Strategi Membangun Brand Awareness dengan Segmentation-Targeting-Positioning

Strategi membangun brand awareness

Mari kita lanjutkan pembahasan tentang Strategi Membangun Brand Awareness. Sedikit pengantar sudah saya sampaikan di artikel pertama Strategi Membangun Brand Awareness #1 ya, silakan Anda baca lagi jika belum jelas. Di bagian tersebut, saya menuliskan bahwa strategi membangun brand awareness yang pertama adalah menciptakan INOVASI PRODUK, yang membuat produk kita menjadi beda dengan pesaing. Bagi yang bergerak di bidang jasa, berarti inovasi jasa.

Mungkin pernyataan tersebut terlalu klasik ya? Inovasi memang mudah diomongkan, tetapi sulit dipraktikkan. Terus, inovasi itu dilakukan mulai darimana? Atau, jika kita hendak memasuki (atau sudah memasuki, tetapi belum terarah) sebuah persaingan usaha, apa yang semestinya kita lakukan agar produk/jasa kita bisa beda dengan pesaing?

Satu kesalahan besar yang dilakukan oleh seorang produsen adalah membuat suatu produk tanpa menganalisis pasar terlebih dahulu. Terkadang, hanya karena kita merasa mampu melakukan sesuatu. Misal, Anda bisa nulis, Anda punya duit, lalu Anda memutuskan bikin penerbit. Anda tulis buku Anda sendiri, lalu diterbikan sendiri, dan dicetak 10.000 eksemplar (misalnya karena Anda baru dapat warisan, hehe). Kenapa banyak? Ya biar efisien. Kan kalau cetak buku, semakin banyak cetaknya, biaya per eksemplar semakin sedikit. Lalu, Anda melongo karena 10.000 eksemplar itu ternyata teronggok begitu saja di gudang, dan hanya sedikit yang mampu ditukar dalam bentuk uang. Atau, Anda merasa bisa membuat kue X, lalu Anda bikin sebanyak-banyaknya, dan Anda jual di toko-toko. Betapa ngenesnya, karena ternyata sebagian besar kue Anda tidak laku.

Dalam ilmu marketing, kita mengenal semacam strategi STP. STP ini bukan susu-telur-paru goreng (wah, ngarang banget nih akronimnya, xixixi), tapi Segmentatiton-Targeting-Positioning. STP, bagusnya dilakukan saat awal-awal kita membuka sebuah usaha, atau mau melakukan perluasan usaha. Tetapi, kalau usaha Anda yang sudah berjalan terasa stagnan, atau malah rugi terus, tak ada salahnya kita lakukan STP ulang. Terlebih, jika Anda tak pernah melakukan analisis STP ini.

Segmentation, apa itu? Ya, pada langkah pertama ini, kita kudu berusaha melakukan pemetaan pasar. Kita bisa memilah-milah konsumen berdasarkan geografis (wilayah, ukuran kota, kepadatan penduduk, iklim dll), demografis (ras, usia, pekerjaan, seks, penghasilan, pendidikan, agama dll), psikografis (gaya hidup, kepribadian, dll), dan juga perilaku konsumen (sikap terhadap produk, kesetiaan, tingkat pemakaian dll). 

Segmentasi ini penting, karena dalam pasar modern, kita perlu menciptakan pasar yang homogen. Yup, gampangnya, semakin homogen, kita akan semakin mudah melakukan upaya promosi dan branding. Misal, segmen kita adalah anak, kita pasti akan memilih promosi di event-event yang berkaitan dengan anak. Nyetatus di socmed-nya juga bisa dibatasi pada status tentang anak.

Setelah melakukan segmentasi, lalukan targeting, yaitu menetapkan satu satu segmen tunggal atau lebih (tapi jangan banyak-banyak) segmen yang ingin Anda masuki. Tentu saja semua didasarkan pada kemampuan atau kekuatan yang Anda miliki. Misal, Anda mau jadi penulis novel romance, Anda pasti akan memilih target pembaca semacam ini, misal: perempuan, usia 25-30 tahun,  biasanya masih lajang atau sudah mulai berkeluarga tetapi masih keluarga muda, pekerjaan mulai mapan dengan penghasilan di atas UMR, tinggal di perkotaan, suka fashion, akrab dengan gadget, senang gonta-ganti sepatu dan baju, rata-rata senang dengan cowok tampan, wangi, berdasi, dan setia sampai mati. Secara psikologis mereka senang dengan dunia mimpi, nggak mau berpikir rumit, dan sebagainya. 

Berkonsentrasilah secara penuh dalam target yang hendak Anda bidik. Pelajari perilaku mereka sedetil-detilnya. Lakukan spesialisasi secara selektif, spesialisasi produk dan juga spesialisasi pasar.  
Nah dalam targeting ini, kita kudu pintar juga mengalokasikan sumber daya yang dimiliki secara efisien dan efektif. Kekuatan kita dalam berkompetisi harus menjadi pertimbangan utama. Jika kita memang kuat secara modal, mampu membangun jaringan yang besar, dan yakin bahwa produk kita dibutuhkan banyak orang, kita bisa pilih segmen yang lebih besar, dengan strategi mass-market-strategy. Anda membuat produk secara massal, lalu membuka jaringan seluas-luasnya, dan promosi dan branding yang gede. 

Ini terlihat dari bagaimana saat mie Sedaap mulai masuk ke pasar. Meskipun produsen mie Sedaap, yakni Wings awalnya adalah produsen bahan-bahan semacam sabun, tetapi mereka memiliki saluran distribusi yang sangat luas. Saluran itulah yang kemudian digunakan untuk mendistribusikan mie Sedaap. Konon, distribusi Mie Sedaap juga masuk lewat sales Djarum, karena Martin Hartono (anak bos Djarum, Budi Hartono), menikah dengan Grace L. Katuari (anak bos Wings, Eddy W. Katuari). Mereka juga mengalokasikan dana promosi untuk menguatkan brand awareness sangat besar, dengan bintang iklan mereka PADI, grup yang pada awal tahun 2000-an sedang ngetop-ngetopnya.

Modal cupet, dan Anda punya kemampuan yang khusus (spesialisasi)? Pilihlah Niche Market Strategy (strategi pasar “ceruk”).  Apa itu ceruk? Coba lihat di pantai! Selain lautan luas dengan begitu banyak predator, biasanya kita melihat ada cekungan karang dengan air yang selalu mengalir dari celah bebatuan. Lalu tinggalah di sana dengan nyaman dan aman satu keluarga kepiting. Mereka tak takut dengan ancaman predator, karena mereka memiliki ceruk sendiri yang nyaman dan aman. Itu contoh ceruk, atau relung, bahasa kerennya NICHE.

Karena saya termasuk dalam kategori ini, saya memilih strategi ini dalam memasarkan produk-produk saya. Jika Anda seorang penulis, tampaknya trategi ini paling pas buat Anda. Kecuali jika Anda adalah penulis top of mind in brand awareness semacam Tere Liye, Andrea Hirata dan sebagainya. Kapan-kapan, Niche Market Strategy akan saya bahas secara khusus. Kalau saya lupa, tolong ingatkan, ya!

Selain dua srategi tersebut, sebenarnya ada strategi Concentrated Marketing Strategy. Strategi ini adalah ketika modal cupet, dan kita tak punya spesialisasi atau kekhasan tersendiri. Kita bisa eksis dengan mengalokasikan sumber daya di pasar yang terkonsentrasi, dan jauh dari perusahaan-perusahaan besar. Misal, kita mengembangkan market lokal, yang kebetulan belum tersentuh jaringan distribusi perusahaan besar.

Target sudah dibidik, sekarang, lalukan positioning, yaitu dengan cara pintar-pintar mengomunikasikan, posisi produk kita kepada konsumen, apa keunggulan dan kekhasannya dibanding produk lain. Jadi, tujuan utama dari positioning adalah konsumen tahu bahwa produk kita berbeda dengan rival (differents)—dalam artian value-nya lebih baik, dan kita harus mampu meyakinkan apa keuntungan (advantages) dan manfaat (benefit) yang akan didapatkan konsumen jika mengonsumsi produk kita.

Nah, Sobat sekalian, STP strategy ini akan membuat produk kita berbeda, khas dan unggul. Dengan STP yang tepat, pembentukan brand awareness juga akan lebih mudah.
Selanjutnya, kita akan bahas strategi selanjutnya dalam membentuk brand awareness, yaitu IDENTITAS BRAND/MERK yang tepat. Kita bahas di tulisan selanjutnya aja ya… capek nih :-)

BERSAMBUNG.

________________________________________________________
INFORMASI BUKU-BUKU TERBARU SAYA (TERBIT TAHUN 2015)
1. Nun, Pada Sebuah Cermin. Novel, Terbitan Republika.
2. Akik dan Penghimpun Senja. Novel, Terbitan Indiva Media Kreasi.
3. Sayap-Sayap Mawaddah, Non Fiksi Pernikahan, Terbitan Indiva Media Kreasi

Pemesanan Online klik SINI atau SMS/WA: 0878.3538.8493


Subscribe to receive free email updates:

5 Responses to "Strategi Membangun Brand Awareness dengan Segmentation-Targeting-Positioning"

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!