Surga Kuliner di Kampung Halaman

Lebaran identik dengan makan-makan itu jelas. Ada pendapat yang menyebutkan bahwa kata fitri itu berasal dari afthara – yufthiru [arab: أفطر – يفطر], yang artinya berbuka. Hal ini senada dengan hadist ini: “Hari mulai berpuasa (tanggal 1 ramadhan) adalah hari di mana kalian semua berpuasa. Hari berbuka (hari raya 1 syawal) adalah hari di mana kalian semua berbuka.” (HR. Turmudzi 697, Abu Daud 2324). 

Nah, namanya berbuka, pasti identik dengan makan-makan, bukan? Karena terjadinya setahun sekali, sangat wajar jika kaum Muslimin pun menyiapkan hidangan yang tak biasa.
Saya sendiri, jarang merayakan Idul Fitri di tempat saya menetap sekarang, yaitu kota Surakarta. Ya, bisa ditebak. Karena saya dan suami masih memiliki orang tua dan keluarga di kampung halaman, maka saat lebaran biasanya kami mudik ke Purworejo (kampung suami) dan dilanjutkan ke Purbalingga (kampung saya). Jadi, kami jarang secara khusus menyediakan makanan untuk lebaran. Paling-paling kue kering yang awet untuk persediaan setelah kami kembali ke kota Solo beberapa hari setelah lebaran.

Bicara soal kuliner, ternyata kampung-kampung kami memiliki berbagai jenis makanan yang asyik banget untuk disantap di hari raya. Kalau tidak menjaga diri, bisa-bisa habis lebaran badan naik beberapa kilogram. Apa saja hidangan yang khas itu? Ada beberapa yang ingin saya share di sini. Baca yuk!

Tape ketan


Tape ketan ini banyak didapatkan di kampung suami di Purworejo. Terbuat dari beras ketan yang difermentasi menggunakan ragi, dan biasanya dibungkus dengan daun pisang. Ada juga yang berasnya menggunakan beras hitam atau merah. Untuk menarik, ada juga yang diberi pewarna. Biasanya ini tape-tape ketan yang dijual di toko atau sebagai bahan es campur. Kalau hidangan yang tersaji di kampung-kampung, jarang yang menggunakan pewarna. Saya ogah menyantap tape yang menggunakan pewarna. Lebih enak yang alami. Dan sehat, tentu saja. Hampir setiap rumah di sana menghidangkan tape ketan sebagai camilan lebaran. Ini benar-benar mengasyikan, karena makanan ini ada favorit saya.


Mendoan

Mendoan lebih khas di kampung saya di Purbalingga. Terbuat dari tempe yang khusus untuk mendoan, digoreng menggunakan campuran tepung terigu dan tepung beras dengan bumbu bawang putih, ketumbar dan garam. Untuk lebih menarik, biasanya diberi irisan daun bawang. Mendoan biasanya digoreng setengah matang dengan minyak yang sudah mendidih. Dimakan dengan lalap cabai rawit, wooow sedap.

Anehnya, menyantap mendoan ternyata butuh suasana khusus. Menyantap mendoan di daerah pegunungan di Purbalingga yang sejuk, ternyata jauh lebih nikmat dibanding dengan makan mendoan di Solo. Entah ini karena sugesti saya, atau jangan-jangan saya yang tak bisa bikin mendoan enak. Hehe. Yang jelas, tempe-tempe mendoan yang dijual di daerah-daerah non eks karesidenan Banyumas memang banyak ‘hoax’nya. Di Solo atau Semarang, ada yang menulis jual mendoan. Ternyata isinya tempe goreng tepung yang dimasak hingga kering, hehe.

Sebenarnya, mendoan bukan hidangan khas lebaran. Tetapi, beberapa rumah di sana juga menghidangkan makanan itu, apalagi jika menjamu para perantau seperti saya yang menjadikan mendoan sebagai bagian dari nostalgia. Anehnya, hidangan yang kadang jadi pelengkap ini malah selalu diburu dan licin tandas.

Manisan kolang-kaling

Aslinya saya menghindari makanan yang kelewat manis. Akan tetapi, ketika di rumah ibu menghidangkan makanan ini, saya sulit menolak. Manisan kolang-kaling tak terlalu sulit membikinnya. Cukup pilih kolang-kaling yang bagus, dipotong tipis, lalu direbus menggunakan sirop hingga empuk. Rasanya sedap dan seger, apalagi jika disimpan di kulkas.

Manisan kolang-kaling (kiri), wajik kacang hijau (kanan)

Wajik kacang hijau

Ini juga makanan manis yang sulit saya hindarkan selama lebaran. Untung, karena terbuat dari kacang hijau, kandungan proteinnya tinggi, jadi saya santap juga. Cara membuatnya juga mudah, cuma agak ribet dan lama. Pertama, kacang hijau yang sudah bersih direbus sampai empuk. Lalu dihaluskan dan diuleg menggunakan santan matang dan gula pasir sampai rata. Uleni sampai benar-benar kalis, ya. Setelah itu, dibungkus kecil-kecil menggunakan kertas roti.

Lanting singkong

Lanting singkong adalah makanan khas daerah Binangun, Kroya, Cilacap. Yup, salah seorang Om saya tinggal di sana. Karena lokasinya mudah dijangkau, dari Buntu ke selatan sekitar 15 KM, saat perjalanan pulang menuju Solo, biasanya saya mampir kesana. Lanting produksi sana sangat gurih dan enak. Tapi, bagi yang tidak punya banyak waktu, sepertinya saya tidak merekomendasikan untuk bikin sendiri, sebab waktunya lamaaa. Mending beli yang sudah jadi saja, sekalian meramaikan usaha kecil rakyat jelata, hehe.

Begini nih, cara membuatnya. Singkong yang bagus dikupas, direndam sekitar sejam. Habis itu dikukus sampai empuk. Begitu empuk, silakan dihaluskan dan dicampur bumbu garam, ketumbar dan bawang putih, dan diuleni sampai kalis. Setelah itu, adonan bisa dibentuk seperti tali dan dibikin lingkaran-lingkaran kecil, lalu dijempur sampai kering betul. Nah, setelah kering, baru digoreng sampai berubah warna. Kalau mau dikasih keju, ya enak juga tuh.

Nah, itu lima hidangan kas kampung halaman saya saat lebaran. Bagaimana dengan hidangan lebaran kampung Anda? Share juga yuk! Siapa tahu, suatu saat saya punya keinginan mudik ke kampung halaman Anda, hehe.

Subscribe to receive free email updates:

4 Responses to "Surga Kuliner di Kampung Halaman"

  1. Replies
    1. Kemarin adik saya yang tinggal di Indralaya pulang, bawa pempek sekardus, jadi ada pesta pempek juga. Tapi, karena itu bukan camilan khas kampung, jadi tidak saya cantumkan ^_^

      Delete
  2. Sangat bagus untuk rujukan para pebisnis perempuan...

    ReplyDelete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!