The Most Wanted!

Pengantar: Cerpen ini saya tulis tahun 2001, saat masih aktif sebagai mahasiswa dan menjadi aktivis ROHIS. Jadi, maklum saja, terminologi yang digunakan masih "ROHIS banget", hehe. Sengaja saya biarkan apa adanya, nyaris tanpa editing, supaya pembaca bisa membandingkan dengan cerpen-cerpen saya yang lebih baru ^_^.
O, ya... Cerpen ini saya tulis karena terinspirasi dengan teman satu indekost, yang saat itu menjadi satu-satunya cewek di angkatannya, Jurusan Teknik Mesin Undip. Selamat membaca!
_____________________

Ini luar biasa, extra ordinary. Barang baru, ajaib, menakjubkan namun asli,  membuat  pusing tujuh keliling. Setidaknya bagi aku yang sepertinya selalu kejatuhan sampur untuk berpusing ria.
“Sudah saatnya kamu memberi kesempatan pada para akhwat untuk mengurus diri sendiri. Jangan disuapin terus menerus. Kamu juga perlu menjaga jarak sama mereka. Nggak lucu kan, kalau ketua Rohis jadi idola? Kaya catatan si Boy aja…”
Aku tercenung. Ucapan Bang Manaf, ketua Majelis Syuro, setingkat di atasku di kampus membekas ganas. Kepalaku berdenyut kencang.
“Solusi, Bang. Solusi. I need it!”
“Bikin bidang keputrian. Itu realistis.”
Nah itu! Keputrian di teknik mesin, euy… Realistis? Di antara ratusan manusia macho ada sekelompok manusia dengan jilbab rapinya yang melambai-lambai terkena angin? That’s impossible. Beberapa gelintir manusia berjenis kelamin putri yang ada, seringkali malah lebih maskulin dibanding puteranya sendiri.
Dan kini dengan enteng Bang Manaf meminta ia membentuk bidang keputrian. Siapa di antara cewek-cewek macho bin badung yang mau didandanin pakai kerudung dan gamis, untuk didudukan sebagai ketua keputrian.
Puzyiing!
“Akhwat harus lebih diberdayakan, Roy. Supaya nggak powerless.”
Masalahnya yang diberdayakan itu yang nggak ada. Akhwat di mesin, barang langka itu! Mana ada sih, muslimah masuk ke sarang penyamun? Kampus Mesin di mana-mana booming kaum lelaki. Di kampusku pun tidak berbeda. Dari 150 mahasiswa di tingkatku sendiri, cuma ada lima makhluk berjenis cewek.
“Nah, Roy… Mengapa mesti menunggu?! Masalah akhwat terkadang sangat spesifik. Tidak kita mengerti. Sehingga nggak mungkin kan, kalau kita tangani secara keseluruhan. Akhwat, mereka juga punya hak untuk berekspresi.”
Iya, Bang. Iya. Aku sepakat. Tetapi untuk kampus mesin?
“Sekarang, tunggu apalagi? Cepat kau fasilitasi mereka untuk membentuk bidangnya sendiri.”
Itu yang kemudian membuatku pusing. Statemen penuh retorika itu memaksuku tersenyum geli sekaligus getir. Keputrian di Mesin? Membayangkan tigapuluh, ah… tepatnya satu dari lima mahasiswi semester IV atau 7 semeter II menjadi ketua keputrian itu.
“Konsep keputrian telah disetujui dewan syuro. Kau diberi waktu tiga hari untuk menunjuk kabid dan stafnya, melengkapi susunan kepengurusan Rohis tahun ini, okey ?”
Tiga hari, ya Aziz…!! Selama tiga hari aku harus mencari satu dari duabelas akhwat, eh… cewek tomboy itu. Rully yang teriakannya sekian desibel melebihi gemuruh mesin pemotong rumput? Atau Linda yang hobi memakai celana pelaut, baju matros sampai jaket angkatan yang apeknya, man… minta ampun! Yang dengan bangga ia sebutkan, satu semester belum dicuci!! Atau Dea yanga rambutnya sedikit lebih panjang dari mayoritas para females. Feminim dikitlah  Ketiga calon itu paling lembut di antara para  betina itu.
Yang jelas, jangan Eden. Uh, bisa gempar Forum Silaturahim Annisa Universitas jika salah satu personnya adalah si trouble maker itu. Bayangkan! Dengan rambut super cepak, dicat coklat-merah, anting three in one, kacamata hitam, tatto dragon balls, jeans belel dengan sekian jendela di lutut plus aneka tambalan bermotif maskulin, sepatu bot sampai… trail gaya bandit. Gadis semacam itu langsung masuk dalam black list. Sadis ya. Tapi, bagaimana lagi ?
***

“Keputrian? Makanan apa tuh?!” seperti yang telah kuduga, Rully terbahak. Sambil menjeritkan sebuah lagu milik Linkin Park, ia meloncat ke atas meja. Duduk mengangkat kaki, lalu bergedebukan menirukan gaya seorang drumer kelas kakap. Aku menelan ludah. Kesabaranku terprovokasi. Belum seminggu jadi ketua Rohis sudah dilecehkan begitu.
“Keputrian itu salah satu bidang di Rohis. Bidang baru.”
“Ha…ha…ha. Orang kayak gue lo suruh jadi ketua keputrian? Bisa kacau semua nanti. Enggak, ah. Aku kasihan sama kamu, nanti malah jadi repot, punya anak buah bermulut ember kayak gue.”
“Ngurusin diri sendiri saja belum becus, Roy. Gimana mau ngurusin orang lain?” tolak Linda tegas. “Lagian keputrian... olala! Mending lo nyuruh aku main bola sama David Beckham.”
Dea lain lagi. Ia melongo ketika kujelaskan konsep keputrian versi Bang Manaf.
“Jadi lo ketua Rohis yang baru ya, Roy ?”
“Begitulah. Kuharap kau mau membantuku mengurusi bidang keputrian.”
“Emang mesin butuh keputrian?”
“Yah, biar bisa lebih feminim dikitlah…”
“Ketua keputrian itu harus perfect ya, Roy?! Teman satu kos gue ketua keputrian di Fakultas Peternakan. Ia lembut, manis dan jelas berjilbab lagi. Ilmu agamanya banyak. The realy woman-lah….” Tepatnya mungkin the realy moslemah, desisku senang. Ada harapan nich.
“Nah, kau bisa belajar banyak darinya,” dadaku sedikit lega. Akhwat yang dimaksud Dea pasti Ukhti Faizah. Dia memang seorang mar’ah solihah. Tegas dan penuh kearifan.
“Di mesin nggak ada yang setipe dengannya. Jauuh…!!”
“Jadi?”
“Sorry ya, Roy. Gue nolak tawaran lu. Mesin belum saatnya punya keputrian.”
Harapanku kandas. Tiga calonku menolak mentah-mentah. Padahal merekalah yang aku anggap paling pantas jadi ketua keputrian di kampus teknik mesin ini. Tak ada rotan, akar pun jadi. Mereka akarnya. Jika nggak ada rotan dan nggak ada akar, hm... tali rafia pun bisa. Akhirnya aku menurunkan standar. Semua mahasiswi kudekati, one by one. Direct selling!
“Ih, keputrian. Kurang kerjaan….”
“Ada program off road nggak ?”
“Gila kamu, Roy  Aku lebih ngerti oli daripada kompor.”
“Weleh-weleh, Roy. Ngaco lu!”
“Kamu terobsesi bikin keputri-tomboy-an ya?!”
Etc…etc. Tanpa harus berkutat dalam analisa regresi ataupun tetek bengek analysis of varian aku sudah dapat menyimpulkan hasil direct selling-ku.
Gatot! Gagal total, bo! Eh, masih ada satu nama: Eden. E…den. Eden?! Huwaaa…!!
“Keputrian itu seperti permaisurinya ketua Rohis gitu ya, Roy?” tanyanya seenak sendiri. Nah, error kan?
“Bukan, Eden, Tapi…”
“Lo kan ketua Rohis. Berarti Lo raja. Dan Lo sedang ngelamar gue buat jadi permaisuri Lo, gitu kan?”
“Eh, bukan begitu. Tapi....”
“It’s okay-lah. Gue coba yaa. He… he…he. Keputrian, kayaknya asyik juga, tuh!”
Dia menerima, Ya Robb! Tidak ada alasan untuk menolak konsep dewan syuro. Kebayang nggak sih, Saudara-saudara! Seorang ketua keputrian, ke kampus naik trail ala bandit?
***

“Eden, ada surat dari keputrian Universitas!”
“Oya?!” sambil mengunyah permen karet ia melompati dua kursi sekaligus. Robb, ia duduk mencakung di atas meja. Ketua keputrian! Aku mengurut dada.
“Ada pertemuan ketua-ketua keputrian se- Univ.”
“Wah, asyik dong!” cepat ia merebut surat itu, membacanya, “Wisma Salsabila, jalan singosari, mana tuh ?”
“Ya dicari to, yaa…”
“Eit, gue kan bukan Semarang asli, Broer! Mana tahu tempat-tempat terpencil macam itu. Lu ngerti, Roy…. Gue paling males kalo disuruh nyari alamat.”
“Terus?”
“Lu anterin gue, ya?”
Ya Rohmaan… apa kata orang  Ketua keputrian datang ke syuro diantar ketua Rohis?!
“Eenggg…!!”
“Tenang, nggak usah takut dengan trail gue. Kalo Lo nggak bisa naik motor cowok, gampang! Gue di depan, lu ngebonceng. Lebih praktis daripada berdesak-desakan naik bus, kan? Lagian lu nggak punya motor sih.”
“Bbb… boncengan?” keringat dingin mendadak mengucur di balik kemejaku.
“Emang kenapa  Takut ama gue ?” Dia berkacak pinggang.
“Nggg… pakai bis aja, Eden…”
“Yo wis. Pakai taksi aja, okey?!”
“Baiklah. Tapi kumohon, please… rambutmu rada dirapiin dikit. Semirnya agak diilangin. Terus anting di hidung itu, lepas dulu ya! Jangan pakai jeans dan…”
“Alaaah, sok ngatur banget sih? Babe gue aja nggak secerewet  lu!”
Aku terdiam tak berkutik. Bagaimana aku harus menghadapimu, Eden? Wajah-wajah dalam balutan jilbab rapi itu kupastikan menyimpan tanda-tanya besar, ketika melihatku datang dengan seorang putri norak. Putri berambut cepak dengan semir, kalau merah mending... hijau muda! Dengan anting di hidung, kalung rantai, aneka gelang, jeans penuh tambalan, jaket L’evis yang sudah lecek, tas ransel pendaki gunung... waaaw!!
Terpaksa aku pun mengangguk pelan.
* * *
Masya Allah, Eden mencekal lenganku lagi. Bagaimana ini? Aku menggigit bibir di depan gerbang wisma Salsabila. Beberapa pasang mata yang sekilas menoleh kepadaku tampak terkesima.
”Assalamu alaikum!” salamku, terbata.
“Waalaikumussalam Warohmatuloh…!”
Ukhti Dina, ketua keputrian universitas yang juga kakak kelasku di SMU  menjawab salamku, lembut namun tegas. Akankah Eden bersikap seperti itu kelak?
“Afwan, saya mengantar Eden. Nggg… dia tidak tahu tempat syuro.”
“Dia adik antum?” pertanyaan itu kurasakan sebagai vonis. Badanku mendadak panas dingin. Celakanya, cekalan Eden di lenganku bahkan semakin kencang. Duh, gimana nich. Para akhwat bisa salah persepsi tentang aku.
“Bb... bukan. Dia teman sekelas. Ngg… ketua keputrian rohis teknik mesin.” Aku menoleh ke Eden. “Den, lepasin dong cekalanmu!”
“Subhanallah, mesin sudah punya ketua keputrian?”
“Mm, betul... Eden, kutinggal ya?”
“Yoi. Jangan lupa jemput gue nanti, ya. Awas kalau sampai telat. Gue hajar lu sampai bonyok. Biar Lo cowok juga gue kagak takut.”
Aku tak dapat membayangkan paras para akhwat atas sentakan khas itu. Cepat-cepat aku berbalik dan kabur dari tempat itu. Aku tidak mau menjadi pesakitan di depan mereka.
***

Aku baru saja membuka buku mekanikaku ketika sebuah sentakan cempreng membuyarkan konsentrasiku.
“Lu brengsek, Roy…! Brengseeek! Gue sebel. Sebeeel, ngerti ?!”
Eden ! Parasnya memerah dahsyat.
“What happen ?”
“Sok pilon, lu! Lu sengaja menceburkan gue ke keputrian biar gue malu. Begitu kan?”
“Maksudmu ?”
Tiba-tiba Eden terisak. Ajaib, si trouble maker yang pernah dihukum senior lari keliling lapangan bola tiga kali saat Ospek dulu itu…
“Gue merasa jadi sampah di antara mereka.”
“Eden…”
“Lu brengsek, Roy! Brengseeek…!!” Ia berlari pergi. Isaknya sempat kudengar makin mengeras. Aku terpana, bingung. Apa yang terjadi padanya?
Ya, apa yang terjadi? Sejak kejadian itu, ia menghilang. Bahkan tidak pernah lagi kulihat muncul di kampus.
***

September 2001, tiga  bulan kemudian…
Halaman auditorium Universitas menunjukan peningkatan aktivitas seminggu terakhir ini. Daftar ulang mahasiswa baru. Puluhan stand berbagai organisasi mahasiswa baik internal maupun eksternal kampus  berlomba-lomba menarik para adik baru untuk menjadi simpatisan. Lebih lanjut lagi, mendaftar jadi anggota. Berbagai penarik mereka pajang, kreatif dan inovatif.
Rohis teknik mesin tak mau kalah. Kami memajang sebuah mobil kuno yang telah dimodifikasi sedemikian rupa di stand, selain berbagai paket pelayanan untuk para mahasiswa angkatan 2001, khususnya  jurusan teknik mesin.
“Lho, posko akhwatnya mana, Roy?” tanya Bang Manaf.
Aku angkat bahu. Eden Varia Asmarita, ketua keputrian itu telah pergi dari kampus macho ini. Sekilas di hari pertama daftar ulang kemarin, kupergoki sosok itu tengah duduk-duduk santai di stand keputrian Rohis Kedokteran. Ia mengorbankan kuliahnya yang telah semester IV di teknik mesin dan nekad UMPTN lagi. Diterima di Kedokteran. Hebat dia !
Lebih hebat lagi… dia berjilbab, bo! Surprais! Rapi. Alhamdulillah. Segala puji untukmu, Allah yang telah memberinya berjuta hidayah.
“Roy, melamun?” tegur Bang Manaf.
“Ah, astaghfirullah.”
“Aku mendengar, katanya ketua keputrian mengundurkan diri? ”
“Tepatnya UMPTN lagi, Bang.”
“Terus, kau biarkan bidang keputrian itu terbengkalai?”
“Bang…” aku memelas.
“Kamu harus cari gantinya. Angkatan 2001 putrinya limabelas. Harus ada penanganan serius.”
“Jadi?”
“Cari pengganti Eden.”
Dea, Rully, Linda, Cristi… Aah, pusing !!

Semarang, 3 Juni 2001

CERPEN-CERPEN AFIFAH AFRA
Sebilah Pisau Untuk Membelah Dadaku
Ruang VVIP 1
Sampah
Bisnis Sang Caleg
Seorang Lelaki dan Selingkuh
Mubaahalah
Attar
Puteri Pualam
_________________________________________
INFORMASI BUKU-BUKU TERBARU SAYA (TERBIT TAHUN 2015)
1. Nun, Pada Sebuah Cermin. Novel, Terbitan Republika.
2. Akik dan Penghimpun Senja. Novel, Terbitan Indiva Media Kreasi.
3. Sayap-Sayap Mawaddah, Non Fiksi Pernikahan, Terbitan Indiva Media Kreas

INFO LENGKAP KARYA AFIFAH AFRA
Pemesanan Online klik SINI atau SMS/WA: 0878.3538.8493


Mau belanja buku-buku Afifah Afra, Asma Nadia, Helvy Tiana Rosa, Sinta Yudisia dan sebagainya dengan harga diskon? Yuk berkunjung ke TOKO BUKU AFRA.

Subscribe to receive free email updates:

4 Responses to "The Most Wanted!"

  1. Cerpen yang sangat mengandalkan dialog dengan bahasa anak muda di zaman itu. Bahasa slank juga bertebaran di sana-sini, belum patuh sama EYD dan tata bahasa yang baku.

    Lebih dari 14 tahun yang lalu. Pasti beda jika kita berproses, mbak ^_^ Jadi pengen lihat cerpenku di kisaran tahun itu juga jadinya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo coba dilihat-lihat dan dibaca-baca lagi cerpen2 kita zaman dulu. Pasti kita akan kaget dibuatnya...

      Delete
  2. Hahaha... konyol ceritanya

    ReplyDelete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!