Cinta Dalam Sesendok Garam

Dua belas tahun silam, saat baru awal-awal menikah, sebagaimana seorang istri, saya senang sekali menghabiskan waktu di dapur. Tentu saja dalam rangka memasak hidangan untuk suami tercinta. Sebagai penghargaan untuk jerih payah saya, suami menyambut masakan saya dengan suka cita (setidaknya, begitulah ekspresi yang ditampakannya). Beliau menyantapnya hingga habis, dan tak lupa berterimakasih. Saya girang bukan alang kepalang. Kemudian, waktu berlalu, dan saya terkejut, ketika suatu saat, ketika usia pernikahan kami sudah mulai menggemuk, suami saya memberitahukan, bahwa sesungguhnya beliau tidak terlalu suka masakan asin. 

O, o! Saya memang lahir dan besar di daerah Banyumas, cenderung menyukai masakan yang asin—bagi kami cukup, tetapi bagi masyarakat non Banyumas, terasa cukup ekstrim. Saya pun akhirnya mengurangi garam dalam masakan saya, namun tentu tak bisa seketika. Lama-lama, baik saya maupun suami, akhirnya terbiasa dengan masakan yang cukup asin untuk ukuran orang Solo, namun kurang asin untuk lidah Banyumas. 

Seorang sahabat pun ternyata mengalami hal yang sama. Beliau orang Yogya, yang menyukai masakan manis dan tidak suka pedas. Ternyata, beliau menikah dengan lelaki asal Jawa Timur yang mayoritas menyukai pedas. Awalnya, sahabat saya itu merasa kesulitan menyesuaikan diri. Lama-lama, lidahnya pun mulai terbiasa. Sama dengan saya, ada kompromi yang tercipta. Sang suami mengurangi pedas, dan sang istri mencoba bersahabat dengan cabe.

Mungkin di antara kita ada yang bertanya, “Apa sih, pentingnya membahas sebuah rasa?” 
Oh, ini bukan sekadar tentang rasa. Ini pembicaraan tentang sebuah sikap kompromi yang sangat diperlukan dalam kehidupan kita. Bahkan, bukan hanya dalam kehidupan pernikahan, tetapi lebih dari itu, kehidupan bersosialisasi secara umum. Mari kita melihat ke dalam diri kita dan orang-orang sekitar kita! Yang bisa bertahan, eksis, serta mampu menoreh bahagia, biasanya adalah sosok-sosok yang bisa mengkompromikan segala sesuatu yang bersifat relatif. Mereka punya prinsip yang tak bisa ditawar-tawar, tetapi dalam masalah yang nisbi, mereka akan sudi bernegosiasi.

Percayakah anda, bahwa pernikahan itu, dalam beberapa hal, mirip dengan persatuan segelas air panas dan segelas air dingin dalam sebuah cawan yang lebar. Persatuan itu akan membuat kedua kutub ekstrim itu melebur dalam sebuah kehangatan. Sayangnya, pribadi yang tak mampu bernegosiasi, seringkali memaksakan isi hati. Dia memaksa air dingin untuk menjadi panas, atau sebaliknya, si air panas harus menjadi dingin. Padahal, sesuatu yang hangat, biasanya justru jauh lebih baik bagi semuanya.

Proses berkompromi dan bernegosiasi dalam kehidupan pernikahan, dipermudah dengan adanya cinta. Perasaan mawaddah dan rohmah, bagaikan olie yang menjadi pelumas berbagai aktivitas mengenali sisi-sisi terdalam pasangan kita. Rasa cintalah yang membuat suami saya menyantap semua makanan keasinan yang saya masak. Rasa sayanglah yang membuat sahabat saya harus terengah-engah kepedasan mencicipi masakan pedas kesukaan suaminya. Tetapi, rasa cinta saja, bisa jadi tak cukup untuk mengawal proses penyesuaian. Harus ada kompromi dan negosiasi. Karena, cinta mungkin akan membuat suami saya menganggap tak ada masalah dengan sesendok garam yang saya lebihkan dalam menu makan siangnya. Tetapi, tidak selamanya cinta menolerir rasa asin yang terus menerus. Seringkali, akhirnya justru kompromi-kompromi itu yang akhirnya membuat cinta menjadi lestari.

Jadi, mari coba lihat pasangan kita. Juga mari lihat diri kita. Apakah kita masih suka memaksakan pendapat atas pasangan kita? Jika masih, coba kita dendangkan sebuah syair lagu pop yang pernah populer tahun 90-an dari Yana Yulio: “Bukankah cinta datang, untuk menyatukan, dua hati yang berbeda. Dan tiada memaksakan, satu keinginan atau keinginan yang lain….”


Subscribe to receive free email updates:

8 Responses to "Cinta Dalam Sesendok Garam"

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!