Dongeng yang Menjadi Buku

Alhamdulillah, di pertengahan tahun ini,  insya novel anak (novak) yang saya tulis, berjudul "Penculikan Sang Profesor" turun cetak dan beredar ke seluruh Indonesia. Mohon doa pula agar proyek perdana ini sukses ya..., amiin deh. Doa orang shalih kan mustajab. Saya berprasangka baik bahwa pembaca blog ini adalah orang-orang shalih :-) (amiin lagi).

Seperti yang satu tulis di page AFIFAH AFRA, meski saya sudah lama menjadi penulis, dan sudah ada lebih dari 50 judul buku terbit, serta hampir seratus cerpen plus artikel dimuat di berbagai media, rasanya tetap ada "sesuatu" yang beda dan juga unik. Apa saja bedanya? Dan di mana letak keunikannya?

Pertama, ‪#‎PenculikanSangProfesor‬ adalah novak perdana saya. Ketika saya mulai menjadi seorang ibu, dan sekarang sudah jadi ibu empat anak, sebenarnya saya sudah berangan-angan untuk menulis novak. Anak-anak saya juga sudah sejak lama meminta saya menulis novel untuk segmen anak. Tetapi, karena berbagai sebab, baru kali ini kesampaian. 

"Mi, asyik kan kalau yang aku baca itu karya Ummi sendiri," ujar Anis, anak pertama saya yang sepertinya paling mewarisi kesukaan saya menjadi "predator buku". Sejak TK, dia sudah membabat habis buku-buku, dan sampai usia 11 tahun, sudah ratusan buku dia khatamkan, bahkan mungkin lebih.

Kedua, proses kreatif #PenculikanSangProfesor terbilang unik. Sebagai ibu, saya meyakini bahwa mendongeng adalah kemampuan wajib yang kudu dimiliki seorang ibu. Ya, kita harus bersyukur atas kemampuan verbal yang Allah lebihkan kepada kaum perempuan dibanding kaum lelaki. Kata para pakar, perempuan menggunakan 20 ribu kata per hari, sementara lelaki hanya 7 ribu! Bayangkan jika suami kita adalah seseorang yang memiliki pekerjaan yang membutuhkan kemampuan verbal. Misal guru atau dosen, manajer yang kudu memimpin rapat, atau marketing yang harus banyak melakukan penawaran dan promosi produk. Begitu sampai ke rumah, 7000 kata sudah habis, tinggal tersisa lelahnya saja. Jadi, ibulah yang semestinya membawakan dongeng untuk anak-anaknya.

Nah, pada tahun 2012, saya pernah membawakan kisah ini sebagai dongeng pengantar tidur, tentu saja bersambung. Anak-anak sempat menjadikan masa-masa jelang tidur sebagai masa favorit karena menunggu dongeng ini. Setelah khatam, lagi-lagi anak-anak mendesak untuk dibukukan. 

Baiklah, Nak... saya tulis ya... meski perlahan-lahan. Alhamdulillah, tahun 2013, tulisan kelar. Tapi baru akhir 2015 saya serahkan ke editor Penerbit Indiva Media Kreasi. Alasannya... salah satunya, terus terang nih ya... saya ragu. Saya mungkin lebih dikenal sebagai penulis buku-buku yang terkesan agak "berat". Ya, kalau saya tanya ke teman-teman pembaca, rata-rata mereka mengasosiasikan nama Afifah Afra dengan ‪#‎DeWinst‬, ‪#‎DeLiefde‬, ‪#‎DaConspiracao‬ atau ‪#‎MeiHwa‬ ... Padahal, Afifah Afra juga menulis ‪#‎SerialElang‬ yang "kocak" dan meremaja, ‪#‎SerialMarabunta‬ yang heroik dan tetap dengan segmen remaja/dewasa muda. 

Namun, lagi-lagi saya didesak anak-anak yang ingin Umminya segera punya novak. Okey deh, Anak-anak... #PenculikanSangProfesor saya serahkan ke penerbit.

Ketiga, jujur... saat mencoba mengarang kisah ini, ingatan saya terbetot pada almarhum ayahanda saya. Masa kanak-kanak saya memang didominasi figur ayah. Beliaulah yang mengajak saya mengeksplorasi alam semesta. Jarang sekali beliau mengajak piknik ke tempat-tempat wisata. Tetapi beliau sering mengajak pergi ke hutan, ke sungai, memancing, menangkap belut dan sebagainya. Beliau juga yang memperkenalkan dan menanamkan tradisi literasi pada saya. Pola asuh Ayah kepada anak-anaknya inilah yang ingin saya adopsi untuk anak-anak saya, tentu saja dengan penyesuaian di sana-sini. 

Karena itu, dalam kisah ini, saya banyak mengeksplorasi alam semesta. Ya, kreativitas akan terbatasi jika pandangan kita setiap hari kita hanya berhadapan dengan tembok. Jika setiap hari anak hanya berkutat pada gadget. Oleh karenanya, saya sering mengajak anak-anak camping dan bermain sepuasnya di pantai maupun pegunungan. Alhamdulillah, suami ternyata memiliki kecenderungan yang sama dalam hal ini. Jadi, klop, deh!

Keempat, saya menyadari, bahwa kisah-kisah yang kita "asup" sesungguhnya berefek besar terhadap pembentukan karakter. Saya gemas dengan anak-anak sekarang yang lebih senang mempelototi gadget, menjadi individualis karena kelewat sering nge-game elektronik dan jarang bermain bersama kawan-kawan, cenderung manja dan kurang mandiri dan sebagainya. Maka, lewat buku ini saya mencoba mengajak anak-anak untuk menjadi pribadi yang kuat, mandiri dan pemberani.

Jadi, siapa yang sebenarnya bisa membaca buku ini?
1. Anak-anak, usia 9 s.d. 14 tahun, ini segmen utama buku ini.
2. Orang dewasa, khususnya orang tua, sebagai bekal bercerita untuk anak-anaknya.
3. Siapa saja, yang berminat dengan dunia anak. Sebab, meskipun segmennya anak, setting, karakter dan diksi tetap saya garap serius.

Sinopsis #PenculikanSangProfesor bisa dibaca di sini SINOPSIS.

Telah beredar di seluruh Toko Buku Gramedia dan Togamas.

Harga Asli: Rp 34.000
Pemesanan bertandatangan hubungi Angga via SMS/WA 0878-3538-8493

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Dongeng yang Menjadi Buku"

Post a Comment

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!