Bagaimana Mereka Bertemu Belahan Jiwa #2



Ali bin Abi Thalib dan Fatimah binti Muhammad
Kedua anak muda ini besar di rumah yang sama, dan dalam didikan Rasulullah SAW. Tumbuh besar, saling menyaksikan keutamaan masing-masing, membuat diam-diam Ali bin Abi Thalib tertarik kepada Fatimah. Tetapi, dia merasa terlalu miskin untuk melamar Fatimah. Dia pun bekerja keras untuk mencari mahar. Dan di tengah-tengah rasa ketidakpercayaan dirinya serta usaha kerasnya mengumpulkan mahar (yang tak juga terkumpul dalam jumlah cukup), satu persatu lelaki utama mencoba meminang Fatimah. Pertama Abu Bakar, lalu Umar bin Khatab. Alangkah terguncangnya hati Ali saat melihat peristiwa tersebut. Namun, alangkah leganya, karena Rasulullah ternyata menolak lamaran sahabat-sahabatnya yang mulia itu.

Akhirnya, Ali pun memberanikan diri melamar Fatimah. Ummu Salamah menceritakan betapa mengharukannya proses lamaran tersebut. 
Kata Ummu Salamah, "Ketika itu kulihat wajah Rasulullah nampak berseri-seri. Sambil tersenyum beliau berkata kepada Ali bin Abi Talib, 'Wahai Ali, apakah engkau mempunyai suatu bekal mas kawin?"

"Demi Allah," jawab Ali bin Abi Talib dengan jujur, "Engkau sendiri mengetahui bagaimana keadaanku, tak ada sesuatu tentang diriku yang tidak engkau ketahui. Aku tidak mempunyai apa-apa selain sebuah baju besi, sebilah pedang dan seekor unta."

"Tentang pedangmu itu, engkau tetap memerlukannya untuk meneruskan perjuangan di jalan Allah. Dan untamu itu engkau juga perlu untuk keperluan mengambil air bagi keluargamu dan juga engkau memerlukannya dalam perjalanan jauh. Oleh karena itu, aku hendak menikahkan engkau hanya atas dasar mas kawin sebuah baju besi saja. Aku puas menerima barang itu dari tanganmu. Wahai Ali, engkau wajib bergembira, sebab Allah sebenarnya sudah lebih dahulu menikahkan engkau di langit sebelum aku menikahkan engkau di bumi!"

Oleh Ali, baju besi itu dijual kepada Usman bin Affan, yang membelinya dengan harga sangat pantas, yaitu 400 dirham.
Wahai, pemuda, jangan pernah malu dengan keadaanmu. Bisa jadi, engkaulah sesungguhnya sosok yang ditunggu-tunggu oleh calon istri dan mertuamu, sebagaimana Rasulullah dan Fatimah menunggu-nunggu Ali bin Abi Thalib untuk melamar Fatimah.

Tsabit dan Istri yang “Buta-Bisu-Tuli-Lumpuh”
Pemuda bernama Tsabit bin Ibrahim akhirnya berhasil menemui pemilik pohon apel di Kufah yang apelnya dia makan tanpa berpikir panjang. Ya, saat melihat apel yang terjatuh, dia langsung menyantapnya, dan kemudian menyesal, karena dia belum meminta izin kepada pemiliknya. Setelah bertanya kepada penjaga kebun, ternyata rumah si pemilik kebun apel itu berjarak sekitar perjalanan sehari semalam dari Kufah.

Lelaki pemilik kebun itu sangat takjub dengan Tsabit yang rela menempuh perjalanan panjang hanya untuk meminta izin atas apel yang dimakannya. Lalu lelaki itu berkata. “Tidak, aku tidak menghalalkan apel itu kau makan. Kecuali, dengan satu syarat.”
“Apakah syarat itu?”
“Kau harus mengawini puteriku.”
“Tetapi, apakah karena saya hanya memakan separuh buah apel itu, saya harus mengawini puteri Anda?”

Si bapak tak menggubris protes Tsabit. “Dan, kau harus tahu, bahwa puteri saya memiliki banyak kekurangan. Dia itu buta, bisu, tuli… dan lumpuh.”
Tsabit tentu sangat terkejut. Dia sangat gugup dan ingin menolak. Tetapi, sang bapak tetap bersikeras dan tak mau menghalalkan buah apel itu kecuali Tsabit mau mengawini puterinya. Tsabit pun terpaksa mau menikah dengan gadis buta, bisu, tuli dan lumpuh itu. 
Namun, ketika dia mendatangi istrinya di kamar usai akad nikah, dia melihat istrinya ternyata normal, bahkan cantik jelita. 

“Aku dikatakan buta, karena tak pernah melihat sesuatu yang diharamkan Allah. Aku juga bisu, karena tak pernah mengucapkan sesuatu kecuali asma Allah dan sesuatu yang baik. Aku tuli, karena tak mau mendengarkan sesuatu yang dilarang. Dan aku juga lumpuh, karena tak mau mendekati sesuatu yang maksiat,” begitu jawab istrinya. 
Betapa bahagianya Tsabit, karena dengan cara yang tak terduga-duga, dia justru bertemu dengan istri yang sangat dicintainya. Sang istri memiliki paras yang sangat jelita, dan dia juga shalihah, sangat menjaga diri. Ternyata, buah dari perkawinan tersebut, adalah terlahirnya sesosok manusia luhur yang sangat berjasa terhadap dakwah Islamiyah. Ya, Tsabit dan istrinya, adalah ayah dan ibu dari Imam Abu Hanifah An Nukman bin Tsabit, salah seorang Imam Mazhab yang terkenal cerdas, shalih dan sangat cemerlang. (Diambil dari buku Sayap-Sayap Mawaddah).

Wahai pemuda shalih, dan muslimah shalihah … jangan khawatir masalah jodoh. Jika engkau menyibukkan diri untuk terus menerus beribadah dengan ikhlas, lalu berdoa agar diberikan jodoh yang baik, mungkin Allah akan menjawab doamu dengan cara yang begitu indah dan tak terduga-duga. 

Rasulullah SAW dan Maryam binti Imran
Anda mungkin bertanya-tanya, apakah mereka berjodoh? Bukankah mereka tak pernah bertemu selama di dunia? Ya, mereka tidak bertemu di dunia, akan tetapi mereka bertemu di akhirat, dan Allah SWT menikahkan Maryam dengan Rasulullah SAW.

Penderitaan Maryam selama di dunia sungguh luar biasa. Sebagai perempuan suci, dia diuji dengan kelahiran putranya, Isa bin Maryam. Kelahiran Isa berlangsung tanpa seorang pun penolong, ketika Maryam meninggalkan tanah kelahiran akibat ejekan dan teror dari masyarakat di sana yang menuduh Maryam sebagai pezina. Atas ujian hidupnya yang luar biasa itu, Allah berfirman, “Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata: ‘Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu).’” (QS. Ali Imran: 42).

Rasulullah juga bersabda, “Pemuka wanita ahli surga ada empat: Maryam binti Imran, Fatimah binti Rasulullah SAW, Khadijah binti Khuwailid, dan Asiyah.” (HR. Hakim 4853).

Dan Sobat, tahukah Anda, bahwa ketika di surga nanti, ternyata Rasulullah SAW akan dinikahkan dengan Maryam binti Imran? 

Dalam kitab Qashash Al-Anbiya, Ibnu Katsir menuliskan, Ibnu Asakir meriwayatkan, dari Muhammad bin Zakaria Al-Gallabi, dari Abbas bin Bakkar, dari Abu Bakar Al-Hudzali, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, bahwa ketika Khadijah sedang sakit sesaat menjelang ajalnya, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam menemuinya dan berkata, “Wahai Khadijah, apabila kamu bertemu dengan madu-madumu, tolong kirimkan salamku untuk mereka.”
Khadijah kemudian bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kamu pernah menikah sebelum menikah denganku?”
Rasulullah Saw. menjawab, “Tidak pernah, tapi Allah telah menikahkanku dengan Maryam binti Imran, Asiyah binti Muzahim, dan Kultsum kakak perempuan Musa.”

Jadi, jika engkau tidak bertemu jodoh di dunia, asal kita terus menerus melakukan amalan shalih, insyaAllah di akhirat nanti engkau akan bertemu dengan jodoh kita. Wallahu a’lam bish-shawwab.

Subscribe to receive free email updates:

6 Responses to "Bagaimana Mereka Bertemu Belahan Jiwa #2"

  1. eh? :O hana baru tahu soal maryam dinikahkan dengan Rasulullah ini :O

    ReplyDelete
  2. semoga kelak saya juga bisa seperti Rasulullah, dapat bertemu di surga dengan pasangan saya

    ReplyDelete
  3. jadi nambah pengetahuan nih :)
    terimakasih ya mba sudah berbagi cerita

    ReplyDelete
  4. Saya sering terharu kalau membaca kisah2 mereka yg berjodoh dengan jalan yang indah seperti Tsabit dan gadis buta tuli bisu itu. Di jaman sekarang, masih adakah kisah seindah itu?

    ReplyDelete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!