Agnes Monica, Bom Sarinah dan Informasi Tanpa Kontemplasi

Dear kamu, kemarin dengar, kan… heboh-heboh mengenai artis beken bernama Agnes Monica? Ah, pasti bukan sekadar dengar. Kamu malah menjadi bagian dari orang-orang yang bereaksi keras menghujat Agnesmo. Apa-apaan, Lu Agnes… Lu melecehkan Islam, ya. Masak di bajumu yang seksi itu ada tulisan Arab?

Ya, kamu begitu emosional saat itu. Ketika saya membuka lini masa media sosial, berkali-kali kamu memosting sikap garangmu kepada Agnes. Lalu, saya membaca sebuah komentar di posting kamu itu. Komentar yang keren, menurutku.

“Memangnya Arab selalu identik dengan Islam? Arab bukan hanya dihuni oleh keturunan Nabi dan Sahabat yang shalih, tetapi juga ada keturunan Abu Lahab, Abu Jahal bahkan juga pembesar-pembesar Yahudi Bani Nadzir, Bani Quraidzah dan Bani Qainuqa yang mengkhianati dan memerangi Rasulullah. Lalu, bahasa apa yang mereka gunakan sehari-hari? Masak bahasa Inggris? Maaf, aku sedang tidak mengindentikan Agnes Monica dengan mereka ya… tetapi, siapapun boleh-boleh saja kok memakai bahasa Arab. Memang, Al Quran turun dalam bahasa Arab, dan dalam kepercayaan kaum muslimin, kelak di surga, bahasa yang digunakan juga bahasa Arab. Tetapi, Arab tak identik dengan Islam.”

Sepertinya, kamu tersentak dengan komentar tersebut. Kegaranganmu pada Agnes Monica pun akhirnya menurun. Kamu tak lagi memosting kritik-kritik pedas kepada Agnes. Ya, meski saya tahu, kamu, seperti juga saya, pasti berharap agar artis ngetop itu bisa tampil lebih sopan. Yeaah, sebenarnya Agnes juga punya banyak kelebihan, kan? Dia pekerja keras, rajin berlatih, dan memiliki need of achievement yang tinggi. Coba dia bisa lebih memperbaiki busananya. Lebih sopan dan memegang adat-adat ketimuran, gitu, dong!

Well, itu kasus Agnesmo, ya….

Sekarang, saya juga ingin berkomentar tentang kasus yang baru saja terjadi, Bom Sarinah. Awal bom meledak, kamu dengan antusias men-share gambar-gambar seram tentang korban yang berlumuran darah. Kamu membikin status duka cita.  Lalu, dalam waktu tak sampai 24 jam, warna statusnya mendadak berubah 180 derajat. Kamu malah memposting status-status penuh canda, seolah-olah musibah itu hanya guyon belaka. Oke, mungkin kamu terpengaruh dengan opini publik yang mengajak para netizen untuk tidak takut terhadap teroris, karena tujuan teroris adalah menebar teror. Itu opini yang tidak salah. Tetapi, jika akhirnya opini #KamiTidakTakut itu akhirnya berubah menjadi status canda-canda, aduuuh, ada something yang perlu kita telisik.

Begitu mudah engkau berubah. Seperti lagu dangdut yang ngetop zaman saya bocah: "Ada angin barat, kau ikut ke barat. Ada angin timur, kau ikut ke timur." Kamu seperti bingung, hendak tertawa atau menangis. Keduanya jadi campur aduk. Yah, tertawa atau menangis memang wajar terjadi pada setiap orang, tetapi jika bilangan waktunya begitu singkat, kok kamu… maaf, ya… jadi mirip orang tak waras. Aduuh, maaf, ya… maaf.

Etapi… sepertinya ini bukan salah kamu semata, sih. Memang begitulah karakter media sosial, sangat cepat berubah. Mendadak, saya jadi ingat dengan ucapan Pak Suwarmin, Pimpinan Redaksi Solopos, saat saya dan teman satu angkatan di program Magister Manajemen yang tengah saya jalani berkunjung ke kantor beliau. Kata Pak Warmin, media online, termasuk medsos adalah reader choice. Sedangkan media cetak adalah editor choice. “Saya tetap menganggap media cetak adalah media yang lebih terhormat, karena semua berita yang dimuat melewati masa kontemplasi.” 

Yeaah, bisa dimengerti. Dalam media online, seringkali begitu berita dimuat, ternyata berita belum menggunakan narasumber terbaik, belum ada crosscheck, bahkan juga belum didiskusikan berbagai aspek yang mungkin muncul dengan penayangan berita tersebut. Karena tipenya reader choice, berita yang melejit juga sesuai selera pembaca. Maka, kata Pak Warmin, berita kedatangan Jokowi bisa dikalahkan dengan berita tentang tuyul atau berita tentang sinetron yang sedang ngetop. 

Jadi, sekarang paham, kan, mengapa website-website sekarang hobi banget membikin berita dan judul yang bombastis? Saya sampai sebel banget sama sebuah website penyedia layanan email, karena begitu buka beranda web tersebut, isinya berita-berita yang “nggak gue banget”. Mulai berita selingkuh, artis X pamer aurat, dan sebagainya. Berita itu, kadang ecek-ecek banget. Misal, ada artis yang hobi memamerkan tubuh yang telanjang di instagram dan bagaimana para netizen bereaksi. Aduh, duh … memori bisa jadi bak sampah informasi jika kebanyakan dipameri berita-berita seperti itu.

Ini berbeda dengan berita bertipe editor choice. Sebelum tayang, berita akan didalami, narasumber akan diteliti, tidak sekadar cover both side, tetapi cover all side. Bahkan semua aspek yang mungkin muncul juga akan diantisipasi. Kamu pasti memahami hal itu bukan? Sebuah novel, ketika hendak terbit, novel tersebut telah mengalami sekian kali proses editing. Pasti beda dengan tulisan yang begitu ketik selesai langsung dipublikasikan.

Meski kita mungkin bukan redaktur media tertentu, kita hanya seorang pengguna media sosial, yuk, terbiasa berkontemplasi dalam membuat status? Bahkan ketika hendak men-share sesuatu,  mem-broad-cast, me-retweet dan sejenisnya, pikirkan terlebih dahulu, apakah berita itu benar? Terapkan disiplin verifikasi. Lihat hal-hal yang ganjil, yang sekiranya akan jadi masalah jika kita sebarkan. Jika setelah kita verifikasi ternyata oke-oke saja, pikirkan pula, apa sih pentingnya berita itu di-share?

Eh, saya nulis begini, sebenarnya bukan berarti saya terbebas dari kesalahan lho. Justru karena saya pernah mengalami beberapa kali posting, baik status maupun blogging, bahkan juga artikel di media masa, yang tak melalui proses kontemplasi. Tulisan-tulisan mentah itu, menuai kritik, komentar maupun saran yang sebagian bikin kuping saya merah. Tetapi, ya, itulah risiko mempublish sesuatu yang tak matang. Nah, karena saya pernah merasakan rasa tak enak itu, saya pun berusaha mengingatkanmu. Semoga kamu nggak marah kepada saya. Yuk, ngeteh atau ngopi dulu!

_________________________________________________________
Paket Hemat
1. Nun, Pada Sebuah Cermin. Novel, Terbitan Republika.
2. Akik dan Penghimpun Senja. Novel, Terbitan Indiva Media Kreasi.
3. Mei Hwa & Sang Pelintas Zaman
4. Kesturi dan Kepodang Kuning

INFO LENGKAP KARYA AFIFAH AFRA
Pemesanan Online klik SINI atau SMS/WA: 0878.3538.8493

Mau belanja buku-buku Afifah Afra, Asma Nadia, Helvy Tiana Rosa, Sinta Yudisia dan sebagainya dengan harga diskon? Yuk berkunjung ke TOKO BUKU AFRA.

Subscribe to receive free email updates:

14 Responses to "Agnes Monica, Bom Sarinah dan Informasi Tanpa Kontemplasi"

  1. Bagus banget.. Mewakili keresahanku kok sering banget ngeshare yang ga kita ketahui sebelumnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga sering salah share dan broadcast kok...
      Sekarang mencoba lebih hati-hati...

      Delete
  2. iyaa yaa, seringkali nggak sadar ngeshare website tanpa kontemplasi dahulu. astaghfirullah... makasih mbak afifah afra :)

    ReplyDelete
  3. Saya penikmat berita-berita online, tapi sangat jarang ngeshare, meski bukannya tidak pernah. Apalagi waktu pilpres dulu, berita berseliweran gak jelas mana yg benar, mana yg salah. Meski sy mendukung salah satu kandidat, tapi ngeshare berita yg menjelek2kan orang lain, gak deh... #panjangya...:D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, betul... seperti kata Mimin Toko Buku Afra: saring sebelum sharing :-)

      Delete
  4. langsung nyari kopi, udah habis nih kopi mau ke warung dulu hahhaha....artikelnya mengigit, mbk :)

    ReplyDelete
  5. Untunglah saya adalah orang yang bisa dibilang jarang (jika tidak ingin bilang tidak pernah) ngeshare tulisan dari manapun.. Yang saya bagikan adalah tulisan saya sendiri, keresahan saya sendiri..

    ReplyDelete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!