Gerhana Matahari Total, Dulu Ngeri, Sekarang Selfie

Sumber: www.dayofeclipse.com
Ada yang menyentak di hati saya ketika mendengar bahwa Gerhana Matahari Total akan terjadi dan melintasi Indonesia pada 9 Maret 2016. Saya sudah tua! Itu reaksi pertama saya. Yeah..., proses terjadinya GMT ini bukan hitungan bulan atau tahun, bahkan juga bukan windu atau dasawarsa, melainkan tiga kali sebelas tahun! Yup, menurut para ahli sains, GMT ini terjadi hanya dalam waktu setiap 33 tahun sekali. So, jika kita menarik garis masa lalu, terbayanglah peristiwa 33 tahun yang lalu, alias tahun 1983 dulu, saat GMT terjadi dan melintasi Indonesia, termasuk Pulau Jawa. Saat itu saya masih bocah usia 4 tahun. Silakan bayangkan sesosok bocah yang pemalu, unyu, lugu tapi semoga tidak wagu hehe....

Sebagai Balita, tentu ingatan saya masih sangat terbatas. Namun yang begitu melekat di benak hingga saat ini, adalah perasaan takut. Ya, saat itu para orang dewasa tampak panik. Mungkin karena ketidaktahuan, atau pemahaman yang masih sepotong-sepotong. Saat itu, jendela dan pintu ditutup, kaca-kaca dilapisi kain. Suasana pun gelap gulita. Kata mereka, para orang dewasa, jika terkena sinar matahari, mata bisa buta. Duh, duh… saking takutnya, saya dan saudara-saudara saya saat itu sampai masuk kolong tempat tidur. Serius! Dan ketakutan itu membekas hingga saat ini.

Kalau cerita suami saya, sedikit lebih keren. Ketika tersiar akan adanya GMT, ayah mertua saya begitu excited dan saat itu memutuskan untuk membeli pesawat televisi yang harganya masih sangat mahal. Maka, terbelilah sebuah pesawat TV hitam putih yang ukurannya hampir segede meja tulis. Ketika GMT terjadi, semua juga ditutup rapat, tetapi suami dan saudara-saudara ipar saya tidak ngusruk ke kolong tempat tidur, melainnya berjamaah nonton proses GMT di televisi.

Teringat betapa takutnya saya saat itu, melihat peristiwa yang terjadi baru-baru saja, saya hanya bisa dibuat bengong. Pasalnya ketika saya buka media sosial dan menyetel televisi pasca shalat gerhana, ternyata GMT tahun 2016 ini malah disongsong dengan sorak sorai dimana-mana. Ada yang berpuisi, ada yang menari-nari, ada pula yang asyik selfie dan tak lupa update status. Ada hashtag yang jadi trending topic yaitu LDR. Setelah diklik, ternyata saya menemukan meme semi komik yang mengisahkan matahari dan bulan yang sedang ketemuan memadu rindu setelah sekian lama LDR. Ada juga meme gambar Batara Kala yang tak juga “makan matahari” karena sibuk selfie dan foto-foto. Rupanya Batara Kala sudah ketularan orang Indonesia yang selalu punya ritual jepret foto makanan sebelum dimakan beneran.

Benar-benar kreatif, orang Indonesia ini.

Yah, beginilah Gerhana Matahari di jagad digital. Beda banget nuansanya dengan ketika saya masih bocah dulu. Entah apa yang akan terjadi pada GMT 33 tahun yang akan datang, yaitu tahun 2049. Jangan-jangan, saat GMT terjadi, sebagian manusia sudah bisa menikmati dari luar angkasa. Entah apakah saya masih diberikan kesempatan menyaksikan GMT yang ketiga dalam usia saya… hiks, kok jadi mellow gini.

Sebenarnya, Solo bukan termasuk daerah yang dilintasi GMT. Namun, sebagaimana daerah-daerah lain di Pulau Jawa, Solo termasuk yang terkena Gerhana Matahari Parsial. Bayang-bayang semu alias penumbra sempat membuat suasana sedikit gelap.

Saya sendiri nggak sempat menikmati pemandangan matahari yang ‘dilahap’ bulan secara live. Ada sedikit kejadian unik yang terjadi pagi tadi. Ceritanya, pagi ini masjid kampung kami mengadakan shalat gerhana, yang tampaknya baru kali  ini dilakukan. Sebelum peristiwa gerhana, anak-anak sudah mencari informasi kesana kemari seputar GMT 2016. Maka, begitu adzan subuh berkumandang, mereka sudah bangun, mandi, shalat subuh dan bersiap-siap. Jam enam pagi, anak-anak sudah heboh. “Mi, ayo segera ke masjid, kita shalat gerhana!” ujar mereka sangat bersemangat. Padahal abinya yang ditunjuk sebagai imam dan khotib shalat gerhana malah masih asyik bebersih di kamar mandi dengan santai.

Saya pun tertular semangat anak-anak. Tanpa menunggu suami, saya dan anak-anak, serta seorang khadimat berjalan ke masjid. Sampai di masjid, lho kok sepi dan kosong? Ah, mungkin kami memang yang pertama kali datang. Kami pun menggelar sajadah. Baby Fatihan saya letakkan di atas kasur kecil yang saya bawa di depan saya. Namun, beberapa lama kami di situ, masjid tetap sepi. Saya celingukan. Serius nih, kosong? 

“Mi, itu ada pengumuman!” teriak anak saya, Anis. Saya pun menuju papan papan pengumuman. Di sana tertera undangan shalat gerhana. Tetapi olala… ternyata saya salah informasi. Shalatnya bukan di masjid itu, melainnya di masjid gang sebelah. Pantesan! Saya dan anak-anak pun akhirnya meluncur ke masjid gang sebelah, yang jalannya memutar lumayan jauh.

Tetapi, sampai di masjid yang dimaksud pun ternyata jamaah masih sedikit. Usut punya usut, ternyata kami datang 45 menit lebih pagi. Shalat akan dilaksanakan pada jam 7. Pantas suami terlihat begitu santai. Salah saya sendiri, tidak bertanya kapan waktu shalatnya. Tetapi, untuk pulang ke rumah, rasanya kurang afdhol. So, akhirnya dari jam itu hingga sepanjang prosesi gerhana matahari, kami sibuk beraktivitas di dalam masjid. Mengaji, berdzikir dan sebagainya. Maka, bagaimana kondisi langit saat itu, hanya bisa saya simak di lini masa sosial media atau siara televisi usai shalat selesai.

GMT 2016, Indonesia Satu-Satunya Daratan yang Terlintasi
GMT 2016 ini terbilang istimewa, lho. Sebab, pada GMT 9 Maret 2016, Indonesia menjadi satu-satunya daratan di dunia yang dilintasi gerhana. Bisa dibayangkan, kan? Seluruh mata dunia tertuju ke Indonesia, dan pastinya menunggu posting dan update status orang-orang Indonesia yang secara live mengikuti prosesi GMT. Selain Indonesia, GMT juga melintasi lautan Pasifik dan berakhir di Hawai.

GMT tadi pagi, sesuai dengan prediksi, melintasi 12 provinsi yaitu Sumatera Barat (Pulau Pagai Selatan), Sumatra Selatan (Palembang), Jambi, Bengkulu, Bangka Belitung (Tanjung Pandan), Kalimantan Tengah ( Palangkaraya ), Kalimantan Timur (Balikpapan), Kalimantan Barat , Kalimantan Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah (Palu, Poso, Luwuk), Maluku Utara (Ternate dan Maba--Maba ini kota dengan durasi GMT terlama, yaitu 3 menit 20 detik). Sementara, daerah-daerah lain, termasuk Jakarta, Solo, Surabaya dan seluruh Pulau Jawa, hanya akan mengalami gerhana matahari parsial.

Yang saya rasakan waktu di Solo, suasana menjadi sedikit lebih gelap, pastinya karena penumbra. Sementara, apa yang terjadi di langit, seperti cerita saya di atas, saya tidak tahu. Ada beberapa teman yang mengirimi gambar suasana di Klaten, Boyolali, Yogyakarta dan sebagainya. Lumayan deh, bisa membayangkan betapa luar biasa suasana saat itu.

Nah, bagaimana suasana daerah yang terlintasi GMT? Kalau menurut cerita teman-teman yang dilintasi GMT, langit benar-benar gelap gulita seperti malam hari. Seorang teman @rururuwaida menulis di Twitter, “Luar biasa mbak, gemetar rasanya pas langit gelap sempurna. Cuma mampu istighfar dan sholawat...”

Bagaimana sih, Proses Terjadinya Gerhana Matahari?
Konon nih, pada 1919, GMT pernah dimanfaatkan Sir Arthur Eddington dan Thomas Dixon untuk membuktikan teori relativitas Albert Einstein. Sang genius Einstein mengatakan, benda bermassa besar akan melengkungkan ruang dan waktu sehingga cahaya pun bergerak mengikuti kelengkungan itu. Eddington dan Dixon berhasil membuktikan kebenaran teori itu (sumber: kompas.com). 

Kenapa gerhana bisa terjadi? Bukan karena Batara Kala, sebagaimana mitos yang diyakini masyarakat Jawa zaman dahulu kala. Gerhana terjadi karena adanya revolusi bulan mengelilingi bumi dan revolusi bumi mengelilingi matahari? Nah, karena adanya peristiwa itu, secara berkala akan terjadi  posisi Bulan, Matahari dan Bumi sejajar dan berada pada garis lurus, itulah gerhana.  Jika bulan berada di tengah-tengah, alias menutupi cahaya matahari yang menuju bumi, itulah gerhana matahari. Sedangkan jika bumi berada di tengah-tengah, sehingga menghalangi pancaran cahaya matahari ke bulan, itulah gerhana bulan.

Begini nih gambarnya:
Gerhana Matahari
Sumber foto:  www.crystalinks.com

Gerhana Bulan
Sumber Foto: www.ldas.org.uk

Gerhana akan menimbulkan dua jenis bayang-bayang, yaitu umbra, alias bayang-bayang yang sangat gelap alias  bayang-bayang inti; dan penumbra, alias bayang-bayang kabur, atau bayang-bayang semu. Semakin jauh dari bumi, bentuk umbra semakin kecil, sedangkan penumbranya kian besar. Umbra dan penumbra inilah sesungguhnya yang membikin bumi menjadi gelap saat terjadi proses gerhana. Cukup jelas kan? 

Gerhana bulan akan lebih sering kita alami, begitu juga gerhana matahari parsial. Tetapi GMT, baru 33 tahun lagi akan kita alami. Jika diberi umur panjang saat itu saya sudah berumur 70 tahun... mungkin saya tidak akan lagi sekadar shalat bersama anak-anak, tetapi juga cucu. MasyaAllah, subhanallah....

Subscribe to receive free email updates:

7 Responses to "Gerhana Matahari Total, Dulu Ngeri, Sekarang Selfie"

  1. Salam. Tulisannya bagus as always, Bunda. Ah, untuk Sulawesi Tengah bukan Luwu, Bun, tapi Luwuk. Luwu itu di Sulsel. Hehe, saya pembaca bunda dari Luwuk Sulawesi Tengah yang dikasih kesempatan buat melihat gerhana total kemarin. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oiya... terimakasih koreksinya, sudah saya edit. Luwuk itu Banggai ya? Dulu punya teman asal sana... wah, asyik dong, bisa diberi kesempatan merasakan GMT

      Delete
  2. Iya, Mbak. Kapan-kapan kalau ke sini, mampir main ke FLP Banggai ya, Mbak. Sekarang saya diamanahi menjadi ketua FLP Cabang Banggai. Luwuk itu di kota, Banggai menyeberang lewat laut lagi, tapi kami FLP Banggai base campnya di Luwuk.

    ReplyDelete
    Replies
    1. SUbhanallah... semoga diberi kesempatan. Nunggu Baby Fatihan agak gede dulu baru traveling ke luar Jawa lagi :-)

      Delete
    2. Iya, Mbak Afra. Kami tunggu kedatangannya.

      Delete
  3. Replies
    1. Kurang satu dik... sinetron Gerhana yang melambungkan Peggy Melati Sukma dengan "Pusiiiing" belum dimasukkan hehe

      Delete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!