Jinaknya Si Jalur Maut

Kondisi jalur Bayeman sebelum pelebaran (sumber foto dari Suara Merdeka)

Saat itu Pukul 01.00. Di malam buta, beberapa warga dusun Adireja, desa Tlahab Lor, Purbalingga (desa kelahiran saya) masih terjaga. Mereka adalah para pedagang yang masih membuka kiosnya di sekitar Masjid Jami' Al-Muttaqin yang terletak di tepi jalan raya. Padatnya arus mudik membuat mereka memutuskan berjualan selama 24 jam. Meski hanya menawarkan aneka minuman panas seperti kopi, susu, teh, pop mie dan mie rebus, warung mereka sangat ramai.

Saat itu, sepasang lelaki perempuan (tampaknya suami-istri) yang turun dari motornya dengan wajah panik dan bingung. Penampilan mereka tampak lusuh dan kusut. Terbata-bata mereka bertanya-tanya kepada para pedagang. Pertanyaannya membuat para pedagang tercengang. 
"Ada yang melihat bayi terjatuh?"
"Jatuh? Bayi siapa yang jatuh?"
"Bayi kami..." jawab mereka, pelan, gugup.

Usut punya usut, saat mereka berkendaraan, mungkin karena sang ibu yang menggendong bayi tersebut mengantuk, dan gendongannya kendor, bayi mereka terjatuh. Mereka memakai motor untuk mudik dari Jakarta, menempuh jarak ratusan kilometer. Para warga pun akhirnya membantu mencari bayi. Namun, bayi tidak ditemukan, entah jika di tempat lain. Kalaupun ditemukan, apakah bayi masih dalam keadaan hidup? Mendengar ceritanya saja, saya sudah merinding. Kebetulan, kakak saya adalah salah satu pemilik kios yang ikut menjadi saksi peristiwa tersebut.

Peristiwa itu tidak terjadi pada lebaran kali ini, tetapi setahun silam. Saat itu, Sobat masih ingat, tidak? Jembatan Comal di di daerah Pemalang putus. Padahal, jembatan itu terletak di jalur Pantai Utara Jawa (Pantura), sebuah jalur yang sangat penting bagi para pemudik. Bisa dibayangkan, arus mudik/balik pun pindah ke jalur-jalur alternatif. Jalan tembus Pemalang-Purbalingga, yang melintas di depan rumah orang tua, adalah salah satu jalur alternatif yang populer. Dari Pemalang, para pemudik akan berbelok ke selatan, menuju kota Purbalingga, untuk kemudian berbelok ke jalur tengah atau jalur selatan Pulau Jawa. 

Tak hanya mobil pribadi, bahkan bus besar dan truk tronton pun akhirnya melewati jalur tersebut. Padahal, meski diaspal mulus, jalan tersebut sempit dan berkelak-kelok dengan sekian tanjakan, turunan dan tikungan tajam. Jalan melewati pegungan dengan lembah-lembah yang curam. Dalam keadaan normal saja, melewati jalur tersebut harus hati-hati. Apalagi dalam keadaan padat pemudik. Walhasil, selama arus mudik/balik, jalur tersebut pun menjadi jalur maut, dengan puluhan kecelakaan yang memakan banyak korban jiwa. Tercatat, 29 meninggal hanya dalam waktu sekitar seminggu. Suasana mencekam menghinggap, tak hanya pada para pemudik, tetapi juga warga sekitar. Kakak saya misalnya, mengatakan, "Bagaimana jantung nggak selalu dibikin sport, dikit-dikit terdengar sirine ambulance, dikit-dikit kecelakaan, dikit-dikit korban meninggal."

Nunik Susanti (45 tahun), guru sebuah TK Pertiwi di Bayeman, Tlahab Lor, adalah salah satu saksi mata. "Saat itu saya sedang naik motor. Lalu saya melihat kecelakaan beruntun yang menimpa 5 sepeda motor dan sebuah mobil avanza. Korban bergelimangan, ada tujuh yang meninggal di lokasi. Ada anak usia TK menangis tersedu-sedu sambil meratapi jenazah papa dan mamanya. Dia berteriak-teriak, 'tolong, papa dan mamaku kenapa ini? Tolooong!' Wah, saya benar-benar schook berat." Cerita Nunik, sambil berkaca-kaca. Meski peristiwa itu terjadi setahun silam, hingga kini dia mengaku masih gemetar jika mengingat kejadian tersebut.

Alhamdulillah, peristiwa maut itu mendapatkan respon yang baik dari pihak yang terkait. Ketika saya mudik kemarin, jalur maut tersebut sudah dilebarkan masing-masing satu meter ke kanan dan kiri. Batu besar yang menjadi penghalang di tanjakan tajam dusun Bayeman, desa Tlahab Lor (sekitar 2 KM dari rumah orang tua saya), telah diratakan dengan tanah, sehingga jalan menjadi lebih nyaman. Bayeman adalah titik paling maut dari jalur tersebut. Sebagian besar kecelakaan berdarah terjadi di daerah tersebut. Sebagian Beberapa kisah mistik beredar, di antaranya, konon 'makhluk halus' penunggu batu-batu tersebut 'mengamuk' karena operasi pelebaran jalan raya tersebut. Wallahu a'lam.

Maka, pada lebaran ini, sekali lagi puji syukur kepada Allah SWT, jalur maut itu menjadi 'jinak.' Memang jalur tersebut masih ramai dan menjadi tempat favorit bagi pemudik yang ingin terbebas dari kemacetan. Namun, lalu lintas relatif lancar. Selain faktor jalan yang sudah lebih lebar, yang paling utama, jembatan Comal juga sudah lama diperbaiki dan beroperasi kembali. Tidak terjadi lagi penumpukan arus mudik di jalut tersebut.

"Alhamdulillah, kali ini, tak lagi didengar kabar kecelakaan di sana," ujar ibu saya, ketika saya tanyai perihal jalur maut tersebut. Tampaknya, aparat terkait memang benar-benar serius menjinakkan si 'jalur maut'. Mereka mentargetkan dalam lebaran ini, Jalur Bayeman mengalami 'zero accident' alias angka kecelakaan nol. Sependengaran saya, hingga sekarang, memang belum ada kecelakaan. Mari berdoa agar seterusnya demikian.

Ya, kita patut bersyukur. Secara umum, angka kecelakaan lebaran tahun ini memang menurun drastis. Dari data Pusat Komunikasi Publik Kementerian Perhubungan di Jakarta (Minggu 19 Juli 2015) menunjukkan jumlah kecelakaan pada hari Lebaran 2015 tercatat 247 kasus, atau turun 82 persen bila dibandingkan dengan jumlah kecelakaan pada hari Lebaran 2014 yakni 1.396 kasus. Korban meninggal juga turun drastis dari 350 jiwa pada lebaran 2014 menjadi 87 orang pada lebaran kali ini.[1]

Turunnya angka kecelakaan, tentu membuat keindahan dalam lebaran menjadi lebih lengkap. Benar sekali, bahwa kematian adalah sebuah takdir. Tetapi, Allah tidak akan mengubah nasib seseorang atau suatu kaum, apabila seseorang/kaum tersebut tidak mengubahnya. Sebagai manusia, kita harus berikhtiar penuh agar terhindar dari marabahaya. Dan dalam hal ini, kita secara jujur harus memberikan apresiasi kepada pemerintah, dalam hal ini kementerian perhubungan yang cukup sigap mengantisipasi permasalahan mudik ini. Bagaimanapun, mudik adalah sebuah tradisi khas negeri ini. Efek negatif mungkin ada, tetapi hal yang positif juga tak kalah bejibun. Jadi, tak harus dihapus, cukup diminimalisir hal-hal negatif yang mungkin muncul. Setuju?

Subscribe to receive free email updates:

8 Responses to "Jinaknya Si Jalur Maut"

  1. Masih penasaran dengan akhir cerita bayi yang terjatuh itu. Saya jarang mengikuti berita...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mereka juga nggak tahu. Suami-istri itu terus mencari, dibantu warga sekitar. Karena tak ketemu, mereka kemudian berpamitan pergi. Entah bagaimana kisah selanjutnya.

      Delete
  2. Kebetulan lebaran tahun ini 2015 saya berada di tlahab lor,alhamdulillah tdk melihat dan tidak mendengar kecelakaan disana ini karena efek pelebaran jalan dan pengguna menuai manfaatnya yaitu selamat,kebetulan jalur maut itu tidak jauh dari rumah mertua saya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, lebaran ini memang zero accident.
      BTW, dimana rumah mertuanya?

      Delete
    2. Di bayeman lor,curug sibedil itu dari gambar jalan di atas tidak jauh paling 50 meter,ke kanan

      Delete
  3. Itu photo jalan disana terbaru kemarin dua hari setelah lebaran di profil saya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal... saya lahir di dusun Adireja, Tlahab Lor. Ayah saya almarhum Bapak Sucipto.

      Delete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!