Adik Baru Puteri Anissa

Posting khusus di #HariDongengNasional :-)
Selamat membaca!

Sejak adik baru lahir, Puteri Anissa jadi benci. Masalahnya, Puteri Anissa merasa Ibunda Ratu tak sayang lagi padanya. Sekarang, apa-apa untuk adik. Puteri Anissa jarang dibelai-belai rambutnya sama Ibunda Ratu ketika menjelang tidur. Ia juga tidak pernah lagi dibacakan buku-buku dongeng, atau didampingi ketika sedang bermain di taman istana. Seluruh waktu Ibunda Ratu habis untuk adik Pangeran Anas yang baru berusia 2 bulan itu. Pokoknya sebel deh...

Puteri Anissa pun sekarang jadi sering manyun. Ia tak mau lagi disuruh mandi atau makan sendiri. Apalagi jika yang menyuruh adalah Mbok Emban Inah, pengasuh anak di istana.
“Nggak mau! Puteri Anissa hanya mau makan kalau disuapi sama Ibunda Ratu!” teriaknya sambil menghentak-hentakkan kakinya, ketika Mbok Emban Inah membawakannya sepiring nasi, sayur dan lauk pauk.

“Ibunda Ratu kan sedang nenenin adek Pangeran Anas,” ujar Mbok Emban Inah.”Sini, biar Mbok Emban saja yang menyuapi.”
“Nggak mauuu!!” teriak Puteri Anissa lagi, marah. “Nggak mau makan sama Mbok Emban Inah! Maunya sama Ibunda Ratu...!”
“Tetapi, Ibunda Ratu kan sedang sibuk.”
“Ibunda Ratu nggak sayang lagi sama Puteri Anissa! Ibunda Ratu sayangnya cuma sama Adek Pangeran Anas. Puteri Anissa benciii!!” 

Mendengar suara ribut-ribut di kamar Puteri Anissa, Ibunda Ratu yang baru saja menidurkan adik keluar. Dibelainya rambut Puteri Anissa. 
“Baiklah... sini, Ibunda Ratu suapin makannya!” kata Ibunda Ratu. “Maafkan Ibunda Ratu ya, karena jarang main sama Puteri Anissa. Tetapi Puteri Anissa harus ingat, bahwa sekarang Puteri Anissa sudah punya adik, jadi harus lebih bisa mengurus diri sendiri ya, Sayang?”

Puteri Anissa senang sekali, karena ternyata Ibunda Ratu masih sayang kepadanya. Ia pun mulai mau makan nasi yang dibawakan oleh Mbok Emban Inah barusan. Namun, baru beberapa suap nasi itu masuk ke mulut, tiba-tiba terdengar suara tangis bayi. Pangeran Anas terbangun. Cepat-cepat Ibunda Ratu pun meletakkan piring nasi Puteri Anissa dan berlari menuju kamar.

Puteri Anissa kembali manyun. Mulutnya mengerucut, cemberut. Ibunda Ratu benar-benar lebih sayang kepada Adik Pangeran Anas daripada kepadanya. Dengan marah, ia pun masuk ke kamar, membanting tubuhnya di kasur dan menangis tersedu-sedu. 

Puteri Anissa benar-benar benci kepada Pangeran Anas. Keesokan harinya, setelah pulang dari sekolah khusus anak-anak yang tinggal di istana, ia lewat di depan tempat tidur Pangeran Anas, ia pun berhenti. Ia berkacak pinggang sambil membelalakkan matanya dan menuding-nuding adiknya itu. 
“Hei... Adik Pangeran Anas! Kamu nggak boleh merebut Ibunda Ratu dari Kakak ya?!”

Bukannya menangis melihat tampang Puteri Anissa yang seram, Adik Pangeran Anas malah tertawa-tawa sambil menendang-nendangkan kakinya. Puteri Anissa pun bertambah jengkel.
“Pangeran Anas jelek... jelek... ueeek!” ia menempelkan kedua jari telunjuknya ke bibir dan mencibir. “Lihat! Semua yang Pangeran Anas pakai, adalah bekas kakak. Tempat tidur ini punya kakak, baju dan celana, punya kakak. Kaos kaki juga punya kakak. Pangeran Anas nggak punya apa-apa, weee!!”
Tawa Pangeran Anas bahkan bertambah keras. Tentu saja, bayi itu tidak tahu kalau sedang dimarahi kakaknya.

“Pokoknya, kalau Pangeran Anas merebut Ibunda Ratu, kakak akan cubit paha Pangeran Anas!” ancam Puteri Anissa. “Pengin tahu rasanya dicubit... nich...!”
“Oaaa... oaaaa... oaaaa!!” Pangeran Anas menjerit dan menangis keras-keras. Pada saat itu, Ibunda Ratu datang dan segera menarik tangan Puteri Anissa.
“Huz, kakak Puteri Anissa nggak boleh begitu sama Adik...,” kata Ibunda Ratu sambil meraih tubuh mungil Pangeran Anas dan ditepuk-tepuknya. “Cup... cup sayang... jangan menangis.” Lalu Ibunda Ratu menatap Puteri Anissa dengan pandangan marah.

“Kakak Puteri Anissa tidak boleh bersikap seperti itu sama Adik, ya?”
Wajah Puteri Anissa cemberut. Air matanya ingin keluar karena sedih. Lihatlah, Ibunda Ratu pun lebih berpihak kepada Adik Pangeran Anas.
“Abis... Puteri Anissa sebel. Ibunda Ratu sayangnya cuman sama Adik terus!” teriaknya.
“Eh, siapa bilang? Ibunda Ratu sayang sama Kakak, juga sama Adik.”
“Bohong! Ibunda Ratu lebih sayang sama Adik!”
“Tidak, Sayang... Ibunda Ratu juga sayang sama Kakak. Sama-sama sayang.”
“Puteri Anissa tidak percaya! Puteri Anissa benci sama Ibunda Ratu, juga sama Adik!”
Ibunda Ratu hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Puteri Anissa.

* * *

Adik Pangeran Anas sakit demam. Tubuhnya panas sekali. Ia terus-terusan menangis. Ibunda Ratu dan Ayahanda Raja terlihat sangat sedih. Semalaman mereka tidak tertidur karena menjagai Adik. Demikian juga dengan Mbok Emban Inah. Bagaimana dengan Puteri Anissa?
Mula-mula ia senang. Baginya, Adik Pangeran Anas adalah musuh. Namun, ketika sepulang sekolah ia melihat Adik Pangeran Anas sedang terbaring lemas, mendadak rasa kasihannya muncul. Ia pun mendekati tubuh adiknya itu, meraba jidatnya.

“Ya Allah... panas sekali?!” bisiknya.
Melihat kedatangan Puteri Anissa, Adik Pangeran Anas menghentikan tangisnya. Sepasang mata lebarnya berputar-putar jenaka. Puteri Anissa baru menyadari bahwa ternyata adiknya itu sangat tampan dan lucu. Hati Puteri Anissa pun luruh. Cepat dipeluknya adik bayi itu.
“Maafkan Kakak ya, karena sering nakal sama Adik,” katanya lagi.
Pangeran Anas mengoceh pelan, entah apa yang ingin ia katakan.
“Apakah Adik Pangeran Anas sakit karena Kakak nakal?”

Lagi-lagi Pangeran Anas mengoceh. Ia tidak lagi menangis. Puteri Anissa mencium pipi dan dahinya. “Adik Pangeran Anas, cepat sembuh ya?! Ya Allah... sembuhkan sakit adikku!”
Pada saat itu, Ayahanda Raja datang membawa sebotol sirup kecil. “Kakak ganti baju dulu ya! Lalu maem siang. Ayahanda Raja mau kasih obat buat Adik.”
“Adik sakit apa, Yah?” tanya Puteri Anissa.
“Sakit demam. Tapi tadi sudah Ayahanda Raja bawa ke dokter. Kakak doakan ya, biar Adik cepat sembuh!”
“Insya Allah, Ayahanda Raja...”

Setelah meminum obat, Adik Pangeran Anas tertidur. Alhamdulillah, ketika bangun, ternyata panasnya menurun. Ia pun tidak lagi menangis. Puteri Anissa merasa sangat bahagia. Ia pun mencium pipi adiknya itu berkali-kali.
“Adik... Kakak janji nggak akan nakal lagi sama adik,” katanya. Lalu ia berpaling kepada Ayahanda Raja dan Ibunda Ratu. “Ayahanda Raja... Ibunda Ratu, Kakak akan selalu menjaga adik, biar nggak sakit lagi. Kakak sayang sama adik... maafkan Kakak kalau selama ini selalu nakal!”
Ibunda Ratu dan Ayahanda Raja pun tersenyum bahagia.




SEMUA SERBA DISKON! INFO 0878-3538-8493



Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Adik Baru Puteri Anissa"

Post a Comment

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!