Jadi, Apakah Yang Disebut dengan Cinta?


Sekalipun CINTA telah kuuraikan dan kujelaskan panjang lebar
Namun jika CINTA kudatangi, aku jadi malu pada keteranganku sendiri
Meskipun lidahku telah mampu menguraikan dengan terang
Namun tanpa lidah, CINTA ternyata lebih terang
Sementara pena begitu tergesa gesa menuliskannya
Katakata pecah berkepingkeping saat sampai kepada CINTA
Dalam menguraikan CINTA, akal terbaring tak berdaya
Bagaikan keledai terbaring dalam Lumpur
CINTA sendirilah yang menerangkan CINTA dan perCINTAan
(Jalaluddin Rumi)

Kata seorang guru saya, cinta adalah sesuatu yang sangat agung, dan sama sekali bukan sebuah perkara yang bisa dibikin main-main. Seperti air laut yang tak pernah kering, cinta juga nggak habis-habisnya menjadi bekal bertutur. Cinta juga telah setua usia bumi ini. Bahkan, pastinya lebih tua lagi. Allah SWT, sebagai Dzat terdahulu dan tidak ada yang mendahului, menamai dirinya dengan Al-Waduud yang berasal dari al-wudd, yaitu al-hubb, artinya “Cinta.” Allah adalah Sang Maha Pecinta. Dia menciptakan bumi dengan cinta. Mengatur alam semesta dengan cinta. Dan menganugerahkan rasa cinta kepada makhluk-makhluk-Nya.

Lebih dari itu, cinta bahkan menjadi salah satu dari tiga pilar ibadah. Dalam artian, ibadah kita nggak akan sempurna tanpa adanya cinta! Ya, karena kita tahu, bahwa ibadah di dalam Islam itu disokong oleh tiga pilar yaitu Khauf (rasa takut), Roja' (harapan) dan Mahabbah (cinta). Kita tidak boleh menjadikan ibadah kita cenderung pada satu pilar, dengan meninggalkan pilar yang lain. Dalam artian, ketiga pilar itu harus seimbang. Karena cinta adalah satu dari tiga pilar ibadah, padahal, tujuan manusia diciptakan, adalah untuk beribadah sebagaimana firman-Nya, “Tidak Aku ciptakan jin dan Manusia melainkan hanya untuk beribadah kepada-Ku” (QS. Adz –Dzariyat: 56 ).
Jika demikian adanya, makanya kita bisa mengambil kesimpulan, bahwa salah satu tugas manusia diciptakan, adalah untuk bergelut dalam sebuah pemahaman dan pengamalan yang mendalam tentang makna sebuah cinta.
Kalau begitu, cinta bukan perkara duit recehan. Bahkan, kata Rumi di atas, pena pun selalu tergesa-gesa saat mengartikan kata cinta. Untungnya, saya nggak nulis pakai pena, tapi ngetik pakai keyboard, hehe … just kidding!

Jadi, Apa sih Definisi Cinta?
What’s the meaning of love? Kalau kata Rumi di atas, sih, love can not be defined. Tapi, nyatanya, manusia memang butuh penjelasan. So, akhirnya banyak pula pakar yang berusaha mendefinisikan, apa itu cinta. Berikut ini beberapa definisi cinta. Di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata CINTA dimaknai antara lain sebagai: 1. suka sekali; sayang benar; 2. kasih sekali; 3 ingin sekali; berharap sekali, rindu. Nah, pas buka-buka Oxford Learner’s Pocket Dictionary, di sana love dimaknai sebagai ‘strong liking or affection’. Artinya, kesukaan atau rasa sayang yang kuat.
Beberapa pakar atau tokoh, memiliki definisi cinta masing-masing. Misalnya:
Cinta adalah ketika kebahagiaan orang lain lebih penting daripada kebahagiaan diri sendiri.” (H Jacson Brown, Jr., pengarang buku Life s Little Instruction).
"Cinta adalah ketertarikan hebat yang tidak masuk akal, agar sepasang jiwa mengupayakan kebersamaan sebagai pasangan yang menghasilkan keturunan yang melanjutkan kehidupan. Kasih sayang adalah keputusan sadar untuk menjadikan kebersamaan seseorang dengan pribadi pilihannya sebagai sahabat yang membesarkan kehidupan. Cinta bisa berlangsung sesaat, dan kasih sayanglah yang melanjutkannya sampai kapan pun." (Mario Teguh).

Cinta Menurut Ulama
Percaya, nggak, bahwa cinta yang dalam bahasa Arab disebut sebagai al-Hubb, dalam al-Quran sekurang-kurangnya disebut sebanyak 80 kali! Ini menunjukkan bahwa cinta memang sesuatu yang bermakna sangat luar biasa. Akan tetapi, cinta di dalam Al-Qur’an bermakna sangat luas. Mulai dari Cinta Allah kepada hamba-Nya, cinta hamba kepada rabbnya, cinta sesama manusia, bahkan juga cinta terhadap alam semesta.
Menurut Syaikh Ibnul Qoyyim al-Jauziyah, seorang ulama terkemuka yang hidup pada Abad ke-13, dalam bahasa Arab, cinta adalah turunan dari kata mahabbah, yang berasal dari kata hubb. Sekarang, kamu jadi ngeh, ya … kalau ada seseorang yang memanggil kekasihnya dengan panggilan hubby. Ada lima makna kata untuk akar kata hubb. Apa aja?
Pertama, ash-shafa wa al-bayadh, yang artinya putih bersih. Orang sering menyebut bagian gigi yang putih bersih disebut habab al-asnan. Jadi, cinta yang keren, mestinya putih bersih, enggak mengandung noda. Kalau kecampur noda, cinta jadi tidak murni lagi.
Kedua, al-‘uluww wa azh-zhuhur, tinggi dan kelihatan. Bagian tertinggi dari air hujan yang deras disebut habab al-ma’i. Puncak gelas atau cawan disebut habab juga. Ini berarti, bahwa cinta adalah sesuatu yang ‘tinggi’ nilanya.
Ketiga, al-luzum wa wa ast-tsubut, yakni terus-menerus dan konsisten. Unta yang terus-menerus menelungkup, konsisten tidak bangkit-bangkit sering dikatakan habb al-ba’ir. Jadi, cinta itu adalah sesuatu yang berjalan secara terus-menerus. Bukan sekadar luapan besar banjir yang membawa energi besar (kadang merusak), namun dalam waktu singkat aliran itu lekang dan mengering. Sehingga, cinta sejati adalah cinta yang memiliki sumber mata air yang terus menerus mengeluarkan air.
Keempat, lubb, inti atau saripati sesuatu. Biji disebut habbah, karena itulah benih, asal, dan inti tanaman. Jantung hati, kekasih orang yang tercinta disebut habbat al-qalb. Cinta, juga bisa berupa saripati kehidupan. Banyak orang bertahan hidup karena ada cinta. Banyak yang mencoba menghilangkan hidup, saat merasa cintanya pergi. Yaelaah….
Kelima, al-hifzh wa al-imsak, menjaga dan menahan. Wadah untuk menyimpan dan menahan air agar tidak tumpah disebut hibb al-ma’i. Berarti, cinta adalah sesuatu yang menjaga kita dari segala sesuatu yang menghancurkan. Cinta adalah menyimpan dan menahan. Bukan justru mengobral dan membocorkan. Jika ada sesuatu yang baik, cinta akan menjaganya, membiarkan ia lestari, dan bukan justru menggemboskan dan membusukkan.

Passionate Love vs Companionate Love
Beberapa psikolog, antara lain Hatfied dan Rapson, sebagaimana dikutip oleh Wade & Tavris, mencoba membagi cinta menjadi dua macam cinta, yakni Passionate Love vs Companionate Love. Passionate Love, adalah cinta romantik. Cirinya, adanya emosi keintiman yang kuat dan ketertarikan seksual yang tinggi. Cinta ini, karena sangat didominasi emosi, bersifat subyektif, fluktuatif dan sangat dirangsang oleh panca indera. Subyektif, berarti satu orang berbeda dengan orang lain saat mengalami rasa cinta.
Cinta macam ini juga fluktuatif, berarti kadang kala gelombang cinta begitu tinggi, namun mendadak berubah sangat rendah. Dan, ia sangat ditentukan oleh panca indera. Cinta akan bergejolak dahsyat jika salah satu atau lebih dari panca indera kita, menangkap objek yang kita cintai itu. Jika ada orang yang mengatakan ‘jatuh cinta pada pandangan pertama’ bisa dipastikan 99%, bahwa ini adalah cinta yang sifatnya passionate love.
Apakah cinta passionate itu dilarang dalam Islam? Sebenarnya nggak juga! Kita telah dianugerahi panca indera, dan dengan sendirinya kita akan bisa merasakan berbagai rangsangan dari luar tubuh kita. Misalnya, kita akan merasa kagum melihat ada cowok ganteng, atau cewek cantik. Adanya passion, alias gairah, alias syahwat, itu yang justru membikin hidup jadi indah. Nggak percaya? Lihat petikan ayat Al-Qur’an ini!
“Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan (syahwat) berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak[1]) dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.” (QS. Ali Imran: 14).
Jadi, kecintaan yang emosional kepada lawan jenis, memang sesuatu yang fitrah. Cowok yang normal, ketika sudah mulai beranjak dewasa, ia akan tertarik kepada cewek, begitu pun sebaliknya. Akan tetapi, cinta ini memang agak sulit dikendalikan. Kata para psikolog, cinta jenis ini bisa menyebabkan ketergantungan, alias kecanduan. Kata mereka, seperti yang saya kutip dari buku Psikologi tulisan Wade & Tavris, saraf-saraf yang berkaitan dengan passionate love, telah berkembang sejak manusia masih bayi. Contohnya, seorang bayi akan menangis meraung-raung saat ditinggal oleh ibunya.
Cinta ini dikendalikan oleh berbagai zat biokimiawi utamanya adalah hormon yang terdapat dalam tubuh, di antaranya endorphin, dopamine, phenyletilamine (PEA), serotonin, yang dihasilkan oleh otak. Ketika panca indera kita menangkap rangsang dari luar, misalnya mata melihat wajah cakepnya, telinga mendengar suara merdu si ‘dia’, kulit bersentuhan dengan kulitnya, hidung mencium wangi tubuhnya, dan lidah … (ehm, ini dilewati aja ya, takut menjurus ke pornografi), maka rangsang akan masuk ke otak, dan otak pun mengeluarkan hormon-hormon itu.
Jadi, attachment (ikatan) cinta jenis ini memang sangat fisiologis. Kalau kita sudah terhinggapi rasa cinta jenis ini, maka akan ada serangkaian reaksi yang sulit banget kita menej. Cinta gaya inilah yang disebut-sebut sebagai ‘dari mata turun ke hati.’ Kalau sudah melekat, gula jawa pun berasa cokelat. Dan, karena susah mengendalikannya jika sudah menempel di otak dan turun ke hati, satu-satunya cara adalah MENGHINDAR!
Companionate Love, berarti cinta persahabatan. Ini dicirikan adanya afeksi (rasa sayang), rasa percaya, dan perasaan tenteram saat bersama orang yang kita cintai. Tenteram lho! Bukan gejolak erotisme yang membara. Weleh … weleh! Beda dengan passionate love, cinta jenis ini lebih stabil, tenang, dan sudah tak lagi emosional. Oleh karenanya, cinta jenis ini biasanya berumur panjang, bahkan abadi. Cinta semacam ini biasanya ada pada sepasang sahabat yang memiliki kesamaan pandangan/visi dan terikat oleh komitmen kuat pada sesuatu. Misalnya, Rasulullah SAW dan Abu Bakar, yang dikenal sebagai pasangan sahabat yang sangat akrab. Rasulullah SAW biasa bermanja-manja bahkan tidur di pangkuan Abu Bakar Ash-Shidiq. Pasangan suami istri yang sudah mulai cukup lama membina rumah tangga juga biasanya memiliki cinta jenis ini, karena pada prinsipnya, seperti kata Mario Teguh di atas, cinta itu sesaat. Lalu kasih-sayanglah yang melanjutkannya.

Segitiga Cinta Dari Robert Sternberg
Ada pula istilah the triangular theory of love, alias teori segitiga cinta yang dicetuskan oleh Robert Stenrberg. Tak usah bertanya-tanya kenapa harus segitiga? Kenapa enggak segi seratus atau malah lingkaran aja? Karena sudah jelas, bahwa menurut beliau, cinta itu memiliki tiga dimensi, yakni hasrat (PASSION), keintiman/kedekatan/keakraban (INTIMACY), dan komitmen (COMMITMENT). Cinta yang sempurna, adalah cinta yang memadukan tiga jenis cinta ini.
Namun, tentu saja cinta menurut Sternberg ini sifatnya hanya bisa berlangsung pada manusia, lebih tepatnya pada sepasang suami istri. Artinya, sedahsyat apapun passionnya, seakrab apapun kedekatannya, tanpa ada ikatan komitmen berupa akad nikah, cinta itu masih belum lengkap. Fondasinya lemah. Ibarat membangun istana megah di atas air. Terkena sedikit gelombang saja, sudah ambruk dan tenggelam.

Itu cinta menurut para ahli. Sekarang, bagaimana menurut kamu?



109) Hewan-hewan dari jenis unta, sapi, kambing, dan biri-biri.

Subscribe to receive free email updates:

12 Responses to "Jadi, Apakah Yang Disebut dengan Cinta?"

  1. Cinta ya mbak hehehe
    Love is a sweet torment :-D

    ReplyDelete
  2. Cinta? Aduh apa ya mbak? Susah d jelasin deh. Klo usah bilang cinta mah bagi kalangan muda udah menjurus yang kesana.... padahal maknanya mah luas bgt ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semakin tua, pemahaman akan cinta kian mendalam. MEstinya :-)

      Delete
  3. kalo menurut saya, cinta adalah segalanya karna cinta hidup terasa sempurna. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. curhat curhat :D

      Delete
  4. Terimakasih atas penjamuan tentang cinta yang dahsyat dan keren kak, karna cinta yang tak melulu dengan perasaanya tapi bisa diartikan cinta adalah tindakan yang di cerminkan terimakasih banyak atas ilmunya kak.

    ReplyDelete
  5. bicara soal cinta itu ga akan ada habisnya, karena kata orang lebay cinta itu tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata dan hanyabisa untuk dirasakan

    ReplyDelete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!