah terlalu muda, ditambah orang-orang suka terlalu “berbaik sangka” dengan menyebut saya masih mahasiswa (nyatanya memang masih mahasiswa, tapi maksud mereka tentu mahasiswa strata satu yang “unyu-unyu”). Pernah juga ada kondektur yang “keterlaluan” dengan menerapkan tarif pelajar dan mahasiswa kepada saya saat menumpang angkutan mereka.

Itu baru soal usia, ya... belum soal karya. Ibu Cahyaningrum Dewojati, dosen Fakultas Ilmu Budaya UGM, saat membedah karya saya “De Wints” dan “De Liefde”, memberikan angin segar ke vakuola harapan di benak saya. Kata beliau, saya punya “potensi” menulis satra serius. Tetapi, saat ini, kata beliau, saya masih di fase transisi dari karya populer menuju serius. Permasalahan populer vs serius ini sering membebat pikiran saya. Bagaimanapun, saya lahir dari pembaca remaja, dan saya tak mungkin meninggalkan mereka. “Kan bisa ‘ulang-alik’, seperti Helvy Tiana Rosa, seniormu itu! Suatu saat dia begitu gaul dengan karya populernya, tetapi dia bisa menohok dengan karya seriusnya,” begitu kata Ibu Cahyaningrum, yang rupanya memahami dilematika saya. Dan, masukan beliau hingga kini membekas. Ya, “Model Helvy Tiana Rosa” inilah yang akhirnya ingin saya tiru. Di satu sisi, saya akan terus berusaha belajar menulis fiksi serius, tetapi saya juga akan tetap menyapa pembaca muda saya.

Maka, lagi-lagi, Prasidatama 2014 menjadi sebuah “beban berat” bagi saya. Tetapi, pantas tak pantas, Tim Juri Prasidatama 2014 telah memilih saya. Dan pilihan itu amanah yang harus saya jalani. Berbekal semangat Prasidatama, yang disebut di atas tadi berasal dari kata bahasa Jawa kuno yang artinya lebih baik atau semakin baik, saya ingin berjuang untuk menjadi lebih baik. Dan bukan sekadar baik untuk diri, tetapi juga baik yang “membaikkan”. Doakan, ya....


Subscribe to receive free email updates:

4 Responses to "Catatan Seputar Penghargaan Prasidatama 2014: Pantas Tak Pantas, Ini Amanah!"

  1. Unyu2 ya.. Hihi...
    Barakallah mba... Ditunggu karya seriusnya ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Harus belajar jadi serius, Ibu... hehe. Nulis gini aja suka diselipin guyonan :-D

      Delete
  2. Saya ikut menyaksikan pemberian penghargaan tersebut mbak... Kemarin rasanya ingin meminta foto bersama, tetapi takut. hehehehe...
    Padahal sudah dari jaman saya SMA (tahun 2005) saya menikmati karya-karya mbak Afifah... :)
    Selamat mbak Afifah, teruslah berkarya... :)

    ReplyDelete
  3. Penilaian khusnudzon banyak pihak ini yang membuat saya bersemangat menulis biografi panjengan. Tetap berkarya, Mbak.

    ReplyDelete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!