Kuis Ramadhan: Kompetisi Menulis Humor Ramadhan

Kuis Ramadhan: Kompetisi Menulis Humor Ramadhan

Bagaimana Ramadhan kalian, Sobat? Seru, asyik, menyenangkan?

Ya, Ramadhan memang saatnya kita lebih tekun beribadah dan memperbaiki diri. Tetapi, bukan berarti kita harus terus menerus serius dan mengerutkan kening. Biar otak fresh, tak apa kan, sesekali kita tersenyum geli, atau tertawa membaca kisah yang lucu, konyol dan seru terkait dengan Bulan Ramadhan.

Nah, dalam rangka itu, saya mengajak Sobat semua untuk menyemarakkan nuansa Ramadhan dalam “Kuis Ramadhan: Kompetisi Menulis Humor Ramadhan”.

Apa saja syaratnya?
1.      Tulis humor Sobat maksimal 1000 karakter
2.     Humor tidak boleh porno, berbau kekerasan, penistaan dan menyinggung SARA
3.     Humor ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar (tidak alay)
4.     Humor bisa ditulis di kolom komentar posting blog ini, di akun media sosial, atau di blog/website Anda. Jika ditulis selain di kolom komentar posting ini, Anda cukup mencantumkan link URL posting Anda tersebut di kolom komentar posting ini.
5.     Kuis dibuka hari ini, 4 Juli 2015, dan ditutup pada 17 Juli 2015 jam 24.00,-
6.     Pengumuman pemenang pada 25 Juli 2015 di website www.afifahafra.net, Twitter @afifahafra79 dan Fanpage Afifah Afra.
7.     Dianjurkan untuk memfollow akun Twitter @afifahafra79 dan me-LIKE Facebook www.facebook.com/afifahafrapenulis

REWARD
Tersedia 10 paket dari sponsor (paket buku-buku keren, souvenir, voucher diskon, dan aneka hadiah menarik lainnya) untuk 10 pemenang.
Yuk, ikutan!

CARI SPONSOR
Saat ini yang sudah bersedia menjadi sponsor hadiah adalah:
1. Arfans Corp
2. Penerbit Indiva Media Kreasi
3. Toko Buku Afra
4. Syakila Craft
5. Solo Khitan Center Mau gabung jadi sponsor? Hubungi Desy di 0878.3538.8493 ya...


Subscribe to receive free email updates:

75 Responses to "Kuis Ramadhan: Kompetisi Menulis Humor Ramadhan"

  1. Sambutan dari Pak Sarpo
    [Fiski]

    Di awal bulan Ramadhan.
    Warga dusun Suka Sambut berkumpul. Mereka kedatangan tamu anak-anak muda dari desa Suka Dagel. Pak Sarpo—Ketua RT memberikan sambutan, “Selamat datang Ramadhan ....”
    Beliau berhenti dan membuka teks. Belum sempat melanjutkan sambutannya, seorang tamu berdiri.
    Senyumnya mengembang, dia mengangguk malu-malu.
    “Sakinah, Pak,” ucapnya mengangguk.
    “Ada apa, Mbak?”
    Pak Sarpo bingung. Lainnya saling pandang.
    “Maksudnya?”
    Pak Sarpo menambahkan tanya.
    “Iya teman saya ini Rama dan saya Sakinah. Tadi kan Bapak bilang, Selamat datang Rama dan ...?”
    Hadirin : ?—Mikir keras.

    "Sst! Puasa-puasa. Jangan menggunjing," bisik seorang pada teman di sampingnya sambil meletakan telujuk di bibir.

    Jumlah karakter : 757 with space

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai, Rama ini anak saya nomor dua :-D

      Delete
    2. http://ainisarahnurul.tumblr.com/post/117179975206/jatuhnya-cinta-boya

      Delete
  2. ikutan...
    http://www.ferhatt.com/2015/07/es-cream-yang-menggoda-di-saat-ramadhan.html

    ReplyDelete
  3. Agus Shahafi Nashshar6 July 2015 at 06:17

    AMNESIA

    Sepulang main futsal, di tengah jalan, gloprakkk, hapeku jatuh dari saku celanaku yang dangkal. Aku menepikan kendaraan.

    Apakah aku khawatir? Tidak!

    Dua buah motor melaju ke arah hapeku. Sementara hapeku masih tergeletak di atas aspal. Di malam yang sepekat ini tentunya mereka takkan bisa membedakannya dengan aspal.

    Apakah aku khawatir? Tidak juga!

    Kedua motor tadi lewat, tanpa bannya menyentuh sedikitpun hapeku. Setelah memastikan jalanan sepi, aku mengambil hapeku. Kulihat ada goresan kecil di sudut atasnya dengan rempahan aspal yang melekat.

    Apakah aku khawatir? Tidak sama sekali!

    Aku membersihkan hapeku. Kutekan sembarang tombol. Ternyata hapeku tidak menyala.

    Apakah aku khawatir? Tetap tidak!

    Kutekan tombol power. Hape menyala. Kutekan tombol ke menu kontak, tempat ratusan nomor ponsel tersimpan. Namun, layar hapeku tidak menunjukkan satupun nomor.

    Apakah aku khawatir? Ya, Aku mulai khawatir!

    Lalu, aku ulangi langkah tadi tapi, hasilnya tetap sama.

    Apakah aku khawatir? Ya, Aku khawatir.

    Khawatir saja atau khawatir banget?

    Khawatir banget.

    Memangnya apa yang aku khawatirkan?

    Aku khawatir, jangan-jangan hapeku telah hilang ingatan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah itu dia paling bahaya. Kalo hp sih ga masalah. Ga juga harganya, walo bikin ngenes mikirnya. Tapi klo sampe hilang ingatan trus data2 yg di hp ga bisa di ambil rasanya separuh jiwa seakan melayang. Hahaha... Apa lagi klo datanya penting banget.

      Delete
  4. Ikut lagi : http://kaylamubara.blogspot.com/2015/07/suara-yang-aku-suka.html

    ReplyDelete
  5. Ikutan seru neh. Eh ada Mas Ferhat. Gabung ke group #BloggerFlp yuk

    ReplyDelete
  6. http://arinda-shafa.blogspot.com/2015/07/istinsyaq-hot-soup.html

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nanggung mbak... Sekalian di minum aja kuah sopnya hahahaha udah di depan hidung lagi tinggal sruput doang...

      Delete
  7. Satu lagi : http://kaylamubara.blogspot.com/2015/07/tidak-biasa.html

    ReplyDelete
  8. ikutan Mbak
    Afin Yulia http://afilia.blogspot.com/2015/07/hush-hushdiam.html

    ReplyDelete
  9. TEBAK-TEBAKAN KONYOL
    Ali : Makan apa yang paling kau rindukan saat puasa?
    Ila : Hm... es buah, ayam goreng sama sayur asam. Kalau kamu?
    Ali : Aku... hmmm... makan siang.
    Ila : Gubraaak $#<***

    Ila : Nah, sekarang aku mau tanya, apa saja yang membatalkan puasa?
    Ali : Gampang itu jawabnya. Makan dan minum di waktu siang
    Ila : Ada satu lagi... yaituuu....
    Ali : Apaaa?
    Ila : Adzan Maghrib...
    Ali.: Tuuuuiiiing... %$***2@###

    Diambil dari berbagai sumber

    ReplyDelete
  10. Assalamu alaikum, bismillah, saya ikutan ya, Mbak. Judulnya Bulat dan Kuning, Pasti Emas!
    Silakan Mbak lihat di blog saya http://www.bindoasyik.com/2015/07/bulat-dan-kuning-pasti-emas.html

    ReplyDelete
  11. Semoga saya dapat paket bukunya Mbak Afifah Afra. Amin.

    ReplyDelete
  12. Kecuali Dia

    “Siapa yang tidak suka dengan datangnya bulan Ramadhan?”

    Jawabnya semua orang pasti akan menyambutnya dengan suka cita.

    Tapi sesungguhnya aku tahu, ada satu sosok yang sangat benci dengan datangnya bulan suci Ramadhan.

    Dia ada di sekitarku selalu berbisik dan menemani hari-hariku. Tapi dia bukan Intan temanku atau Mira tetanggaku. Bahkan bukan keluargaku. Tapi dia sangat dekat sungguh. Aku tidak bohong.

    Dia sepertiku, menyembah Allah tahu entah kenapa dia benci Ramadhan datang. Dia marah meraung dan ingin protes. Hal yang sungguh tak kumengerti kenapa. Padahal Ramadhan kan bulan penuh anugerah, kan?

    “Kenapa kamu benci Ramadhan?” tanyaku pada hari pertama puasa.

    Tak ada jawaban. Padahal dia biasanya akan membisikkan sesuatu padaku. Yah, dia hanya diam ... diam dan diam. Aku memberengut hingga mulutnya bisa dikuncir.

    “Ya Allah, aku ingat!” aku menepuk jidak terlalu keras hingga aku meringis kesakitan sendiri.

    Yah, tentu saja dia benci dengan Ramadhan. Karena menurutnya Ramadhan itu penyiksaan. Karena dia dirantai tak bisa menggoda manusia. Makanya dia tak berbisik karena nafsuku ikut kuikat bersama hingga tak berbisik lagi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, Mbak ini garing amat hehhh :)

      Delete
    2. wah, berhikmah nih malah dapat ide nulis cernak hehehhe

      Delete
    3. hhehh, Mbak Naqiyah. Langsung dibuat aja cernaknya. Jadi pengen baca. Alhamdulillah malah bisa mancing ide, :)

      Delete
  13. Senja, menjelang adzan Maghrib, dua lelaki berpakaian rapi duduk bersila di musholla. Mereka baru selesai bertilawah.
    A : "Ramadhan sudah separuh jalan, kamu sudah sampai juz berapa? Aku masih kurang 10 juz lagi nih, lumayan kayaknya bisa khatam satu kali plus nambah beberapa juz selama Ramadhan"
    B : "Oh aku sudah khatam kok, baru mau mulai lagi"
    A : "Hebat kamu, terinspirasi Imam Syafii ya?"
    B : "nggggg engga juga, kan mulainya dari Ramadhan tahun lalu"
    A : " ooo zzzrtrtyyghjtkjtlkwxwxx" (Mengeluarkan dengung tak jelas alias nggrundhel)

    Twitter @dwiaprily

    ReplyDelete
  14. Ikut lagi, :)

    Yang pertama masih garing sepertinya.

    Oh iya, Akun Fb Ratna Hana Matsura dan Twitter @ratnaShinju2chi. sudah like dan folow.

    Tadarusan

    Setelah tarawih selesai, Nita tidak langsung pulang. Dia memilih ikut tadarusan. Yah, hitung-hitung ikut menghidupkan malam Ramadhan. Toh menyimak saja sudah dapat pahala. Apalagi Sita—tetangganya yang dulunya suka malas kalau diajak tadarus, kini jadi rajin berangkat. Sepertinya hatinya telah terbuka. Niat jadi ikut senang. Berarti dia punya teman juga kalau pulang bareng.

    “Eh, Ta. Kulihat Ramadhan tahun ini kamu jadi rajin tadarusan. Seneng deh lihatnya.” Nita mengambil Al-Quran di rak seperti biasa.

    “Iya, dong. Sita gitu.” Merasa sombong.

    “Sip, di bulan Ramadhan kita panen pahala dengan banyak baca Al-Quran.”

    “Iya, sekalian panen jajan yang selalu dibagikan kalau tadarusan.”

    Glek!

    Nita menelan ludah. Ternyata ....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kayak anak saya, kalau pulang tadarus bawa jajan seplastik :-D

      Delete
    2. Heheh, iya, kan kadang niat orang beda-beda ya Mbak :D

      Delete
  15. #Balada sahur
    Rama dan Idhan adalah anak kembar . Lahir tepat di bulan ramadhan tidak membuat anak kembar itu mudah menjalankan ibadah puasa seperti anak-anak lain seusianya. Walau dibilang mereka itu belum bisa berpuasa penuh, Bu Lily begitu sabar membimbing kedua anaknya agar bisa melaksanakan shaum seharian penuh.

    "Rama, Idhan sudah baca niat puasa kan sebelum tidur?" Ibu Lily mengingatkan.
    "Sudah Bu" jawab Rama selaras dengan anggukan Idhan. Tanpa hitungan detik bantal empuk telah menempel di kedua pipi putra kesangannya Bu Lily.

    Sahur.... sahurr..... sahur.... sahur....
    Band dadakan kala sahur memekikan kedua telinga. Bu Lily segera bangun dan memasak di dapur . Setelah rapi Bu Lily kemudian membangunkan Rama dan Idhan.

    Berhasil, senyum Bu Lily kembali mengembang. Mereka semua duduk di ruang makan. Idhan yang masih ngantuk-ngantukan salah minum air gelas dengan air kobokan tangannya. Tidak kalah dengan dengan Idhan, Rama mengunyah sambil merem. Sontak keduanya langsung melek ketika Idhan memuntahkan air yang setengahnya sudah masuk kerongkongan dan Rama memuntahkan makanan di mulutnya akibat ada cabe jepang super hot dari masakan ibu.
    Sontak ibu tertawa lepas.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukan mba :) , edisi bikin cerita humor. Mau kirim lagi juga tentang humor Rama dan iDhan yang belajar puasa. Kemarin mau dikirim langsung, kadung bayiku bangun. :)

      Delete
  16. Assalamu'alaikum

    Mau mencoba ikut lagi, Mbak. Bisa di cek di sini

    http://tulisanelratnakazuhana.blogspot.com/2015/07/cerita-penebar-senyum-di-bulan-ramadhan.html.

    Ada Tiga cerita di sana:
    1. Gara-Gara Kebiasan Tidur
    2. Yang Membatalkan Puasa
    3. Rencana Ramadhan

    Semoga berkenan membaca :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semua insyaAllah dibaca, kok... kan nanti bakal dinilai :-)
      Terimakasih ya, sudah berpartisipasi. Semoga menang ^_^

      Delete
    2. Sama-sama, Mbak. Aamiin, siapa tahu keberuntungan berpihak :)

      Delete
    3. http://tulisanelratnakazuhana.blogspot.com/2015/07/cerita-penebar-senyum-di-bulan-ramadhan.html

      Memperbaiki Link Mbak, yang di atas gegara ada titik di akhir tidak terbuka :D

      Delete
  17. Sendal ketuker sama pa hili

    Kala itu sudah di penghujung Ramadhan, kami sekeluarga sudah berada di kampung halaman ayah untuk menghabiskan sisa Ramadhan dan merayakan Idul Fitri disana. Tempat Tepatnya di tanah Sunda, Cianjur Selatan. Suasananya masih sangat asri dan alami. Apalagi dengan letak rumah nenek yang berdekatan dengan masjid, membuat kami dengan mudah melangkahkan kaki dan mendapatkan tempat strategis ketika shalat. Sayangnya, aku dan adikku tak terlalu memahami bahasa daerah yang digunakan, terkadang kami pasif, terkadang malah benar-benar tak mengerti..tapi paling tidak kami berusaha tetap tersenyum saja menghargai keramahtamahan warga desa disana. Namun, sebab inilah yang kemudian memunculkan unforgetable moment yang bertahun-tahun selalu menjadi cerita yang sangat lucu meskipun sering kami kenang berulang-ulang.
    Saat itu azan Maghrib berkumandang, usai membatalkan puasa dengan segelas teh manis dan ta'jil makanan tradisional yang dibuatkan nenek, adikku pun bergegas menuju ke masjid bersama ayah untuk menunaikan shalat Maghrib berjamaah bersama warga desa. Usai shalat dan wirid, ayah terlihat masih telihat asik ngobrol bersama beberapa warga desa, sepertinya ayahku memang sangat dikenal baik oleh warga desa. Sementara adikku tidak sabar menunggu ayah, ia pun memutuskan untuk pulang lebih dulu. Namun sontak ia kaget ketika keluar masjid, sendal yang baru saja dibelikan ibu di jakarta, tidak ada disana. Ia pun panik dan menghampiri ayah dengan paniknya
    "Ayah, sendal adi ilang yah..." rengeknya
    "Ahh..coba kamu cari dulu!" tegas ayah
    "Oh...eta mah pahili..." kata salah satu warga desa
    dan ayah pun menjawab dengan bahasa Sunda yang sama sekali tidak dimengerti adikku, pikirnya ayah kenapa terlihat tidak peduli karena hanya senyum-senyum saja menanggapi peristiwa ini. Nahh, ktika sudah di rumah, adikku pun langsung mengadukan hal tersebut kepada ibu dan uwa kami
    "Wa, sendal adi ilang dibawa sama pahili kata temen ayah..tunjukin sama adi wa, anterin ke rumah pahili..dimana rumahnya" adikku kesal
    Saat itupun ayah, ibu, uwa, dan nenek tertawa terbahak-bahak. Aku dan adikku masih bingung kenapa mereka tertawa. Hingga uwa ku menjelaskan bahwa pahili itu bukan lah nama seorang bapak menjadi pa' hili...melainkan bahasa Sunda yang artinya adalah "tertukar".

    ReplyDelete
  18. Belajar shaum

    Tragedi sahur tadi pagi membuat Rama dan Idhan tidak bernafsu makan sahur. Mereka memilih tertidur kembali karena dikuasai ngantuk yang amat sangat.
    “Lho, makan sahur yang banyak sebelum imsak.” Ibu Lily mengingatkan.
    “Ngantuk, Bu. Nggak kuat ngunyah.” Jawab Idhan apaadanya.
    “Nanti puasa lemas kalau kurang makan.” Kembali ibu khawatir.
    “Nggak Bu, kata Pak Ustadz tidak ada manusia yang mati karena puasa.” Jawab Rama yakin.
    Ibu Lily akhirnya mempercayai kedua putranya, yang belajar menjalankan ibadah puasa seharian dan juga bangga ada banyak ilmu yang didapat oleh kedua putranya yang sudah besar.
    “Ingatnya buka puasanya setelah…” suara ibu terpotong.
    “Setelah adzan, Bu.” Jawab Rama dan Idhan secara kompak. Membuat ibu Lily merasa yakin anaknya sudah tahu hukum berpuasa dan ilmu-ilmunya. Ibu Lily membiarkan anaknya tidur terlelap.
    Adzan berkumandang, Rama dan Idhan langsung menyerbu makanan. Sedang lahap menyantap, ibu datang dengan muka pucat.
    “Sudah adzan Bu, waktunya buka puasa.” Senyum lebarRama dan Idhan
    “Tapi kan ini baru adzan subuh, Nak.” Suara ibu serak menghilang.

    ReplyDelete
  19. "Puasa itu tidak boleh bohong." Ucap Ucup sambil menatap Farhat yang sejak dahulu bersahabat dengannya.
    "Siapa yang bohong?" Farhat kecewa dengan tuduhan Ucup.
    "Itu buktinya..." Ucup menunjuk kotak bekal makanan Ucup gambar spongebob di dalam tas Farhat.
    Muka Farhat terlihat santai tidak merasa ada yang salah padanya, karena kotak itu hanya pindah tempat dan pindah terminal lambung.

    Tibalah Bu Guru Isna , datang diantara Ucup dan Farhat.
    "Ucup dan Farhat sahabat yang akrab ya" sapa Bu Guru sambil berjalan menuju meja guru.
    "KIta bukan sahabat lagi bu." Ucup menggerutu
    "Lho puasa tidak boleh marah. Puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, harus bisa juga menahan emosi."
    "Tuh, kan Ucup dengerin kata bu Guru, puasa itu sabar."

    Ucup : ---senyumsunyi----

    ReplyDelete
  20. Saya ikutan..

    https://sulaimann.wordpress.com/2015/07/13/sedikit-sungkan/

    ReplyDelete
  21. Nama :hastira Soekardi
    Twitter:@hastiraS
    ikutan ya , ini linknya http://fiksitira.blogspot.com/2015/07/gagal-jadi-pacar-penulis.html

    ReplyDelete
  22. saya ikutan :)

    http://baslanymous.blogspot.com/2015/07/hormati-orang-yang-berpuasa.html

    http://baslanymous.blogspot.com/2015/07/tertipu.html

    ReplyDelete
  23. Jelang Buka Puasa
    Waktu jelang berbuka puasa adalah waktu dimana kesabaran seseorang diuji ketika berpuasa, terlebih, saat itulah godaan begitu banyak datang, mulai dari iklan sirup di TV, hingga pedagang di pinggir jalan yang menjajakan takjil.
    Suatu ketika jelang buka puasa, di rumahku ada acara buka puasa bersama, ada keponakanku yang berusia 4 tahun, sebut saja namanya Agus.
    Dia membawa semangkuk bubur dan menghampiriku, lalu dengan santainya dia menenteng bubur, pada saat itu aku juga sedang dilanda lapar.
    “Om, Om puasa?” tanyanya santai, sambil makan bubur (haap)
    Dalam hati, aku bersabar, sambil menjawab, “puasa, nak.” Tersenyum ketus.
    “Om kuat ya puasa, kalau Agus nggak kuatlah.” Katanya lugu, sambil melahap bubur kembali. (haap)
    Dengan wajah kesal, aku jawab. “kalau Agus nggak kuat, ya sudah, jangan makan di depan Om.”
    Dia nanya lagi, “Om nanti pas buka, makan bubur juga?” (haap) sambil nguyah bubur lagi.
    Ku jawablah, “jangankan bubur, Agus pun Om makan.” Dengan ekspresi sangar.

    atau bisa dilihat melalui catatan saya di FB :
    https://www.facebook.com/notes/junaidi-mcfadden/jelang-berbuka-puasa/1002711773093382?pnref=story

    ReplyDelete
  24. Kebelet

    Ini kisah Jojo anak SD yang mulai belajar puasa. Mendengar Ramadhan hampir tiba hati Jojo berloncatan gembira, mirip cacing kepanasan!
    Jojo latihan niat puasa berkali-kali agar tak keliru dengan niat wudhu soalnya sama-sama nawaitu. Dia juga tak lupa pasang alarm untuk sahur, tiap 10 menit sekali bunyi biar gak bablas.
    Singkat cerita Jojo berangkat pesantren kilat di sekolah, hatinya gembira mirip anak gembala. Dia bangga bisa puasa. Hore..hore…teriaknya. Pulang pesantren kilat Jojo terlelap maklum dari pertama berangkat pesantren kilat hati Jojo selalu berloncatan jadi ya capek! Pukul 04.15 Jojo terbangun lalu berlari ke dapur dan makan dengan lahap tak lupa baca nawaitu. Alhamdulillah akhirnya gak telat sahur, pikir Jojo. Melihat Jojo makan dengan lahap si ibu terbelalak, “Katanya mau puasa sehari lha kok jam segini kebelet buka? Maghribnya bentar lagi lho Jo.”
    Jojo langsung kaget, lalu muntah dan cacingpun keluar berloncatan gak tau tuh cacing sedih atau gembira.

    ReplyDelete
  25. Ikyuuuuut...
    http://rumahcintazie.blogspot.com/2015/07/bebek-untuk-masjid.html

    ReplyDelete
  26. Lagi ya Mbak... :)
    http://rumahcintazie.blogspot.com/2015/07/pahala-bagi-yang-menggoda-orang-berpuasa.html

    ReplyDelete
  27. Mau ikutann:)

    Disiang hari, ketikan ramadhan telah memasuki hari ke dua puluh lima. terlihat dua orang anak yang sedang asyik memegang mushaf qur'annya.

    Ahmad: Duhh! Ramadhan sudah hampir berlalu nihh Dul:(
    Abdul: Yahh iyaalah, masa' mau tinggal teruss sih, Ahmadd!
    Ahmad: Maksudnya, aku belum khatam nihh, padahal masih di juz 20
    Abdul: hehehe makanya Mad, yang rajin dong baca qur'annya, seperti aku nih!
    Ahmad: Wah hebatt kamu Dul, memangnya sudah khatam yah?
    Abdul: Iya dongg! (Sambil tersenyum kecut)
    Ahmad: Memangnya sudah berapa kali tamatnya?
    Abdul: Berkali-kali dong
    Ahmad: Wahh hebatt hebatt, bagi dong rahasianya Dul!
    Abdul: Tiggal baca aja surah al ikhlas 3x Mad, pasti sudah khatam
    Ahmad: kok gitu sihh?
    Abdul: Kan kata ustad Juki, al Ikhlas sama dengan sepertiga alqur'an! iya kan? heheheh
    Ahmad: --_--

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe... lucuuu. Tapi kok nggak pakai identitas?

      Delete
  28. Skandal Sandal

    "Sandalmu ilang lagi, Put?" tanya Ina.

    "Iya. Padahal sudah pakai sandal paling jelek. Kok masih ada aja yang mau!"

    Ina tertawa. "Mungkin malingnya suka sama kamu."

    Ini bukan hanya perkara sandal hilang. Ina tidak tahu betapa tidak enaknya jalan kaki pulang tarawih tanpa sandal. Orang rumah, terutama ibu pasti ngomel lagi. Meributkan harga sandal yang tidak lebih dari duapuluh ribu itu.

    "Gembok aja sandalmu, Put," pinta ibu jengkel. Adikku dengan iseng menyorongkan sebuah gembok ke arahku.

    "Ih, Puput gak mau. Biar aja kalau malingnya suka. Puput bisa beli lagi."

    Besoknya aku pergi shalat tarawih menggunakan sandal paling bagus yang sudah kuberi tanda besar sekali di sana. Biar saja semua orang mengataiku aneh. Ini demi pulang pakai sandal.

    KALAU MAU SANDAL INI, IZIN DULU! NANTI AKU KASIH, KOK!

    Selesai shalat tarawih, aku kaget dengan pesan balik dari maling sandalnya.

    SAYA IZIN AMBIL SANDALNYA. TERIMA KASIH. OH YA, BISA REQUEST MEREK SANDALNYA YANG BAGUSAN LAGI, YA. KULIT BUAYA KALAU BISA.

    "Kulit buaya gundulmu!!!"

    ReplyDelete
  29. Bismillah, coba lagi. :)

    Sahur Anak Kost
    Jujur, saat bulan puasa, tidak tahu kenapa? Aku selalu kasihan dengan anak kost.
    Karena, temanku yang anak kost, setiap sahur, makanannya apa? Mie goreng, mie rebus, kadang… makan air rebus doang. (Miris ya?)
    Padahal, anak kost kalau mau makan sahur yang enak, gampang banget! Caranya cuma satu ; banguni sahur keliling gang.
    Gampang kan? Tinggal teriak : “SAHUR… SAHUR… SAHUR…” (penuh semangat).
    Pas lewat di rumah orang kaya, ganti : “SAHUR, PAK… BELUM MAKAN NIH. ” (dengan nada dan wajah memelas).

    bisa di baca juga di sini : https://www.facebook.com/notes/junaidi-mcfadden/sahur-anak-kost/1003366123027947

    ReplyDelete
  30. Ratri Bikin Geli

    Beberapa hari belakangan ini, Ratri selalu menolak kuajak ke Mushola. Tiap kutanya ada saja alasannya.

    "Aku kekenyangan, Ris. Ngantuk!"

    "Rakaatnya 23, sih. Tempat kawanku enak cuma 11."

    "Hari ini imamnya Pak Sanusi. Ayatnya panjang-panjang. Pasti lama selesainya."

    Daaan, sederet alasan lain yang kutahu hanya untuk menutupi alasan utamanya.

    "Itu karena kamu belum juga ketemu cowok cakep di sana, kan? Ngaku, nggak!" Todongku dengan tatapan menyelidik. Tak ada respon, kedua bola mataku mulai mendelik.

    "Hehe..." Ratri meringis, terendus sudah kedoknya.

    "Dasar!"Sungutku, sebal. "Sekarang tuh liat di ujung jalan. Cowok bukan?"

    "Iya, Ris, cakep banget. Itu mau berangkat tarawih, ya? Duh, aku harus buru-buru ambil mukena, nih, " ujar Ratri berbinar-binar.

    "Yakin? Dia mau berangkat syuting FTV Ramadan, kok. Judulnya Tomboy Insaf."

    "Lho? Jadi dia cewek, Ris?"

    "Hihi."

    Ratri beringsut lesu, perutku kaku menahan geli.

    ReplyDelete
  31. http://diannafi.blogspot.com/2015/07/yang-lucu-di-ramadan-kali-ini.html

    ReplyDelete
  32. 03.00 Siang.
    Sudah dua jam sambungan kabel lampu dan stop kontak dirakit Rama, tak jua selesai.
    “Nah, ini pasti berhasil” Gumamnya.
    Colokan dipasang dan stop kontak ditekan ke tombol ON.
    “Duarrrrrr…”
    Rama mencak-mencak. Kaget.
    Stop kontak nyala berasap dan sambungan listrik rumah jadi korslet.
    Ibu histeris, buru-buru menghampiri.
    “Kenapa, Ram itu kenapa?” Panik.
    “Hehe, ini bu lampu untuk buka barengnya, meletus” cengengesan sambal garuk-garuk kepala.
    “Oalah, udah dua jam diutak-atik belum juga selesai?”
    “Sini hapemu” sembari mengambil hape dari Rama.
    Beberapa saat hape Rama dikucek-kucek ibu.
    “Nih, klik di mbah google cara masangnya yang bener. Punya smartphone tapi gak dimanfaatin, ckck…”
    “Cari tahu ilmunya dulu, baru dikerjain, kan cepet selesainya” tambah ibu ngomel.
    “Ehh, iya bu… hehe” Rama garuk-garuk kepala. Malu.

    Twitter: @hamdanul

    ReplyDelete
  33. Bismillaah ikutan :)
    * Kelilipan *

    Ramadan sekian tahun lalu, saya pengen banget makan pecel saat berbuka. Kayaknya segaar, deh. Namanya juga kepengen, saya masaknya penuh semangat. Waktu berbuka tiba. Yes, alhamdulillah! Hap hap hap, pecel nan maknyus saya lahap. Lagi enak-enaknya makan, tiba-tiba mata saya kemasukan sesuatu. Pedih, panas, haduuh ... Nggak bisa melek! Saya langsung gedubrakan lari ke wastafel untuk basuh mata.
    "Kenapa, sih?" tanya suami saya.
    "Kelilipan!" jawab saya sambil terus heboh ucek-ucek mata.
    "Kelilipan apaan?"
    "Nggg ... (dilema: diam nggak sopan, dijawab bakalan malu). Nggg ... Kelilipan
    ... SAMBEL PECEL!"




    ReplyDelete
  34. “SALAH TARIK”
    Berbuat baik di bulan Ramadhan menjadi momen yang baik untuk menambah tabungan akhirat. Biasanya kumanfaatkan untuk membantu ibu. Kali ini ibu mengajakku berbelanja. Lebih tepatnya membawakan belanjaan ibu.
    Sedari jam sembilan pagi sampai jam satu siang ibu masih saja pindah-pindah dari toko satu ke toko lainnya. Ramainya pengunjung mall membuat kepalaku pusing. Apalagi sudah waktunya sholat. Tanpa pikir panjang kutarik saja tas ibu. Belanja boleh yang penting sholat jangan sampai lupa gumamku di hati. Tapi seolah-olah ibu tidak mau aku ajak ke mushalla untuk sholat barang sebentar. Segera saja kubalikkan badan dan …
    “Copeeeettt…!” Teriak seorang wanita tepat di belakangku.
    Ternyata, perempuan yang kutarik tasnya bukan ibuku…
    Alamakkkkkk…

    twitter: @hamdanul

    ReplyDelete
  35. Terimakasih ya, atas partisipasi teman-teman semua dalam ajang kuis humor ramadhan ini. Kuis sudah ditutup 17 Juli kemarin, selanjutnya proses penjurian. Pengumuman pemenang insyaAllah 25 Juli besok. Ditunggu ya... ^_^

    ReplyDelete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!