Ingin Ngomong Sayang, Wedi Karo Bojomu

Hatiku yang resah takkan bisa tenang
Sebelum ku dengar indah suaramu
Tak sabar hatiku ingin menelfonmu
Tapi aku wedi karo bojomu

Berkali-kali, saat menaiki BST (Batik Solo Trans) menuju kantor, saya mendengar lagu ini diputar. Penyanyinya, Ayu Arshita. Bagi Sobat sekalian yang tidak bisa bahasa Jawa, tak perlu cari kamus, karena saya cukup berbaik hati untuk menerjemahkan. Wedi karo bojomu berarti takut pada istrimu (karena yang menyanyi perempuan, berarti istri). Jadi, lagu itu menceritakan tentang seorang perempuan yang jatuh cinta pada suami orang. Dan si suami itu juga suka sama si perempuan. Nah, si perempuan ini dirundung rindu, namun mau menghubungi kekasihnya itu, dia takut kepada istri si kekasih.

Tema dari syair lagu bergenre dangdut koplo ini sebenarnya tak sama sekali baru. Coba deh, ubek-ubek lagu-lagu pop masa kini. Banyak sekali yang temanya bukan lagi cinta yang “sewajarnya”, tetapi cinta gelap. Cinta terlarang. Cinta yang tak semestinya.

Bukan hanya lelaki, para perempuan juga tak sungkan lagi mengeskpresikan “perselingkuhan” dalam lagunya, misalnya pada lagu “Selingkuh Sekali Saja” yang dipopulerkan oleh SHE, “izinkan aku sekali saja, rasakan cinta yang lain… sekali saja, kuingin memeluknya dan cium bibirnya….”

Entah, apa yang ada di benak para seniman, mengapa tema “selingkuh” atau berbagai derivat “cinta terlarang” akhirnya menjadi favorit. Apakah itu merupakan pengalaman pribadi mereka? Atau, efek terlalu mudahnya tergoda, atau keteledoran saat memilih calon pasangan, tidak ditimbang bobot-bibit-bebet, sehingga saat sudah telanjur jadian, barulah terlihat siapa “dia” sebenarnya. Lalu menyesal. Tapi karena tak berani berpisah, lalu memilih selingkuh? 

Oleh karena itu, diam-diam saya respek kepada Fathin Sidqia yang mempopulerkan “Maafkan diriku, memilih setia, meskipun kutahu cintamu lebih besar darinya….”

Ah, Rumitnya Cinta…

Cinta memang perkara yang renik, namun luar biasa rumit. Gelombang cinta seringkali membuat orang seperti kehilangan pegangan. Bukan hanya remaja dan ABG yang kelimpungan saat dilanda badai asmara, bahkan orang-orang dewasa pun “sesak napas.” Banyak orang yang terpapar cinta menjadi tak berdaya, dan karenanya kehilangan akal sehatnya. Ada yang kemudian memilih mengikuti kata hati, namun kita berharap kita semua tetap waras dan menimbang-nimbang risikonya.


Cinta, terkadang memang begitu indah. Banyak pujangga mengatakan, cinta itu anugerah. Tetapi, cinta pada orang yang tak tepat adalah ujian. Dan, pada sebuah kehidupan pernikahan, jatuh cinta lagi kepada orang lain yang bukan pasangan syah kita, adalah sebuah ujian komitmen.


Cinta yang sempurna, khususnya pada suami-istri, kata Robert Stenberg, pencetus teori The Triangular of Love, terbangun atas 3 pilar, yaitu passion (gairah/syahwat), intimacy (keakraban) dan commitment. Pada praktiknya, passion dan intimacy memang sesuatu yang sifatnya naik turun. Akan bertambah dan membara jika diusahakan, akan memudar, menipis dan hilang jika tak dirawat dan dipupuk. Sementara, komitmen sangat bergantung pada kualitas seseorang. Karena, komitmen ini berarti kesediaan untuk bertanggungjawab, melaksanakan kewajiban, dan memberikan hak-hak kepada memang berhak. Gentleman sejati adalah orang yang memiliki komitmen tinggi. Nah, pecundang sejati, jangan berharap dia mau berkomitmen. 
Apalagi, bagi seorang muslim, akad nikah, yang merupakan sebuah pernyataan komitmen untuk hidup bersama dalam ikatan yang syah, memiliki bobot yang luar biasa. 

Pada artikel “Jangan Sepelekan Akad Nikah”, saya membahas bahwa akad nikah adalah sebuah mitsaqon gholidzo, sebuah perjanjian agung yang menggetarkan kolong langit. Pada sebuah peristiwa akad nikah, terjadi sebuah proses ‘serah-terima’ dari wali kepada suami. Seorang wali menyerahkan tanggung jawab perwalian kepada sang suami. Sang calon suami mengikrarkan tanggungjawabnya untuk komitmen menjadi qowwam (pemimpin, pembimbing, ‘guardian’) bagi sang istri. 

Komitmen, seringkali menjadi penyelamat ketika badai rumah tangga menerpa. Banyak para suami atau istri, tetap memilih mempertahankan keutuhan rumah tangga meski tak ada cinta. Inilah rumah tangga yang disebut Stenberg sebagai empty love.  Para suami, tetap bekerja, memberikan nafkah, menjalankan kewajiban. Demikian juga istri, dia berusaha keras melaksanakan kewajibannya. Tetapi, sesungguhnya rumah tangga itu benar-benar hambar.

Selingkuh dan segala jenis cinta terlarang adalah sebuah interaksi cinta minus komitmen. Berkah tak akan muncul dari selingkuh, bagaimanapun dramatisnya, bagaimanapun keindahan melankolik yang dirasa, bagaimanapun penuh warna kenangan yang didapatkannya. Alih-alih meraih kesejatian, dosalah yang akan mengalir kepada pundi-pundi amalnya. Tetapi masalahnya, banyak orang menggelari selingkuh sebagai “dosa terindah”. Waduuuh! Seindah apapun, dosa ya tetap dosa….

Tapi, Jangan Biarkan Rumah Tangga Kita Bertipe “Empty Love”

Biarpun komitmen bisa menolong, jangan abaikan kekuatan cinta. Sekuat apapun komitmen seseorang, jika dia hidup dalam sebuah interaksi yang empty love, sampai kapan dia akan bertahan? Godaan berselingkuh bagi seorang yang tak memiliki cinta pada pasangan yang syah, tentu akan lebih dahsyat. Jadi, cinta pun harus diupayakan.

Bagaimana cara menumbuhkan cinta?

Saya menjawab dalam sebuah puisi pendek yang saya tulis di salah satu buku yang saya tulis bersama Riawani Elyta, Sayap-Sayap Mawaddah sebagai berikut:

Sejatinya, cinta hanyalah perkara
Saling membuka diri
Saling memberi ruang
Untuk sejuta catatan tentangmu
Yang tersimpan di hatiku
Untuk sejuta catatan tentangku
Yang tersimpan di hatimu
Dan tentang waktu khusus yang kita sediakan
Untuk membaca dan memahaminya

Ya, berusahalah untuk saling membuka diri, saling memahami, saling mengerti. Dan untuk itu, berilah waktu khusus. Mari kita jaga rumah tangga. Jangan sampai nanti ada PIL atau WIL lain yang menyanyikan syair “Wedi Karo Bojomu” yang ditujukan pada Anda. (@afifahafra79).

Artikel-Artikel Tentang Keluarga dan SAMARA
Hai Lelaki Hebat, Bangunlah 4 Surga Yang Dirindukan!
Jangan Sepelekan Akad Nikah
Jadi, Apa Sebenarnya Cinta?
Jatuh Cinta Pada Orang Yang Tak Tepat
Ingin Ngomong Sayang, Wedi Karo Bojomu
Setiap Anak Butuh 3 Ibu dan Cukup 1 Ayah
Jatuh Cinta: Tembak-Pacaran vs Lamar-Nikah!
Kutunggu Jandamu, Sebuah Cinta Platonik?
Dijodohin, Siapa Takut?
Menikah Bukan Untuk Bercerai
Cinta Saja Tak Cukup
Cinta Dalam Sesendok Garam

___________________________________________________________________
INFORMASI BUKU-BUKU TERBARU SAYA (TERBIT TAHUN 2015)
1. Nun, Pada Sebuah Cermin. Novel, Terbitan Republika.
2. Akik dan Penghimpun Senja. Novel, Terbitan Indiva Media Kreasi.
3. Sayap-Sayap Mawaddah, Non Fiksi Pernikahan, Terbitan Indiva Media Kreas

INFO LENGKAP KARYA AFIFAH AFRA
Pemesanan Online klik SINI atau SMS/WA: 0878.3538.8493

Mau belanja buku-buku Afifah Afra, Asma Nadia, Helvy Tiana Rosa, Sinta Yudisia dan sebagainya dengan harga diskon? Yuk berkunjung ke TOKO BUKU AFRA.

Subscribe to receive free email updates:

8 Responses to "Ingin Ngomong Sayang, Wedi Karo Bojomu"

  1. Mudah-mudahan bisa terus memperbarui cinta sesuai bilangan usia akad yang terus bertambah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Harus jadi agenda yang serius di-create dan dilaksanakan secara rutin :-)

      Delete
  2. Banyak belajar dari orang tua, teman atau kerabat yang sudah menikah lama. Semoga kelak saya seperti mereka dan gak akan ada wanita yang nyanyi lagu ini ke saya, hehe :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seribu perempuan nyanyi begitu, asal pertahanan diri suami kuat, insyaAllah rumah tangga akan utuh :-)

      Delete
  3. Gimana klo perselingkuhan lalu diakhiri dg pwrnikahan (yg berarti mnghancurkan rmh tangga trdahulu)? Akhirnya mnjadi berkah ga?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Berkah itu diturunkan pada sesuatu yang selaras dengan kehendak-Nya :-)

      Delete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!