Pesan Indah Mas Gagah: Islam Itu Cinta

Mas Gagah, diperankan oleh Hamas Syahid Izzudin, seorang penghafal Al-Quran dari Surabaya

"Penayangan KMGP di awal 2016 ini tepat waktu, mengingat anomali pemberitaan tentang Islam yang menyesatkan publik di tanah air maupun LN (luar negeri--ed.). Film ini memberi testimoni bahwa ISLAM ITU CINTA DAMAI, ISLAM ITU SEJUK DAN ISLAM ITU MEMBAWA RAHMAT BAGI SEKALIAN ALAM" 
(Sugiharto, Mantan Menteri Negara BUMN).
______________

Sebuah pesan masuk ke ponsel saya, beberapa hari sebelum penayangan gala premiere film Ketika Mas Gagah Pergi (KMGP The Movie). "FLP diundang ke gala premiere KMGP, siapa bisa hadir?" Hampir saja saya menjawab, "Saya!" jika tak segera sadar diri. Saya masih punya baby-boy usia sebulan, dan pelaksanaan gala premiere di Jakarta. Wuh, seandainya saya bisa melipat jarak Solo-Jakarta menjadi hanya beberapa kilometer... Ops, tak baik ya, berandai-andai.

Singkat kata, gala premiere berlangsung tanpa saya bisa hadir (ah, apalah artinya saya hehe). Tak menunggu pagi, beberapa sahabat yang hadir di acara tersebut, malam itu juga, 13 Januari 2015, langsung bertestimoni, baik lewat grup khusus WA, atau di media sosial. Mayoritas... eh, bukan mayoritas, malah semua, bertestimoni positif.

Ini testimoni Wiwiek Sulistyowati, penulis buku "Fun Cooking With Kids":  Sinematografinya keren, keindahan Ternate ter-capture dengan baik. Akting Gita keren dan natural banget. Dan endingnya itu loch, sumpah mengejutkan banget."

Sedangkan testimoni Etika Aisya Avicenna, penulis buku-buku spesialis remaja puteri berkomentar begini: "Cakep-cakep pemainnya. Ending filmnya bikin kepoooo... Akting pemainnya kece, apalagi Gita. Jadi pengin jadiin dia adik."

Komentar Mbak Rahmadiyanti Rusdi, manajer promosi Noura Book lebih heboh lagi: Pengen cubit-cubit Quino "Gita" Umar. Gemesiiin, mainnya baguuuss (soale cubit2 Hamas "Gagah" & Mas Aji "Yudhi" kan nggak boleee :D). Rasanya ini film dengan cameo terbanyaaak, dan cameonya juga bagus-bagus. Dari Mathias Muchus, Kang Epi, Joshua, Nungki Kusumastuti, sampai Virzha. Iya, Virzha si somebody that I used to know itu."

Kalau komentar Bunda Wirianingsih, Ibu dari 10 penghafal Qur'an, mantan anggota DPR-RI, Ketua Aliansi Selamatkan Anak Indonesia (ASA), testimoninya lain lagi. 

"Sudah lama saya merindukan hadirnya film alternatif yang menghibur namun sarat edukasi dan ramah keluarga. Film ditengarai turut berikan kontribusi terhadap cara pandang dan perilaku seseorang. Bahkan film itu sendiri merupakan refleksi dari sikap dan gagasan yang dihadirkan kepada masyarakat.

Film 'Ketika Mas Gagah Pergi' #KMGPTheMovie yang diangkat dari novel monumental karya Sastrawan muslimah Helvy Tiana Rosa dengan judul yang sama, hadir ke tengah masyarakat perfilman Indonesia untuk membuktikan bahwa film dibuat tidak melulu mengikuti selera pasar. Kitalah yang  membentuk selera pasar.

#KMGPTheMovie adalah film yang sarat edukasi dan ramah keluarga. Anak-anak aman menonton film ini. Bayangkan ada anak muda yang bisa berubah menjadi lebih baik , berkarya namun tetap menjaga agamanya. Sukses dan berkah, maju terus film-film alternatif. Selamat kepada para pejuang seni dan budaya Indonesia, Helvy, Asma Nadia, kang Abik, Hanum Rais dan kawan-kawan."

Jelas, saya terbakar cemburu, karena masih harus menunggu tanggal 21 Januari untuk bisa nonton film ini secara penuh. Sebelum ini, saya hanya bisa ngintip di trailer film di Youtube atau klip OST "Rabbanna" yang dinyanyikan dengan penuh penghayatan oleh Indah Nevertari. Saya memutar video-video itu berulang-ulang tanpa merasa bosan. Bocah-bocah di rumah juga ikut merasa penasaran. 

"Mi, itu film apa? Boleh nggak besok pas tayang biosko aku ikutan nonton?" tanya anak saya, Anis (11 tahun). Ketika saya bilang boleh, Rama (9 tahun) dan Ifan (5 tahun) spontan berteriak. "Aku ikutan Mi... boleh ya?"

Karena film ini bisa untuk segala umur, saya pun mengangguk. "Oke, kita nonton ramai-ramai. Baby Fatihan kita ajak juga."

"Horeee!" pecah deh teriakan anak-anak. Hebatnya, meski di hari yang sama, adalah penayangan perdana sebuah film anak-anak yang digawangi sebuah brand es krim, dan itu kesukaan mereka, ternyata anak-anak tetap memilih ikut nonton KMGP. Saya sih berpikir, ini kesempatan bagus untuk menyambung semangat generasi 90-an dengan generasi zaman sekarang.

* * *

Salah satu adegan di film Ketika Mas Gagah Pergi


Ada banyak testimoni tentang Film 'Ketika Mas Gagah Pergi' #KMGPTheMovie. Tapi, yang paling membuat saya tersentak adalah testimoni Bapak Sugiharto, Mantan Menteri Negara BUMN, seperti yang saya nukil di bagian paling atas tulisan ini. Ya, beberapa saat sebelum penayangan KMGP, hampir bersamaan meledak bom di dua kota yang menjadi jantung umat Islam dunia, yakni Jakarta dan Istambul. Seperti biasa, berbagai spekulasi merebak. Ujung-ujungnya, gerakan Islam garis keras kembali dituduh berada di belakang tragedi tersebut.

Selama ini, lewat tulisan-tulisan, status-status di media sosial, event-event kajian dan seminar, kita sudah gencar memberikan sanggahan. Islam bukan seperti itu. Islam itu damai, tidak identik dengan kekerasan. Tetapi, tampaknya di tengah gencarnya dan riuh rendahnya berbagai komentar negatif terhadap Islam, suara-suara sanggahan itu seperti begitu saja hilang ditelan gelombang besar prasangka negatif tersebut. Namun, lahirnya sebuah film dengan pesan yang sangat indah, seperti yang disebutkan oleh Bapak Sugiharto tersebut, bisa jadi kita tak sekadar memberikan sebuah pernyataan, tetapi juga menghadirkan secara visual lewat adegan-adegan yang indah. Orang akan tersadar bahwa Islam itu sejatinya penuh kedamaian dan kesejukan, tanpa harus merasa tengah digurui.
Usaha tim KMGP untuk bisa mewujudkan film KMGP The Movie sungguh sangat perlu dihargai dan diacungi jempol, bila perlu 4 jempol sekaligus. Mulai dari Bunda Helvy Tiana Rosa sebagai penulisnya, kemudian orang-orang hebat yang menyokong KMGP seperti Mas Tommy (suami Bunda Helvy), Mas Firmansyah (sutradara KMGP), Bunda Yulyani (ibunda Hamas Syahid), Bunda Hajar Ariyani (ibunda Izzah Ajrina), tim ACT, tim BSMI, komunitas FLP, komunitas Mata Sinema,komunitas ODOJ (one day one juz), Mom Hijabers dan sebagainya, semua berjuang keras, bahu membahu, menempuh jalan terjal dan berliku-liku (serius!). Suka duka, air mata, emosi, dan segala pengorbanan akhirnya menjelma dalam sebuah fim yang apik. Film yang memberi pesan sangat indah, seperti perkataan Mas Gagah: "Islam itu cinta..."


* * *
KMGP bercerita tentang Gagah (diperankan Hamas Izzudin), seorang pemuda yang tampan, cerdas, terpelajar yang memiliki adik bernama Gita (Aquino Umar), yang tomboy dan cuek. Meski begitu, keduanya saling menyayangi. Suatu hari, Gagah pergi ke Ternate untuk skripsi. Di sana, Gagah bertemu dengan Ustadz Ghufron (Salim A. Fillah). Dari Ustadz Ghufronlah Gagah mendapatkan pencerahan tentang keindahan Islam. Sepulang dari Ternate, Gagah berubah. Perubahan itu membuat Gita sangat benci, karena dia merasa Gagah begitu fanatik terhadap Islam.

Selain Hamas dan Gita, KMGP diperani oleh Izzah Ajrina, Masaji dan 30 artis senior seperti Matias Mutchus, Wulan Guritno, Joshua, Irfan Hakim, Vhirza Idol, Shireen Sungkar, dan sebagainya. Tampaknya baru pernah dalam sejarah, aktor-aktris yang biasanya menjadi peran utama, main bareng meski hanya sebagai cameo.

KMGP diadaptasi dari novel Helvy Tiana Rosa yang ditulis sejak 20 tahun silam, "Ketika Mas Gagah Pergi." Meski pesan-pesan agamanya kuat, film ini tidak menggurui, enak dilihat, dan kata para penonton gala premiere: dimanjakan dengan gambar-gambar yang indah. Mau bukti? Ayo nonton bersama-sama! Tanggal 21 Januari, KMGP akan tayang perdana di bioskop-bioskop seluruh Indonesia.

Oke, mari kita sukseskan bersama film kita ini. Karena, seperti jargonnya, KMGP adalah: ini film kita, kita yang bikin, kita yang modalin, dunia yang nonton. Percayalah, kesuksesan KMGP akan sangat berefek positif terhadap perkembangan film-film dakwah di Indonesia.

Ditulis Afifah Afra (Sekjen Forum Lingkar Pena, salah satu komunitas pendukung KMGP The Movie).

_________________________________________________________
Paket Hemat
1. Nun, Pada Sebuah Cermin. Novel, Terbitan Republika.
2. Akik dan Penghimpun Senja. Novel, Terbitan Indiva Media Kreasi.
3. Mei Hwa & Sang Pelintas Zaman
4. Kesturi dan Kepodang Kuning

INFO LENGKAP KARYA AFIFAH AFRA
Pemesanan Online klik SINI atau SMS/WA: 0878.3538.8493

Mau belanja buku-buku Afifah Afra, Asma Nadia, Helvy Tiana Rosa, Sinta Yudisia dan sebagainya dengan harga diskon? Yuk berkunjung ke TOKO BUKU AFRA.



Subscribe to receive free email updates:

4 Responses to "Pesan Indah Mas Gagah: Islam Itu Cinta"

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!