Begini, Lho... Etika Blogger

Di suatu pagi, saya dikagetkan dengan kasus digerebeknya Arzetti Bilbina saat tengah (konon) berduaan dengan seorang pria di kamar hotel. Cukup bisa dibayangkan, bahwa dengan cepat kasus Arzetti menyantap habis nyaris seluruh pemberitaan di ruang publik. Bayangkan, mantan model, politisi, pakai jilbab pula. Ditangkap polisi saat tengah berduaan dengan seorang perwira ganteng di kamar hotel. Sensasional! 

Hiruk pikuk pemberitaan seputar Arzetti membuat orang lupa, bahwa tanggal tersebut, 27 Oktober,  juga merupakan hari yang penting. Khususnya buat para Blogger. Ya, 27 Oktober adalah Hari Blogger Nasional (HBN). Dibarenginya secara tak sengaja tentunya, peringatan Hari Blogger Nasional dengan berita tentang Arzetti, kira-kira siapa yang akan berminat mewartakan peristiwa HBN kepada publik? Jikapun ada pemberitaan di media mainstream, paling hanya secuil. Benar-benar tak ada sensasinya dibandingkan pergunjingan soal Arzetti yang tak habis-habisnya.

Ops, ini sebenarnya pangkal kebingungan saya. Sekarang ini, saya amati media-media mainstream—khususnya divisi online-nya, yang dulu masih “jaim”, kini sudah tak malu-malu lagi mengangkat isu-isu yang sebenarnya lebih tepat menjadi konsumsi media-media gosip. Apakah tuntutan rating? Adakah yang bisa jawab?

Kembali ke pembahasan di atas, ya… Untungnya, nih, blogger memiliki media sendiri. Meski masih numpang gratisan, toh nyata-nyatanya banyak blog yang terkelola dengan baik, dan ratingnya tak kalah dengan media-media yang dikelola secara profesional. Nah, sebagai salah seorang Blogger, saya pastinya punya kewajiban juga dong, memosting sesuatu yang bertema HBN.

Asal-Usul HBN
Blog, sebenarnya berasal dari kata web log, yang mulai diperkenalkan pada tahun 1999. Istilah web log ini kemudian kemudian lebih dikenal sebagai “blog” saja. Oleh Kaplan dan Haenlein (2010) blog disebut sebagai “open diary”, karena para blogger biasanya memosting segala sesuatu dengan gaya pribadi sebagaimana sebuah diari. 

Sarana ngeblog pertama kali diperkenalkan oleh www.blogger.com, yang awalnya dimiliki oleh PyraLab, namun pada 2002 diakuisisi oleh Google. Saya sendiri, ngeblog pertama kali pada tahun 2008, saat itu menggunakan Multiply. Pada tahun 2009, saya mulai membuka akun di www.blogger.com yakni akun ini, yang alhamdulillah masih terus bertahan hinggsa sekarang ini. Kalau akun Multiply-nya sendiri, sudah lama "tewas terkubur" berbarengan dengan wafatnya Multiply. 

Nah, mengapa 27 Oktober diperingati sebagai Hari Blogger Nasional? Peristiwa ini berawal dari pertemuan para blogger pada Pesta Blogger 2007, tepatnya pada 27 Oktober 2007. Lantas, oleh Menteri Komunikasi dan Informatika RI saat itu, Muhammad Nuh, 27 Oktober ditetapkan sebagai Hari Blogger Nasional. Jadi, dibandingkan dengan hari-hari bersejarah lain, HBN ini masih imut sekali, ya. Maklum, teknologi blog yang dikembangkan dari platform internet 2.0 kan memang juga masih unyu-unyu.

Tiga Etika Blogger
Menjadi seorang blogger, bagi saya bukan perkara main-main. Meski saya tak terlalu konsen di ajang-ajang per-bloggeran, jarang mengikuti ajang-ajang perlombaan blog, saya serius, lho, menggarap blog saya ini. Bagi saya, kemajuan teknologi yang memungkinkan seseorang bisa mempublikasikan pemikirannya dengan cara yang relatif mudah, adalah sebuah keuntungan besar, sekaligus juga sebuah tantangan. 

Bagaimana agar kita bisa menjadi blogger yang bermanfaat untuk umat? Menurut saya, paling tidak, ada tiga hal yang harus kita penuhi.

Pertama, berseriuslah dengan konten. Kata Bill Gates, content is the king! Aplikasi bisa bermacam-macam, platform bisa beraneka ragam. Kita bisa nulis menggunakan daun, batu, kulit kayu, kertas, gawai atau apapun. Tentunya tergantung zaman. Akan tetapi, konten selalu menjadi yang utama. Sebagai raja. Sebagus apapun kau menawarkan aplikasi, sepraktis dan secanggih apapun, kau akan ditinggalkan jika abai terhadap konten. Meskipun kau seorang Master SEO, canggih mengotak-atik blog sehingga postingmu selalu menempati halaman pertama hasil pencarian Search Engine, tanpa konten berkualitas, postingmu tak akan dilirik orang.

Era gadget adalah era kemudahan. Bayangkan, jika dahulu Mulawarman atau Syailendra harus menatah batu agar bisa membubuhkan prasasti untuk mendokumentasikan sejarah, sekarang, sambil leha-leha di jok mobil yang nyaman, kita bisa mengetik tulisan untuk kemudian dipublikasikan dan beberapa menit kemudian tulisan tersebut bisa dibaca jutaan orang. Dengan kemudahan-kemudahan itu, bisakah kita serius memperbaiki konten-konten tulisan kita? 

Okelah… seorang blogger mungkin tidak terlalu dituntut berbahasa gaya “langitan” sebagaimana saat menulis esai atau opini di media massa, atau bersastra indah sebagaimana saat menulis roman. Perkataan “gue” terkadang lebih nyaman di mata seorang blogger ketimbang kata “saya”. Curhat gaya emak-emak, konon juga lebih disenangi ketimbang analisis njelimat yang pernuh dengan data-data yang bikin kening berkerut. 

Well, ngeblog itu santai… jadi jangan dibebani dengan kalimat-kalimat berat yang nyastra. Namun begitu, konten sebuah posting juga jangan disepelekan. Mari kita terus menerus memperkaya otak kita dengan berbagai informasi, keilmuan dan hal-hal yang baru, sehingga posting-posting yang kita hasilkan pun berkualitas, sesantai apapun bahasa kita.

Kedua, jadikan ngeblog sebagai sarana kita menyumbang peran sebagai part of solution, bukan malah part of problem. Dengan terbukanya saluran-saluran komunikasi, saat ini orang bebas mengungkapkan opini di ruang publik. Alih-alih memberi solusi, terkadang kita malah menambah berat permasalahan yang sudah ada dengan caci-maki, fitnah, ghibah dan aneka opini yang kontraproduktif. Jangan sampai blog kita yang sudah kita kelola dengan baik, ternyata lebih layak masuk kategori "sampah digital" karena tidak berkualitas alias abal-abal.

Ketiga, mari kita berbagai informasi yang baik dan benar secara baik dan benar pula. Konon, di jagad media berlaku idiom bad news is good news. Karena itu, jika ada berita negatif, biasanya berita itu digeber habis. Sementara, berita-berita bagus, biasanya sepi dari publikasi. Karena itu, banyak orang yang ingin populer secara instan, sering menempuh aktivitas-aktivitas yang tak masuk akal. Ada pepatah Arab yang artinya kurang lebih begini: "Mau terkenal? Kencingi saja air zam-zam."

Bagi saya, good news ya good news, bad news ya bad news. Dan blogger yang baik, menurut saya adalah blogger yang banyak memberi peran dalam memotivasi masyarakat kepada kebaikan, bukan yang hobi mem-festivalisasi sesuatu yang remeh menjadi hal-hal yang besar dan tampak penting. Blogger itu aslinya citizen journalist kok... makanya independen. Nggak terbeban pada pesan-pesan sponsor (kecuali blogger yang juga buzzer), nggak harus ikut tuntutan pemilik modal untuk berorientasi pada provit. Dengan independensinya, serta dorongan hati nurani sangat menulis, blogger sangat berpeluang membangun sebuah atmosfer informasi yang sehat dan manis.

Kasus Arzetti dan Tantangan Blogger
Nah, sekali lagi saya ungkit, peristiwa penggerebekan Arzetti Bilbina, yang ternyata berbarengan dengan Hari Blogger Nasional. Bagi saya, dalam kasus-kasus semacam ini, blogger ditantang untuk "mendidik masyarakart" bagaimana seharusnya kita bersikap. Menebar prasangka baik, bagi saya adalah sikap paling tepat yang seharusnya kita pilih. Mari jadikan blogging sebagai sarana untuk mengkampanyekan budaya ber-positif thinking.

Saya tidak terlalu tahu siapa Arzetti Bilbina. Tak terlalu mengerti karakter dan kiprahnya. Saya hanya tahu dia pernah menjadi model dan kini menjadi politisi. Dia juga sering terlihat berkerudung. Lantas, mendadak dia dikabarkan digerebek sedang berduaan dengan seorang perwira di hotel. Hm... saya tidak sedang hendak membela Arzetti. Saya hanya sedang memperingatkan Sobat sekalian: mari berhati-hati!

Apa arus yang berputar di kasus ini? Tuduhan selingkuh. Dan mungkin nantinya akan mengarah ke tuduhan zina. Tuduhan zina itu dalam agama Islam sangat serius, lho. Untuk dihukumi zina, ada persyaratan yang sangat ketat. Seorang hakim harus mendapatkan kesaksian dari empat lelaki dewasa yang melihat sendiri perzinaan itu, atau mendapat pengakuan dari pelaku zina itu sendiri.  Konon, dari sekitar 500-an tahun lebih Daulah Ustmani berkuasa di Turki, hukum zina hanya dijatuhkan sekitar dua kali saja.Sementara, menuduh seseorang berbuat zina (qadzaf), jika ternyata tuduhan tidak terbukti, juga akan membuat si penuduh menerima hukuman yang tak kalah keras.

Hal ini tersebut dalam Al-Quran yang artinya: “Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya, dan mereka Itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nuur : 4)

Bukan sedang membandingkan... namun ingat tidak, Aisyah r.a. pernah dituduh berzina dengan seorang sahabat. Pada sebuah perjalanan, Aisyah terpisah dari rombongan. Lalu dia ditemukan oleh sahabat tersebut. Mereka pulang. Berdua saja! Madinah geger. Bahkan Rasulullah pun sempat risau. Namun, akhirnya nama baik Aisyah dibersihkan... langsung oleh Allah SWT lewat ayat Al-Quran yang mulia.

Hati-hati menyebarkan kabar yang kita tidak terlalu mengerti kebenarannya. Andai memang Arzetti seperti itu, kita tak akan berdosa karena berprasangka baik. Andai salah? Ini fatal.

Saya sangat yakin, bahwa kisah-kisah seperti Arzetti ini akan terulang dan terus terulang. Bisa jadi kisah itu benar, tetapi juga sangat terbuka kemungkinan kisah-kisah semacam ini sengaja diskenario untuk menjatuhkan reputasi seseorang. Sejak zaman purba, politik telah menjadi panggung penuh intrik. Seringkali pula, alih-alih menjadi pilar penjaga kebenaran, media mainstream justru menjadi alat propaganda penguasa.

Ingatkah Anda dengan teori argentum ad nausem alias teori Kebohongan Besar (Big Lie) dari sang propagandis Nazi, Joseph Goebbels? Kata Goebbels, kebohongan yang dikatakan seribu kali sebagai kebenaran, maka akan jadi kebenaran. Bagaimana cara agar kebohongan itu meluas? Gunakan media massa, siarkan sesering mungkin hingga kemudian kebohongan tersebut dianggap sebagai suatu kebenaran. Meski teori terdengar naïf dan “jahat”, pada kenyataannya, teori itu membuat Nazi Jerman sukses besar mendulang dukungan. Dan saat ini pun, pengikut teori ini sangat banyak, lho!

Menuliskan sesuatu secara baik, dengan sudut padang positif, di zaman penuh fitnah ini, seringkali jauh lebih mulia. Jika memang sulit, diam tentu lebih baik. Sebagai seorang blogger, mari kita menjadi yang terdepan dalam mempelopori hal ini. Setuju?

_________________________________________________________
Paket Hemat
1. Nun, Pada Sebuah Cermin. Novel, Terbitan Republika.
2. Akik dan Penghimpun Senja. Novel, Terbitan Indiva Media Kreasi.
3. Mei Hwa & Sang Pelintas Zaman
4. Kesturi dan Kepodang Kuning

INFO LENGKAP KARYA AFIFAH AFRA
Pemesanan Online klik SINI atau SMS/WA: 0878.3538.8493

Mau belanja buku-buku Afifah Afra, Asma Nadia, Helvy Tiana Rosa, Sinta Yudisia dan sebagainya dengan harga diskon? Yuk berkunjung ke TOKO BUKU AFRA.

Subscribe to receive free email updates:

27 Responses to "Begini, Lho... Etika Blogger"

  1. Malam-malam buka televisi berlambang merah sedang memberitakan Arzetti. Bukan acara gosip tapi di acara berita. Kaget. Apa acara berita sekarang kualitasnya remah-remah begitu ya. Prihatin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jadi mirip koran-koran "kuning" ya... hehe.

      Delete
  2. Saya sering mengikuti tulisan bunda...
    tulisan kali ini benar-benar menyehatkan wawasan saya terhadap dunia blog, karena saya baru setahun aktif di blog. Terimakasih atas ilmu dan pencerahannya Bunda :-)

    ReplyDelete
  3. Saya sering mengikuti tulisan bunda...
    tulisan kali ini benar-benar menyehatkan wawasan saya terhadap dunia blog, karena saya baru setahun aktif di blog. Terimakasih atas ilmu dan pencerahannya Bunda :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama, Muthmainnah... semoga tulisan ini memberi manfaat dan berkah :-)

      Delete
  4. Replies
    1. Selamat hari blogger juga mas... meski telat sehari hehe

      Delete
  5. setuju dengan kalimat penutup artikel ini, Mbak Yeni Afifah Afra :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, tetapi sulit emang menahan "syahwat" bicara hehe, khususnya wanita, yang konon emang makhluk verbal.

      Delete
  6. Iyah mbak. well noted. Selamat Hari Blogger :)

    ReplyDelete
  7. Untuk para blogger, tulisan ini masuk kategori must read. Terima kasih sudah menuliskan ini, Mbak. :)
    Salam takzim.

    ReplyDelete
  8. Tulisannya bermanfaat dan mencerahkan mb 😊

    Selamat hari blogger semuanyaaa 👏

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih, Dhevrina... selamat hari blogger juga :-)

      Delete
  9. bad news is bad news, good news is good news.
    Mari menjadi part solution, BUKAN part of problem *NOTED*

    ReplyDelete
  10. Selamat Hari Blogger, Bunda
    Terima kasih banyak untuk info dan tipsnya ya, Bunda. bermanfaat sekali ini triknya. sebagai blogger pemula, wajib tahu, dan mempraktekkan seperti apa yang bunda tuturkan di atas.
    Salam Kenal, Bunda... ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah... sama2, Rohma
      Terimkasih telah berkunjung

      Delete
  11. Tau berita itu tadi pas di fotocopyan mbk, di rumah chanel TV cuma 1 yang bagus hihihi gak tau berita itu deh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya malah sudah lama "memuseumkan" TV. Ada TV 14 inchi yg dibeli 12 tahun silam, tapi juaraaang disetel. Anak2 juga gak terlalu suka nonton TV hehe

      Delete
  12. "Sementara, menuduh seseorang berbuat zina (qadzaf) jika terbukti, juga akan membuat si penuduh menerima hukuman yang tak kalah keras."

    sepertinya kurang kata "tidak" setelah "jika", Mbak. Afwan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oiya... terimakasih atas koreksinya.
      Sudah saya edit :-)

      Delete
  13. Segaris sama peraturannya. Tapi kagak ngeblog-ngeblog. XD

    ReplyDelete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!