Bahagianya Menjadi Ibu

Mungkin Anda bersepakat, bahwa segala kesakitan, letih, lelah dan berbagai kepayahan akibat kehamilan selama hampir 40 minggu dan berpuncak pada proses persalinan yang “heroik”, seringkali lenyap begitu saja saat terdengar lengking tangis bayi yang terasa begitu merdu. Seperti itu juga yang saya rasakan malam itu, Rabu, 9 Desember 2015. Saya memang merasakan tubuh ‘remuk-redam’, kaki kram dan lelah luar biasa. 

Tetapi, saat Bu Dokter Cantik yang membantu persalinan saya, dr. Anik Suryaningsih, SPOG menidurkan si kecil yang masih belepotan cairan amnion (ketuban) dalam posisi tengkurap di atas dada saya, rasa bahagia yang teramat sangat menguar hebat dari labirin emosi saya. Saya rasakan kepala dan tubuh yang hangat itu bersentuhan dengan kulit saya. Tangan kiri mendekap lembut punggung tubuh mungil yang telanjang, yang secara alamiah tengah mencoba mencari-cari sumber ASI, sementara tangan kanan saya membelai-belai rambutnya yang hitam lebat. Early skin-to-skin contact antara saya dengan si bayi, membuat kami berdua merasa hangat, kedamaian memancar, secara alamiah merupakan obat pereda sakit yang sebelumnya saya rasakan.

Inilah yang disebut dengan Inisiasi Menyusui Dini (IMD), yang memang telah lama dipraktikkan di RSU tempat saya bersalin, RSU PKU Muhammadiyah. Sebuah proses menyusui secara dini yang dilakukan secepat mungkin setelah proses persalinan berakhir. Ya, saat itu, kami berdua bahkan belum bersih-bersih. Memang, IMD harus dilakukan secepatnya, jangan sampai lebih dari lima menit seusai persalinan. IMD adalah gerbang menuju kesuksesan ASI Eksklusif. Saya bertekad, seperti ketiga kakaknya, si bungsu ini juga harus mendapatkan ASI Eksklusif.

[Baca: Memberi ASI Eksklusif Sambil Terus Bekerja, Why Not?].

Sambil terus menikmati keindahan berinterksi dengan si jabang bayi, tak henti-henti saya mengucap tasbih, tahmid, takbir dan tahlil… Ya Allah, semua seperti mimpi. Ya mimpi… saya kembali menjadi seorang ibu, untuk putra keempat saya. Sebuah anugerah luar biasa, di usia saya yang telah menginjak 36. Kilasan-kilasan peristiwa seperti slide-slide yang begitu cepat berjalan di layar benak saya.

Ya, benar-benar seperti mimpi.

Sebenarnya, kehamilan kali ini bisa saya lewati dengan sangat enjoy. Trimester pertama, saya tak terlalu mabuk disergap emesis. Makan masih terasa enak, masih bisa mensiasati gelojak hormonal yang lazimnya membuat ibu hamil ‘teler berat’. Trik mengatasi "mabuk" saat hamil muda pernah saya tulis di sini "Mengatasi 'Morning Sickness' Saat Hamil Muda."

Trimester kedua, saya malah banyak beraktivitas keluar kota untuk mengisi pelatihan-pelatihan dan seminar. Saya juga menjalani aktivitas pekerjaan di Penerbit Indiva Media Kreasi, mengelola organisasi serta mengikuti kegiatan perkuliahan di program magister manajemen sebuah PTS di kota saya dengan penuh semangat. Namun, saat kehamilan masuk minggu ke 32, saya sedikit terguncang dengan hasil USG. Posisi bayi masih sungsang, leher terbelit tali pusat, dan berat badannya 5 ons lebih berat dari normal.

Walhasil, saya harus berusaha keras memperbaiki posisi bayi dengan gerakan yang dianjurkan oleh Bu Dokter, di antaranya banyak menungging alias sujud yang cukup lama sehabis shalat. Saya juga diet ketat, mengurangi secara drastis makanan dan minuman manis, kecuali manis dari buah-buahan. Sebenarnya, meski hamil, porsi makan saya biasa saja. Hanya saja, saya memang suka minum yang manis-manis dan dingin. Wajar kali ya, kemarau panjang membuat udara terasa sangat panas saat itu. Tapi sayangnya, diet saya ternyata tak terlalu berpengaruh. Pada minggu ke-37, ketika periksa dengan USG, berat bayi diperkirakan 3,7 kilogram. Posisi kepala memang sudah di bawah, sementara, tali pusat masih membelit leher, meski longgar. 

“Ditunggu sampai tanggal 10 Desember, ya, Bu Yeni… insyaAllah masih bisa lahir normal,” ujar Dokter Anik. Saya membatin, lahir normal dengan berat 3,7 kilogram? Dan tanggal 10 masih seminggu lagi. Bagaimana jika janin kian membesar? 

Tetapi, meski agak cemas-cemas sedikit, saya sibuk menghibur diri. Barangkali, bayi dalam rahim saya ini kelak akan ditakdirkan sebagai Mehmed the Conqueror, alias Muhammad Al-Fatih yang kedua. Wajar dong, kalau doski punya big body, hehe.

Hari-Hari Menjelang Partus...
Jelang HPL, saya merasakan kondisi fisik yang menurun. Sangat mudah letih, serta lebih sering mengalami kontraksi palsu dibanding kehamilan terdahulu. Meski bukan kontraksi sebenarnya, rasanya sudah cukup kuat. Pembaca yang masih lajang atau masih belum pernah hamil mungkin heran, apa itu kontraksi palsu? Kontraksi palsu alias Braxton Hicks adalah kontraksi rahim sporadis, yang umumnya mulai dirasakan pada kehamilan trimester ketiga, dengan amplitudo kurang dari 40 mm Hg. Lebih detilnya, silakan baca “Bagaimana Sih, Persalinan Normal Itu?” 

Kontraksi ini merupakan semacam “latihan” untuk menuju kontraksi sebenarnya. Cirinya, kontraksi tidak rutin, dan menghilang dengan sendirinya, serta tidak disertai nyeri.

Beberapa minggu sebelum partus, kondisi tubuh semakin tidak nyaman, ditambah saat itu udara sangat panas akibat kemarau panjang. Keluar dari area ber-AC sebentar saja tubuh saya sudah mandi keringat. Tidur pun sama sekali tak nyaman. Yaah, memang sih, kehamilan-kehamilan sebelumnya juga begini rasanya, tapi, di kehamilan kali ini, rasanya kian tak nyaman… hehe. Jangan anggap saya lebay, ya….

Saya menyiasati kondisi tak nyaman itu dengan senam hamil dan terus menyibukkan diri dengan berbagai aktivitas. Cukup mengherankan, jika saya sedang asyik beraktivitas, entah nulis, ngeblog, atau mengerjakan urusan-urusan kantor, mendadak rasa-rasa tidak nyaman di fisik saya ini sejenak hilang. 

Dua hari menjelang partus, saya masih aktif mengikuti berbagai kegiatan. Hari minggu, saya mengawal anak-anak mengikuti jalan sehat dalam rangka Milad ke-88 RSU PKU Muhammadiyah Solo. Lumayan juga jalan kakinya, antara 1-2 KM jaraknya, berawal dari RSU PKU, masuk Jalan Slamet Riyadi sampai di Gedung Muhammadiyah. Sebenarnya, dari PKU disediakan “ambulance becak” untuk siapa saja yang merasa kelelahan. Namun, saya lebih enjoy jalan kaki.

Pulang jalan sehat, saya ajak suami mampir di pusat penjualan aneka tanaman hias. Beli aneka bibit tanaman, medium kompos serta pot-pot bunga. Sampai di rumah, asyik berkebun. Menanam bunga mawar, melati dan beberapa tanaman hias lainnya. Juga menanam biji kangkung di pot vertikal kami. Lumayan menguras tenaga!

Hari senin, saya juga beraktivitas seharian, ngantor di Indiva, lalu mendatangi sebuah majelis taklim dan pulang rumah jelang Isya. Mandi, shalat, makan dan alhamdulillah bisa tidur pulas, mungkin karena sangat letih. Padahal biasanya, saya tidak bisa tidur dengan nyaman dengan perut membesar.

Proses Partus
Jam setengah tiga pagi, saya merasakan kontraksi dan terbangun. Setelah saya cek, ternyata terjadi perdarahan. Tetapi, saya sengaja tetap berdiam diri. Baru saat adzan subuh, saya beritahu suami sembari mempersiapkan berbagai peralatan untuk mondok di RSU dalam sebuah tas khusus. Saya dan suami sempat mengantar anak-anak ke sekolah, dan makan nasi pecel di warung langganan dekat RSU PKU. Di sela-sela makan, setiap 10 menit rahim saya berkontraksi. Namun saat tidak kontraksi, saya menikmati kesantaian dengan makan dan membaca koran terbitan hari itu. Baru sekitar jam delapan, saya periksa ke RSU. 

Kata orang, proses persalinan kedua, ketiga dan seterusnya biasanya lebih cepat dan mudah ketimbang kehamilan pertama. Nyatanya, meski kehamilan keempat, saya masih harus melewati fase laten yang cukup lama. Bayangkan, jam setengah tiga pagi saya mengalami perdarahan dan merasakan kontraksi, lalu jam delapan periksa ke dokter, dinyatakan baru bukaan satu longgar. Sekitar jam 12 siang, bukaan nambah jadi dua, dan sampai isya, masiiih saja bukaan dua. Kontraksi masih antara 7 hingga 10 menit sekali. 

Fase laten adalah fase awal dari sebuah proses partus (persalinan). Fase ini memang lama, tapi rata-rata, setiap ibu menempuh sekitar 12 jam. Nah, berbeda dengan kebanyakan ibu hamil, sejak anak pertama, fase laten yang saya alami bisa lebih dari itu. Proses partus saya, sejak dulu bisa mencapai 24 jam. Ini nih, jujur saja, yang membuat saya sering merasa bosan, capek dan tertekan. 


Ketika sudah dinyatakan in partus, saya memang langsung mondok di RSU. Tapi biar tidak terlalu “mencekam”, saya pilih di kamar, membaca, nonton TV, tilawah, sembari menunggu bertambahnya pembukaan jalan lahir. Namun, sampai isya, ternyata masih bukaan dua. Lalu, saya ditawari induksi. Kami setuju dan tanda-tangan. Karena akan diinduksi, saya dipindah ke ruang VK. Oya, sebelum induksi, saya disuntik epidosin untuk melunakkan jalan lahir. Jam sepuluh, bukaan naik jadi tiga, dan dengan cepat berubah menjadi empat. Jam sebelas, saya masih sempat mengetik pesan di sebuah grup Whats’app, meminta doa dari rekan-rekan pengajian saya tercinta. Tak disangka, sebagian dari mereka ternyata masih terjaga. Dan mereka membalas dengan indah, memberikan support, motivasi dan siap mendoakan saya.

Dan mungkin karena doa mereka itulah, proses mendadak berjalan cepat. Proses partus saya memasuki fase aktif. Tanpa diinduksi, saya masuk pembukaan selanjutnya. Pada bukaan 7, ketuban pecah. Dan kontraksi semakin adekuat. Saat ketuban pecah itulah saya akhirnya tak sanggup menahan sakit dan beberapa kali berteriak. Untung teriakannya takbir, hehe… jadi kayak sedang berdemo. Memang, kontraksi saat ketuban pecah itu biasanya sangat sakit. Entah berapa mm Hg amplitudonya….
Namun karena kontraksi yang adekuat itulah akhirnya persalinan berjalan dengan sangat cepat. Jam 00.16 janin pun keluar… dan subhanallah, berat badannya “hanya” 3,45 kilogram. Cukup gendut untuk ukuran tubuh saya yang mungil, dan paling gendut dibanding kakak-kakaknya, tetapi tentu lebih ringan dibanding yang diperkirakan. 

Saya letih… seluruh energi terasa terbang, bahkan untuk mengangkat kaki pun tak kuat. Namun, jabang bayi yang lembut dan belepotan amnion itu telah berada di atas tubuh saya….
Air mata menetes tak terasa. Dan seluruh saraf tubuh berbinar oleh rasa haru, terlebih saat bayi di atas tubuh saya bergerak-gerak lembut. 

Sekitar satu jam proses Inisiasi Menyusui Dini (IMD) dilakukan. Setelah itu, bayi pun diambil petugas untuk dibersihkan. Saya sendiri masih terbaring di atas bed, didampingi oleh suami yang tak henti-henti memberi motivasi. Ya, uniknya proses partus saya sejak anak pertama, suami selalu setia mendampingi, dan hanya berdua, tak ada anggota keluarga yang lain. Hanya saat Anis, anak pertama dahulu, ada ibu yang ikut mendampingi, namun hanya sebentar. Mungkin karena tak tega, beliau keluar saat saya memasuki fase aktif. Sejak itu, begitu saya merasakan tanda-tanda hendak bersalin, saya sengaja tidak memberi tahu para orang tua. Walhasil, dari kelahiran anak kedua, ketiga dan keempat, selain tim medis, hanya ada suami yang mendampingi dan memberi semangat. Terimakasih, Mas….

Ya, proses melahirkan, apapun metode dan caranya, selalu saja menyakitkan. Namun, sakit itu hanya sesaat saja. Dan itu memang merupakan bagian dari jihad dan perjuangan seorang perempuan. Dan begitu si bayi keluar… sungguh hanya ada satu yang kita rasakan: bahagia. Bahagia. Bahagia.

Catatan ini, saya bikin saat Fatihan Hanifurrahman, demikian nama anak keempat kami, berusia 13 hari. Besok, 22 Desember, adalah hari ibu. Semoga bisa menjadi kado terindah untuk para bunda di manapun berada. Jangan pernah takut menjalani tugas mulia ini: persalinan. Bukankah karena salah satu sebab ini, surga disematkan di bawah telapak kaki kita?

Baca juga proses persalinan anak ketiga saya: Kusambut Amanah Itu Ya Allah.

_________________________________________________________
Paket Hemat
1. Nun, Pada Sebuah Cermin. Novel, Terbitan Republika.
2. Akik dan Penghimpun Senja. Novel, Terbitan Indiva Media Kreasi.
3. Mei Hwa & Sang Pelintas Zaman
4. Kesturi dan Kepodang Kuning

INFO LENGKAP KARYA AFIFAH AFRA
Pemesanan Online klik SINI atau SMS/WA: 0878.3538.8493

Mau belanja buku-buku Afifah Afra, Asma Nadia, Helvy Tiana Rosa, Sinta Yudisia dan sebagainya dengan harga diskon? Yuk berkunjung ke TOKO BUKU AFRA.

Subscribe to receive free email updates:

19 Responses to "Bahagianya Menjadi Ibu"

  1. wah anak ketiga dan keempat ada rekam jejaknya ya. proses melahirkan memang luar biasa....luar biasa sakitnya tapi setelahnya luar biasa bahagianya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Takut terlupa dan kehilangan dokumentasi sejarah, haiyahh...
      Tapi ini pesan Kak Syahidah D Nisa, "Mi, nanti adik dibuatkan juga tulisannya ya...," begitu katanya. Dia suka sekali baca yang artikel "Kusambut Amanah Itu Ya Allah." Dia ulang2 terus.

      Pas zaman anak pertama dan kedua, sarana ngeblog dan internet belum selancar sekarang sih. Dan memang jadi lupa-lupa ingat proses mereka

      Delete
  2. Selalu menetes air mata ini saat membaca setiap proses lahiran. Dua kali lahiran normal dan masih merinding saat baca nya ... Selamat mbak afifah... Nama nya kok ga baginda elang sakti atau topan marabunta .. Hehhehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kesakitan yang "indah" mestinya hehe...
      Heroik banget klo namanya Elang atau MArabunta ya, tapi Abahnya gak berkenan. Takut kesaing mungkin hihihi

      Delete
  3. weleehh... terharu baanya.. dan merinding euyy...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang merasakan apalagi...
      Tapi, itulah jihadnya seorang ibu :-)

      Delete
  4. Barokallah mbak.. nice sharing.. Semoga 2016 bisa merasakan partus dan IDM dgn mudah..aamiin yaa Rabb.. *bigdream

    ReplyDelete
  5. Selamat atas kelahiran putranya, Kakak...

    ReplyDelete
  6. Alhamdulillah ... berjalan lancar dengan sedikit lika-liku. Barakallah Mbak Yeni. Selamat atas kelahiran Fatihan. Semoga jadi anak shalih, penyejuk hati orang tua :)

    ReplyDelete
  7. Kisah yang memotivasi saat membaca bagian aktivitas tiada henti itu. Alhamdulillah bisa lahir cepat, Mbak. Saya tiga hari setelah bukaan pertama baru keluar. Aih, pasti lah setiap ibu memiliki keunikan cerita yang tiada habis bila dituturkan. Syukur yang dalam bisa sampai 4 putra dan masih enjoy. Kemarin-kemarin saya takut bila punya anak lagi. Lawong anak pertama, lima hari setelah bukaan satu baru brojol, anak kedua tiga hari baru oek-oek, dan sepekan setelah anak kedua lahir, saya total kesakitan seluruh tulang. Tidak bisa naik-turun tempat tidur sendiri. Ke kamar mandi yang hanya 3 meter sampai 2 jam. Hehe.

    Alhamdulillah tulisan ini sangat memotivasi bila kelak memang akan ada amanah ketiga. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yah... begitulah jihadnya seorang ibu. Ada yg begitu mudah, ada yang kadar kesulitannya lebih dari yang lain...

      Delete
  8. Subhanallahu. Selalu dan selalu merinding. Dua kali melewati persalinan saja sdh tidak bisa melupakannya. apalagi empat, allahu akbar mba afra hebat.

    ReplyDelete
  9. Aku lahiran dua2nya sesar, mba. Padahal yang terakhir dah niat normal. Tapi gabisa. Soalnya ari2nya nutup jalan lahir

    ReplyDelete
  10. Barokumullah atas bertambahnya anggota keluarga. Saya selalu terharu kalau membaca tentang persalinan. Subhanallah... Meski sakit ketika proses persalinan, ada bahagia yang sangat ketika mendengar tangis si bayi.

    ReplyDelete
  11. Benar banget mbk, pas IMD itu bahagia tak terkira walau masih lemes pake banget :)

    ReplyDelete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!