Jangan “Usir Tuhan” Dari Panggung Politik

“Jangan bawa-bawa Tuhan dalam politik!”
Barangkali pembaca sekalian cukup sering mendengar kata-kata tersebut diucapkan oleh sebagian politisi negeri ini, khususnya pada saat menjelang pemilihan umum. Entah, bisa jadi kata-kata itu menjadi sebuah upaya demarketisasi, agar rival mereka, yakni partai-partai berbasis agama tidak menjadi rujukan pemilih. Atau memang pada dasarnya mereka memang memisahkan agama dari dunia politik—atau istilahnya menggaungkan isu-isu sekularisme. Namun nyata-nyatanya, kita bisa menyaksikan sendiri, perkataan tersebut dengan lantang dan garang diucapkan dengan sangat percaya diri.

Pemikiran semacam itu mirip dengan idiom, “Tuhan telah mati,” yang merupakan pengerucutan dari pola pikir Friedrich Wilhelm Nietzsche, seorang filsuf yang lahir pada 15 Oktober 1844 di Jerman. Nietzsche sebenarnya lahir dari keluarga protestan yang sangat taat. Namun pada perkembangannya, pola pikir Nietzsche berubah total. Dia menjadi penganut nihilisme, dan mengungkapkan ide-ide yang kontroversial, bahwa “Tuhan telah mati. Kitalah (manusia) yang telah membunuh Tuhan.”

Maksud Nietzsche adalah, bahwa dalam alam modern, dengan sistem kehidupan yang baru, yang mengatur berbagai macam pola kehidupan di alam semesta adalah rasio manusia, dan bukan aturan-aturan Tuhan. Dengan kematian Tuhan, Nietzsche kemudian mengajukan konsep kelahiran Tuhan baru. Jika Tuhan mati, manusialah yang menjadi Tuhan.[1] Dengan keunggulan yang dimiliki, manusia bisa mengatur alam semesta tanpa harus mematuhi hukum-hukum agama. Tampak terlihat, bahwa kebencian Nietzsche kepada agama benar-benar sangat besar. Mungkin, kebencian itu berawal dari dominasi kaum agamawan di ranah perpolitikan negara-negara Eropa saat itu.

Ternyata, pemikiran Nietzsche tersebut berkembang sangat luas, dan digandrungi oleh banyak kalangan. Maka, muncullah ide-ide sekularisasi, yakni pemisahan kehidupan agama dalam sendi-sendi kehidupan berpolitik, ekonomi, maupun sosial budaya. Agama digiring pada sebuah ranah yang sangat privat, yaitu ritual pribadi, hubungan manusia dengan Tuhannya. Tuhan “diusir” dari dinamika kehidupan, khususnya hubungan antarmanusia, lebih-lebih dalam hukum dan politik.

Musibah Asap dan Karakter Rabbaniyyah

Akan tetapi, perkataan tersebut, akhir-akhir ini mendadak seperti mental begitu saja, tatkala musibah asap yang terjadi di negeri ini benar-benar sampai pada titik klimaks. Segala cara dan upaya konon sudah dikerahkan. Alih-alih mereda, asap justru kian meluas. Menurut peneliti dari Center for International Forestry Research (CIFOR) Herry Purnomo, pembersihan lahan secara manual membutuhkan biaya sekitar $200 per hektar, sementara pembersihan lahan dengan cara dibakar, hanya membutuhkan $ 10-20 per hektar[2]. Oleh karena itu, memang sebagian pemilik perkebunan kelapa sawit menggunakan cara membakar lahar sebagai upaya efisiensi, daripada menggunakan cara-cara manual. Ditambah dengan fenomena El-Nino, yang membuat suhu menjadi lebih panas dan gagalnya proses pembentukan awan-awan hujan—dan kemarau pun menjadi semakin panjang, maka kebakaran hutan menjadi kian tak terkendali.

Mungkin faktor inilah yang membuat sebagian penentu kebijakan di negeri ini akhirnya pasrah dan mengatakan, “Hanya Tuhan yang bisa memadamkan kebakaran hutan.” Ucapan ini menjadi menarik dikaji, karena pengucap itu justru berasal dari kalangan yang selama ini berteriak lantang: “Jangan bawa-bawa nama Tuhan!”

Sejatinya, semua manusia membutuhkan Tuhan. Hal ini merupakan efek dari perjanjian yang dilakukan saat manusia saat masih di alam ruh dengan Rabb-nya. Inilah yang membuat mengapa semua bayi, meski lahir dari keluarga kafir sekalipun, sesungguhnya terlahir dalam kondisi fitrah. Namun, kefitrohan itu, pada perkembangannya tereliminir sedikit demi sedikit oleh pola asuhan orang tua, lingkungan, pendidikan dan sebagainya. Namun, dalam keadaan spontan, fitrah manusia yang membutuhkan Rabb-nya ini bisa saja muncul. Waktu kecil, saya pernah mendengar kisah tentang pembesar-pembesar atheis di masa Uni Soviet, ketika mendengar musibah yang terjadi di negerinya spotan mengucap, “Oh my God!” Kita mungkin juga sering mendengar kisah-kisah, bagaimana orang yang sedang dalam kondisi genting dan terjepit, mendadak dia teringat kepada Tuhannya dan memohon pertolongan, padahal sebelum itu, dia sangat abai terhadap kewajiban-kewajibannya sebagai hamba Allah, dan mungkin malah menentangnya.

Keputusasaan melihat kobaran api yang terus saja membakar hutan-hutan kita, kepasrahan kepada Tuhan, akhirnya memang dibalas Allah SWT dengan anugerahnya yang luar biasa mempesona. Saat shalat-shalat istisqo ditegakkan, dan satu persatu daerah-daerah yang terkena musibah asap pun terguyur hujan. Bahkan, di sebuah lokasi di Riau, hujan turun saat tengah berlangsung shalat istisqo.
Sehebat-hebat pemikiran manusia, jelas tak akan mampu menjawab berbagai persoalan yang terjadi, yang kerap sangat pelik dan di luar batas kemampuan makhluk. Manusia butuh Allah SWT sebagai satu-satunya pelindung, penolong dan pemberi petunjuk. Sementara itu, seorang pemimpin, semakin dia berkuasa, semestinya justru semakin dekat dengan Allah. Dengan cara seperti itu, Allah akan memberkahi, dan menjadikan negerinya sebagai Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur.

Semoga peristiwa ini memberikan ilham kepada kita semua, jangan pernah coba-coba “mengusir Tuhan” dengan konsep kehidupan yang sekuler. Karena sesungguhnya, tak ada setiap sudut kehidupan manusia—sekecil apapun—yang tak diatur, diawasi dan dilihat Allah SWT.



[1] Gilles Deleuze, Filsafat Nietzsche, 215
[2] http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/09/150923_indonesia_pembakaranlahan

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Jangan “Usir Tuhan” Dari Panggung Politik"

Post a Comment

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!