Janganlah Kau Berkata Benci…

*Parodi Siti

Tiba-tiba Pujo berteriak-teriak seraya berlari girang. Anak remaja itu turun dari motor tuanya, dan  dengan tergesa-gesa menghambur ke warung Siti, kakaknya. “Rasakan … rasakan, Dewi! Kamu bakal kena batunya.” 

Wanti dan Sumini, dua buruh yang sedang sarapan di warung Siti mendelik. “Kau ini kenapa Pujo? Kok teriak-teriak? Kamu dari mana? Kok nggak sekolah juga?” tanya Wanti.

“Ngg… nggak sekolah. Hari ini libur, Mbak. Ada ujian kakak kelas. Aku baru dari warnet, buka internet. Dan aku dapat ini, nih!” Pujo menunjukkan selembar kertas yang sepertinya print-out dari sebuah website. 

Wanti dengan cepat meraih kertas itu. Matanya terpicing. “Apa ini? Surat edaran KAPOLRI? Tentang Hate Speech? Opo to iki? Ti, Siti? Kamu kan pinter, kamu tahu maksudnya?”
“Kenapa harus nanya Mbak Siti? Wong aku juga bisa menjawab,” ujar Pujo. “Maksud dari surat edaran ini, kita dilarang mengeluarkan perkataan-perkataan bernada kebencian di ruang publik, termasuk social media. Yang suka menebar kebencian, bisa diancam hukum pidana alias dipenjara lho.”

“Trus, kenapa kamu tadi ngomongin soal Dewi? Dewi iku sopo?” tanya Wanti lagi.
“Itu lho, Mbak Wanti,” bisik Sumini, “Mantannya Pujo. Mereka baru cerai seminggu yang lalu. Terus, si Dewi itu nyetatus jelek terus soal Pujo di fesbuk.”
“Oalah, cerai. Putus, gitu! Wong mereka belum nikah, kok. Bener, to Jo, kamu sedang perang status sama mantan cewekmu?”

“Yang mulai perang si Dewi itu, Mbak. Makanya, aku senang sekali ada surat edaran ini. Besok kalau Dewi terus menerus mengumbar kebencian, aku laporkan ke polisi baru tahu rasa!”

Siti yang sedang sibuk melayani pembeli tertawa terkikik-kikik melihat tampang Pujo. “Jo, Jo… surat edaran itu bukan ditujukan buat orang-orang kayak kamu. Ini mungkin unsur politis. Tahu sendirilah, sejak pilpres kemarin, orang-orang belum pada move on. Di sosmed, isinya perang melulu, jadi surat tersebut dikeluarkan.”

“Iya juga sih,” ujar Wanti. “Sekarang, aku suka ngeri kalau baca status-status dan komentar orang-orang di sosmed. Suka asbun, asal bunyi. Asal njeplak. Ngomong seenaknya. Mengerikan. Kayak ndak punya adab.”

“Ya, di medsos memang begitu. Soalnya kan dia nggak berhadapan langsung dengan orang yang dicaci-maki. Makanya jadi berani. Kalau di depan langsung, paling juga ngeper,” kata Sumini. “Aku pernah tuh, punya teman di fesbuk. Kalau bikin status nyebelin, sukanya perang, mau menang sendiri, sadis, omongannya kasar. Tapi pas aku datangi, orangnya culun, cengangas-cengenges.”

“Jadi, sebenarnya surat edaran Kapolri itu nggak salah, to, Ti?” kata Wanti lagi. “Orang memang perlu diatur, biar nggak seenaknya sendiri. Meskipun di sosmed, tetap dia punya batasan. Di ajaran agama kita, ngomong asal njeplak juga dilarang kok. Aku masih ingat haditsnya, ‘berkatalah yang baik, atau diam.’”

“Iya, kalau maksudnya memang begitu, aku setuju sekali, mbak,” ujar Siti. “Memang kita nggak boleh kok, ngomong asal bunyi, apalagi menghasut, memfitnah, mengadu-domba. Itu sesat. Sesaaat banget. Tetapi, aturan hate speech ini bisa bahaya kalau dijadikan sebagai senjata untuk membungkam kritik, saran, masukan, dan hal-hal yang sebenarnya bisa menjadikan sesuatu lebih baik. Kadang, sebagai sahabat, kita perlu lho, memberi obat pada sahabat kita yang sakit. Obat itu, dimana-mana terasa pahit. Nah, kalau obat yang pahit itu, alias kritikan keras, dianggap hatespeech, yo ngawur itu!”
“Iya juga, ya…,” Sumini mengangguk-angguk. 

Siti melanjutkan, “Pada suatu hari, Amirul Mukminin Umar bin Khattab r.a naik mimbar dan berkhutbah, ‘Wahai, kaum muslimin! Apakah tindakanmu apabila aku memiringkan kepalaku ke arah dunia seperti ini?’ lalu beliau memiringkan kepalanya. Seorang sahabat menghunus pedangnya. lalu, sambil mengisyaratkan gerakan memotong leher, ia berkata, ‘Kami akan melakukan ini.’ Umar bertanya, ‘Maksudmu, kau akan melakukannya terhadapku?’ Orang itu menjawab, ‘Ya!’ Lalu Amirul Mukminin berkata, ‘Semoga Allah memberimu rahmat! Alhamdulillah, yang telah menjadikan di antara rakyatku orang apabila aku menyimpang dia meluruskan aku.’”

“Wah, keren ya, Khalifah Umar itu… bukannya marah, malah mendoakan.”
“Ya, memang begitulah seharusnya pemimpin. Jadi intinya, aku sih mendukung SE hate speech itu, asal tidak dipolitisasi. Yang asal njeplak, asal bunyi, suka menghina agama lain, suka memfitnah dan adu domba, mereka saja yang dipidana. Kalau perlu dihukum berat. Sedangkan yang mengkritik untuk kebaikan, jangan dong, dibungkam. Nanti sama dengan zaman orde baru dulu, dimana ada pasal tindak pidana subversi yang ternyata menjadi senjata untuk membungkam lawan-lawan politik penguasa saat itu.”

“Wih, omonganmu makin lama makin intelek, Ti. Tak menyangka, bahwa kau ini cuma mantan buruh pedagang nasi liwet.” Puji Wanti.
“Nah, kalau kasusku dengan Dewi itu, gimana, Mbak?” tanya Pujo.
“Itu bukan hate speech, Jo… itu cinta berbungkus cemburu!” ujar Wanti. “Penyelesaiannya, jangan kau laporkan ke polisi, tapi laporkan saja ke penghulu.”
“Wah, boro-boro nikahin anak gadis orang, duit aja masih nodong!” Siti mencebil.
Pujo hanya garuk-garuk kepala.

Baca yuk, kisah-kisah gokil di PARODI SITI.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Janganlah Kau Berkata Benci…"

Post a Comment

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!