Sumpah Pemuda: Satu Tekad Melawan Asap

“Riau itu, atas minyak, bawah minyak, tengah alamaaak!”

Ucapan itu saya dengar dari seorang sahabat, saat saya berkunjung ke Pekanbaru, beberapa tahun silam. Maksud dari perkataan itu sangat jelas. Kedalaman tanah Riau menghasilkan minyak bumi melimpah, sementara di atas bumi, kelapa sawit membuahkan minyak pula, akan tetapi yang di tengah-tengah (yakni masyarakatnya), hidup tak sejahtera. 

Bukan saja tak sejahtera, sejak bulan Juli 2015 hingga saat ini, masyarakat Riau bahkan harus menjalani hidup ala korban genosida NAZI Jerman. Jika korban genosida NAZI menghirup gas racun yang disebarkan oleh musuh, maka di Riau, mereka harus menghisap udara yang pekat oleh asap yang disebabkan oleh kebakaran hutan selama berbulan-bulan. Menurut beberapa penelitian, ternyata asap yang menyeliputi langit Riau juga mengandung racun. Lengkap sudah penderitaan masyarakat Riau!

Selain Riau, yang memang telah “langganan” menghirup asap sejak puluhan tahun silam, kebakaran hutan tahun ini meluas hingga ke Jambi, Sumatera Selatan, bahkan juga Kalimantan dan Sulawesi. Negara tetangga pun ikut menanggung dampak asap, meski tentu tak separah pusat-pusat kebakaran.

Tak Sekadar Fenomena El-Nino
Banyak kalangan menyebut bahwa kebakaran hutan yang berlarut-larut dan menyebar kemana-mana disebabkan karena fenomena El-Nino, suatu gejala penyimpangan kondisi laut yang ditandai dengan meningkatnya suhu permukaan laut. El Nino bisa menyebabkan kemarau bertambah panjang, karena suhu hangat menghalangi terbentuknya awan-awan hujan.  Menurut BMKG, fenomena El-Nino akan berlanjut hingga bulan November ke depan. Ramalan ini tentu membuat kita semakin cemas dengan nasib jutaan manusia yang masih terkepung asap dari kebakaran hutan.

Akan tetapi, sebuah fakta yang mencengangkan diungkap oleh Walhi, bahwa kebakaran itu selain karena pengaruh musim, ternyata juga disengaja. Tujuannya, selain membersihkan lahan secara efisien, Walhi Sumatera Selatan juga mengungkap modus asuransi. Sebagian besar lahan yang terbakar, ternyata merupakan lahan-lahan kelapa sawit, atau hutan yang dibuka untuk ditanami kelapa sawit.  Menurut peneliti dari Center for International Forestry Research (CIFOR) Herry Purnomo, pembersihan lahan secara manual membutuhkan biaya sekitar $200 per hektar, sementara pembersihan lahan dengan cara dibakar, hanya membutuhkan $ 10-20 per hektar. (sumber dari sini). Lahan yang dibersihkan dengan cara dibakar itu, kebanyakan adalah untuk perkebunan kepala sawit. 

Perkebunan kelapa sawit memang bisnis yang menggiurkan. Indonesia termasuk dalam kelompok negara pengekspor Crude Palm Oil (CPO) terbesar di dunia. CPO dibeli dengan mata uang dolar, sehingga saat dolar menguat seperti saat ini, bisnis CPO dari kelapa sawit justru semakin bergeliat. Bisnis kelapa sawit, saat ini disebut-sebut sebagai investasi terbaik. Terlebih, setelah berbagai korporasi besar pun melirik sektor ini dan bahkan menjadi raksasa-raksasa dunia yang memberikan andil besar terhadap ketersediaan CPO di dunia. Indonesia dan Malaysia, adalah penyumbang 85-90% dari total produksi kelapa sawit dunia. Bahkan menurut data dari BPS, pada tahun 2014, Indonesia bahkan menjadi negara pengekspor CPO terbesar di dunia, yakni sebesar 33 juta ton metrik, disusul Malaysia sebesar 19,8 juta ton metrik, dan peringkat 3 dipegang Thailand yang terpaut sangat jauh, yakni hanya 2 juta ton metric.

Sumpah Melawan Asap
Maka, peringatan 87 Tahun Sumpah Pemuda kali ini berada dalam nuansa keprihatinan, yakni terjadinya musibah asap. Generasi muda, mestinya tak berdiam diri melihat berbagai kerusakan terjadi di negeri ini. Hanya karena mengejar dolar, orang-orang rakus membabat hutan-hutan, flora-fauna dimusnahkan, dan bahkan masyarakat luas harus menanggung akibat yang tak ringan. Lebih dari itu, pemanasan global pun akan menjadi ancaman serius. Kelangsungan hidup penduduk bumi menjadi taruhan.

Gejala El-Nino tidak bisa menjadi legitimasi, sebab faktanya, sejak 1950, menurut BMKG, telah terjadi 22 kali fenomena El-Nino, dan ternyata kebakaran yang berefek sangat luas dan lama baru terjadi saat ini. Masalah human error adalah masalah yang harus ditangani. Para pemuda, baik yang tergabung dalam organisasi mahasiswa, pramuka/kepanduan, pelajar, santri, organisasi keagamaan, Jong Aceh hingga Jong Papua, harus bersatu padu melawan fenomena perusakan bumi. Apa saja yang perlu dilakukan?

Pertama, sesuatu yang bersifat jangka pendek, yakni melakukan upaya langsung untuk melawan asap. Misal dengan menggiatkan donasi oksigen, masker dan biaya pengobatan korban asap; terjun langsung ke lokasi (jika memungkinkan) dan ikut memadamkan api; serta mendesak pemerintah sebagai pihak yang paling berwenang, untuk melakukan upaya terbaik dalam usaha memadamkan kebakaran hutan dan menanggulangi korban asap.

Kedua, ini bersifat jangka menengah atau panjang, yakni menekan pemerintah yang berkuasa untuk benar-benar melakukan regulasi yang ketat dalam kasus-kasus pembukaan lahan perkebunan, khususnya kelapa sawit. Pengalihan hutan menjadi lahan harus dibatasi, dan hutan-hutan yang sudah ada dibiarkan tetap alami dengan tanaman yang cocok sesuai dengan kondisi hutan tersebut. Kenyataannya, berbagai fakta menyebutkan bahwa aparat pemerintah memang mudah sekali disuap dengan sejumlah uang demi memuluskan keinginan para pengusaha yang ingin mendapatkan untung sebesar-besarnya dari eksploitasi hutan.

Ketiga, mendesak aparat penegakan hukum agar para pelaku pembakaran hutan ditindak tegas. Kebakaran hutan telah terjadi sejak puluhan tahun silam, akan tetapi hingga sekarang, masih banyak pelaku yang melenggang bebas. Berbagai peraturan yang kontraproduktif harus direvisi, dan para pelaku pembakaran hutan harus dihukum seberat-beratnya.

Keempat, mengkampanyekan budaya hemat energi. Pada prakteknya, CPO dari kelapa sawit ternyata tak sekadar sebagai bahan minyak goreng, tetapi juga untuk biofuel dan biodiesel. Permasalahan energi memang pelik. Jumlah minyak bumi dan batu bara kian hari kian menipis, sehingga kemunculan bahan bakar nabati yang bisa diperbaharui sebenarnya bisa menjadi solusi. Tetapi, eksploitasi lahan yang tak bijak, ternyata juga menyusahkan banyak pihak. Maka, gaya hidup hemat energi  harus dikampanyekan agar kebutuhan akan energi menurun. Gaya hidup hemat energi bisa dilakukan dari cara yang paling sederhana, misal menyalakan lampu hanya yang dibutuhkan saja, mematikan televisi yang tidak ditonton, biasa berjalan kaki atau menaiki transportasi masal, hingga melakukan penelitian-penelitian untuk bisa mengoptimalkan sumber energi lain seperti matahari, angin dan sebagainya.

Kelima, para pemuda Indonesia harus bersatu untuk mengupayakan kesejahteraan yang lebih merata. Setelah eksploitasi lahan untuk kelapa sawit dibatasi, regulasi diperketat, jika memang ada kemakmuran yang disumbang dari kelapa sawit, masyarakat pun harus ikut merasakan. Keuntungan tidak hanya tersebar di segelintir kecil pemilik modal, yang pada saat terjadi musibah asap, barangkali justru tengah berasyik-masyuk di rumah-rumah mewah mereka yang jauh dari lokasi musibah. Jadi, idiom yang berlaku di Riau seperti tersebut di atas: “bawah minyak, atas minyak tengah-tengah alamaaak” tidak lagi menjadi kalimat satir yang terdengar getir.

Kita tentu harus belajar banyak dari peristiwa kebakaran hutan tahun ini. Menurut orang bijak, semua masalah bisa diambil hikmahnya, termasuk musibah kali ini. Peristiwa kebakaran yang menggila dan paparan asap yang sangat luas serta membahayakan, setidaknya bisa menjadi rem bagi upaya-upaya perusakan hutan. Semoga setelah ini, masyarakat luas bisa menjadi lebih awas dan perhatian terhadap apa yang terjadi dengan lingkungan mereka, dan negara pun bisa bertindak lebih tegas lagi terhadap upaya-upaya perusakan kelestarian alam.

Selamat hari sumpah pemuda, mari satukan tekad, lawan segala bentuk perusakan alam semesta! 

Subscribe to receive free email updates:

6 Responses to "Sumpah Pemuda: Satu Tekad Melawan Asap"

  1. ke depan mungkin tiap beli minyak goreng ke swalayan dibatasin hny seliter yak hehe. dan warung2 juga dibatasi kalo mau ambil borongan minyak goreng. Pemakaian listrik langsung dibatasi dari sentral, kalo ngarep kultur orang kita buat hemat susye, kecuali kalo TDL dinaikin mungkin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenarnya bukan karena konsumsi minyak goreng... (meski konsumi migor orang Indonesia memang termasuk boros). Sebagian besar CPO larinya ke biofuel dan biodiesel. Ya satu2nya jalan agar krisis energi berakhir memang dengan cara berhemat. Mau gimana lagi?

      Delete
  2. ada ajakan boikot produksi wilmar, pdhal slama ini da cocok sm salah satunya, tp mengingat dan merasakan sendiri efek asap walau kami jauh bgt dr sumber api, sy setuju, boikot, gnti dl yg lain, dan lbh tepatnya kurangi pemakaiannya, hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Boikot, mungkin bisa jadi satu alternatif, ya...
      Tapi, bagaimanapun, sawit sebenarnya tetap penting, tetapi perlu dibatasi. Eksplorasi lahan menjadi perkebunan kelapa sawit di negeri ini sepertinya sudah melewati batas, itu masalah sebenarnya menurut saya #CMIIW

      Delete
  3. Ada satu langkah nyata yang dilakukan oleh salah satu peneliti, yaitu memasang semacam filter di tiap sekolah. Alhamdulillah atmosfer kelas jadi berkurang 30% dari masuknya asap. Filter itu ternyata juga akan diterapkan pada beberapa rumah singgah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bagus, Bang... part of solution, bukan part of problem :-)

      Delete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!