Shalat Istisqo vs Hujan Buatan

Alhamdulillah, hujan mulai turun di berbagai tempat akhir-akhir ini. Sebuah fakta yang tak bisa dipungkiri, dan mestinya mengundang puja-puji kepada Rabb Semesta alam yang telah mengganjar permukaan bumi dengan titik-titik air yang dirindu. Namun sayangnya, perasaan damai dan bahagia ini sedikit ternodai, ketika di timeline-timeline media sosial, saya kembali mendapatkan semacam pertentangan. Hujan ini, karena shalat istisqo yang memang sedang gencar diserukan, atau karena teknologi hujan buatan? 

Polemik ini mungkin muncul, karena ada sebagian kalangan (repotnya kalangan ini cukup berpengaruh) yang terkesan meremehkan kedahsyatan shalat istisqo, dan lebih meyakini keampuhan teknologi hujan buatan. Kesan ini barangkali yang terbaca oleh sebagian Netizen, sehingga mereka pun geleng-geleng kepala dan kemudian menyebut-nyebut mereka kurang bersyukur.

Sebenarnya, apakah antara shalat istisqo dan teknologi ada dikotomi? Bukankah keduanya sama-sama ikhtiar agar hujan segera turun membasahi bumi yang tak hanya kerontang, tetapi juga membara dan mengepul asap? Atau, bisa saja shalat istisqo inilah yang sebenarnya telah membuat teknologi hujan buatan menjadi berhasil. Lebih dari itu, teknologi—secanggih apapun, bukankah tak akan terealisir tanpa Ridho Allah Azza Wa Jalla.

Sejatinya, yang namanya hujan buatan bukanlah sebuah hasil dari pekerjaan “membuat” atau “menciptakan” hujan. Tak ada teknologi yang benar-benar bisa menghadirkan hujan. Teknologi yang selama ini dikenal sebagai hujan buatan, adalah lebih pada upaya mempercepat turunnya hujan, atau memperbanyak peluang terjadinya hujan. Yang dilakukan manusia dalam teknologi ini adalah proses penyemaian awan (cloud seeding) menggunakan bahan-bahan yang bersifat higroskopik (menyerap air, berupa garam-garam seperti NaCl, AgI dll.) sehingga proses pertumbuhan butir-butir hujan dalam awan akan meningkat dan selanjutnya akan mempercepat terjadinya hujan. Jadi, hujan buatan ini sebenarnya lebih tepat disebut sebagai Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC)[1].  

Gambaran proses TMC ini adalah sebagai berikut:
  • Terdeteksinya awan-awan cumulus di langit. Tahu, kan, awan cumulus? Awan ini berbentuk seperti bunga kol. Awan ini terbentuk secara konfektif, yaitu terbentuk akibat adanya arus udara ke atas yang membawa uap air yang hasil penguapan di permukaan bumi. Awan inilah yang berpotensi menjadi hujan. Awan yang berpotensi menghasilkan hujan haruslah awan yang sudah cukup “dewasa”.
  • Kondisi angin dipastikan berkecepatan rendah, yaitu di bawah 20 knot. Kelembaban dan tekanan udara juga harus diperhatikan.
  • Dilakukan proses penyemaian awan (cloud seeding) dengan cara menaburkan berton-ton garam (misalnya NaCl, CaCl2 atau AgI/perak yodida) ke awan tersebut melalui pesawat. Garam-garam inilah yang merangsang mekanisme benturan dan penggabungan menjadi lebih giat, dengan cara “menggabungkan” butir-butir air di awan  sehingga tetes hujan akan lebih cepat terbentuk [2]
Ilustrasi yang saya ambil dari BPPT ini barangkali bisa membantu Sobat sekalian untuk lebih memahami bagaimana sebuah “hujan buatan” (mengapa saya pakai tanda petik, sudah terjelaskan di atas, ya?) bisa terjadi.


Teknologi Modifikasi Cuaca yang ditemukan pertama kali pada 1946 oleh Vincent Schaefer dan Irving Langmuir sebenarnya lebih tepat disebut sebagai teknologi merangsang hujan, bukan hujan buatan. Teknologi ini tetap membutuhkan syarat-syarat alami seperti cukupnya awan hujan (cumulus) dan angin dengan kecepatan tertentu. Pada puncak musim kemarau, apalagi saat El-Nino, dimana belahan bumi bagian selatan benar-benar kering, pembentukan awan-awan hujan akan terhambat, dan biasanya akan sulit sekali dilakukan modifikasi cuaca. Tak semua teknologi modifikasi cuaca ini menghasilkan hujan. Seringkali teknologi ini juga gagal, terlebih jika syarat-syarat alamiah seperti saya sebut di atas tidak atau kurang terpenuhi. Atau, bisa juga berhasil, namun hujan turun di tempat yang tak tepat, atau meleset dari sasaran. Padahal, biaya TMC ini mahal, lho. Jadi, apa faktor penting keberhasilan TMC? Sebagai seorang muslim, ya kehendak Allah SWT ada di atas segalanya. 

Jadi, kalau begitu, siapa yang lebih “berjasa” menurunkan hujan di negeri kita? Shalat Istisqo atau Teknologi Modifikasi Cuaca? Ah, tak usah dijawab… takutnya, kita nanti akan menjadi Fir’aun kedua yang dengan bangga mengatakan “Ana rabbukumul a’la—akulah tuhanmu yang tinggi.”

Referensi
http://idkf.bogor.net
http://majalah1000guru.net

Diskon Novel Up To 40%



Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "Shalat Istisqo vs Hujan Buatan"

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!