Seandainya Hidup Bisa di-Undo

Rama saat usia 3 tahun
Hari itu, matahari terik membakar. Jam dinding menunjukkan pukul 2 siang. Sebenarnya anak-anak sudah terlihat sangat lelah. Maklum, hari itu aktivitas sangat padat. Bangun pagi, ikut acara jalan sehat kampung dalam rangka 17-an. Selesai jalan sehat, mereka latihan drama untuk pentas 17-an. Setelah itu, mereka masih harus menghias sepedanya untuk ikut acara lomba sepeda hias yang akan dilakukan jam 16.00 hari itu juga.  Padahal, malam harinya, mereka akan pentas drama.

Sebenarnya, tak ada yang memaksa mereka mengikuti semua kegiatan tersebut. Tetapi, namanya anak-anak, ketika melihat teman-temannya bersemangat mengikuti semua acara, semangat mereka ikut terbakar. Apalagi, acara demi acara yang digelar panitia 17-an di kampung adalah acara-acara yang sangat mereka sukai.

“Kalau capek, ndak usah terlalu banyak hiasannya, Mas Rama...,” ujarku, pada anak nomor dua yang masih asyik menempel-nempelkan kertas warna-warni di sepedanya. 
Anak itu tampak agak frustasi melihat hiasannya tak seperti yang dia kehendaki. Lalu, spontan saja dia berkata, “Sayangnya nggak bisa di-control Z ya, Mi...,” sambil mengucapkan hal tersebut, dia mengusap peluh. “Aku pengin ngulang semua hiasan ini dengan cepat....”
“Apa?” tanya saya, tak terlalu jelas dengan maksudnya.
Control Z, Mi... undo.”

Kutatap Rama dengan sedikit terperangah. Bukan apa-apa. Saya hanya kaget, karena pernah bertahun-tahun silam, saat saya masih lajang, saya terkena serangan “undo-syndrome” seperti yang terjadi pada Rama. Saat itu, saya menghadapi berbagai problem agak serius, dan problem-problem itu terjadi karena kesalahan saya dalam melangkah. Lalu, yang terbetik di benak saya saat itu adalah simbol UNDO. Dan, hal itu berlangsung berkali-kali. Ketika saya merasa salah melangkah, mendadak saja saya teringat tombol itu.

Mungkin karena saya memang termasuk orang yang menghabiskan begitu banyak waktu di komputer. Dalam sehari, saya bisa 14 jam atau lebih berkutat dengan komputer. Ternyata, pola hidup saya dalam keseharian dipengaruhi sekali oleh pola komputer. Misal, saya termasuk orang yang sangat rapi dalam menata file folder. Semua kategori saya beri folder khusus, dengan kode yang mudah diingat. Maka, dalam kehidupan sehari-hari, saya suka pusing dan stres sendiri jika melihat ada segala sesuatu yang terlihat berantakan.

Tetapi, saya dengan cepat menyadari kejanggalan saya itu. Hidup jelas berbeda dengan komputer.  Tak ada solusi instan dalam kehidupan, yang bisa memutar segala sesuatu dengan cepat. Tak ada tombol UNDO, sehingga segala sesuatu harus dipikirkan dengan matang-matang. Akan tetapi, kalaupun tetap salah melangkah, pantang untuk menyesali segala yang telah terjadi. Nasi boleh menjadi bubur, tetapi bubur tak perlu dibuang. Bisa ditambah bumbu, daging, jadilah bubur ayam.
Sama dengan saya, Rama, meski baru berusia hampir 9 tahun, juga sangat suka komputer. Dia suka menggambar dengan corelDRAW dan photoshop, belajar secara otodidak. Kemampuan dia dalam penguasaan komputer termasuk sangat bagus untuk anak-anak seusianya.

“Nak, kehidupan itu tak seperti saat kau bermain komputer. Kehidupan itu sesuatu yang sangat tidak bisa diperkirakan. Terkadang, sesuatu yang telah kita rencanakan saja belum tentu terwujud, apalagi yang belum terencanakan. Sebaiknya kau tambahi saja hiasan-hiasan tersebut dengan yang lain. Atau, kalau mungkin, kau bisa copot satu-satu. Jangan malas! Kau harus sabar, ya... Ingat, saat kau salah melangkah dan tombol UNDO tiba-tiba kau pikirkan, tepis itu jauh-jauh. Kau harus belajar menerima realita, menerima akibat dari apa yang telah kita lakukan. Jangan lari dari masalah. Hadapi!”

Mungkin Anda heran, bahasa yang saya pakai mungkin agak “ketinggian” untuk anak-anak seusia itu, ya? Tetapi, saya memang terbiasa berkomunikasi dengan cara seperti itu, dan sejauh ini mereka mengerti.

Namun, tentu saja permasalahan Rama ini menjadi PR serius buat saya dan suami. Kami tidak ingin otak anak-anak mengkopi sistem komputer yang serba instan, pragmatis dan senang dengan shortcut alias jalan pintas. Bahaya sekali... ya bahaya. Sebab, hidup memang bukan komputer. Hidup ini kompleks, unpredictable, penuh dengan kelit kelindan permasalahan dan sulit dipaparkan dengan algoritma yang serbalogis.

Akhirnya, kami membatasi anak-anak menggunakan komputer, dan mencoba mengarahkan anak-anak untuk lebih banyak beraktivitas yang tidak melibatkan mesin, misal bersepeda, main lego, berkebun, main di alam (saat hari libur) atau bergaul dengan anak-anak tetangga. Alhamdulillah, saya telah mendirikan sebuah sanggar seni untuk anak-anak kampung, dan Rama termasuk yang sangat excited mengikutinya. Tetapi, saya tahu, UNDO Syndrome tentu butuh waktu untuk menghilangkannya. Dalam hal inilah, saya dan suami harus lebih banyak memberikan pendampingan untuknya. (@afifahafra79).

_________________________________________________________________
INFORMASI BUKU-BUKU TERBARU SAYA (TERBIT TAHUN 2015)
1. Nun, Pada Sebuah Cermin. Novel, Terbitan Republika.
2. Akik dan Penghimpun Senja. Novel, Terbitan Indiva Media Kreasi.
3. Sayap-Sayap Mawaddah, Non Fiksi Pernikahan, Terbitan Indiva Media Kreas

INFO LENGKAP KARYA AFIFAH AFRA
Pemesanan Online klik SINI atau SMS/WA: 0878.3538.8493

Subscribe to receive free email updates:

4 Responses to "Seandainya Hidup Bisa di-Undo"

  1. Saya juga membatasi anak-anak pegang komputer, saya mengaktifkan mereka ke kegiatan fisik untuk mendukung pertumbuhan. Motorik halusnya yang masih kurang diasah, kalau motorik kasar, anak-anak sudah sip (menurut saya). Dan ... saya baru tahu ada undo syndrome ... Terima kasih share-nya, Mbak. Saya malah baru kepikir undo-undoan sejak baca artikel ini, termasuk type orang yang tidak mau menyalahkan masa lalu ... halah ... panjang amat komentarnya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. "Undo Syndrome" (pakai tanda petik, yaa hehe), itu istilah yang saya ciptakan sendiri. Entah itu ada beneran atau tidak, hehe.

      Delete
  2. Aku juga pernah tuh ngerasa seperti itu, pengen balik lagi mengulang biar bisa melewati kesalahan. Tapi kalo dipikir lagi, kita gak akan pernah belajar apapun kalo gak pernah membuat kesalahan :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya betul... secara otomatis, kita pasti akan berpikir seperti itu...

      Delete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!