Shima, Ratu Kalinyamat, Kartini dan Quo Vadis Perempuan Indonesia?

Pastinya bukan kebetulan belaka, jika tiga sosok perempuan yang menghias catatan sejarah ini ternyata berasal dari Jepara. Mereka adalah Ratu Shima dari Kerajaan Kalingga, Ratu Kalinyamat dan R.A. Kartini. Lokasi Kerajaan Kalingga memang masih menjadi perdebatan, akan tetapi bukti-bukti yang kuat menunjukkan bahwa ibu kota Kerajaan Kalingga, terletak di Kabupaten Jepara. Adapun Ratu Kalinyamat, atau Ratna Kencana, setelah meninggalnya sang ayah, yakni Sultan Trenggana, beliau memerintah di daerah Kalinyamat, Jepara. Sedangkan bukti-bukti bahwa R.A. Kartini berasal dari Jepara, sudah sangat terang benderang.

Mempelajari sejarah hanya dengan menghapal tahun demi tahun, adalah penyempitan cakrawala. Sebab, menurut Daniel Dakhidae (1980) sejarah lebih dari sekedar kronik (urutan kejadian berdasarkan waktu—pen.), karena dalam sejarah juga terkandung pikiran yang hidup dari dan tentang masa lampau. Tugas historiografi bukan saja mencari kebenaran masa lalu (what the past is really like), tetapi juga memperbandingkan peristiwa masa lalu itu dengan masa kini. Inilah yang disebut dengan dialog. Setiap kali dialog dengan sejarah dimatikan, maka sejarah bukan lagi sejarah, tetapi sekadar monolog yang menjadi legitimasi para penguasa.

Dari pemikiran Daniel Dakhidae atas makna sejarah, marilah kita melakukan proses dialog antara peristiwa masa lalu, khususnya catatan sejarah atas tiga perempuan istimewa tersebut. Pelacakan sejarah dimulai dengan kisah Shima yang melegenda. Beliau adalah sosok yang tegas, tak pandang bulu dalam menegakkan hukum. Bahkan putranya sendiri pun tak luput dari hukuman keras karena kakinya menyentuh satu kantong emas yang sengaja diletakkan oleh raja dari negara lain untuk menguji kejujuran rakyat kerajaan Kalingga. Sejatinya, secara fisiologis, sistem hormonal perempuan berperan besar dalam pembentukan karakter perempuan yang lemah lembut, feminism, keibuan, dan cenderung subjektif, khususnya kepada sosok yang memiliki kedekatan afektif dengannya. Namun, dalam kisah ini Shima dengan integritas dan kapasitasnya sebagai pemimpin, berhasil menepis karakter khas perempuannya. Betapa bedanya dengan pemimpin saat ini yang sebagian lebih memberatkan membela kroninya ketimbang upaya penegakan hukum.

Kisah yang tak kalah menakjubkan terjadi pada Ratu Kalinyamat. Meski seorang perempuan, ternyata beliau pun memiliki ketegasan yang lebih dibandingkan dengan kaum lelaki saat itu. Terbukti dua kali beliau mengirim pasukan ke Malaka untuk membantu Sultan Johor melawan Portugis. Pengiriman pertama, menurut catatan sejarah, terdiri dari 4000 tentara yang diangkut dalam 40 kapal perang. Sementara, pengiriman kedua, Sang Ratu mengirim 300 kapal yang berisi 15.000 tentara. Sikap Ratu Kalinyamat terasa kontras dibandingkan para pemimpin kita yang dinilai banyak pihak kurang berani berkonfrontasi dengan negara asing, meski jelas-jelas negara kita dirugikan.

Ratu Shima dan Ratu Kalinyamat tentu berbeda dengan R.A. Kartini. Mereka adalah leader, salah satu kapasitas yang harus dibuktikan adalah berani mengambil keputusan dan menanggung risiko. Sedangkan Kartini adalah pemikir. Buah pikirannya tak sekadar ditulis, tetapi juga dikirimkan ke teman-teman dekatnya, di antaranya Estelle "Stella" Zeehandelaar, serta Tuan dan Nyonya J.H. Abendanon. Proses korespondensi mereka merupakan sebuah proses diskusi yang menarik. Pemikiran RA Kartini itulah yang oleh Tuan J.H. Abendanon dikumpulkan dan dibukukan dengan judul Door Duisternis tot Licht. Selanjutnya, oleh Balai Pustaka pada tahun 1922 diterjemahkan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran.

Meski berbeda peran, Ratu Shima, Ratu Kalinyamat dan R.A. Kartini, yang semua berasal dari Jepara, telah mengukir sejarah negeri ini dengan kiprahnya. Selain mereka, tak kurang-kurang tokoh perempuan menghias lembaran sejarah. Dalam masalah leadership dan semangat heroisme, kita mencatat nama Sultanah Safiatuddin, yang memerintah kerajaan Aceh selama 35 tahun dan ikut berperang melawan Portugis di Malaka. Juga Laksmana Malahayati, pemimpin angkatan laut Aceh, Nyi Ageng Serang, Cut Nyak Dien, Cut Nyak Meutia, dan sebagainya. Sedangkan dalam jajaran tokoh-tokoh pemikir dan penggerak di bidang pendidikan, sosial dan budaya, terdapat nama Dewi Sartika, Rahmah el Yunusiyah, Hajjah Rangkayo Rasuna Said, Nyi Ahmad Dahlan dan sebagainya.
Proses dialog antara perempuan masa kini dengan para perempuan penggerak peradaban itu, harusnya lebih pada bagaimana meneladani mereka. Leadership, integritas, kemampuan mengambil risiko, budaya berliterasi, heroisme dan semangat pembelaan kaum tertindas, tradisi keilmuan yang baik, dan kesediaan berkorban untuk bangsa dan negara, mestinya menjadi obsesi setiap perempuan masa kini. Jika aksi semacam Ratu Kalinyamat tampak terlalu sulit, maka aksi yang lebih kongkrit seperti advokasi dan langkah-langkah memajukan kehidupan kaum perempuan sangatlah dinanti-nanti. 

Dari data Migrant Care misalnya, dalam  kurun waktu 2004-2014, tercatat 3 buruh migran Indonesia (2 di antaranya PRT migran) dieksekusi mati tanpa pembelaan berarti, 23 buruh migran Indonesia (mayoritas PRT migran) divonis mati dengan kekuatan hukum tetap, dan sekitar 265 lainnya dalam proses pengadilan dengan ancaman hukuman mati. Mayoritas dari mereka adalah kaum perempuan. Sementara, menurut data dari Kemenkes, berdasarkan Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia 2007, angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia dari 228 per 100.000 kelahiran. Sebuah angka yang cukup tinggi. Di dunia pendidika, sekitar 9,36 % dari total perempuan di Indonesia, menurut Hasil Susenas 2012, juga masih buta huruf.  Padahal, angka melek huruf pada laki-laki adalah 95,87%. Permasalahan-permasalahan tersebut hanya sebagian kecil dari permasalah besar yang membelit kaum perempuan. 

Tetapi sayangnya, pembacaan atas sejarah ternyata masih sekadar kronik belaka. Kita tahu, setiap tanggal 21 April, diperingati Hari Kartini. Alih-alih mengejawantahkan semangat Kartini dalam mengadvokasi kaum perempuan, masyarakat saat ini hanya sekadar mengejar kemeriahan yang seringkali tanpa makna, misal lomba mengenakan sanggul, lomba kebaya dan sebagainya. Hal ini menunjukkan bahwa proses dialog antarwaktu ternyata baru menyentuh ranah kulit belaka, dan belum menjadi substansi. 

Demikian pula, penunjukkan kader-kader perempuan oleh berbagai partai politik untuk menduduki posisi tertentu, seringkali tidak dibarengi dengan penguatan kapasitas dan kapabilitas. Dalam Pemilu misalnya, ada kuota 30% untuk kaum perempuan. Tetapi nyatanya, tak banyak Parpol yang benar-benar mengutus kader perempuan terbaik untuk memenuhi kuota tersebut, entah karena Parpol itu tidak berhasil mendidik kader perempuanya untuk menjadi politisi yang hebat, atau entah faktor lainnya.

Tentu perempuan tak perlu menunggu uluran tangan pihak lain untuk bisa menjadi unggul. Perempuan harus berusaha sendiri menjadi maju, salah satunya melakukan dialog yang mendalam dengan catatan-catatan sejarah. Jika perempuan sendiri sudah malas melakukan upaya perbaikan diri, kita perlu bertanya: Quo Vadis Perempuan Indonesia?

Catatan: pernah dimuat di Solopos, 21 April 2016

Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "Shima, Ratu Kalinyamat, Kartini dan Quo Vadis Perempuan Indonesia?"

  1. Wah setuju, sama pendapatnya ky teman saya 😊

    ReplyDelete

Mohon maaf, karena banyak komentar spam, kami memoderasi komentar Anda. Komentar akan muncul setelah melewati proses moderasi. Salam!